Simfoni Kain yang Robek

1465 Words
Klik kunci yang berputar dari luar itu terdengar seperti vonis mati bagi kebebasan Elena. Suara logam yang beradu menjadi noktah terakhir dari perdebatan berdarah mereka malam itu. Elena bersimpuh di atas karpet Persia, bahunya berguncang hebat, sementara noda darah Victor yang mengering di gaun sutranya terasa seperti kerak yang mengunci kulitnya. ​Di balik pintu jati yang kokoh itu, Julian berdiri mematung. Telapak tangannya masih menempel pada permukaan kayu, seolah ia bisa merasakan detak jantung Elena yang kacau di sisi lain. Napasnya masih memburu, namun wajahnya telah kembali menjadi topeng pualam yang dingin. ​"Jaga pintu ini," perintah Julian pada dua pengawal yang baru saja tiba di lorong sayap utama. "Siapa pun, termasuk pelayan, tidak boleh masuk tanpa izin tertulis dariku. Pastikan dokter tiba dalam sepuluh menit melalui pintu belakang. Dan ingat... dia tidak boleh membawa ponsel atau alat komunikasi apa pun keluar dari kamar ini." ​"Baik, Tuan Armand," jawab mereka serempak, kepala mereka tertunduk dalam. ​Julian melangkah pergi, namun langkahnya tidak menuju ke ruang kerja atau bar untuk menuang wiski. Ia melangkah menuju ruang bawah tanah mansion itu—sebuah tempat yang bahkan Elena tidak tahu keberadaannya. ​Udara di ruang bawah tanah itu lembap dan berbau besi. Di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu bohlam kuning, Victor Volkov terikat di sebuah kursi besi. Wajahnya yang hancur kini membiru dan membengkak, napasnya terdengar seperti suara kertas yang diremas. ​Julian masuk, menanggalkan jas hitamnya yang ternoda, dan menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Ia tidak mengambil senjata. Ia hanya menarik sebuah kursi kayu dan duduk tepat di hadapan Victor yang setengah sadar. ​"Kau tahu, Victor," suara Julian tenang, hampir seperti percakapan santai di meja makan. "Kesalahan terbesarmu bukan mencoba melecehkan seorang wanita. Dunia ini penuh dengan b******n sepertimu." ​Julian condong ke depan, mencengkeram rahang Victor yang patah, memaksa pria itu menatap matanya. ​"Kesalahanmu adalah kau mencoba mencuri oksigenku. Kau membuat dia menangis karena ketakutan, bukan karena gairah yang aku berikan. Kau merusak estetikanya dengan luka itu." ​"Ju-julian... ampun..." rintih Victor dari sela gigi yang tanggal. ​"Ampun adalah kata yang tidak ada dalam kamus investasiku," desis Julian. Ia memberi isyarat pada pengawalnya. "Patahkan setiap jari yang menyentuh bahunya. Mulailah dari tangan kanan. Aku ingin mendengar melodi tulang yang retak sebelum aku memutuskan bagian mana dari dirimu yang akan dikirim ke keluargamu sebagai peringatan." ​Jeritan melengking Victor pecah di ruangan kedap suara itu, namun Julian hanya menatapnya dengan kekosongan yang mengerikan. Di kepalanya, ia tidak melihat Victor yang menderita; ia melihat bayangan Elena yang berteriak bahwa ia lebih baik mati daripada menjadi miliknya. Suasana di ruang bawah tanah itu mendadak senyap, hanya menyisakan suara tetesan darah yang jatuh ke lantai beton dan deru napas Victor yang tersengal. Julian berdiri, membersihkan noda merah di buku jarinya dengan sapu tangan sutra seolah-olah ia baru saja menyentuh debu yang mengganggu, bukan menghancurkan hidup seseorang. ​Ia melangkah mendekat, membungkuk hingga bibirnya berada tepat di samping telinga Victor yang sudah tak lagi utuh. ​"Kau pikir kau cukup bernyali untuk bermain-main di wilayahku?" bisik Julian, suaranya halus namun membawa getaran yang sanggup membekukan sumsum tulang. "Kau adalah peringatan bagi siapa pun di luar sana yang punya delusi serupa." ​Julian mencengkeram rambut Victor, memaksa kepala pria itu terdongak dengan kasar. ​"Dengarkan baik-baik, karena ini adalah kalimat terakhir yang akan kau dengar sebelum dunia menjadi sangat gelap bagimu," desisnya dengan tatapan obsidian yang mematikan. "Sekarang kau tahu... jangan pernah sesekali menyentuh, melihat, bahkan memikirkan apa pun yang sudah digariskan untukku. Di dunia ini, ada hukum alam yang tidak tertulis: apa yang menjadi milik Julian Armand adalah tanah suci yang akan membakar siapa pun yang berani melangkahinya." ​Julian melepaskan cengkeramannya hingga kepala Victor terkulai lemas menabrak d**a. Ia melempar sapu tangan sutranya yang kini merah pekat ke wajah pria itu. ​"Selesaikan," perintah Julian dingin kepada anak buahnya tanpa menoleh lagi. "Buat dia tetap hidup cukup lama untuk merasakan bagaimana rasanya kehilangan semua yang pernah dia banggakan." Di atas, di dalam kamar yang berbau sandalwood dan antiseptik, Elena telah berhenti menangis. Ia berdiri dengan kaki gemetar, berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan. ​Ia menatap pantulannya. Luka di dahinya sudah berhenti merembes, meninggalkan jejak merah yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Ia meraba lehernya, tempat Julian tadi menciumnya dengan penuh otoritas. ​“Kau adalah milikku—sampai napas terakhirmu.” ​Kata-kata itu terngiang seperti kutukan. Elena menyadari satu hal: Julian Armand tidak mencintainya dengan cara manusia mencintai. Pria itu mencintainya seperti seorang kaisar mencintai wilayah taklukannya—dengan obsesi untuk melindungi, namun dengan tangan besi untuk mengekang. ​Elena berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman labirin mansion. Di bawah sana, puluhan penjaga berpatroli dengan anjing pelacak. Lampu-lampu sorot menyapu setiap sudut, memastikan tidak ada yang masuk, dan yang lebih penting... tidak ada yang keluar. ​"Kau ingin aku menjadi propertimu, Julian?" bisik Elena pada kaca yang berembun karena napasnya. "Maka aku akan menjadi properti yang akan menghancurkan pemiliknya dari dalam." ​Elena mengambil botol parfum kristal dari meja riasnya. Dengan satu gerakan cepat, ia menghantamkan botol itu ke pinggiran meja marmer hingga pecah. Ia tidak berniat menyakiti dirinya sendiri—ia tahu Julian akan menggila jika ia melakukannya. ​Ia mengambil potongan kristal yang paling tajam, lalu berjalan menuju gaun-gaun mahal pemberian Julian yang tergantung rapi di lemari walk-in closet. Satu demi satu, ia merobek kain-kain sutra dan renda itu dengan amarah yang dingin. ​Jika ia harus menjadi tawanan di istana ini, maka ia akan memastikan tidak ada satu pun "kesempurnaan" yang diinginkan Julian tersisa darinya. Julian kembali ke kamar utama. Begitu kunci diputar dan pintu terbuka, pemandangan yang menyambutnya adalah kehancuran yang berbeda. Ia melihat Elena berdiri di tengah tumpukan gaun mahal yang telah tercabik-cabik, memegang pecahan kristal dengan tatapan menantang yang belum pernah ia lihat sebelumnya. ​Julian tidak marah. Sebaliknya, ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan tenang. Ia menatap kain-kain sutra yang hancur itu seolah itu hanyalah sampah tak berarti. ​"Kau bisa merobek semua kain di rumah ini, Elena," ucap Julian sambil berjalan mendekat, mengabaikan pecahan kaca yang bergemertak di bawah sepatunya. "Kau bisa menghancurkan setiap porselen dan membakar setiap sudut kamar ini. Tapi ingat satu hal..." ​Ia berhenti tepat di depan Elena, tidak takut pada pecahan kristal yang diarahkan istrinya ke dadanya. Julian justru meraih tangan Elena yang gemetar, menekan ujung tajam kristal itu ke kemeja putihnya, tepat di atas jantungnya yang berdetak konstan. ​"Benda-benda itu bisa diganti dalam satu kedipan mata. Tapi kau?" Julian mendekatkan wajahnya, menghirup aroma ketakutan dan keberanian yang bercampur pada diri Elena. "Kau adalah garis merah yang aku buat sendiri. Dan kau baru saja melihat apa yang terjadi pada mereka yang mencoba melanggarnya. Jika kau ingin membenciku, lakukanlah. Tapi kau akan membenciku dari dalam pelukanku, bukan dari tempat lain." ​Elena terengah, matanya berkaca-kaca menahan amarah yang meledak. "Kau gila, Julian!" ​"Aku tidak gila, Elena," bisik Julian sambil merebut pecahan kristal itu dari tangan Elena dengan gerakan yang sangat cepat namun lembut, lalu membuangnya ke sudut ruangan. "Aku hanya menjaga apa yang sudah ditakdirkan menjadi milikku sejak awal. Dan sekarang, tidurlah. Besok, seluruh dunia akan tahu bahwa menyentuhmu berarti mengundang kiamat." ​Di atas, di dalam kamar yang berbau sandalwood dan antiseptik, Elena telah berhenti menangis. Ia berdiri dengan kaki gemetar, berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan. ​Ia menatap pantulannya. Luka di dahinya sudah berhenti merembes, meninggalkan jejak merah yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Ia meraba lehernya, tempat Julian tadi menciumnya dengan penuh otoritas. ​“Kau adalah milikku—sampai napas terakhirmu.” ​Kata-kata itu terngiang seperti kutukan. Elena menyadari satu hal: Julian Armand tidak mencintainya dengan cara manusia mencintai. Pria itu mencintainya seperti seorang kaisar mencintai wilayah taklukannya—dengan obsesi untuk melindungi, namun dengan tangan besi untuk mengekang. ​Elena berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman labirin mansion. Di bawah sana, puluhan penjaga berpatroli dengan anjing pelacak. Lampu-lampu sorot menyapu setiap sudut, memastikan tidak ada yang masuk, dan yang lebih penting... tidak ada yang keluar. ​"Kau ingin aku menjadi propertimu, Julian?" bisik Elena pada kaca yang berembun karena napasnya. "Maka aku akan menjadi properti yang akan menghancurkan pemiliknya dari dalam." ​Elena mengambil botol parfum kristal dari meja riasnya. Dengan satu gerakan cepat, ia menghantamkan botol itu ke pinggiran meja marmer hingga pecah. Ia tidak berniat menyakiti dirinya sendiri—ia tahu Julian akan menggila jika ia melakukannya. ​Ia mengambil potongan kristal yang paling tajam, lalu berjalan menuju gaun-gaun mahal pemberian Julian yang tergantung rapi di lemari walk-in closet. Satu demi satu, ia merobek kain-kain sutra dan renda itu dengan amarah yang dingin. ​Jika ia harus menjadi tawanan di istana ini, maka ia akan memastikan tidak ada satu pun "kesempurnaan" yang diinginkan Julian tersisa darinya. ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD