Suasana di dalam kamar yang luas itu mendadak kehilangan oksigen. Julian tidak berteriak. Ia tidak membanting pintu. Justru keheningan yang ia bawa jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah mana pun.
Langkahnya mendekat, pelan namun setiap ketukan sepatunya di atas marmer terdengar seperti lonceng kematian. Matanya yang sedingin es menyapu pemandangan di depannya: buku yang berserakan, tumpahan air es di lantai, dan istrinya yang meringkuk gemetar dengan telapak tangan memerah.
“Julian… kau sudah pulang?” Sofia mencoba mengatur suaranya, meski nada bicaranya sedikit bergetar. Ia berdiri dari tempat tidur, berusaha memasang wajah wibawanya kembali. “Kami hanya sedang memberikan sedikit… arahan. Kau sendiri yang bilang dia harus siap untuk perjamuan keluarga nanti malam, bukan?”
Julian tidak menjawab. Ia berhenti tepat di samping Elena. Ia tidak langsung menyentuhnya, namun tatapannya mengunci Madam Valeska yang masih memegang penggaris kayu.
“Madam Valeska,” suara Julian rendah, nyaris seperti bisikan. “Apakah kurikulum kedisiplinan Anda sekarang termasuk menyiksa orang yang sedang demam tinggi di atas lantai marmer?”
Madam Valeska menunduk dalam, wajahnya yang kaku kini pucat pasi. “Saya… saya hanya menjalankan perintah Nyonya Sofia, Tuan Julian.”
“Julian, jangan berlebihan,” potong Sofia, mencoba mendekat ke arah keponakannya. “Gadis ini terlalu manja. Sedikit ketegasan tidak akan—”
“Cukup!”
Hanya satu kata, namun cukup untuk membuat Sofia terbungkam.
“Julian, aku Bibimu—”
Tatapan Julian kini beralih sepenuhnya pada Elena.
Elena mendongak lemah. Bibirnya yang pucat bergetar, mencoba memanggil nama pria itu, namun suaranya hanya berupa embusan napas yang rapuh. “Ju… lian…”
Pada saat itu, pertahanan terakhir dalam diri Elena benar-benar runtuh. Ketakutan dan rasa sakit yang sejak tadi menopang kesadarannya lenyap seketika begitu ia melihat sosok suaminya.
Pandangan Elena berputar, kabur oleh gelap yang perlahan merayap.
Tubuhnya yang panas membara limbung ke depan, kehilangan seluruh kekuatan yang tersisa.
Namun sebelum kepalanya sempat menghantam lantai, sebuah gerakan cepat menyambar.
Dengan refleks yang bertolak belakang dari sikap dinginnya beberapa saat lalu, pria itu sigap menangkap tubuh kecil Elena. Lengannya mengunci tubuh rapuh itu erat di dadanya—seolah naluri yang selama ini ia tekan akhirnya mengambil alih.
“Elena!”
Julian merengkuh tubuh Elena ke dalam pelukannya. Panas yang merambat dari kulit istrinya membuat rahang pria itu mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ia merasakan gaun tidur Elena yang basah oleh keringat dingin dan air es.
“Elena, bangun,” bisiknya, suaranya kini pecah oleh emosi yang tidak lagi bisa ia sembunyikan. Namun Elena tetap tidak bergerak. Napasnya pendek-pendek, dan jemari kecilnya yang memerah karena pukulan penggaris masih bergetar di atas sprei.
Julian berdiri tegak, auranya yang mencekam seolah menyedot seluruh oksigen di ruangan itu. Ia merobek dasinya dengan satu tarikan kasar, lalu melemparkannya ke sembarang arah. Fokusnya kini hanya pada Elena—sosok yang biasanya ia abaikan, namun kini terlihat begitu hancur di tengah kemegahan kamar ini.
Ia menatap Madam Valeska dengan pandangan yang sanggup membekukan darah. "Letakkan penggaris itu. Sekarang."
Madam Valeska melepaskan kayu itu hingga berdentang di lantai marmer. Suaranya yang gemetar mencoba membela diri. "Tuan, saya hanya—"
"Keluar," potong Julian, suaranya rendah namun penuh otoritas yang tak terbantah. "Bawa semua barangmu. Jika dalam sepuluh menit kau masih ada di lingkungan rumah ini, aku akan memastikan izin mengajarmu dicabut secara permanen di seluruh kota. Pergi!"
Tanpa menunggu perintah kedua, wanita itu meninggalkan martabatnya yang kaku di ambang pintu.
Kini tinggal Sofia yang berdiri mematung. Wajahnya yang semula angkuh kini menegang, mencoba mencari celah untuk membela diri di bawah tatapan tajam keponakannya sendiri.
"Julian, kau tidak seharusnya membentakku di depan pelayan. Aku ini Bibimu, aku melakukan ini demi nama baik keluarga—"
Julian melangkah mendekat, memotong jarak hingga Sofia terpaksa mundur hingga punggungnya menabrak dinding. Julian tidak berteriak, namun suaranya yang tenang justru jauh lebih mengerikan.
"Bibi Sofia," ucapnya dingin. "Jangan pernah menggunakan alasan 'nama baik keluarga' untuk menutupi kekejamanmu. Kau masuk ke kamarku tanpa izin, menyiksa istriku saat dia sedang sakit, dan kau pikir aku akan membiarkannya?"
"Dia hanya butuh sedikit disiplin!" Sofia berseru dengan nada tinggi yang dipaksakan.
Julian tersenyum miring, sebuah senyum tanpa kehangatan. "Keluar dari sini sekarang. Pulanglah ke kediamanmu dan tunggu di sana."
Ia berhenti sejenak, matanya berkilat gelap. "Jangan berpikir ini sudah berakhir. Urusan kita belum selesai, Bibi. Apa yang kau lakukan pada Elena hari ini akan kubayar dengan harga yang sangat mahal. Pastikan Bibi menyiapkan penjelasan yang bagus saat aku menagihnya nanti."
Sofia terperangah, tangannya gemetar hebat. Ia ingin membalas, namun melihat kepalan tangan Julian yang memutih, ia tahu pria itu sedang menahan ledakan amarah yang bisa menghancurkannya dalam sekejap. Dengan langkah cepat dan napas memburu, Sofia akhirnya meninggalkan kamar itu.
Julian berdiri tegak, auranya yang mencekam seolah menyedot seluruh udara di ruangan itu. Ia merobek dasinya dengan satu tarikan kasar, lalu melemparkannya ke sembarang arah. Fokusnya kini hanya pada Elena—sosok yang biasanya ia abaikan, namun kini terlihat begitu hancur di tengah kemegahan kamar ini.
“Danu!” teriak Julian. Suaranya menggelegar, meruntuhkan keheningan koridor di luar.
Dalam hitungan detik, kepala pelayan setia itu muncul di ambang pintu, napasnya sedikit terengah. Ia tertegun melihat pemandangan di depannya: Tuan mudanya yang tengah menyelimuti Elena dengan gerakan yang hampir terlihat... posesif.
"Panggil dokter keluarga sekarang juga. Dalam waktu sepuluh menit, ia haru sudah berada disini."
Setelah kamar itu benar-benar kosong dan hanya menyisakan keheningan yang menyesakkan, Julian perlahan berlutut di tepi ranjang.
Pandangan pria itu jatuh pada jemari Elena yang memerah. Bekas hantaman penggaris kayu tampak begitu kontras di atas kulitnya yang pucat, menusuk mata… dan entah mengapa, juga menusuk sesuatu di dalam d**a Julian.
Dengan gerakan hati-hati—terlalu lembut untuk ukuran dirinya—Julian mengangkat tangan itu. Lalu, tanpa sadar, ia meniupnya pelan.
Gestur sederhana.
Namun terasa begitu asing bagi pria sedingin dirinya.
“Bodoh…” bisik Julian serak, suaranya parau tertahan emosi. “Kenapa kau tidak melawan? Kenapa kau selalu membiarkan mereka menginjakmu?”
Elena hanya mengerang lirih dalam pingsannya. Keringat dingin terus mengalir dari pelipisnya, membuat napas Julian tertahan sesaat.
Tanpa banyak kata, ia meraih handuk kecil di atas nakas. Kain itu dibasahinya dengan air hangat dari teko yang masih tersisa, lalu dengan telaten ia mulai menyeka wajah Elena—pelan, hati-hati, seolah wanita itu terbuat dari sesuatu yang rapuh.
Sentuhan kulit Elena yang membara justru membuat rahang Julian mengeras.
Amarah yang sejak tadi bersarang di dadanya bukannya mereda—ia malah semakin mendidih, bergolak tanpa kendali.
Tiba-tiba—
Jemari Elena bergerak.
Lemah, gemetar, namun cukup nyata untuk membuat seluruh tubuh Julian menegang seketika.
Dengan sisa tenaga yang nyaris terkuras habis, Elena mencengkeram ujung kemeja Julian. Pegangannya rapuh, tetapi sarat keputusasaan—seolah ia takut pria itu akan kembali tenggelam ke dalam kegelapan yang selama ini memisahkan mereka.
“Jangan… pergi…” racau Elena lirih.
Suaranya begitu tipis, nyaris lenyap ditelan sunyi.
Namun dampaknya—
cukup untuk membuat jantung Julian seakan lupa cara berdetak.