Sentuhan Paling Berbahaya

1484 Words
Fajar menyelinap masuk melalui celah gorden, membawa semburat cahaya pucat yang membasuh keheningan di dalam kamar luas itu. Tidak ada lagi sisa-sisa oksigen yang terasa hilang seperti semalam; yang ada hanyalah aroma maskulin Julian—campuran sandalwood dan sisa parfum mahal—yang kini mengepung indra penciuman Elena dalam jarak yang berbahaya. ​Elena terjaga dalam posisi yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia tidak lagi meringkuk sendirian di atas marmer yang dingin, melainkan terkunci rapat di dalam dekapan suaminya. Lengan kokoh Julian melingkar posesif di pinggangnya, menarik tubuh mungil Elena hingga tak ada celah di antara mereka. ​Saat penglihatannya mulai jernih, napas Elena tercekat. ​Wajah Julian berada tepat di depan matanya. Sangat dekat, hingga Elena bisa merasakan embusan napas hangat pria itu menerpa ujung hidungnya. Julian masih terlelap, sesuatu yang sangat langka karena pria itu biasanya sudah menghilang ke ruang kerja sebelum fajar menyingsing. ​Dalam jarak sedekat ini, gurat dingin yang biasa menghiasi wajah Julian seolah memudar, digantikan oleh ketenangan yang asing. Bulu matanya yang lebat, rahangnya yang tegas namun kini tampak sedikit lebih santai, dan aroma tubuhnya yang semalam menenangkan Elena kini terasa begitu memabukkan. ​Elena terpaku, tidak berani bernapas terlalu keras. Ia menyadari bahwa sepanjang malam, Julian tidak pernah melepaskannya. Lengan kokoh pria itu masih melingkar protektif di pinggangnya, sementara jemari besar Julian mengunci jemari Elena yang terluka di atas d**a bidangnya. ​“Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan, Julian?” batin Elena menjerit dalam sunyi. Matanya menatap lekat iris gelap suaminya, mencoba mencari celah, mencari sisa-sisa kedinginan yang biasanya selalu ada di sana. ​“Apakah ini hanya rasa bersalah? Ataukah kau sedang mempermainkanku dengan cara yang lebih kejam?” Elena teringat bagaimana selama Julian sangat dingin dan tak tersentuh, Julian yang logikanya melampaui segalanya, kini justru menjaganya seolah ia adalah permata yang paling berharga. ​Tiba-tiba, kelopak mata Julian bergerak. ​Elena ingin segera memejamkan mata dan berpura-pura tidur, namun terlambat. Mata tajam sedingin es itu terbuka perlahan, dan dalam hitungan detik, iris gelapnya langsung mengunci pandangan Elena. Tidak ada kebingungan khas orang bangun tidur di sana; tatapan Julian langsung berubah menjadi intens dan penuh selidik. ​"Sudah bangun?" suara Julian terdengar sangat rendah dan serak, menciptakan getaran halus yang merambat hingga ke tulang belakang Elena. ​Elena menelan ludah dengan susah payah. "I-iya..." Bukannya menjauhkan diri untuk memberi ruang, Julian justru semakin merapatkan tubuhnya. Ia menumpu kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya naik untuk mengusap pipi Elena yang kini sudah tidak lagi panas karena demam. Jemarinya yang kasar namun lembut itu menelusuri garis rahang Elena dengan gerakan yang sangat posesif. ​"Bagaimana perasaanmu? Masih pusing?" tanya Julian, matanya tak lepas dari bibir Elena yang mulai kembali merona. ​"Sudah lebih baik," bisik Elena lirih. Ia merasa terjebak di antara bantal dan tubuh kuat suaminya. "Julian, kau... kau tidak pergi ke kantor?" ​Julian menyeringai tipis, sebuah senyum predator yang tidak mencapai matanya. "Duniaku sedang berantakan semalam karena ulah orang-orang tidak berguna itu, Elena. Kau pikir aku akan membiarkanmu sendirian pagi ini?" ​Julian tidak langsung beranjak. Ia tetap mengunci posisi Elena di bawah dekapannya, membiarkan keheningan pagi itu menjadi saksi keintiman yang menyesakkan. Jemarinya yang tadi mengusap pipi Elena kini beralih, ibu jarinya menekan lembut bibir bawah Elena yang sedikit terbuka karena terkejut. ​"Kau tahu, Elena..." suara Julian merendah, getarannya terasa hingga ke d**a Elena. "Melihatmu hancur seperti kemarin... itu membuatku menyadari sesuatu yang sangat berbahaya." ​"Apa itu?" bisik Elena, suaranya hampir hilang. ​"Bahwa aku tidak suka berbagi perhatianmu, bahkan dengan rasa sakit sekalipun," jawab Julian posesif. ​Ia tidak memberikan ruang bagi Elena untuk bertanya lebih lanjut. Julian menundukkan kepalanya, memangkas jarak yang tersisa hingga napas mereka menyatu. Awalnya, ia hanya menempelkan bibirnya di atas bibir Elena—sebuah sentuhan ringan, hampir seperti sebuah pengujian. Namun, saat ia merasakan tubuh Elena yang gemetar di bawahnya, naluri pelindung dan obsesi Julian meledak. ​Julian mencium Elena dengan intensitas yang mengejutkan. Itu bukan ciuman yang manis atau ragu; itu adalah ciuman yang menuntut, penuh dengan otoritas dan deklarasi kepemilikan. Bibir Julian bergerak dengan tekanan yang pasti, seolah ia sedang menghapus setiap jejak trauma yang ditinggalkan oleh Bibi Sofia dan Valeska, menggantinya dengan tanda miliknya sendiri. ​Elena terkesiap, tangannya yang tidak terluka tanpa sadar meremas bahu kemeja Julian. Rasa panas menjalar dari titik pertemuan bibir mereka ke seluruh tubuhnya, mengusir sisa dingin dari demam semalam. Ciuman Julian terasa seperti api yang membakar namun sekaligus menyembuhkan. ​Julian memperdalam pagutan itu. Ia mengisap bibir bawah Elena dengan lembut namun tegas, memberikan sensasi d******i yang membuat Elena merasa benar-benar tak berdaya di tangan suaminya. Julian seolah ingin memastikan bahwa mulai detik ini, satu-satunya rasa yang akan diingat Elena adalah rasa miliknya. Hingga akhirnya Julian menarik diri, ia tidak menjauhkan wajahnya. Ia membiarkan hidung mereka tetap bersentuhan, sementara napas mereka yang memburu saling bersahutan dalam keheningan kamar. ​"Ingat rasa ini, Elena," bisik Julian serak di depan bibir istrinya yang kini memerah dan basah. "Setiap kali kau merasa takut, ingatlah bahwa kau milikku. Dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menyentuh apa yang sudah menjadi milik Julian Armand." Ia mengecup sudut bibir Elena sekali lagi dengan posesif sebelum akhirnya melepaskan dekapannya dan duduk di tepi ranjang. ​"Sekarang, bangunlah," perintah Julian, suaranya kembali datar namun penuh otoritas. "Ganti pakaianmu." Julian berdiri di depan Elena, posisinya begitu dominan hingga bayangannya menelan tubuh kecil istrinya. Keheningan kamar yang luas itu seolah terisi oleh suara detak jantung Elena yang berdentum keras. ​Saat jemari Julian mulai menyentuh kancing teratas gaun tidur Elena, napas wanita itu tercekat. Wajah Elena seketika berubah semerah tomat, rona panas itu merambat cepat dari pipi hingga ke telinga dan leher jenjangnya. Ia mencoba menunduk, menyembunyikan tatapannya yang bergetar, namun Julian tidak membiarkannya. ​"Lihat aku, Elena," perintah Julian, suaranya kini serak dan berat. ​Dengan satu tarikan lembut namun pasti, Julian membuka kancing-kancing itu. Saat kain tipis tersebut merosot dari bahu Elena, mengekspos kulit putih porselennya yang mulus, Julian mendadak menahan napas. ​Dadanya terasa sesak. Pemandangan di depannya—kombinasi antara kerapuhan Elena yang gemetar dan kecantikannya yang murni—menghantam pertahanan Julian yang biasanya setegar karang. Rahang pria itu mengeras, urat-urat di lehernya menonjol saat ia berjuang keras menahan hasrat yang membuncah di dalam dadanya. ​Tangannya sempat gemetar sesaat ketika ujung jarinya tanpa sengaja bersentuhan dengan kulit pinggang Elena. Ada dorongan gila di dalam dirinya untuk merengkuh wanita ini lebih erat, untuk mengklaim setiap inci tubuhnya lebih dari sekadar ciuman. Namun, melihat tangan Elena yang masih terbalut perban, Julian memaksakan akal sehatnya kembali. ​Ia memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang yang terasa panas untuk menenangkan gejolak di dadanya. ​"Jangan gemetar seperti itu," bisik Julian, suaranya kini terdengar seperti geraman rendah yang tertahan. "Atau aku tidak akan bisa menjamin keselamatanku sendiri untuk tidak melahapmu sekarang juga." ​Elena semakin membenamkan wajahnya yang merona ke d**a Julian, tidak berani melihat bagaimana mata suaminya kini berkilat gelap oleh gairah yang tertahan. Julian dengan sangat hati-hati—meski napasnya masih memburu—menarik gaun baru yang bersih dan menyusupkannya ke tubuh Elena. ​Sentuhannya kali ini jauh lebih cepat, seolah Julian takut jika ia berlama-lama, ia akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Setelah pakaian itu terpasang sempurna, Julian menjauh satu langkah, mencoba mencari oksigen yang seolah hilang dari ruangan itu. ​"Selesai," ucap Julian pendek, mencoba mengembalikan nada dinginnya walau gagal total. Elena berdiri mematung di depan cermin besar setelah Julian keluar dari kamar. Gemuruh di dadanya belum juga reda, sementara rasa panas di bibirnya masih tertinggal, seolah Julian telah meninggalkan segel permanen di sana. “Siapa kau sebenarnya, Julian Armand?” bisik Elena pada bayangannya sendiri yang tampak rapuh dalam balutan gaun baru pilihan suaminya. Tentu saja, tidak ada jawaban. Yang ada hanya keheningan kamar yang luas, menggantung berat di udara… serta detak jantung Elena yang belum juga kembali normal. Namun—Tiba-tiba pantulan di cermin itu berubah. Sebuah sosok tinggi muncul di belakangnya. Elena membeku. Otot-otot di tengkuknya menegang saat kesadaran itu menghantam terlambat. Dengan gerakan kaku, ia mengangkat pandangan. Dan napasnya langsung tersangkut di tenggorokan. Julian sudah berdiri di sana. Entah sejak kapan. Melalui cermin, mata gelap pria itu mengunci dirinya—tajam, dalam, dan… terlalu mengetahui. Tatapan itu membuat bulu kuduk Elena meremang, seolah setiap lapisan pertahanannya sedang dibaca satu per satu. Julian melangkah maju. Satu langkah. Cukup untuk membuat ruang di antara mereka terasa menyempit berbahaya. Tangannya terangkat perlahan… lalu berhenti hanya sejengkal dari bahu Elena, seakan menahan sesuatu yang lebih liar untuk tidak lepas. “Kalau kau ingin tahu siapa aku…” suara Julian jatuh rendah di belakang telinganya. Hangat. Dekat. Mematikan. Tubuh Elena menegang seketika. Lalu, dengan bisikan yang nyaris tak terdengar, Julian melanjutkan— “…kau mungkin tidak akan siap dengan jawabannya.” Jantung Elena menghantam keras tulang rusuknya. Untuk pertama kalinya—ia tidak yakin apakah ia benar-benar ingin mengetahui kebenaran… atau justru berharap rahasia itu tetap terkubur selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD