Pelukan yang Seharusnya Kubenci

1878 Words
Pukul dua dini hari, suara kunci pintu yang diputar memecah keheningan yang mematikan tempat itu. Bunyi klik yang tajam menggema di seluruh ruang musik yang sunyi. ​Julian melangkah masuk. Ia tidak menyalakan lampu utama; hanya cahaya remang-remang dari koridor yang masuk ke dalam, menciptakan siluet panjang tubuhnya yang tegap. Ia masih mengenakan kemeja yang sama, namun kancing atasnya sudah terbuka dan lengan kemejanya digulung—menunjukkan bahwa ia sendiri pun belum beristirahat. ​Matanya yang tajam langsung menyisir ruangan, mencari sosok yang beberapa jam lalu menantangnya dengan begitu keras. Ia menemukannya di dekat kaki piano. ​Elena tertidur di atas lantai kayu yang keras dan dingin. Tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seperti janin yang berusaha mencari kehangatan di tengah badai. Rambut panjangnya yang biasanya tertata rapi kini tersebar berantakan, menutupi wajahnya yang pucat. Ia tertidur karena kelelahan emosional, namun napasnya yang pendek dan gemetar menunjukkan bahwa dalam tidurnya pun, ia sedang berjuang melawan dingin yang menusuk tulang. ​Julian berdiri diam selama beberapa saat, menatap pemandangan itu tanpa ekspresi yang bisa terbaca. Tidak ada amarah, namun juga tidak ada penyesalan yang terlihat. Ia perlahan berjongkok di samping istrinya. ​Ujung jarinya menyentuh lengan Elena yang terbuka. Kulitnya terasa sedingin es. ​Elena tersentak dalam tidurnya. Sebuah erangan lirih keluar dari bibirnya yang membiru, namun ia tidak terbangun sepenuhnya. Ia justru tanpa sadar bergerak mendekat ke arah sumber panas yang baru saja menyentuhnya—mendekat ke arah Julian, pria yang tadi ia usir dengan penuh kebencian. ​Julian menghela napas pendek, sebuah suara yang terdengar hampir seperti rasa frustrasi yang ditekan. Dengan satu gerakan mantap, ia mengangkat tubuh Elena yang terasa sangat ringan di pelukannya. ​Elena melenguh pelan, kepalanya terkulai lemas di bahu Julian. Secara naluriah, ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Julian, mencari kehangatan dari aroma sandalwood yang maskulin—aroma yang beberapa jam lalu ia sebut sebagai racun. ​Julian membawanya keluar dari ruangan gelap itu. Langkah kakinya terdengar mantap menyusuri koridor rumah yang sunyi menuju kamar utama. Saat ia meletakkan Elena di atas tempat tidur yang empuk dan menyelimutinya hingga ke dagu, Elena mulai sedikit sadar. ​Matanya yang sembab terbuka perlahan, menatap kabur sosok pria yang berdiri di atasnya. ​"Julian...?" bisiknya parau, suaranya nyaris hilang. ​Julian tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan tatapan yang kembali menjadi dingin dan tak tertembus. Ia mengulurkan tangan, menyingkirkan sehelai rambut dari dahi Elena dengan gerakan yang mekanis. ​"Tidurlah," ucap Julian datar. "Kau punya waktu empat jam sebelum Madam Valeska datang. Jangan harap ada kompromi untuk jadwal besok, Elena. Kau sendiri yang meminta diperlakukan sebagai tahanan." Pagi menyapa melalui celah tirai yang tebal, namun Elena tidak sanggup menyambutnya. Tubuhnya terasa seperti terbakar sekaligus membeku. Setiap kali ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, rasa sakit berdenyut dari sendi hingga ke tulang. ​Suara ketukan pintu yang teratur terdengar, disusul suara berat Julian di balik pintu yang memerintahkan pelayan untuk pergi. Julian masuk sendirian. Ia sudah berpakaian rapi—setelan jas abu-abu gelap yang sempurna—namun langkahnya terhenti saat melihat Elena masih meringkuk dalam selimut, napasnya terdengar berat dan pendek. ​Julian berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang. Ia meletakkan punggung tangannya di dahi Elena. ​"Kau demam, Elena," gumam Julian, suaranya rendah. ​Elena membuka matanya perlahan, mencoba menepis tangan Julian, namun tenaganya menguap begitu saja. "Panggil... Madam Valeska. Aku akan... berlatih." ​"Aku sudah membatalkannya," potong Julian tenang. "Aku tidak ingin dia melihat 'istriku' dalam kondisi sekacau ini. Itu akan merusak reputasiku sebagai suami." ​"Kau yang membuatku... seperti ini," bisik Elena, suaranya pecah. Air mata mulai mengalir di sudut matanya yang panas. ​Julian menghela napas, sebuah suara yang terdengar hampir seperti penyesalan, meski matanya tetap tajam. Ia menarik selimut Elena lebih tinggi, lalu tanpa diduga, ia melepas jasnya dan melonggarkan dasinya. Ia naik ke atas ranjang, menyandarkan punggungnya pada ranjang, dan menarik tubuh Elena yang gemetar ke dalam pelukannya. ​"Lepaskan aku, Julian..." Elena memberontak lemah, namun Julian justru mempererat dekapannya, menyembunyikan wajah Elena di dadanya yang hangat. ​"Diamlah," bisik Julian tepat di telinganya. "Anggap saja ini bagian dari hukumanmu. Kau harus tetap di sini, di pelukanku, sampai suhunya turun." ​Elena terdiam. Rasa hangat dari tubuh Julian merasuk ke dalam pori-porinya, meluluhkan kedinginan sisa semalam yang masih mendekam di hatinya. Aroma sandalwood yang semalam ia benci, kini terasa seperti obat penenang yang paling ampuh. Secara naluriah, Elena meremas kemeja Julian, menyandarkan kepalanya di d**a pria itu, mendengarkan detak jantung Julian yang stabil dan kuat. Dengan gerakan tenang namun otoriter, ia mendial sebuah nomor. ​"Batalkan semua pertemuanku hari ini," ucap Julian datar tanpa basa-basi saat panggilannya tersambung. "Termasuk raoat dengan dewan direksi siang ini. Atur ulang semuanya minggu depan. Aku tidak ingin diganggu untuk alasan apa pun." ​Setelah menutup telepon, Julian meletakkan kembali ponselnya dan mendapati Elena sedang menatapnya. Mata Elena yang masih berkaca-kaca dan sayu karena demam memancarkan tatapan yang sangat sulit diartikan—sebuah campuran antara rasa tidak percaya, kebencian yang mulai luntur, dan ketakutan akan keintiman yang mendadak ini. ​"Kenapa kau melakukan ini?" bisik Elena parau. "Duniaku baru saja kau hancurkan semalam, dan sekarang kau menghentikan duniamu sendiri hanya untuk menjagaku?" ​Julian terdiam sejenak, jarinya bergerak mengusap sisa air mata di pipi Elena. "Karena kau jauh lebih menarik saat kau melawanku, Elena. Aku tidak ingin kau 'patah' terlalu cepat sebelum aku selesai denganmu." Julian turun sejenak untuk mengambil baskom berisi air hangat yang sudah disiapkan di depan pintu. Saat ia kembali dan duduk di tepi ranjang, Elena hanya bisa menatapnya dengan pandangan nanar. Ada sesuatu yang sangat asing melihat tangan yang biasanya digunakan untuk menandatangani kontrak jutaan dolar atau mengunci pintu dengan dingin, kini justru memeras kain lembut dengan gerakan yang begitu telaten. ​"Diamlah, jangan mencoba bergerak," gumam Julian saat Elena mencoba menggeser tubuhnya. ​Julian menempelkan kompres hangat itu ke dahi Elena. Tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan pelipis Elena yang panas, dan untuk pertama kalinya, Elena tidak tersentak kaget. Rasa hangat itu meresap, memberikan kenyamanan yang ironis di tengah kebencian yang masih tersisa. ​Tak lama kemudian, seorang pelayan mengetuk pintu dan meninggalkan nampan berisi bubur serta obat. Julian mengambil alih nampan itu sendiri. Ia meniup sesendok bubur dengan sabar, lalu mengarahkannya ke bibir Elena. ​"Buka mulutmu," perintahnya. Suaranya tetap tegas, tapi tidak lagi mengandung racun yang menusuk. ​Elena menatap sendok itu, lalu menatap mata gelap Julian. "Kau melakukannya seolah kau benar-benar peduli," bisik Elena sebelum akhirnya menerima suapan itu. ​"Aku memang peduli pada apa yang menjadi milikku, Elena," sahut Julian datar, namun jemarinya yang bebas bergerak mengusap sisa bubur di sudut bibir Elena dengan ibu jarinya—sebuah sentuhan yang terlalu lembut untuk sekadar urusan 'kepemilikan'. ​Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang lembut. Elena merasa bingung. Bagaimana bisa pria yang semalam membiarkannya meringkuk kedinginan dalam gelap, kini menyuapinya dengan ketulusan yang membingungkan? Logikanya meneriakkan bahwa ini adalah manipulasi, tapi tubuhnya yang lemah justru mendambakan perhatian itu. ​Setelah beberapa suapan, Julian meletakkan mangkuknya. Ia tidak langsung pergi. Ia justru mengambil handuk kecil, membasuhnya lagi, dan mulai menyeka leher serta lengan Elena untuk membantu menurunkan panasnya. Setiap kali kain itu bersentuhan dengan kulitnya, Elena merasa benteng pertahanannya terkikis sedikit demi sedikit. ​"Julian..." suara Elena melemah, matanya mulai sayu karena efek obat yang mulai bekerja. "Jangan seperti ini. Jangan membuatku lupa siapa kau sebenarnya." ​Julian berhenti sejenak, menatap Elena yang kini tampak begitu rapuh di bawah kendalinya. Ia membungkuk, mengecup kening Elena yang tertutup kompres, lalu membisikkan sesuatu yang membuat jantung Elena berdegup kencang. ​"Mungkin aku ingin kau lupa, Elena. Mungkin aku ingin kau hanya mengingat bahwa di dunia yang kejam ini, hanya aku yang boleh menyakitimu, dan hanya aku yang akan menyembuhkanmu." ​Julian kemudian menyelipkan tangannya di bawah kepala Elena, mengatur bantalnya, dan menarik selimut hingga ke dagu istrinya. Ia tetap duduk di sana, menggenggam tangan Elena yang kecil di dalam tangannya yang besar, membiarkan keheningan intim itu menyatukan mereka dalam kedamaian yang menyesatkan. Keheningan di kamar itu tidak lagi terasa mencekam, melainkan berat oleh sesuatu yang tak kasatmata. Julian menggeser duduknya, merapatkan tubuhnya pada pinggir ranjang hingga lututnya bersentuhan dengan paha Elena yang terbalut selimut. ​Ia tidak melepaskan genggaman tangannya. Jempolnya mulai mengusap buku-buku jari Elena dengan gerakan melingkar yang pelan, hampir menghipnotis. ​"Kau punya tangan yang sangat dingin," bisik Julian, suaranya kini lebih mirip geraman rendah yang lembut. "Apakah ini karena kau terus-menerus mencoba membangun dinding es di antara kita?" ​Elena menoleh perlahan, menatap wajah Julian yang diterpa cahaya matahari sore yang mulai menguning. "Es itu adalah satu-satunya pelindungku agar tidak hangus oleh apimu, Julian. Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau pawang yang tidak mengenal kata menyerah?" ​Julian terkekeh rendah, suara yang jarang sekali Elena dengar. Ia melepaskan tangan Elena hanya untuk merayap naik, menyelipkan jemarinya ke belakang tengkuk Elena, menarik wajah istrinya itu sedikit lebih dekat hingga kening mereka hampir bersentuhan. ​"Pawang tidak akan membiarkan miliknya mati kedinginan," gumam Julian. Napasnya yang beraroma mint dan coffee menyentuh bibir Elena. "Katakan padaku, Elena... di balik semua kutukan yang kau ucapkan semalam, apakah ada satu bagian darimu yang merasa tenang saat aku mengangkatmu dari lantai itu?" ​Elena memejamkan mata, merasakan ibu jari Julian mengusap garis rahangnya dengan penuh pemujaan yang posesif. "Aku benci kenyataan bahwa tubuhku mengenalimu lebih cepat daripada pikiranku," bisik Elena jujur, suaranya nyaris hilang. "Aku benci merasa aman di pelukan pria yang mengunciku di kegelapan." ​Julian justru menarik napas dalam, seolah menghirup aroma demam dan parfum mawar yang menguar dari kulit Elena. "Maka bencilah aku sesukamu. Tapi selama kau sakit, selama kau lemah, jangan berani-berani berpaling dariku. Aku ingin menjadi satu-satunya sumber panasmu." ​Ia merunduk lebih dalam, bibirnya hanya berjarak sehelai rambut dari sudut bibir Elena. Julian tidak menciumnya dengan kasar; ia hanya menyesap napas Elena, seolah sedang mengambil separuh dari rasa sakit istrinya. ​"Kau milikku, Elena," bisik Julian dengan nada yang begitu intim hingga membuat bulu kuduk Elena meremang. "Bahkan rasa sakitmu adalah hak istimewaku. Jangan pernah memintaku melepaskanmu, karena saat kau paling hancur sekalipun, aku akan tetap menahanmu di sini... tepat di tempat yang aku inginkan." ​Elena meremas kain kemeja Julian di bagian d**a, mencoba mencari pegangan saat dunianya terasa berputar. "Kau monster yang egois," gumamnya, namun ia justru menyandarkan kepalanya di bahu Julian, menyerah pada kehangatan yang menyesatkan itu. ​"Memang," sahut Julian sambil mengecup puncak kepala Elena dengan lama. "Dan monster ini baru saja membatalkan dunia demi menjagamu tetap bernapas. Jadi, tutup matamu, Elena. Aku tidak akan pergi, bahkan jika kau memimpikan cara untuk membunuhku nanti." Elena memejamkan mata, membiarkan dirinya terhanyut dalam ritme detak jantung Julian yang tenang di bawah telinganya. Untuk sesaat, kebencian, harga diri, dan pintu yang terkunci itu terasa seperti mimpi buruk yang jauh. Di sini, di balik dekapan posesif Julian, ada rasa aman yang begitu candu hingga membuatnya takut pada dirinya sendiri. ​Julian terus mengusap punggung Elena dengan gerakan melingkar yang menenangkan, membuat kesadaran Elena perlahan meredup menuju lelap yang dalam. ​Namun, keintiman yang rapuh itu pecah dalam sekejap saat suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah koridor. Suara itu bukan langkah pelayan yang berhati-hati, melainkan langkah seseorang yang memiliki otoritas penuh di rumah ini selain Julian. ​BRAK! ​Pintu kamar utama terbuka tanpa ketukan. ​"Julian! Apa yang kau lakukan sampai membatalkan rapat direksi—" ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD