Penjara Paling Aman

1579 Words
Julian membeku. Genggaman Elena pada kemejanya begitu lemah, namun terasa seperti beban ribuan ton yang menahan Julian untuk tidak beranjak satu inci pun. Pria yang biasanya mengedepankan logika di atas segalanya itu kini merasa logikanya lumpuh total. ​"Aku di sini," bisik Julian rendah, suaranya nyaris pecah. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Elena, membungkus jemari kecil yang gemetar itu dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. "Aku tidak akan ke mana-mana, Elena. Buka matamu." ​Namun, Elena tidak membuka mata. Ia justru semakin meracau, tubuhnya menggigil hebat meski suhu kulitnya terasa seperti membakar tangan Julian. Amarah Julian kembali tersulut saat menyadari bantuan medis belum juga tiba. ​Ia menoleh ke arah pintu dengan tatapan predator. "Danu!" teriaknya lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih mendesak dan mengancam. ​Kepala pelayan itu kembali muncul di ambang pintu dengan wajah pucat. ​"Dimana dokter itu?!" geram Julian. Rahangnya mengeras, matanya berkilat penuh emosi yang campur aduk. "Hubungi dia lagi! Katakan padanya, jika dalam sepuluh menit dia tidak menapakkan kakinya di kamar ini, aku sendiri yang akan memastikan kliniknya rata dengan tanah besok pagi! Tidak ada pengecualian! Seret dia kemari jika perlu!" ​"Ba-baik, Tuan! Segera!" Danu langsung berbalik dan berlari secepat kilat menuju telepon. ​Julian kembali beralih pada Elena. Ia menarik tubuh ringkih itu lebih dekat ke dalam dekapannya, mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya sendiri untuk melawan menggigilnya Elena. ​"Bertahanlah," gumam Julian sambil menyeka keringat dingin di pelipis istrinya dengan jemari yang kini bergetar. "Jangan berani-berani pergi setelah kau membuatku seperti ini, Elena. Kau dengar? Itu perintah." ​Elena tidak menjawab, namun cengkeramannya pada kemeja Julian sedikit mengerat, seolah di dalam kegelapan pingsannya, ia tahu bahwa gunung karang yang selama ini dingin itu kini sedang mendekapnya dengan segenap nyawa. Keheningan yang mencekam itu pecah oleh suara langkah kaki yang terburu-buru di koridor. Danu muncul kembali, kali ini bersama seorang pria paruh baya yang membawa tas medis dengan napas tersengal-engal. Dokter Gunawan, dokter pribadi keluarga mereka, tampak pucat pasi—bukan hanya karena dipaksa berlari, tapi karena melihat aura gelap yang dipancarkan Julian. ​"Tuan Julian, Dokter sudah tiba," lapor Danu dengan suara bergetar. ​Julian tidak bergeming. Ia tidak melepaskan dekapannya pada Elena, bahkan saat Dokter Gunawan mendekat ke tepi ranjang. ​"Periksa dia. Sekarang," perintah Julian, suaranya rendah namun tajam seperti sembilu. ​Dokter Gunawan menelan ludah dengan susah payah. "Maaf, Tuan... saya butuh ruang untuk memeriksa detak jantung dan suhu tubuh Nyonya. Jika Tuan bisa menunggu di luar sebentar agar—" ​"Tidak," potong Julian telak. Tatapannya yang sedingin es mengunci sang dokter. "Lakukan tugasmu di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya tanpa pengawasanku. Jangan memintaku pergi dari kamarku sendiri." ​Julian justru semakin merapatkan tubuh Elena ke dadanya, membiarkan kepala Elena yang panas bersandar di bahunya sementara dokter mulai bekerja dengan tangan yang sedikit gemetar. Pria itu menjaga istrinya dengan sikap posesif yang luar biasa, seolah-olah jika ia melepaskan Elena satu detik saja, nyawa wanita itu akan terenggut. ​Dokter Gunawan dengan sangat hati-hati memeriksa denyut nadi Elena dan memeriksa luka memar di telapak tangannya. Setiap kali alat medis sang dokter menyentuh kulit Elena, rahang Julian mengeras. Ia mengamati setiap gerakan dokter seolah siap menerkam jika ada sedikit saja kesalahan yang membuat Elena merintih. ​"Nyonya mengalami stres psikis yang berat dikombinasikan dengan kelelahan fisik dan dehidrasi, Tuan. Ini yang menyebabkan demamnya begitu tinggi," jelas dokter dengan suara pelan. "Saya harus memberikan suntikan penurun panas dan memasangkan infus agar kondisinya stabil." ​Saat jarum suntik dikeluarkan, cengkeraman tangan Julian pada bahu Elena mengerat. "Lakukan dengan lembut. Jika dia kesakitan, kau yang akan menanggungnya." ​Julian memalingkan wajah Elena ke dadanya sendiri, menutupi mata istrinya agar tidak melihat jarum tersebut, meski Elena masih dalam keadaan pingsan. Ia terus membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh Elena, sebuah janji protektif yang melampaui logika pria dingin yang selama ini dikenal dunia. ​Setelah infus terpasang, Dokter Gunawan memberikan instruksi mengenai obat-obatan dan perawatan lanjutan. Namun, Julian seolah tidak mendengar bagian "biarkan dia beristirahat sendiri". Setelah dokter dan para pelayan keluar atas perintahnya, Julian tetap berada di sana. ​Ia tidak melepaskan kemejanya yang kini kusut dan basah oleh keringat Elena. Ia justru naik ke atas ranjang, memposisikan dirinya di samping Elena, dan kembali menarik tubuh rapuh itu ke dalam dekapannya. ​"Kau aman, Elena," bisiknya posesif di telinga istrinya yang masih terlelap. "Mulai detik ini, duniaku adalah penjaramu yang paling aman. Tidak akan ada lagi tangan yang bisa menyentuhmu, selain tanganku." ​Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Julian terus terjaga, menatap wajah Elena dengan pandangan yang tak lagi dingin, melainkan penuh dengan obsesi dan perlindungan yang menyesakkan. Detik demi detik berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Julian sama sekali tidak memejamkan mata. Ia membiarkan lengan kanannya mati rasa karena tertindih tubuh Elena, namun ia tak peduli. Baginya, rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding pemandangan memar di telapak tangan Elena yang kini mulai membiru. ​Tengah malam telah lewat, dan efek obat penurun panas mulai bekerja. Tubuh Elena tidak lagi sepanas bara, namun keringat dingin masih membasahi kulitnya. Julian meraih handuk kecil yang sudah mendingin, mencelupkannya kembali ke baskom air hangat, dan menyeka leher Elena dengan gerakan yang sangat posesif. ​Ia tidak membiarkan satu inci pun kulit Elena luput dari perhatiannya. ​"Julian..." ​Suara itu sangat tipis, nyaris seperti gesekan daun kering di atas aspal. Julian tersentak, gerakannya terhenti seketika. Ia menunduk, menatap wajah Elena yang perlahan mulai bergerak gelisah di dalam dekapannya. ​"Elena? Aku di sini," bisik Julian, suaranya parau. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Elena, memastikan kehadirannya benar-benar terasa oleh wanita itu. ​Elena perlahan membuka kelopak matanya. Dunianya masih terasa berputar, namun aroma maskulin yang bersih—campuran antara wangi sandalwood dan sisa parfum Julian—menyerbu indra penciumannya. Ia merasa sesak, namun sekaligus merasa begitu terlindungi. Saat penglihatannya mulai fokus, ia menyadari bahwa ia tidak sedang sendirian di atas lantai marmer yang dingin. Ia berada di atas ranjang yang empuk, dan yang lebih mengejutkan... ia berada di dalam pelukan suaminya. ​Julian, pria yang biasanya menatapnya dengan pandangan kosong dan dingin, kini menatapnya dengan sorot mata yang sulit ia artikan. Ada amarah di sana, tapi juga ada kegelisahan yang mendalam. ​"Minum," perintah Julian singkat, namun nadanya jauh lebih lembut dari biasanya. ​Ia membantu Elena bersandar pada dadanya yang bidang. Dengan tangan kiri yang masih melingkari pinggang Elena secara posesif, Julian meraih gelas air di nakas dengan tangan kanannya dan mengarahkannya ke bibir Elena. ​Elena meminumnya dengan perlahan, seteguk demi seteguk, sementara Julian memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya saat minum. Setelah gelas itu kosong, Elena mencoba menarik tangannya dari kemeja Julian—menyadari betapa eratnya ia mencengkeram suaminya itu sejak tadi. ​"Maaf... kemejamu jadi kusut," bisik Elena dengan suara serak, ia mencoba menjauhkan diri, merasa tidak pantas berada sedekat ini dengan Julian. ​Namun, sebelum Elena sempat bergerak lebih jauh, lengan Julian justru mengunci pinggangnya lebih erat. Julian menariknya kembali, memaksa punggung Elena menempel telak di dadanya. ​"Jangan bergerak," geram Julian rendah di samping telinga Elena. Napasnya terasa panas di kulit Elena yang sensitif. "Kemeja ini tidak penting. Yang penting adalah kenapa kau begitu bodoh membiarkan mereka menyakitimu, Elena?" ​Elena menunduk, menatap tangannya yang diperban tipis. "Aku hanya tidak ingin membuat masalah. Bibi Sofia bilang, jika aku tidak bisa menjadi istri yang sempurna untukmu, aku hanya akan menjadi aib bagi keluarga Armand." ​Julian tersenyum smirk, sebuah senyum yang terlihat sangat berbahaya. Ia meraih tangan Elena yang memar, membawanya ke depan bibirnya, dan mengecup perban itu dengan sangat perlahan—sebuah tindakan yang membuat napas Elena terhenti seketika. ​"Mulai sekarang, ingat ini baik-baik," ucap Julian, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Elena yang masih sayu. "Satu-satunya orang yang berhak memberimu aturan di rumah ini adalah aku. Dan aku tidak butuh istri yang sempurna. Aku butuh kau tetap hidup dan berada di bawah pengawasanku. Kau mengerti?" ​Elena hanya terdiam, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena getaran aneh yang mulai menjalar di dadanya. Julian yang ada di hadapannya malam ini terasa seperti orang asing yang jauh lebih posesif dan mendominasi daripada Julian yang dingin biasanya. ​"Jawab aku, Elena," tuntut Julian, jemarinya kini mengusap dagu Elena, memaksanya untuk terus menatapnya. ​"I-iya, Julian. Aku mengerti," jawab Elena lirih. ​Julian menyeringai tipis, puas. Ia kembali merebahkan tubuh Elena di atas ranjang, namun dekapannya tidak juga terlepas. Pria itu ikut berbaring di sampingnya, memandang Elena dengan tatapan yang jelas—seolah ia sedang menandai sesuatu yang telah menjadi miliknya. “Tidurlah. Aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku akan menjagamu.” Nada suaranya rendah, tenang… tetapi justru di situlah letak ancamannya. Elena menelan ludah. Ada sesuatu dalam cara Julian menatapnya malam ini yang membuat dadanya berdebar tidak menentu—bukan sepenuhnya karena takut. Keheningan merayap perlahan. Detik jam berdetak samar di sudut ruangan. Lalu— jemari Julian tiba-tiba menyelip ke bawah dagu Elena, mengangkat wajah wanita itu sedikit paksa hingga pandangan mereka bertemu. Sorot mata Julian berubah. Lebih pekat. Lebih dalam. Lebih berbahaya. “Karena mulai besok…” bisiknya rendah di dekat telinga Elena. Napas hangatnya menyapu kulit sensitif wanita itu, membuat bulu kuduk Elena meremang halus. Tubuh Elena menegang tanpa sadar. “…aku sendiri yang akan mengajarimu kedisiplinan.” Jantung Elena seolah terjun bebas. Namun sebelum satu kata pun sempat keluar dari bibirnya—tangan Julian terulur ke arah sakelar. Klik. Lampu kamar padam. Ruangan tenggelam dalam gelap yang pekat. Dan di dalam kegelapan itu— pelukan Julian justru…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD