Suasana hangat yang baru saja melingkupi kamar itu seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang dibawa oleh kehadiran sosok di ambang pintu. Bibi Sofia berdiri di sana dengan dagu terangkat tinggi, setelan blazernya yang kaku seolah mencerminkan wataknya yang keras. Matanya yang tajam dan penuh penghakiman langsung tertuju pada Elena yang masih bersandar lemas di pelukan Julian.
Julian tidak langsung melepaskan Elena. Sebaliknya, ia justru mempererat dekapannya sejenak, seolah memberikan perlindungan terakhir sebelum ia menoleh perlahan. Rahangnya mengeras, dan matanya memancarkan kilat peringatan yang berbahaya.
"Keluar, Bibi," ucap Julian. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya. "Kau tidak punya hak untuk masuk ke kamarku tanpa izin."
Sofia mendengus sinis, melangkah masuk lebih jauh tanpa memedulikan peringatan itu. "Hak? Aku punya hak atas reputasi keluarga ini, Julian! Dewan direksi sedang menunggumu, dan kau justru membuang waktu di sini? Menjaga seorang wanita yang bahkan tidak tahu cara bersikap sebagai istri seorang pewaris?"
Tangan Julian yang berada di punggung Elena mengepal. Ia perlahan meletakkan Elena kembali ke bantal dengan gerakan yang sangat hati-hati, lalu berdiri tegak. Postur tubuhnya yang tinggi kini sepenuhnya menutupi Elena dari pandangan Sofia.
"Rapat itu sudah dibatalkan. Aku tidak akan mengulanginya lagi," ujar Julian dingin. Ia melangkah mendekati Sofia, memperkecil jarak hingga wanita itu terpaksa mendongak. "Dan jangan pernah menyebut Elena 'wanita itu'. Dia adalah istriku. Jika kau menghinanya, sama saja dengan kau menghinaku."
"Istrimu?" Sofia tertawa hambar, matanya melirik sinis ke arah ranjang. "Istri yang kau kurung semalam di ruang musik? Jangan berpura-pura menjadi pahlawan, Julian. Aku tahu apa yang kau lakukan padanya. Tapi mengabaikan bisnis demi drama rumah tangga ini? Itu sangat kekanak-kanakan!"
"Cukup." Julian memotong dengan nada yang lebih tajam. "Apa yang terjadi di dalam rumah ini adalah urusanku. Kau mungkin merasa memiliki pengaruh di perusahaan, tapi di sini, kau hanyalah tamu. Dan tamu yang tidak sopan biasanya diminta pergi."
"Kau mengusir bibimu sendiri demi dia?" Suara Sofia meninggi, penuh ketidakpercayaan.
Julian melirik Elena yang tampak memucat mendengarkan pertengkaran itu, lalu kembali menatap Sofia dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Aku mengusir pengganggu yang merusak ketenangan istriku yang sedang sakit. Jika kau ingin membicarakan bisnis, tunggu sampai aku kembali ke kantor minggu depan. Sekarang, keluar dari kamarku."
Julian berdiri tegak, merapikan kemejanya yang sedikit kusut dengan gerakan yang presisi dan dingin. Kehangatan yang tadi sempat ia bagikan di atas ranjang seolah menguap begitu saja setelah konfrontasinya dengan Sofia. Kata-kata bibinya tentang nasib sang ayah telah membangunkan kembali monster dalam dirinya yang skeptis dan penuh perhitungan.
Ia tidak menatap Elena dengan kelembutan yang sama. Tatapannya kini lebih mirip seorang tuan tanah yang sedang memeriksa kondisi propertinya.
"Tunggulah di sini. Aku akan segera kembali," ucap Julian singkat. Suaranya tidak lagi rendah penuh bisikan, melainkan datar dan penuh perintah.
Elena, yang masih merasa pusing karena demam, hanya bisa menatap punggung tegap itu menjauh. Ada kekosongan mendadak yang menyakitkan saat sumber panas tubuh Julian meninggalkan sisi ranjang. Ia ingin bertanya tentang apa yang terjadi di luar, namun aura Julian saat ini begitu tertutup hingga Elena mengurungkan niatnya.
Julian melangkah keluar dari kamar dengan gerakan yang begitu tenang hingga terasa mengerikan. Ia menutup pintu di belakangnya dengan perlahan, memastikan Elena tidak perlu mendengar racun yang akan keluar dari mulut Bibi Sofia. Begitu pintu tertutup rapat, ekspresi pelindung yang tadi ia tunjukkan pada Elena lenyap, digantikan oleh tatapan predator yang siap menerkam.
"Berani sekali Bibi meninggikan suara di depan pintuku," desis Julian. Suaranya rendah, bergema di koridor sunyi itu seperti guntur yang tertahan.
Sofia tidak mundur. Ia merapikan bros intan di kerah blazernya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa otoritasnya. "Aku melakukan apa yang perlu dilakukan, Julian! Kau sudah gila? Membatalkan rapat dengan dewan direksi demi menyuapi bubur pada wanita yang bahkan tidak mencintaimu? Seluruh keluarga sedang membicarakan bagaimana kau membiarkannya 'sakit' hanya untuk mencari perhatianmu!"
Julian tertawa hambar, sebuah suara yang kering dan tanpa emosi. Ia menyudutkan Sofia ke dinding koridor, tangannya bertumpu di samping kepala bibinya. "Keluarga? Maksudmu dirimu sendiri dan sekutu-sekutumu yang haus jabatan itu?"
"Jangan kurang ajar!" Sofia mendesis, matanya berkilat penuh kebencian. "Ingat siapa yang membantumu naik ke kursi CEO setelah ayahmu tiada. Aku bisa menjatuhkanmu secepat aku mengangkatmu. Jika dewan direksi tahu kau membiarkan emosi pribadimu—atau lebih buruk, obsesi gilamu pada Elena—mengganggu stabilitas perusahaan, mereka akan mencabut mosi percayamu!"
Julian mendekatkan wajahnya, membiarkan Sofia melihat kegelapan yang murni di matanya. "Coba saja. Tarik mosi itu. Dan aku akan memastikan setiap investasi yang kau tanam di anak perusahaan hancur dalam semalam. Kau pikir kau punya kuasa di sini? Di rumah ini, di perusahaan ini, aku adalah hukumnya."
Sofia terengah, wajahnya memerah karena amarah yang tertahan. "Kau melindunginya seolah dia permata berharga, padahal semalam kau membiarkannya membusuk di ruang musik. Kau munafik, Julian! Kau hanya ingin memilikinya sebagai boneka yang rusak!"
"Dia milikku untuk aku rusak, dan milikku untuk aku perbaiki," sahut Julian dengan nada yang begitu posesif hingga membuat bulu kuduk berdiri. "Dan siapa pun yang mencoba menyentuh atau menghinanya, termasuk kau, akan berurusan dengan tanganku sendiri. Sekarang, angkat kakimu dari rumah ini sebelum aku meminta keamanan menyeretmu keluar seperti sampah."
Sofia menatap Julian dengan pandangan yang kini bercampur antara amarah dan spekulasi kejam. Ia tahu ia tidak bisa menang dalam adu fisik atau gertakan saat ini. Ia mundur satu langkah, memperbaiki posisinya dengan angkuh.
"Baiklah," ucap Sofia dengan senyum tipis yang sarat akan muslihat. "Jaga dia baik-baik, Julian. Tapi ingat, semakin tinggi kau menaruhnya di atas alas bedak yang retak, semakin hancur dia saat aku menjatuhkannya nanti. Dewan direksi mungkin bisa kau bungkam, tapi skandal... skandal adalah hal yang tidak bisa kau kontrol."
"Dan... Jangan memakai perasaan, Julian," ucap Sofia rendah, suaranya kini tenang namun jauh lebih mematikan. "Karena cinta akan membuatmu lemah. Kau sudah lupa apa yang terjadi dengan ayahmu dulu?"
Rahang Julian mengeras seketika. Otot-otot di lehernya menegang, dan tatapannya yang semula penuh api kemarahan mendadak membeku menjadi es yang kelam. Nama ayahnya adalah luka lama yang tidak pernah benar-benar mengering, sebuah peringatan sejarah yang tertulis dengan darah di silsilah keluarga mereka.
"Ayahmu menghancurkan kerajaan yang ia bangun hanya demi satu wanita yang tidak pernah benar-benar menginginkannya," lanjut Sofia, melangkah mendekat dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. "Dia membiarkan dirinya didikte oleh emosi, dan lihat bagaimana akhirnya? Dia kehilangan segalanya—bisnisnya, harga dirinya, dan akhirnya nyawanya sendiri. Kau ingin mengulangi sejarah tragis itu hanya untuk Elena?"
Julian tidak bergeming, namun genggaman tangannya pada gagang pintu kamar begitu kuat hingga buku-bukunya memutih.
"Elena adalah bidak, Julian. Bukan pusat semestamu," bisik Sofia tepat di samping telinganya. "Jika kau mulai mengasihaninya, jika kau mulai menukar rapat direksi dengan peran sebagai perawat yang setia, kau sedang menggali kuburanmu sendiri. Jangan biarkan wajah pucatnya menipumu. Dia adalah racun yang sama yang membunuh ayahmu."
Julian menarik napas panjang, lalu perlahan melepaskan gagang pintu. Ia menoleh ke arah Sofia dengan tatapan yang kini benar-benar kosong—tak ada amarah, tak ada empati, hanya kehampaan yang mengerikan.
"Kau salah satu hal, Sofia," kata Julian datar. "Aku tidak sedang mencintainya. Aku sedang menjaganya tetap 'utuh' agar aku bisa terus menggunakannya. Ayahku hancur karena dia menyerahkan hatinya. Aku? Aku hanya memastikan asetku tidak rusak sebelum waktunya."
Sofia mengangkat alis, mencoba mencari celah kebohongan di mata Julian, namun ia hanya menemukan kegelapan yang tak tertembus.
"Bagus kalau begitu," sahut Sofia sambil menepuk bahu Julian dengan gerakan yang kaku. "Pastikan kau tetap mengingatnya saat kau menatap matanya nanti. Karena sekali kau goyah, aku sendiri yang akan memastikan Elena 'disingkirkan' dari papan catur ini, demi kebaikanmu... dan demi perusahaan."
Sofia berbalik dan benar-benar pergi kali ini, meninggalkan Julian sendirian di koridor yang kini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Julian berdiri diam selama beberapa menit, membiarkan kata-kata Sofia meresap ke dalam tulang-tulangnya.
Ia memutar kembali kenangan tentang ayahnya—pria yang dulu kuat, namun berakhir tragis karena sebuah obsesi yang disebut cinta. Julian memejamkan mata sejenak, membentengi hatinya kembali dengan tembok besi yang sempat retak pagi ini.
Julian melangkah masuk ke dalam kamar utama dengan gerakan yang nyaris tak terdengar. Suasana ruangan itu kini hanya diterangi oleh lampu tidur yang temaram, memberikan nuansa hangat yang kontras dengan kekacauan yang baru saja ia lalui di luar bersama Sofia.
Ia berdiri di tepi ranjang, menatap ke arah Elena.
Elena sudah tertidur lelap. Sisa-sisa demam masih meninggalkan rona tipis di pipinya yang pucat, namun napasnya kini lebih teratur.
Wajahnya terlihat begitu tenang, jauh dari ekspresi penuh kebencian atau ketakutan yang biasanya ia tunjukkan saat terjaga. Rambutnya terurai di atas bantal sutra, membingkai wajah rapuh yang seolah meminta perlindungan.
Julian mengamati setiap inci wajah istrinya itu. Dalam tidurnya, Elena tampak tidak berbahaya. Ia tampak seperti alasan yang cukup kuat untuk membuat seorang pria melupakan seluruh dunianya.
Julian mengulurkan tangan, jemarinya menggantung hanya beberapa milimeter dari kening Elena. Ia ingin merasakan suhu tubuhnya sekali lagi, ingin memastikan bahwa dingin yang tadi menyiksa Elena benar-benar telah hilang. Namun, sebelum kulit mereka bersentuhan, Julian menarik tangannya kembali dengan sentakan kasar.
Ia mengepalkan tangannya di samping tubuh. Kata-kata Sofia kembali terngiang, berputar di kepalanya seperti kutukan: “Cinta akan membuatmu lemah... Kau lupa apa yang terjadi dengan ayahmu?”
Julian membuang muka, menatap bayangannya sendiri di cermin besar yang berdiri di sudut kamar. Ia melihat seorang pria dengan setelan jas mahal yang tampak sempurna, namun di baliknya, ada benteng yang mulai retak.
"Aku tidak boleh lemah karenanya," bisik Julian pada kesunyian. Suaranya dingin, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri lebih dari siapa pun.
Baginya, ketenangan Elena adalah ancaman. Rasa iba yang ia rasakan adalah musuh. Ia tidak boleh membiarkan wanita ini menjadi detak jantungnya, karena ia tahu persis—di dunianya, siapa pun yang memegang jantungmu, memiliki kekuatan untuk menghentikannya kapan saja.
Ia berbalik dengan kaku, meninggalkan sisi ranjang tanpa sepatah kata pun. Ia berjalan menuju sofa panjang di ujung ruangan, memilih untuk menjaga jarak yang aman dari kehangatan yang menyesatkan itu.
Sementara itu...
Sofia tidak membuang waktu. Begitu ia melangkah masuk ke dalam mobil limousine pribadinya, ia langsung merogoh ponsel dari tas kulit buayanya. Matanya berkilat penuh dendam; jika ia tidak bisa menyentuh Julian secara langsung, ia akan menghancurkan apa yang sedang coba dilindungi oleh keponakannya itu.
Ia mendial sebuah nomor internasional. Setelah nada sambung ketiga, suara wanita yang kaku dan dingin menjawab di ujung sana.
"Madam Valeska," sapa Sofia dengan nada manis yang berbisa. "Saya harap saya tidak mengganggu waktu Anda yang berharga."
"Nyonya Sofia," jawab Madam Valeska dari seberang sana. "Julian baru saja membatalkan sesi hari ini. Itu sangat tidak profesional bagi seorang istri seorang public figur."
Sofia tersenyum sinis. "Itulah alasan saya menelepon. Julian terlalu lunak karena 'belas kasihan' yang tidak perlu. Elena sedang mencoba memanipulasi situasi dengan berpura-pura sakit. Sebagai keluarga, saya sangat khawatir disiplinnya akan hancur jika kita tidak bertindak cepat."
"Apa maksud Anda?"
"Besok pagi, saat Anda datang, saya ingin Anda melipatgandakan intensitasnya. Jangan berikan dia jeda. Gunakan metode 'latihan tahanan' yang pernah Anda ceritakan. Jika dia menangis, itu artinya dia sedang belajar. Julian mungkin akan mencoba menghentikan Anda, tapi ingatlah, saya yang memegang kontrak kerja Anda, bukan dia," bohong Sofia dengan lancar, mempertaruhkan otoritasnya.
"Saya mengerti," jawab Madam Valeska dingin. "Disiplin adalah kunci. Saya akan memastikan dia tidak punya waktu untuk mengeluh besok."
Madam Valeska menutup panggilan dengan bunyi klik yang tajam. Suasana kembali sunyi.
Sofia mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri. Untuk sesaat, sudut bibirnya terangkat puas—rencananya berjalan mulus.
Besok…
semuanya akan berada di bawah kendalinya.