Aset yang Tidak Boleh Disentuh

1292 Words
Pintu kamar itu terbuka dengan debuman keras yang memecah kesunyian. Elena yang baru saja hendak memejamkan mata demi meredakan sakit di kepalanya langsung tersentak bangun. Napasnya tercekat ketika melihat Sofia melangkah masuk dengan wajah penuh kemenangan, diikuti Madam Valeska yang membawa tumpukan buku tebal dan tongkat kayunya. “Bangun, Elena. Matahari sudah tinggi, dan kemalasanmu sudah cukup mengotori rumah ini,” ujar Sofia, suaranya dingin tanpa ampun. Elena menggigil. Jemarinya yang gemetar buru-buru menarik selimut hingga menutup d**a. “Bibi Sofia… Madam… Julian bilang aku harus istirahat,” bisiknya parau. Tawa sinis Sofia memecah udara. Dengan satu gerakan kasar, ia menarik selimut itu dari tubuh Elena, membiarkan gadis itu langsung disergap dingin tajam dari hembusan AC. “Julian sedang sibuk menyelamatkan perusahaan yang hampir kau hancurkan dengan drama sakitmu,” katanya ringan, berbohong tanpa berkedip. “Dia sudah menyerahkan urusanmu pada kami. Kau pikir pelukan semalam memberimu kuasa?” Bibirnya melengkung tipis. “Jangan bodoh. Itu hanya belas kasihan sesaat untuk hewan peliharaan yang sekarat.” Madam Valeska melangkah maju. Tatapannya tajam, tak berperasaan. “Bangun. Jangan jadikan sisa demammu sebagai alasan untuk menjadi pecundang. Sesi pembelajaran hari ini dimulai sekarang.” Dengan sisa tenaga yang hampir habis, Elena memaksa dirinya duduk. Namun dunia di sekelilingnya berputar liar. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya ketika ia dipaksa turun dari ranjang hangat menuju lantai marmer yang sedingin es. “Berdiri tegak, Elena! Bahumu merosot seperti orang rendahan!” bentak Madam Valeska. Tongkat kayu itu menghantam lantai tepat di samping kaki Elena—dentumannya membuat tubuh Elena tersentak hebat. “Aku… aku tidak kuat berdiri, Madam. Kepalaku sangat sakit…” rintihnya. Napasnya pendek-pendek, wajah pucatnya kini memerah karena suhu tubuh yang kembali naik. Di belakangnya, Sofia sudah duduk angkuh di atas ranjang empuk milik Elena, seolah itu singgasananya sendiri. Ia menyilangkan kaki dengan santai, jemarinya memutar untaian mutiara di leher. “Sakit? Atau kau sedang melatih bakat aktingmu untuk merayu keponakanku lagi?” ciburnya. “Sayang sekali. Julian tidak ada di sini untuk melihat air matamu yang murahan itu. Dia sedang di kantor—membersihkan noda yang kau tinggalkan pada reputasi keluarga ini.” “Julian tidak mungkin membiarkan kalian melakukan ini jika dia tahu…” bisik Elena lemah. “Oh, Elena sayang…” Tawa Sofia pecah seperti kaca yang retak. “Justru Julian yang memintaku memastikan kau ‘siap’. Dia muak melihatmu merengek. Dia ingin seorang istri yang bisa berdiri di sampingnya—bukan beban yang harus digendong.” Ia mencondongkan tubuh, suaranya berubah menjadi bisikan beracun. “Kau tahu apa yang dia katakan tadi pagi? Kau hanyalah aset yang malfungsi.” Madam Valeska mendekat lagi. Ujung tongkatnya menekan dagu Elena, memaksanya mendongak. “Disiplin pertama: kendali tubuh. Kau akan berdiri di posisi ini selama satu jam tanpa bergerak. Jika kau jatuh, kita mulai dari awal. Fokus pada rasa sakitmu—gunakan itu untuk tetap sadar.” Isak Elena pecah. “Satu jam? Aku… aku bisa pingsan…” “Pingsanlah kalau kau berani,” sela Sofia malas dari atas ranjang. Sebuah buku tebal ia lempar ke lantai tepat di depan kaki Elena. “Dan sambil berdiri, hafalkan seluruh nama dewan direksi dan silsilah keluarga kami. Aku tidak mau saat jamuan makan malam nanti kau terlihat bodoh seperti biasanya.” Air mata Elena jatuh tanpa bisa ia tahan. “Kenapa Bibi sangat membenciku…?” suaranya pecah oleh putus asa. “Aku tidak pernah melakukan apa pun padamu…” Sofia bangkit. Langkahnya pelan, mengitari Elena yang gemetar seperti mangsa yang sudah sekarat. Ia berhenti tepat di samping telinga Elena dan berbisik pelan—namun cukup tajam untuk melukai. “Karena kau adalah pengingat akan kelemahan,” desisnya. “Kau membuat Julian menjadi pria yang tidak kukenali. Dan di rumah ini… siapa pun yang membuat pemimpin kami melemah… harus disingkirkan.” Ia mundur setengah langkah. “Sekarang tutup mulutmu dan mulai menghafal. Madam Valeska, jika dia bergerak satu inci saja—kau tahu apa yang harus dilakukan.” “Tentu, Nyonya Sofia.” Elena berdiri di tengah kamarnya sendiri—yang kini terasa seperti penjara bawah tanah. Detak jam di dinding berdentum di kepalanya seperti palu. Setiap detik terasa seperti siksaan nyata. Keringat dingin mengucur deras, membasahi daster tipis yang melekat pada kulitnya yang membara. “Angkat dagumu, Elena! Kau terlihat seperti pengemis!” hardik Madam Valeska. Ujung tongkat itu kini menekan ulu hatinya, memaksanya membusungkan d**a meski paru-parunya terasa menyempit. “Aku… pusing… Madam… tolong…” Elena terhuyung. Pandangannya mulai berbayang ganda. “Pusing adalah manifestasi pikiran lemah,” jawab Madam Valeska dingin. Ia mengambil ensiklopedia tebal dan—tanpa belas kasihan—meletakkannya di atas kepala Elena. “Seimbangkan. Jika buku ini jatuh, kau mengulang hafalan dalam posisi squat.” Elena menggigit bibirnya hingga berdarah. Beban di kepalanya terasa seperti gunung yang menekan sarafnya yang sudah meradang. Dari samping, Sofia bangkit sambil membawa segelas air es. Butiran embun di permukaan gelas berkilau menggoda. Tenggorokan Elena terasa terbakar. “Kau haus, Sayang?” tanya Sofia manis—terlalu manis untuk menjadi tulus. Elena tidak berani menjawab. Ia hanya menatap gelas itu dengan mata basah penuh putus asa. “Ups.” Sofia memiringkan gelasnya dengan sengaja. Air es itu tumpah—bukan ke mulut Elena—melainkan ke kaki telanjangnya di atas marmer dingin. Tubuh Elena menggigil hebat. Buku di kepalanya pun terjatuh. Bruk. “Astaga… Elena. Kau benar-benar tidak berguna,” desis Sofia. Tangannya mencengkeram rahang Elena, memaksa gadis itu menatap kebencian di matanya. “Kau tahu kenapa aku melakukan ini? Karena setiap kali Julian melihatmu… dia melihat kegagalan. Kau hanyalah penyelesaian utang yang dipoles dengan gaun mahal.” “Itu… tidak benar…” Elena terisak. “Julian… dia menjagaku…” “Menjagamu?” Sofia tertawa keras—lalu wajahnya mengeras dingin. “Dia menjagamu karena dia harus menjaga ‘aset’. Dan aset rusak…” bisiknya tajam, “akan dibuang.” Madam Valeska maju membawa penggaris kayu panjang. “Buku jatuh. Sesuai janji—posisi squat. Sekarang.” Elena mencoba menekuk lututnya, namun rasa sakit di kepalanya meledak seperti kembang api hitam. Ia jatuh berlutut, tangan refleks menumpu pada lantai yang masih basah. “Berdiri! Jangan sentuh lantai!” bentak Madam Valeska. Plak! Penggaris kayu menghantam telapak tangan Elena. Jeritan kecil lolos dari bibirnya. Ia menarik tangannya yang memerah, tubuhnya akhirnya meringkuk di lantai, memegangi kepala yang terasa akan pecah. Isak tangisnya memenuhi ruangan yang menyesakkan. Sofia berdiri tegak di atasnya, bayangannya jatuh menelan tubuh Elena yang gemetar. “Bangun, Elena,” bisiknya dingin. “Drama ini baru saja dimulai.” Ia tersenyum tipis—kejam. “Dan percayalah… sampai matahari terbenam nanti, kau akan memohon padaku untuk mengusirmu dari rumah ini.” Kalimat itu menggantung di udara seperti vonis yang baru saja dijatuhkan. Tubuh Elena gemetar di lantai. Napasnya tersengal, pendek dan tidak teratur. Pandangannya mulai menggelap di bagian tepi, sementara denging halus memenuhi telinganya. Kesadarannya terasa seperti ditarik perlahan ke dalam jurang. Namun di tengah kabut pusing yang menelannya, ia menangkap satu suara— Klik. Bunyi gagang pintu. Begitu pelan… namun cukup untuk membuat udara di ruangan itu berubah. Sofia belum sempat bereaksi ketika daun pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar. Angin dingin menyusup masuk lebih dulu, menyapu tirai dan membawa hawa yang entah mengapa terasa menekan. Lalu terdengar langkah kaki. Berat. Mantap. Satu… dua… tiga… Madam Valeska menegang. Punggungnya otomatis lurus seperti kawat yang ditarik kencang. Sementara itu, senyum tipis di bibir Sofia perlahan membeku. Di ambang pintu berdiri sosok pria tinggi dengan aura yang seketika menyesakkan seluruh ruangan. Bayangannya jatuh panjang di lantai marmer, gelap dan mengintimidasi. Sepasang mata hitamnya langsung menemukan Elena—yang masih meringkuk lemah di lantai. Sunyi mendadak turun. Mencekam. Detak jam di dinding terdengar semakin keras. Lalu, dengan suara rendah yang dinginnya mampu membekukan darah— “…Apa yang kalian lakukan pada istriku?” Mata Elena membelalak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD