Langkah Julian saat menuntun Elena keluar dari aula terasa seperti barisan eksekusi. Di belakang mereka, lampu-lampu kristal yang berkilauan mulai meredup, namun bagi Elena, kegelapan yang menanti di dalam kamar jauh lebih mengerikan.
Pintu kamar utama Mansion Armand tertutup dengan bunyi klik yang final, mengunci Elena dalam ruangan yang didominasi oleh kemewahan yang menindas. Julian tidak langsung berbicara. Ia berjalan menuju meja, melonggarkan jam tangannya, dan meletakkannya dengan dentingan logam yang menggema di kesunyian kamar.
Julian berbalik, bersandar pada meja dengan tangan bersedekap. Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan bayangan tajam pada tulang pipinya, membuatnya tampak seperti patung marmer yang dingin.
"Kenapa diam, Elena?" suara Julian memecah kesunyian, baritonnya yang rendah terasa lebih mengintimidasi dalam ruang privat ini. "Di depan kolega-kolegaku tadi, kau tampak begitu... komunikatif mengenai 'ritme' yang kutentukan."
Elena berdiri di tengah ruangan, tangannya meremas kain gaun sutranya hingga buku jarinya memutih. "Apa lagi yang kau harapkan? Aku sudah melakukan bagianku. Aku sudah menjadi boneka pajangan yang cantik di depan paman dan bibimu. Aku sudah membiarkanmu mengklaim masa depanku sebagai aset perusahaanmu. Apa itu belum cukup?"
Julian melangkah maju perlahan. Setiap langkahnya terasa seperti dentum lonceng kematian bagi ketenangan Elena. "Itu baru permulaan. Kau pikir aku hanya menggertak saat mengatakan kita akan fokus pada 'rencana masa depan'? Tuan Hermawan benar tentang satu hal: Kekaisaran Armand butuh kestabilan. Dan kestabilan itu ada pada garis keturunan."
"Kau gila," desis Elena, tubuhnya gemetar karena amarah yang memuncak. "Kau menghancurkan keluargaku, merantai hidupku, dan sekarang kau mengharapkan aku memberikanmu seorang anak? Kau pikir darah yang mengalir di tubuh anak itu akan membawa kedamaian? Dia akan menjadi saksi hidup betapa kejinya ayahnya!"
Elena memutuskan untuk tidak lagi sekadar bertahan. Ia harus menyerang balik dengan satu-satunya bahasa yang dipahami Julian: logika hukum.
Elena melepaskan kaitan kalung berlian itu dengan tangan gemetar, lalu membantingnya ke atas meja rias hingga bunyi dentingan batu mulia itu memecah kesunyian kamar. Ia berbalik, menatap Julian yang masih berdiri tenang dengan kemeja yang sudah terbuka di bagian kerah.
"Hak reproduksi," suara Elena keluar dengan nada tajam, meski dadanya bergemuruh. "Berapa nilai yang kau pasang untuk rahimku di dalam kontrak itu, Julian? Kau bilang kau iblis yang konsisten, tapi iblis pun punya kontrak yang jelas."
Julian menghentikan gerakannya. Ia menatap Elena dengan satu alis terangkat, seolah-olah subjek yang dibawa Elena adalah sebuah laporan bisnis yang cukup menarik untuk didiskusikan.
"Kau ingin membahas hukum di tengah malam seperti ini, Elena?" Julian terkekeh rendah, suara yang lebih mirip ancaman daripada candaan.
"Aku ingin tahu celahnya!" seru Elena, melangkah mendekat tanpa rasa takut. "Aku tahu ayahku bodoh dalam urusan bisnis, tapi dia tidak mungkin menjual hak biologisku begitu saja. Di mana klausulnya? Di mana tertulis bahwa aku wajib memberikanmu anak? Aku bukan mesin yang bisa kau aktivasi hanya karena rekan bisnismu bertanya tentang pewaris!"
Julian berjalan menuju laci di samping tempat tidur, mengeluarkan sebuah map kulit tipis yang tampaknya selalu ia simpan di dekatnya. Ia melemparkannya ke atas kasur empuk di antara mereka.
"Halaman empat puluh dua, paragraf terakhir," ucap Julian datar. "Bacalah. Aku tidak suka dituduh melakukan sesuatu tanpa dasar hukum."
Elena menyambar map itu, jemarinya membalik halaman dengan kasar hingga ia menemukan bagian yang dimaksud. Matanya membelalak saat membaca kalimat yang tertulis di sana dengan bahasa hukum yang dingin:
"...Pihak Kedua (Elena Adiwangsa) berkewajiban untuk menjamin kelangsungan garis keturunan Pihak Pertama (Julian Armand) sebagai bagian dari penggabungan aset dan stabilitas jangka panjang kedua keluarga. Kegagalan atau penolakan yang disengaja dalam poin ini akan dianggap sebagai pelanggaran kontrak berat, yang berakibat pada pembatalan instan seluruh perlindungan aset pihak Adiwangsa."
"Pelanggaran kontrak berat?" bisik Elena, suaranya nyaris hilang. "Kau... kau menjebaknya. Ayahku pasti tidak mengerti bahasa teknis ini! Ini adalah eksploitasi, Julian! Tidak ada pengadilan yang akan membenarkan pemaksaan seperti ini."
"Kau lupa, Elena," Julian melangkah mendekat, kini ia berdiri tepat di hadapan Elena, bayangannya menelan tubuh wanita itu. "Kontrak ini ditandatangani secara sukarela dengan saksi hukum yang sah. Dan di dunia ini, 'pemaksaan' adalah istilah yang relatif jika ada tanda tangan di atas materai."
Julian mengambil map itu dari tangan Elena yang sudah lemas. "Tidak ada celah, Elena. Kontrak itu tidak menyebutkan kapan, tapi dunia luar tadi sudah menetapkan ekspektasinya. Dan aku bukan orang yang suka menunda pekerjaan yang sudah dijadwalkan."
Elena mendongak, matanya berkaca-kaca oleh amarah yang meluap. "Kau pikir dengan kertas ini kau bisa memaksaku mencintaimu? Atau membiarkanku mengandung anakmu tanpa rasa jijik setiap kali aku melihat wajahmu?"
Julian meletakkan map itu kembali, lalu tangannya bergerak perlahan mengusap pipi Elena, jemarinya terasa hangat namun mematikan.
"Aku tidak butuh cintamu untuk mencetak seorang pewaris, Elena. Aku hanya butuh tubuhmu berada di sini, di bawah kendaliku," Julian menunduk, bibirnya menyentuh telinga Elena, membisikkan kalimat yang membuat seluruh tubuh Elena membeku. "Dan jika kau ingin menyelamatkan sisa-sisa kehormatan ayahmu, kau akan berhenti mencari celah yang tidak ada... dan mulai melakukan tugasmu malam ini."
Elena tertawa getir, sebuah suara patah yang bergema di antara dinding kamar yang kedap suara. Ia melangkah mundur, mencoba melepaskan diri dari gravitasi kehadiran Julian yang menghimpitnya.
"Munafik," desis Elena, matanya menyipit penuh kecaman. "Bukankah waktu itu kau sendiri yang mengatakannya? Kau bilang kau tidak menginginkan tubuh yang diserahkan karena keterpaksaan. Kau bilang kau bukan pria yang butuh memaksa wanita untuk merasa berkuasa."
Elena menunjuk map hitam di atas tempat tidur dengan jari yang bergetar.
"Lalu kenapa sekarang kau berubah, Julian? Kenapa tiba-tiba kontrak konyol ini menjadi tamengmu untuk menyentuhku? Apa karena kata-kata rekan bisnismu tadi? Apa kau begitu lemah sampai harga dirimu ditentukan oleh pendapat orang-orang tua itu?"
Julian tidak segera membalas. Ia terdiam, membiarkan serangan Elena menggantung di udara. Ia hanya menggerakkan bahunya sedikit, melepaskan ketegangan dari kemejanya yang kini tersampir berantakan.
"Aku tidak berubah, Elena," sahut Julian, suaranya tetap bariton yang stabil, tanpa riak emosi. "Aku tetap tidak menginginkan tubuh yang menyerah hanya karena rasa takut. Itu membosankan."
Julian melangkah maju, perlahan namun pasti, memojokkan Elena hingga bagian belakang lutut wanita itu menyentuh tepi tempat tidur.
"Tapi ada perbedaan besar antara 'keterpaksaan' dan 'kewajiban'," Julian menunduk, menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Elena, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit. "Waktu itu, kau hanyalah tawanan yang malang. Tapi sekarang? Kau adalah Istri Armand. Kau sudah memakan hidanganku, kau memakai berlianku, dan kau berdiri di sampingku menerima penghormatan dunia."
Julian menatap mata Elena dengan intensitas yang seolah bisa membakar.
"Kau sudah mengambil keuntungan dari namaku untuk melindungi ayahmu yang tidak berguna itu. Sekarang, aku hanya menagih dividen dari investasi yang sudah kau nikmati. Ini bukan lagi soal gairah, Elena. Ini soal transaksi yang adil."
"Transaksi yang adil?" Elena mendongak, napasnya memburu, bersinggungan dengan napas Julian. "Kau menyebut pemaksaan rahim ini sebagai transaksi?"
"Aku menyebutnya sebagai konsekuensi," bisik Julian, jemarinya kini bergerak menyusuri garis rahang Elena yang tegang. "Jangan berpura-pura suci. Kau tahu persis bahwa setiap sen yang mengalir ke rekening ayahmu dibayar dengan setiap inci keberadaanmu di rumah ini. Jika kau ingin aku tetap menjadi pria yang 'tidak memaksa', maka berhentilah memancingku dengan pembangkanganmu yang kekanak-kanakan."
Julian membelai bibir Elena dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang tampak lembut namun sarat dengan ancaman.
"Berikan aku alasan untuk tidak menggunakan kontrak ini, Elena. Tunjukkan padaku bahwa kau berada di sini bukan karena kau harus, tapi karena kau sadar bahwa hanya aku yang bisa menjaga duniamu tetap tegak."
Elena menarik napas panjang, membiarkan kemarahan yang tadi meluap kini membeku menjadi ketenangan yang tajam. Ia tidak lagi mencoba mundur. Sebaliknya, ia memajukan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan, menatap langsung ke dalam kegelapan di mata Julian.
Elena menyunggingkan senyuman miring—senyum yang tidak mencapai matanya, namun penuh dengan racun yang manis.
"Kau ingin aku menginginkanmu, Julian?" bisik Elena, suaranya terdengar merdu namun bergetar dengan ejekan. "Itu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa kau beli dengan tumpukan uangmu atau klausul kontrak konyol ini."
Elena mengulurkan tangan, telapak tangannya menempel di d**a Julian, tepat di mana jantung pria itu berdetak stabil di balik kemeja sutranya. Ia meremas kain kemeja itu perlahan.
"Kau bisa memiliki tubuhku malam ini. Kau bisa mengambil apa yang kau sebut sebagai 'dividen' itu. Silakan," lanjut Elena, matanya berkilat menantang. "Tapi ingat satu hal: setiap kali kau menyentuhku, setiap kali kau melihatku di bawahmu, kau hanya akan melihat sebuah raga kosong yang membencimu. Kau akan bercinta dengan kebencian, Julian. Bukan dengan seorang istri."
Julian tidak bergeming, namun rahangnya mengeras mendengar kata-kata Elena.
"Kau ingin merasa seperti pria yang berkuasa?" Elena tertawa rendah, suaranya sangat tipis. "Lakukanlah. Tapi kau tidak akan pernah bisa membeli satu pun desahan tulus dariku. Kau ingin aku 'tunduk'? Silahkan ambil secara fisik. Tapi jiwaku akan selalu menatapmu dengan rasa jijik yang sama seperti saat aku melihat iblis."
Keheningan di kamar itu mendadak menjadi sangat panas dan menyesakkan. Julian menatap bibir Elena, lalu kembali ke matanya. Ada kilatan amarah yang beradu dengan sesuatu yang lebih gelap—ego yang baru saja dicambuk dengan telak.
"Kau pikir kebencianmu itu sebuah tameng, Elena?" suara Julian merayap rendah, hampir menyerupai geraman. "Bagi pria seperti aku, kebencian jauh lebih menarik daripada cinta yang membosankan. Kebencian memiliki api. Dan aku tidak keberatan jika harus terbakar bersama mu, selama kau adalah orang yang menyulut apinya."
Julian mencengkeram pinggang Elena dengan tarikan yang mendadak, membuat tubuh mereka bertabrakan tanpa celah.
"Jika kau ingin aku melihat kebencian di matamu, maka pastikan kau tidak memalingkan wajahmu sedetik pun malam ini," bisik Julian, suaranya serak dan berbahaya. "Karena aku akan memastikan bahwa bahkan dalam kebencianmu, kau akan menyebut namaku sampai kau lupa bagaimana cara membenciku."
Elena terkesiap, namun ia menolak untuk memejamkan mata. Ia menatap Julian dengan segala api dendam yang ia miliki, tepat saat Julian merunduk untuk mengklaim jawaban atas tantangannya.
Julian sudah berada sangat dekat, napasnya yang hangat menerpa bibir Elena, dan tangan kokohnya mengunci pinggang wanita itu seolah tak ada hari esok. Elena sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk, matanya menatap tajam, menantang setiap inci d******i yang ditawarkan suaminya. Ia telah menyerahkan tubuhnya sebagai medan perang kebencian.
Namun, tepat saat ketegangan itu mencapai puncaknya, Julian berhenti.
Matanya yang gelap menyelidiki manik mata Elena yang berkilat penuh dendam. Selama beberapa detik yang terasa abadi, Julian hanya menatapnya—mencari sesuatu yang mungkin tidak ia temukan: rasa takut atau mungkin setitik penyerahan. Sebaliknya, ia hanya menemukan kekerasan hati yang membeku.
Dengan sentakan kasar namun terkendali, Julian melepaskan cengkeramannya. Ia mundur selangkah, menciptakan jarak yang tiba-tiba terasa dingin di antara mereka.
"Kau benar tentang satu hal, Elena," suara Julian kembali datar, namun kali ini ada nada kejengkelan yang tajam di dalamnya. "Bercinta dengan kebencian memang memiliki api, tapi aku tidak punya waktu untuk memadamkan api yang kau sulut dengan cara yang tidak elegan."
Julian meraih jasnya yang tergeletak di lantai dengan satu tarikan cepat, menyampirkannya di bahu tanpa sedikit pun menoleh lagi pada istrinya yang masih terpaku di tepi tempat tidur.
"Aku menginginkan kemenangan mutlak, bukan sekadar penaklukan fisik atas raga yang kosong," tambahnya dingin sambil berjalan menuju pintu. "Simpan 'dividen' itu untuk dirimu sendiri malam ini. Aku punya urusan yang jauh lebih masuk akal untuk dikerjakan daripada melayani drama kekanak-kanakanmu."
BRAK!
Pintu kamar utama itu dibanting dengan keras, meninggalkan Elena dalam kesunyian yang mencekam. Suara langkah kaki Julian yang tegas menjauh menuju ruang kerjanya, menggema di sepanjang lorong Mansion Armand yang luas.
Elena menarik napas panjang yang gemetar, tubuhnya yang tadi tegang seketika lemas. Ia menyentuh dadanya, merasakan jantungnya yang berdegup kencang—bukan karena gairah, melainkan karena adrenalin dari pertaruhan yang baru saja ia menangkan secara tipis.