Mahkota dan Rantai

1166 Words
Hari pernikahan itu datang bukan dengan denting lonceng yang riang, melainkan dengan ketepatan sebuah upacara kenegaraan—kaku, terukur, tanpa cela. Jakarta bersolek seperti seorang aktris yang terlalu dipoles. Langit biru membentang bersih tanpa awan, cahaya matahari memantul di kaca-kaca gedung tinggi, seolah semesta sengaja bersekongkol menampilkan kesempurnaan. Ironisnya, di dalam d**a Elena, mendung tak bergerak sejak pertemuan terakhirnya dengan Julian dua minggu lalu. Mendung itu menetap, berat, dan dingin. Ballroom hotel bintang lima itu menjelma taman firdaus yang membeku. Kristal-kristal gantung berkilauan, memecah cahaya menjadi serpihan pelangi yang menari di atas lantai marmer. Ribuan lili putih impor dari Belanda menghampar di setiap sudut, aromanya meluap—ribuan tangkai yang sengaja dipaksa mekar sempurna untuk malam ini—memenuhi udara dengan keharuman yang manis namun menyesakkan, persis seperti aroma pemakaman yang dipoles dengan kemewahan tingkat tinggi. Setiap kelopak tampak diperiksa dengan ketelitian berlebihan, seolah ketidaksempurnaan adalah dosa yang tak termaafkan. Di tempat ini, kesempurnaan bukan sekadar harapan. Ia adalah kewajiban. Di depan cermin ruang rias, Elena memandangi bayangannya sendiri. Gaun pengantin couture berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, sebuah mahakarya dari perancang ternama yang menghabiskan waktu ratusan jam hanya untuk menjahit setiap butir mutiara pada kain brokatnya. Namun, bagi Elena, gaun itu terasa seberat baju zirah besi. Ia merasa setiap jahitannya adalah jeruji yang perlahan-lahan merapat, mengunci dirinya dalam sebuah identitas baru yang tidak pernah ia pilih sendiri. “Cantik sekali, Nona,” bisik penata rias, suaranya gemetar antara kagum dan gugup. “Semua tamu sudah menunggu.” Elena tersenyum tipis. Senyum yang terlatih. “Memang sudah seharusnya,” jawabnya lembut. “Transaksi sebesar ini tidak boleh terlambat.” Elena berdiri. Berat gaun itu seakan ingin menarik pundaknya jatuh, namun ia tetap menegakkan punggung. Di luar pintu, Baskoro telah menunggu dengan tuksedo hitam yang tampak terlalu formal untuk seorang ayah yang hendak menyerahkan putrinya. Mata pria itu berkabut. “El…” suara Baskoro pecah pelan. Tangannya yang menggenggam lengan Elena terasa sedikit gemetar. Elena meraih kerah jas ayahnya, merapikannya dengan gerakan lembut namun mekanis. “Jangan begitu, Pa,” katanya pelan, nyaris berbisik. “Hari ini kita tidak sedang kehilangan anak perempuan. Kita sedang menutup kesepakatan paling prestisius dalam sejarah Adiwangsa.” Pintu besar ballroom terbuka. Musik organ yang megah mulai menggema, merayap di antara ratusan tamu yang terdiri dari para pemegang kekuasaan negeri ini. Kilatan lampu kamera paparazzi menyerbu dari segala arah, menciptakan efek halusinasi yang menyilaukan. Di ujung altar, Julian Armand berdiri menanti. Ia tampak sempurna—dan itu menjengkelkan. Tuksedo hitamnya jatuh rapi di tubuh tinggi tegapnya. Wajahnya tenang, nyaris tanpa emosi. Tidak ada kegugupan, tidak ada antusiasme. Hanya keyakinan dingin seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Bukan pengantin pria. Melainkan seorang penakluk. Langkah Elena terukur saat menyusuri lorong panjang menuju altar. Setiap langkah adalah gema keputusan yang tidak pernah benar-benar ia buat sendiri. Baskoro berhenti. Dengan napas berat, ia menyerahkan tangan Elena. Saat telapak tangan Julian menyentuh kulitnya yang dingin, Elena merasakan sengatan halus—bukan hangat, melainkan seperti peringatan. Julian menggenggamnya sedikit lebih lama dari yang diperlukan. “Kau terlihat… pantas,” bisiknya rendah, nyaris tenggelam oleh musik. Bibirnya nyaris tak bergerak. “Untuk peran ini.” Elena tidak menoleh. “Dan kau terlihat seperti pria yang baru saja memenangkan lelang aset paling mahal di negeri ini,” balasnya ringan. “Selamat, Tuan Armand.” Sudut bibir Julian terangkat tipis. “Percayalah. Aku selalu menawar dengan perhitungan.” Prosesi janji suci berlangsung seperti pembacaan kontrak. Kata-kata tentang cinta dan kesetiaan meluncur dari bibir mereka dengan artikulasi sempurna, namun tanpa getar. Prosesi janji suci berlangsung seperti pembacaan kontrak. Kata-kata tentang cinta dan kesetiaan meluncur dari bibir mereka dengan artikulasi sempurna, namun tanpa getar. Saat tiba waktunya ciuman, ruangan menahan napas. Julian mendekat. Tangannya yang kuat melingkar di pinggang Elena, menariknya cukup dekat hingga aroma kayu cendana dan maskulinitas yang mahal menyerbu indra penciuman Elena. Namun, alih-alih bibir, Julian hanya mengecup kening Elena—lama, dingin, dan penuh penekanan. Di depan publik, itu adalah tindakan yang sangat sopan dan protektif. Bagi Elena, itu adalah tanda kepemilikan. Stempel di atas dokumen resmi. Di sela-sela bersalaman dengan seorang menteri senior, Julian berbisik tanpa mengubah ekspresinya. ​"Tersenyumlah sedikit lebih tulus, Elena," gumam Julian di sela-sela jabat tangan dengan seorang menteri. "Dunia sedang menonton. Pastikan mereka tidak melihat setitik pun retakan di balik berlianmu." Elena memperlebar senyumnya, memperlihatkan deretan gigi putih sempurna. “Bukankah ini sudah cukup memesona?” balasnya manis. “Atau kau khawatir investasimu tampak tidak puas?” Elena tertawa kecil—ringan, mengancam. “Hati-hati, Julian. Kau mungkin tidak hanya membawa pulang seorang istri malam ini.” Ia mencondongkan wajah sedikit lebih dekat. “Kau mungkin membawa pulang seseorang yang mencatat setiap gerakanmu.” Julian akhirnya menoleh, benar-benar menatapnya. Tatapannya tenang, tapi keras. Tangannya di pinggang Elena mengencang sepersekian detik—cukup untuk mengingatkan siapa yang memegang kendali. “Di rumahku,” ucapnya pelan, “bahkan bayangan pun tahu batasnya.” Elena membalas tatapan itu tanpa berkedip. “Dan di dalam kepalaku,” balasnya lirih, “tidak ada ruang yang bisa kau kuasai.” Hening sepersekian detik terasa seperti retakan di atas kaca. Julian memiringkan kepala, senyumnya berubah tipis dan berbahaya. “Kita lihat saja,” katanya. “Aku punya seumur hidup untuk membuktikan sebaliknya.” Elena menarik tangannya dari genggaman Julian dengan gerakan halus yang terlihat seperti penyesuaian pose bagi kamera. Namun matanya menantang. “Dan aku punya seumur hidup untuk memastikan kau tidak pernah benar-benar menang.” “Dan aku punya seumur hidup untuk memastikan kau tidak pernah benar-benar menang.” Musik mengalun lebih keras. Para tamu bertepuk tangan saat mereka diminta berdansa pertama. Julian menarik Elena ke lantai dansa dengan anggun—terlalu anggun. Tangannya di punggung Elena terasa seperti rantai berlapis sutra. “Kau seharusnya tidak menantangku di depan umum,” gumamnya, napasnya menyentuh telinga Elena. “Kau seharusnya tidak mengira aku akan diam selamanya,” balas Elena. Langkah mereka serasi. Tubuh mereka selaras. Dari luar, mereka tampak seperti pasangan yang diciptakan untuk satu sama lain. Langkah dansa mereka tetap selaras, sempurna, seolah tubuh mereka memang diciptakan untuk mengisi ruang yang sama. Tepuk tangan menggema ketika Julian memutar Elena dengan anggun, gaunnya mengembang seperti gelombang cahaya di bawah kristal-kristal gantung. Tak seorang pun melihat bagaimana jari Julian menekan punggungnya sedikit terlalu keras. “Kau menikmati permainan ini?” bisiknya, napasnya hangat di balik telinga Elena. “Aku hanya memastikan aku tidak menjadi pion,” balas Elena, senyumnya tak luntur. Julian menghentikan putaran itu mendadak—masih dalam ritme, masih dalam keindahan—namun cukup dekat hingga d**a mereka nyaris tak berjarak. “Pion?” ulangnya pelan. “Tidak, Elena. Kau terlalu berharga untuk itu.” “Lalu seperti apa aku?” tantangnya lirih. Julian menatapnya lama. Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kendali melintas di matanya. “Istri,” ucapnya lembut. “Dan semua yang datang bersama gelar itu.” 'Apa itu juga termasuk...?' Pikiran Elena menerawang jauh ke deskripsi arti gelar dari seorang istri.'Tidak... tidak mungkin.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD