Membuat Iblis Berlutut

1468 Words
Pagi harinya, bukan kicauan burung yang membangunkan Elena, melainkan keheningan yang steril. Kamar itu telah bertransformasi. Seluruh jejak semalam—serpihan kaca parfum dan robekan gaun sutra—telah lenyap tanpa sisa. Lemari walk-in closet yang semalam ia porak-porandakan kini kembali penuh dengan deretan gaun baru yang identik, seolah-olah amarahnya hanyalah sebuah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi. ​Julian Armand tidak hanya memperbaiki barang yang rusak; ia menghapus bukti perlawanan. ​Elena duduk di tepi ranjang, menatap segelas air putih dan dua butir tablet yang diletakkan di atas nakas perak. Di sampingnya, terdapat sepucuk nota kecil dengan tulisan tangan yang tajam dan tegas: Minum obatmu. Dokter akan memeriksa lukamu pukul sepuluh. Aku ada urusan di kota, jangan membuatku harus pulang lebih awal. ​Sebuah perintah, bukan permintaan. Elena menghabiskan sisa pagi itu dengan mengamati dari balik jendela kaca yang tebal. Ia memperhatikan rotasi penjaga di taman labirin. Setiap tiga puluh menit, dua pria dengan anjing Doberman bertukar posisi di dekat gerbang timur. Itu adalah pola yang sangat presisi, namun Elena tahu, seketat apa pun sebuah sistem, pasti ada celah di mana manusia merasa bosan. ​Pukul sepuluh tepat, ketukan di pintu terdengar. Seorang pria paruh baya dengan tas medis kulit masuk, dikawal oleh dua orang pria berjas hitam yang tetap berdiri di ambang pintu. ​"Nyonya Armand," sapa dokter itu formal, matanya tidak berani menatap langsung ke arah Elena. "Saya di sini untuk memastikan luka Anda tidak mengalami infeksi." ​Saat dokter itu sibuk mengganti perban di dahinya, Elena memperhatikan gerakan tangan pria itu yang gemetar ketakutan. Entah ketakutan pada Julian, atau mungkin ketakutan pada apa yang ia lihat di mansion ini. Namun, tidak ada celah baginya untuk meminta bantuan. Dokter itu bekerja dengan sangat mekanis, lalu segera merapikan tasnya tanpa meninggalkan apa pun kecuali aroma antiseptik yang tajam. Malam tiba, dan Julian pulang tepat waktu seperti jarum jam yang berputar. Ia menemukan Elena duduk di ruang makan panjang yang dingin, mengenakan gaun hitam pekat yang menutup hingga ke leher. Tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi pecahan kaca. ​Julian duduk di ujung meja, menuangkan wiski ke dalam gelas kristalnya. "Kau jauh lebih tenang hari ini. Apakah kau sudah menerima takdirmu, Elena?" ​Elena menyesap supnya perlahan sebelum menjawab. "Aku hanya menyadari bahwa merobek sutra adalah pekerjaan yang melelahkan, Julian. Kau benar, benda bisa diganti. Tapi perasaan..." ia menjeda, menatap Julian tepat di manik matanya yang obsidian, "...perasaan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa kau beli dengan hartamu." ​Julian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang predator. "Aku tidak butuh perasaanmu untuk memilikimu. Aku hanya butuh kehadiranmu di sini, di bawah atapku, di bawah perintahku." ​"Lalu bagaimana dengan Victor?" tanya Elena lugas. "Apakah dia juga 'hadir' di bawah atapmu sekarang? Di ruang bawah tanah yang gelap itu?" ​Udara di ruangan itu mendadak membeku. Julian meletakkan gelasnya dengan denting yang keras. Ia bangkit, berjalan perlahan mengitari meja hingga berdiri tepat di belakang kursi Elena. Ia membungkuk, menumpukan tangannya di sandaran kursi, mengurung Elena dalam aroma sandalwood yang maskulin namun mengancam. ​"Victor Volkov sudah tidak ada, Elena. Dia bukan lagi manusia, dia hanyalah sebuah peringatan," bisik Julian di telinganya. Ia menarik kursi Elena, memaksanya berdiri dan menghadapnya. "Aku akan membakar seluruh dunia jika itu berarti kau tetap berdiri di sampingku, cantik. Jangan pernah meragukan kegilaanku." ​Julian mencengkeram lembut tengkuk Elena, mendekatkan wajah mereka hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Matanya menatap tajam, mencari ketakutan di sana, namun yang ia temukan hanyalah keberanian yang dingin. ​"Mulai besok, kau akan ikut denganku ke kantor," ucap Julian, suaranya kini berubah menjadi otoritas yang mutlak. "Aku tidak ingin kau mengurung diri di sini dan memikirkan cara-cara bodoh untuk melarikan diri. Belajarlah banyak hal di sana. Lihatlah bagaimana aku menjalankan duniaku, agar kau mengerti bahwa tidak ada tempat bersembunyi bagimu, bahkan di luar dinding mansion ini." ​Elena tertegun. Tawaran itu terdengar seperti kesempatan, sekaligus rantai yang lebih panjang. Di kantor Julian, ia akan berada di pusat kekuatannya, dikelilingi oleh ribuan mata yang tunduk padanya. Namun, di sanalah juga semua informasi tersimpan. ​"Kau ingin aku belajar, Julian?" Elena menyentuh kemeja putih suaminya, merapikan kerah yang sebenarnya sudah sempurna. "Hati-hati. Jika aku belajar terlalu banyak, aku mungkin akan tahu di mana letak kelemahan yang selama ini kau sembunyikan." ​Julian tertawa rendah, sebuah suara yang menggema di ruang makan yang sepi itu. "Silakan dicoba, Elena. Aku suka tantangan." Julian menyesap wiski terakhirnya, membiarkan cairan hangat itu membakar tenggorokannya sebelum meletakkan gelas dengan bunyi klik yang presisi di atas meja. Ia menatap Elena, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka selama beberapa detik yang menyesakkan. ​"Benarkah kau suka tantangan?" Elena bertanya lagi, suaranya kini lebih berani, hampir menyerupai bisikan godaan yang berbisa. "Atau jangan-jangan... kebersamaan kita nanti akan menumbuhkan rasa di hatimu?" ​Julian terdiam sejenak. Sudut bibirnya terangkat, namun itu bukan senyuman kasih sayang. Itu adalah seringai seorang pria yang tahu persis kartu apa yang sedang dimainkan lawannya. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga Elena bisa merasakan hawa panas dari tubuh Julian yang kontras dengan dinginnya AC di ruang makan itu. ​"Rasa?" Julian mengulang kata itu seolah-olah itu adalah bahasa asing yang menggelikan. Ia meraih helai rambut Elena, memelintirnya perlahan di antara jari-jarinya. "Kau berharap aku akan luluh karena terlalu sering melihat wajahmu? Kau berharap aku akan menjadi lemah karena mulai 'mencintaimu' dengan cara yang biasa?" ​Julian mencondongkan tubuh, bibirnya nyaris menyentuh kening Elena yang tertutup perban. ​"Cinta adalah variabel yang tidak stabil dalam investasiku, Elena. Aku tidak butuh rasa di hati untuk menjagamu tetap di sisiku. Aku hanya butuh obsesi. Dan obsesi... itu jauh lebih abadi daripada cinta." ​Ia melepaskan helai rambut Elena dan menatap tajam ke dalam manik mata istrinya. ​"Tapi jika kau ingin mencoba menumbuhkan sesuatu di sana, silakan. Gunakan setiap kecantikanmu, setiap kecerdasanmu, dan setiap manipulasi yang kau punya. Namun ingat," Julian mengusap pipi Elena dengan punggung jarinya, "di akhir hari, kau tetaplah milikku. Di kantor, di rumah, bahkan dalam setiap tarikan napasmu. Persiapkan dirimu. Pukul tujuh pagi, mobil sudah menunggu." Elena tidak lantas mundur. Alih-alih merasa terintimidasi oleh penegasan obsesi Julian, ia justru melangkah maju. Satu langkah, dua langkah, hingga ujung sepatunya menyentuh sepatu pantofel kulit Julian yang mengkilap. Ruang makan yang luas itu seakan menyempit, hanya menyisakan udara tipis di antara mereka berdua. ​Elena mendongak, menatap langsung ke dalam obsidian gelap milik Julian yang mematikan. Ia mengangkat satu tangannya, bukan untuk memukul, melainkan untuk merapikan dasi sutra Julian dengan gerakan yang sangat pelan, hampir sensual, namun penuh dengan ancaman tersembunyi. ​"Kau sangat percaya diri dengan dinding yang kau bangun, Julian," bisik Elena, suaranya halus seperti sutra namun setajam sembilu. "Tapi katakan padaku... apa kau tidak takut perasaan itu akan tumbuh tanpa kau sadari? Apa kau tidak takut suatu hari nanti, bukan instruksi investasi yang menguasai kepalamu, melainkan namaku?" ​Jemari Elena berpindah dari dasi ke d**a kiri Julian, tepat di mana jantung pria itu berdetak konstan. ​"Suatu saat nanti, kau akan bertekuk lutut," lanjut Elena, suaranya kini sedikit lebih dalam, bergetar dengan keyakinan yang membuat rahang Julian mengeras. "Kau akan membuang semua egoismu, meruntuhkan menara kekuasaanmu, hanya untuk mendapatkan secercah cintaku yang tulus. Dan pada saat itu, Julian... akulah yang akan memegang kunci penjara ini." ​Untuk sesaat, keheningan di antara mereka terasa menyakitkan. Julian tidak bergerak. Ia menatap Elena seolah sedang melihat sebuah anomali yang harus segera dihancurkan, namun ada kilatan aneh di matanya—sesuatu yang menyerupai gairah yang bercampur dengan kemarahan murni. ​Cengkeraman Julian di pinggang Elena mengerat, menarik tubuh wanita itu hingga tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka. ​"Bertekuk lutut?" Julian mengulang kalimat itu dengan tawa rendah yang terdengar seperti gesekan logam. "Kau memiliki imajinasi yang luar biasa, Elena. Jika kau ingin aku berlutut, maka kau harus memastikan kau tidak hancur terlebih dahulu saat mencoba menarikku ke bawah." ​Ia menunduk, bibirnya menyentuh garis rahang Elena, memberikan tekanan yang cukup untuk mengingatkan siapa pemegangnya. ​"Jangan pernah menyamakan kebutuhanku untuk memilikimu dengan kelemahan. Jika aku berlutut, itu bukan karena aku menyerah pada cinta, tapi karena aku sedang memastikan tidak ada jalan bagimu untuk lari dari cengkeramanku." ​Julian melepaskan Elena secara mendadak, seolah-olah baru saja menyentuh api yang hampir membakar telapak tangannya. Ia merapikan jasnya yang sedikit kusut akibat persentuhan tadi, mengembalikan topeng pualamnya yang dingin. ​"Pukul tujuh pagi," ucapnya tanpa emosi, kembali menjadi pria yang memegang kendali penuh. "Jangan terlambat. Aku ingin kau melihat sendiri bagaimana rasanya memiliki dunia, agar kau berhenti bermimpi tentang cinta yang remeh." ​Julian melangkah pergi, namun Elena tetap berdiri di sana, menatap punggung suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu, ia baru saja menyulut api kecil di dalam diri Julian. Dan ia tidak keberatan jika seluruh mansion ini harus terbakar bersamanya, asalkan ia bisa melihat Julian Armand hancur karena perasaan yang selalu ia sangkal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD