Cahaya fajar yang abu-abu mulai merayap masuk melalui celah gorden, membasahi lantai marmer dengan rona dingin yang pucat. Julian masih berada di posisi yang sama sejak tengah malam: terduduk kaku di sofa panjang, dengan kemeja yang sudah kusut dan segelas wiski yang tidak tersentuh di meja sampingnya.
Matanya yang merah karena kurang tidur terus tertuju pada sosok Elena yang terlelap di atas ranjang. Di dalam keheningan yang menyesakkan itu, batin Julian sedang berkecamuk hebat—sebuah perang saudara antara logika yang dingin dan naluri yang mulai membangkang.
Dia hanya bidak, Julian, suara dingin di kepalanya terus merapalkan mantra itu. Ingat apa yang terjadi pada Ayahmu. Dia hancur karena dia pikir wanita itu adalah segalanya.
Namun, setiap kali ia mencoba memalingkan wajah, bayangan Elena yang gemetar dalam pelukannya kemarin kembali muncul. Rasa hangat tubuh wanita itu yang sempat meresap ke dalam kulitnya terasa seperti noda yang tidak bisa ia hapus. Julian mengepalkan tangan hingga buku-jarinya memutih. Ia merasa muak pada dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa... lemah.
"Sialan," desisnya rendah, suaranya parau membelah kesunyian kamar.
Ia benci fakta bahwa ia tidak tidur hanya untuk memastikan napas Elena tetap teratur. Ia benci bagaimana ia hampir menyerah pada keinginan untuk kembali ke sisi ranjang dan menggenggam tangan wanita itu. Baginya, lengah adalah maut. Dan pagi ini, ia merasa seolah-olah seluruh benteng yang ia bangun dengan darah dan air mata sedang berada di ambang keruntuhan.
Julian berdiri dengan sentakan kasar. Ia harus pergi. Ia harus menjauh dari aroma mawar dan obat-obatan yang menguar dari arah ranjang sebelum ia benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Ia melangkah menuju kamar mandi, mengguyur wajahnya dengan air es, dan mengenakan setelan jas hitamnya yang kaku—perisai yang selalu membuatnya merasa tak tersentuh. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak di ambang pintu, menatap Elena untuk terakhir kalinya pagi itu.
"Jangan pernah berpikir kau telah menang, Elena," bisiknya pada sosok yang masih terlelap itu, sebuah peringatan yang sebenarnya lebih ditujukan untuk hatinya sendiri.
Dengan langkah tegap dan dingin, Julian keluar dari kamar. Ia bahkan tidak menoleh ketika melewati kepala pelayan di koridor. Otoritasnya telah kembali, atau setidaknya, itulah yang ingin ia tunjukkan pada dunia.
"Siapkan mobil," perintahnya singkat pada ajudan yang sudah menunggu di lobi bawah. "Dan pastikan tidak ada yang mengganggu Elena hari ini, kecuali instruksi langsung dariku."
Ajudan itu mengangguk patuh, namun Julian tidak menyadari bahwa di balik bayang-bayang pilar ruang tamu, sebuah mobil hitam lain sudah terparkir di halaman belakang. Madam Valeska telah tiba lebih awal, membawa mandat rahasia dari Sofia yang siap menghancurkan sisa-sisa kedamaian di rumah itu.
Julian masuk ke dalam mobilnya, menutup pintu dengan dentuman keras yang seolah menandakan dimulainya perang baru. Saat mobil mewah itu membelah jalanan pagi menuju kantor pusat, Julian menatap lurus ke depan, mencoba mematikan sisa-sisa perasaan yang masih berdenyut di dadanya.
Dia tidak tahu, bahwa saat ia mulai sibuk dengan angka-angka dan mosi tidak percaya di kantor, Elena akan dipaksa memasuki neraka yang baru.
Suara deru mobil Julian dari halaman depan perlahan menghilang, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam mansion. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Dari arah pintu belakang, langkah kaki yang berat dan berirama tajam mulai terdengar menyusuri koridor marmer.
Madam Valeska melangkah masuk dengan gaun hitam kaku yang seolah menyerap seluruh cahaya di sekitarnya. Di sampingnya, Bibi Sofia berjalan dengan senyum kemenangan yang tersungging tipis, matanya berkilat penuh antisipasi.
"Tuan Julian sudah pergi?" tanya Sofia pada kepala pelayan dengan nada yang lebih mirip sebuah pernyataan daripada pertanyaan.
"Baru saja, Nyonya," jawab pelayan itu sambil menunduk patuh.
"Bagus. Berarti kendali ada di tanganku sekarang," Sofia menoleh pada Madam Valeska. "Ingat kesepakatan kita. Julian mungkin ingin dia menjadi 'aset', tapi aku ingin dia tahu posisinya sebagai tawanan. Jangan biarkan dia bernapas lega sedikit pun."
Madam Valeska hanya mengangguk patuh, jemarinya yang keriput mencengkeram gagang tongkat kayu dengan kuat. "Disiplin adalah satu-satunya bahasa yang saya mengerti, Nyonya Sofia."
Langkah kaki Sofia dan Madam Valeska yang angkuh terhenti tepat di depan pintu ruang musik. Seorang pria tegap dengan setelan jas hitam gelap berdiri menghalangi jalan mereka. Dia adalah Bima, ajudan kepercayaan Julian yang telah menerima perintah langsung sebelum tuannya berangkat ke kantor.
"Mohon maaf, Nyonya Sofia. Tuan Julian memberikan instruksi tegas bahwa Nyonya Elena tidak boleh diganggu oleh siapa pun hari ini demi pemulihannya," ucap Bima dengan suara bariton yang datar namun tak tergoyahkan.
Sofia menghentikan langkahnya, matanya menyipit penuh penghinaan. Ia menatap Bima seolah pria itu hanyalah debu di bawah sepatunya. "Kau lupa siapa yang kau hadapi, Ajudan? Aku adalah pemilik darah keluarga ini. Minggir sebelum aku memastikan Julian memecatmu karena pembangkangan."
Bima tidak bergeming sedikit pun. "Tuan Julian adalah satu-satunya atasan saya. Dan perintahnya sangat jelas."
Madam Valeska mendengus, mengetukkan tongkatnya ke lantai marmer dengan keras. "Disiplin tidak mengenal kata istirahat. Wanita di dalam sana butuh bimbingan, bukan dimanjakan seperti bayi."
Sofia maju selangkah, menatap Bima dengan senyum licik yang sarat manipulasi. "Kau pikir Julian benar-benar ingin melindunginya? Kau salah baca situasi, Bima. Tadi pagi, Julian sendiri yang meneleponku. Dia sadar bahwa kelembutannya kemarin adalah kesalahan."
Sofia merogoh ponselnya, jemarinya bergerak di atas layar seolah siap menekan tombol panggil. "Satu kata dariku, dan kau bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi reputasimu sebagai pengawal profesional akan tamat. Pilihannya ada di tanganmu, Bima. Biarkan kami masuk untuk menjalankan tugas dari Julian, atau hadapi kemarahan tuanmu karena kau membiarkan istrinya menjadi wanita manja yang tidak berguna."
"Saya tidak menerima pesan tersebut dari Tuan Julian," sahut Bima, namun ada sedikit keraguan yang melintas di matanya. Ia tahu betapa dinginnya Julian; sangat masuk akal jika tuannya itu menyesali rasa ibanya semalam.
"Itu karena dia terlalu sibuk di rapat direksi menghadapi kekacauan yang disebabkan oleh wanita itu!" seru Sofia dengan nada tinggi. "Dia memerintahkanku untuk mengambil alih. Apakah kau ingin menjadi penyebab Julian kehilangan mosi percaya dari dewan direksi karena istrinya tidak becus? Minggir, atau kau yang akan bertanggung jawab jika reputasi Julian hancur hari ini!"
Bima terdiam. Dilema besar menghantamnya. Di satu sisi, ia memegang janji pada Julian. Di sisi lain, ia tahu Julian sangat membenci kelemahan, dan ancaman Sofia mengenai dewan direksi bukanlah isapan jempol semata.
Melihat Bima yang ragu, Sofia mendorong bahu pria itu dengan kasar. "Cukup omong kosong ini. Kami punya mandat. Madam Valeska, silakan masuk."
Bima hanya bisa berdiri terpaku saat Sofia dan Madam Valeska menerobos masuk ke dalam ruangan. Ia ingin menghubungi Julian, namun ia tahu Julian sedang dalam rapat tertutup yang sangat krusial dan tidak boleh diganggu.
"Jika terjadi sesuatu pada Nyonya Elena, saya akan melaporkan ini secara mendetail kepada Tuan Julian," ancam Bima rendah.
"Laporkan saja," sahut Sofia puas sambil memutar gagang pintu. "Julian akan berterima kasih padaku karena telah melakukan pekerjaan yang tidak sanggup ia lakukan sendiri."
Bima tetap berdiri kaku di depan pintu yang baru saja tertutup.
Ucapan Sofia masih terngiang di telinganya—manis, tapi beracun. Nalurinya sebagai pengawal menjerit keras: ada yang salah.