Elena merasa oksigen di sekitarnya mendadak habis. Bisikan itu bukan sekadar jawaban, melainkan sebuah peringatan—garis pembatas yang ditarik Julian agar Elena tidak melangkah lebih jauh ke dalam kegelapan yang ia sembunyikan.
Tubuh Elena bergetar halus. Melalui cermin, ia melihat jemari Julian yang tadi menggantung di bahunya kini perlahan turun, menyentuh helai rambut Elena yang jatuh di punggung, lalu melilitnya dengan gerakan lambat yang penuh perhitungan.
"Kenapa?" suara Elena keluar sebagai bisikan yang rapuh. "Apa yang kau sembunyikan hingga aku tidak akan pernah siap mendengarnya?"
Julian tidak langsung menjawab. Ia justru mencondongkan wajahnya lebih dekat, hingga Elena bisa melihat pantulan mata mereka yang bertabrakan di cermin. Mata Julian tidak lagi menunjukkan gairah yang tertahan, melainkan kekosongan yang dalam dan kelam—sebuah jurang yang siap menelan siapa pun yang berani mengintip ke dalamnya.
"Karena di dunia ini, Elena..." Julian menjeda, suaranya kini sedingin es yang kembali membeku. "Ada hal-hal yang lebih baik tetap menjadi misteri demi keselamatanmu sendiri. Kau ingin aku menjadi suamimu yang melindungimu, atau kau ingin aku menjadi kenyataan yang akan menghancurkanmu?"
Tangan Julian yang melilit rambut Elena mengencang sedikit—tidak menyakitkan, namun cukup untuk menunjukkan d******i. Ia memaksa Elena untuk tetap menatap pantulan matanya di kaca, mengunci kesadaran wanita itu sepenuhnya.
"Pilih salah satu," tuntut Julian.
Elena menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berpacu hebat. "Aku hanya ingin tahu... siapa pria yang baru saja menciumku seolah aku adalah segalanya bagi dirinya."
Julian menyeringai tipis, namun kali ini senyum itu terasa pahit dan asing. Ia melepaskan lilitan rambut Elena dan mundur satu langkah, memutus kontak fisik yang menyesakkan itu secara tiba-tiba. Dingin kembali merayap ke kulit Elena saat kehangatan tubuh Julian menjauh.
"Aku menjaga apa yang menjadi milikku, Elena. Jangan salah artikan itu sebagai sesuatu yang manis," ucap Julian datar. Pria itu berbalik, kembali menjadi sosok Julian Armand yang kaku dan tak tersentuh.
Sebelum benar-benar melangkah keluar, Julian berhenti di ambang pintu. Ia tidak menoleh, namun suaranya yang berat menggema di seluruh ruangan.
"Nanti siang bersiaplah. Pergilah ke salon dan pastikan kau tampil tanpa cela. Aku akan membawamu ke jamuan makan malam nanti malam."
Julian memberikan tatapan tajam terakhir melalui pantulan cermin, sebuah instruksi yang tidak menerima bantahan sedikit pun. "Jangan pernah mencoba mencari tahu apa pun tentang aku di luar apa yang aku tunjukkan padamu. Itu adalah satu-satunya cara agar kau tetap aman di rumah ini."
Elena menelan ludah, namun alih-alih menunduk takut, ia justru memutar tubuhnya. Ia mengabaikan rasa perih di jemarinya dan menatap langsung ke arah suaminya.
"Hanya aman?" tantang Elena, suaranya sedikit bergetar namun tajam. "Kau memintaku bersiap untuk jamuan makan malam seolah-olah semalam tidak terjadi apa-apa. Kau menciumku, mengklaimku sebagai milikmu, tapi di saat yang sama kau memperingatiku untuk tetap tinggal di dalam kegelapan. Apa aku ini istrimu, Julian? Ataukah aku hanya salah satu aset berhargamu yang harus dipoles sebelum dipamerkan ke kolega-kolegamu?"
Langkah Julian terhenti. Ia berbalik perlahan, seluruh auranya berubah menjadi sangat mengintimidasi. Ia melangkah maju hingga jarak di antara mereka hilang sama sekali, memaksa Elena mundur hingga punggungnya menabrak meja rias.
Julian menumpu kedua tangannya di sisi tubuh Elena, mengurungnya. "Kau ingin tahu statusmu, Elena?"
"Aku ingin kejujuran," balas Elena berani, meski dadanya naik turun karena napas yang memburu. "Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil yang harus dilindungi dari hantu di bawah tempat tidur. Jika kau membawaku ke jamuan itu, katakan padaku... siapa yang sebenarnya akan kita hadapi? Dan kenapa kau begitu takut aku tahu siapa dirimu?"
Rahang Julian mengeras. Matanya berkilat gelap, seolah-olah Elena baru saja memancing badai yang selama ini ia tekan.
"Aku tidak takut pada apa pun, Elena. Terutama tidak pada rasa penasaranmu yang bodoh," desis Julian rendah. Ia menarik dagu Elena agar mendongak, memaksa wanita itu melihat kekosongan yang mengerikan di matanya. "Kau ingin kejujuran? Baik. Jamuan malam ini bukan sekadar makan malam. Ini adalah medan perang. Dan kau adalah satu-satunya titik lemahku yang bisa mereka gunakan untuk menghancurkanku."
Elena tertegun. Kata 'titik lemah' itu menghantamnya lebih keras daripada bentakan apa pun.
"Jika kau tahu siapa aku yang sebenarnya, kau tidak akan hanya gemetar ketakutan di depan cermin ini," lanjut Julian, suaranya kini terdengar seperti belati yang mengiris keheningan. "Kau akan lari sejauh mungkin dariku. Jadi, turuti perintahku. Pergi ke salon, pakai gaun terbaikmu, dan tutup mulutmu yang cantik itu sebelum kau memancing iblis yang tidak bisa kau jinakkan."
Julian melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Elena sedikit terhuyung.
"Nanti siang, supir akan mengantarmu. Pastikan kau siap saat aku menjemputmu," ucap Julian akhirnya.
Tanpa menunggu jawaban lagi, Julian berbalik dan keluar dari kamar. Dentuman pintu yang tertutup keras seolah menandai dimulainya perang dingin di antara mereka.
Brak.
Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang final, meninggalkan Elena sendirian dengan bayangannya yang tampak rapuh.
Elena terengah, dadanya naik-turun seiring dengan suara langkah kaki Julian yang menjauh di lorong. Keheningan yang kembali menyelimuti kamar itu terasa lebih berat, seolah dinding-dinding mewah di sekelilingnya sedang berbisik, menertawakan kerapuhannya.
"Titik lemah?" bisik Elena pada udara kosong.
Sebuah istilah yang tidak pernah ia bayangkan akan keluar dari mulut pria sekeras baja seperti Julian Armand. Bagi pria itu, memiliki titik lemah berarti memiliki lubang pada perisainya—sesuatu yang bisa dieksploitasi, diserang, dan dihancurkan. Dan kini, Elena tahu bahwa dirinya adalah lubang itu.
"Jika aku selemah itu bagimu, Julian... kenapa kau tidak melepaskanku saja?" bisiknya perih.
Sesuai perintah mutlak Julian, sebuah sedan hitam mewah sudah menunggu di depan mansion tepat pukul satu siang. Perjalanan menuju salon dilakukan dalam keheningan yang mencekam. Supir Julian tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun sorot matanya yang waspada setiap kali memantau spion samping membuat Elena sadar bahwa penjagaan di sekelilingnya telah diperketat.
Di dalam salon yang telah dikosongkan khusus untuknya, tidak ada suara obrolan pelanggan lain. Hanya ada denting instrumen perak dan langkah kaki para staf yang bergerak seperti bayangan. Kesunyian ini justru jauh lebih menyiksa daripada gosip apa pun.
Elena merasa seperti sebuah mahakarya yang sedang dipulihkan untuk sebuah pameran berbahaya. Saat para penata rias memulas wajahnya, Elena hanya bisa menatap matanya sendiri di cermin—mata yang tampak asing, penuh ketakutan yang berusaha ia sembunyikan di balik lapisan makeup yang sempurna.
Ia terus memikirkan kata-kata Julian. Medan perang. Siapa yang akan mereka hadapi? Dan mengapa Julian lebih memilih mengurungnya dalam ketidaktahuan daripada memberinya senjata untuk bertahan?
Malam telah jatuh ketika Elena kembali ke kamar mereka. Ia sudah mengenakan gaun sutra berwarna hitam pekat yang dikirimkan Julian ke salon—sebuah gaun backless yang membalut tubuhnya dengan elegan namun provokatif. Hitam, seolah-olah Julian ingin ia menyatu dengan kegelapan yang menyelimuti pria itu.
Pintu kamar terbuka tanpa suara.
Julian berdiri di sana, sudah mengenakan tuksedo hitam sempurna. Rambutnya disisir rapi ke belakang, menonjolkan rahangnya yang tajam. Ia tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik, hanya berdiri di ambang pintu, menatap punggung polos Elena yang terekspos.
Elena berbalik perlahan, menantang tatapan suaminya. "Apa 'titik lemahmu' ini sudah terlihat cukup pantas untuk berdiri di sampingmu malam ini?"
Julian melangkah mendekat, auranya yang dominan kembali memenuhi ruangan, mengusir sisa oksigen yang ada. Ia berhenti tepat di depan Elena, namun tangannya tidak menyentuh kulit Elena. Ia justru merogoh saku tuksedonya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam.
Di dalamnya, melingkar seuntai kalung berlian yang berkilau dingin, namun tampak seberat rantai.
"Pakai ini," perintah Julian rendah.
Tanpa menunggu persetujuan, ia melangkah ke belakang Elena. Jemarinya yang dingin bersentuhan dengan tengkuk Elena saat ia mengaitkan kalung itu. Elena bisa merasakan napas hangat Julian di bahunya, kontras dengan logam dingin yang kini melingkari lehernya.
"Malam ini, kau tidak perlu bicara pada siapa pun," bisik Julian, suaranya terdengar seperti peringatan sekaligus janji perlindungan. "Kau hanya perlu berdiri di sampingku. Jangan lepaskan lenganku, jangan menoleh pada siapa pun yang memanggil namamu, dan jangan pernah... sedetik pun, meragukan bahwa kau aman bersamaku."
Elena memejamkan mata sejenak, menghirup aroma sandalwood yang kini terasa menyesakkan. Tiba-tiba, ia meraih tangan Julian yang masih berada di bahunya, mencengkeramnya dengan kekuatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuhnya yang mungil.
Elena berbalik dengan sentakan, memaksa Julian menatapnya tepat di mata.
"Aman?" Elena tertawa getir, sebuah suara kecil yang tajam di tengah kesunyian kamar. "Kau terus mengatakan aku aman, Julian. Tapi lihat dirimu. Kau memakaikan perhiasan ini padaku seolah kau sedang memakaikan zirah pada prajurit yang akan kau kirim ke garis depan."
Elena melangkah maju, memperkecil jarak hingga dadanya bersentuhan dengan tuksedo kaku Julian. Ia mendongak, menantang kilat gelap di mata suaminya.
"Jika aku memang titik lemahmu, kenapa kau tidak mengurungku saja di sini? Kenapa membawaku ke sana?" suara Elena meninggi, penuh dengan tuntutan yang selama ini ia pendam. "Katakan sejujurnya, Julian! Apa kau membawaku untuk melindungiku, atau kau hanya ingin menunjukkan pada musuhmu bahwa kau memiliki sesuatu yang begitu berharga hingga kau rela menghancurkan dunia demi benda itu? Apa aku ini manusia bagimu, atau hanya sekadar simbol kekuasaanmu?"
Rahang Julian mengeras hingga urat di lehernya menonjol. Suasana di kamar itu mendadak menjadi sangat dingin, seolah oksigen tersedot keluar. Ia tidak mundur. Sebaliknya, Julian merengkuh pinggang Elena dengan satu tangan, menariknya begitu rapat hingga Elena bisa merasakan deru napas Julian yang memburu karena amarah yang tertahan.
"Kau ingin tahu apa artinya kau bagiku?" desis Julian, wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajah Elena. "Manusia lain akan melihatmu sebagai mangsa. Tapi bagiku..."
Julian mencengkeram dagu Elena, memaksanya menatap kedalaman matanya yang kelam.
"Kau adalah satu-satunya hal yang membuatku masih merasa memiliki jiwa, Elena. Dan jika menunjukkanmu pada dunia berarti aku harus membantai setiap orang di ruangan itu hanya karena mereka menatapmu terlalu lama... maka akan kulakukan."
Tatapan Julian jatuh ke bibir Elena yang bergetar.
"Jangan pernah tanyakan statusmu lagi. Karena jika kau bukan siapa-siapa, aku sudah membiarkanmu mati semalam di lantai itu. Sekarang, diamlah. Pasang wajah istrimu yang paling angkuh, dan berjalanlah di sampingku seolah kau adalah pemilik dunia ini. Karena selama tanganmu berada di tanganku, kau memang pemiliknya."
Julian melepaskan cengkeramannya, meninggalkan rona merah di kulit pucat Elena. Ia merapikan kerah tuksedonya sejenak, kembali menjadi pria berdarah dingin yang tidak memiliki celah.
"Mobil sudah menunggu," ucap Julian datar, seolah konfrontasi panas tadi tidak pernah terjadi. "Ayo."