Intervensi Sang Suami

1955 Words
Suara bantingan pintu itu masih bergema di telinga Elena, lebih keras daripada detak jantungnya yang berpacu liar. Ia masih mematung di tepi tempat tidur, tubuhnya sedikit gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena sisa adrenalin dari konfrontasi yang baru saja terjadi. ​Kamar yang luas itu mendadak terasa terlalu besar, terlalu sepi, dan terlalu menyesakkan. ​Dia pergi, batin Elena, matanya terpaku pada pintu kayu ek yang kini tertutup rapat. Dia benar-benar melepaskanku hanya karena aku menantang egonya. ​Ada rasa lega yang sempat menyelinap, sebuah kemenangan kecil karena ia berhasil mempertahankan martabatnya malam ini. Namun, rasa lega itu segera tertelan oleh kegelisahan yang jauh lebih gelap. ​Kenapa aku merasa seperti baru saja kalah? ​Elena memeluk tubuhnya sendiri, jemarinya meraba kulit lengannya yang masih terasa hangat akibat sentuhan Julian. Ia membenci kenyataan bahwa ia masih bisa merasakan sisa kehadiran pria itu. ​Dia menyebutku 'raga yang kosong', monolog Elena dalam hati, matanya mulai memanas. Dia bilang dia tidak punya waktu untuk melayani 'drama kekanak-kanakanku'. Bagi dia, penolakanku bukan sebuah prinsip, tapi hanya gangguan jadwal kerja. Dia bahkan tidak cukup menghargaiku untuk merasa marah. Dia hanya... muak. ​Rasa dihina itu jauh lebih menyakitkan daripada dipaksa. Julian tidak hanya menolak tubuhnya; dia menolak keberadaan Elena sebagai lawan yang sepadan. Dengan berjalan keluar begitu saja, Julian menunjukkan bahwa Elena sama sekali tidak memiliki kendali. Pria itu pergi karena dia yang memutuskan untuk pergi, bukan karena Elena berhasil mengusirnya. ​Kau pikir kau menang, Elena? ejek sebuah suara di dalam kepalanya. Lihat dirimu. Kau duduk di sini, di kamarnya, mengenakan perhiasannya, menunggu di dalam sangkar emas yang dia bangun. Dia tidak butuh menyentuhmu malam ini untuk menunjukkan bahwa dia pemilikmu. Dia hanya perlu meninggalkanmu sendirian dengan pikiranmu sendiri, dan kau sudah hancur. ​Elena menatap bayangannya di cermin besar di seberang ruangan. Ia melihat seorang wanita yang tampak rapuh di balik kemewahan gaun yang mulai kusut. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: kepergian Julian ke ruang kerja bukanlah sebuah gencatan senjata. Itu adalah hukuman. ​Julian tahu bahwa kesunyian dan ketidakpastian akan menyiksa Elena lebih kejam daripada konfrontasi fisik mana pun. ​Besok, pikir Elena dengan perasaan waswas yang mencekik, besok dia akan kembali. Dan saat itu, dia tidak akan datang dengan keinginan, tapi dengan perhitungan. Aku telah mencoreng egonya, dan pria seperti Julian Armand tidak akan membiarkan penghinaan itu berlalu tanpa harga yang harus kubayar. ​Elena merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, namun matanya tetap terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap. Di ujung lorong, ia tahu Julian sedang terjaga, mungkin sedang menyusun rencana untuk "menjinakkan" istrinya dengan cara yang lebih dingin di pagi hari. ​Pagi menyingsing dengan cahaya pucat yang menembus jendela tinggi ruang makan, namun suasana di dalamnya jauh dari hangat. Bau aroma kopi mahal dan roti panggang yang biasanya menggugah selera, kini terasa seperti bau mesiu di hidung Elena. ​Julian sudah duduk di sana, di ujung meja panjang yang seolah memisahkan mereka dalam dua dunia berbeda. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung rapi, sedang memotong daging asap dengan gerakan yang sangat presisi—nyaris klinis. ​Elena menarik kursi di ujung lainnya, menimbulkan suara gesekan marmer yang memekakkan telinga dalam kesunyian itu. Julian tidak mendongak, namun suaranya meluncur datar, membelah udara. ​"Duduklah, Elena. Sarapanmu dingin, sama seperti sambutanmu semalam." ​Elena hanya menatap piringnya dengan muak. "Kau tidak membanting pintu hanya untuk mengomentari suhu sarapanku, Julian." ​Julian meletakkan pisaunya. Dentingan perak yang menyentuh porselen itu terdengar seperti lonceng dimulainya ronde baru. Ia menyandarkan punggung, menatap Elena dengan tatapan predator yang sudah tenang kembali. ​"Mulai pagi ini, jadwalmu berubah," ucap Julian tanpa basa-basi. "Pukul sembilan, Madam Valeska akan tiba. Dia adalah instruktur kepribadian terbaik di negeri ini. Dia akan mengajarimu segala hal—mulai dari cara berjalan, cara berbicara di depan publik, hingga bagaimana menjadi istri seorang Armand yang... tidak memalukan." ​Elena tersentak, tawa getir lolos dari bibirnya. "Sekolah kepribadian? Kau bercanda? Kau pikir aku ini anak kecil atau hewan sirkus yang perlu dilatih?" ​"Kau adalah aset yang belum terpoles, Elena," potong Julian, suaranya naik satu oktav, tajam dan dingin. "Sikapmu di depan bibiku semalam, pemberontakanmu di kamar... itu menunjukkan bahwa kau belum siap menyandang nama Armand. Jika kau tidak bisa menaklukkan emosimu sendiri, maka biar orang lain yang menaklukkannya untukmu." ​Elena berdiri, kedua tangannya menghantam meja. "Kau ingin menghapus diriku! Kau ingin aku menjadi robot patuh yang bisa kau pamerkan kepada rekan bisnismu! Katakan saja, Julian, kau takut karena semalam kau sadar bahwa kau tidak bisa mengendalikanku, bukan?" ​Julian bangkit dari kursinya perlahan. Ia berjalan mengitari meja, langkahnya tenang namun setiap injakannya seolah menghisap oksigen di ruangan itu. Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan segera menunduk dalam, mencoba menghilang dari pandangan. ​Julian berhenti tepat di depan Elena, memaksanya untuk mendongak. ​"Takut?" Julian berbisik, jemarinya meraih helai rambut Elena dan menyelipkannya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut namun terasa mencekam. "Aku tidak takut pada api kecil sepertimu, Elena. Aku hanya tidak suka kekacauan. Sekolah ini bukan saran, ini adalah perintah. Dan jangan berpikir untuk mangkir." ​Julian mendekatkan wajahnya, matanya menatap tajam ke dalam iris mata Elena. "Setiap kali kau menolak instruksi Madam Valeska, aku akan mencabut satu izin aksesmu. Kau ingin mengunjungi ayahmu? Kau ingin keluar dari gerbang mansion ini? Semuanya bergantung pada seberapa baik kau belajar untuk 'tunduk' pada aturan rumah ini." ​"Kau benar-benar penjara yang berjalan," desis Elena, matanya berkilat penuh amarah. ​"Aku adalah suamimu, Elena. Dan di dunia Armand, tidak ada tempat untuk kebebasan tanpa disiplin," balas Julian dingin. Ia menarik diri, merapikan kemejanya. "Madam Valeska akan menunggumu di ruang musik dalam lima belas menit. Jika kau terlambat, jangan harap kau bisa melihat dunia luar minggu ini." ​Julian berjalan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Elena yang berdiri gemetar di tengah kemegahan ruang makan yang kini terasa seperti penjara yang lebih sempit. Ruang musik Mansion Armand yang biasanya tenang, kini dipenuhi oleh aura ketegangan yang pekat. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar tampak pucat, hanya mampu menerangi partikel debu yang menari di udara, seolah enggan menyentuh kedinginan di dalam ruangan itu. Madam Valeska berdiri di tengah ruangan dengan punggung setegak papan penggaris. Rambutnya disanggul ketat tanpa sehelai pun yang lepas, dan matanya yang tajam di balik kacamata frame emas mengawasi Elena seperti seorang hakim yang sedang menilai narapidana. ​Elena masuk ke ruangan itu dengan langkah yang sengaja diseret, menciptakan bunyi gesekan sol sepatu di atas lantai kayu ek yang mengilap—sebuah penghinaan terang-terangan terhadap estetika keanggunan yang dijunjung tinggi di rumah ini. Tanpa permisi, ia mengempaskan tubuhnya di kursi piano kulit, kakinya menyilang dengan kasar, dan tangannya bersedekap di depan d**a. ​"Berdiri, Nyonya Armand," suara Madam Valeska terdengar dingin, berwibawa, dan tanpa kompromi. Gema suaranya memantul di dinding-dinding tinggi, memberi kesan otoritas yang tak terbantahkan. "Seorang wanita dari kasta Anda tidak duduk sebelum diizinkan, dan tentu saja tidak dengan postur seperti seorang gelandangan." ​Elena mengangkat dagunya, menatap wanita tua itu dengan senyum miring yang penuh ejekan. "Kasta? Lucu sekali. Aku tidak tahu bahwa Julian juga menyewa seorang sejarawan untuk mengajariku cara hidup di abad pertengahan." ​"Tuan Julian menyewa saya untuk mengubah pemberontak menjadi seorang permaisuri," balas Madam Valeska tanpa berkedip. Ia melangkah maju, bayangannya yang panjang jatuh menutupi tubuh Elena. "Sekarang, berdiri. Kita akan mulai dengan latihan berjalan. Keanggunan adalah senjata, Nyonya, dan saat ini Anda benar-benar tak bersenjata." ​"Aku sudah bisa berjalan sejak usia satu tahun, Madam. Jika Julian ingin melihat seseorang mondar-mandir dengan buku di atas kepala, suruh dia menyewa model sirkus." Elena tetap bergeming. Ia justru mengulurkan jarinya ke atas tuts piano dan menekan beberapa nada secara asal dengan tenaga yang kuat, menciptakan suara sumbang yang memekakkan telinga, seolah sedang mencabik-cabik keheningan ruangan itu. ​Madam Valeska berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya berbunyi klik-klik yang ritmis—suara yang terdengar seperti jam hitung mundur menuju ledakan. Ia berhenti tepat di samping Elena, lalu dengan gerakan cepat, ia membanting sebuah buku tebal di atas tutup piano. Brak! ​"Piano ini adalah instrumen yang mulia, sama seperti nama yang Anda sandang sekarang," desis Madam Valeska, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Elena. Aroma parfum lavender yang tajam dan kuno dari wanita itu menyerang indra penciuman Elena. "Ketidaksopanan Anda hanya akan memperpanjang waktu kita di ruangan ini. Saya memiliki kesabaran yang jauh lebih besar daripada masa muda Anda yang labil." ​"Dan aku memiliki kebencian yang jauh lebih besar daripada gaji yang Julian bayarkan padamu!" tantang Elena. Ia berdiri tiba-tiba, membuat kursi piano berderit keras. Bukannya mengikuti instruksi, ia justru berjalan menuju jendela besar, membelakangi sang instruktur seolah wanita itu hanya seonggok perabot tak berharga. "Katakan pada suamiku yang terhormat itu, bahwa dia bisa mengunci pintu rumah ini, tapi dia tidak bisa mengunci mulutku atau pikiranku. Aku tidak akan mengikuti satu pun perintah konyolmu." ​Madam Valeska tidak berteriak. Ia hanya mengeluarkan buku catatan kecil dari balik sakunya dan mencatat sesuatu dengan pena emasnya. Bunyi goresan pena di atas kertas terdengar nyaring di ruangan yang mendadak sunyi itu. ​"Satu penolakan," ucap Madam Valeska dengan nada tanpa emosi yang justru terasa lebih mengancam. "Tuan Julian memberikan instruksi yang sangat spesifik mengenai konsekuensinya. Anda pikir ini adalah permainan harga diri? Ini adalah tentang kelangsungan hidup Anda di mansion ini." ​"Oh, silakan!" seru Elena, berbalik dengan mata yang berkilat marah, dadanya naik turun karena emosi yang meluap. "Biarkan dia mencabut izin keluarku! Biarkan dia menjadikanku tahanan sepenuhnya! Itu hanya akan membuktikan pada dunia bahwa Julian Armand tidak lebih dari seorang penculik dengan jas mahal yang tidak sanggup memenangkan hati istrinya sendiri!" ​Dua jam kemudian, Madam Valeska keluar dari ruang musik yang kini terasa seperti medan perang yang ditinggalkan. Ia langsung menuju ruang kerja Julian. Di dalam, suasana terasa berat dengan aroma tembakau dan kayu tua. Julian sedang meninjau laporan keuangan dengan ekspresi datar yang sulit dibaca saat wanita tua itu masuk. ​"Bagaimana progresnya, Madam?" tanya Julian tanpa mendongak, jemarinya terus membalik halaman berkas dengan ritme yang stabil. ​"Istri Anda adalah kasus yang paling... unik yang pernah saya tangani, Tuan Armand," jawab Madam Valeska, suaranya mengandung sedikit rasa frustrasi yang terpendam. "Dia menolak berdiri, menolak berjalan, menghina metode saya, dan sengaja menciptakan kegaduhan untuk merusak konsentrasi. Dia sama sekali tidak kooperatif. Dia lebih memilih menjadi api yang membakar dirinya sendiri daripada menjadi permata di mahkota Anda." ​Julian meletakkan penanya perlahan. Suara gesekan logam pena dengan meja kaca terdengar tajam. Sudut bibirnya terangkat sedikit—sebuah reaksi yang jarang terlihat, sebuah seringai tipis yang tidak mencapai matanya yang gelap. ​"Begitukah? Dia benar-benar menggunakan setiap senjata yang dia miliki untuk melawan, bukan?" Julian bergumam, seolah sedang memuji taktik musuh dalam papan catur. ​"Dia menantang Anda melalui saya, Tuan. Dia mengatakan bahwa Anda tidak bisa mengunci pikirannya." ​Julian berdiri, merapikan jasnya yang tak bercela, memastikan setiap lipatan berada di tempatnya dengan keanggunan yang mematikan. Ia berjalan menuju pintu, memancarkan aura d******i yang seolah mampu membekukan udara di sekitarnya. ​"Terima kasih, Madam. Anda bisa istirahat sejenak," ucap Julian dingin saat tangannya menyentuh gagang pintu perak. "Biar saya yang menangani 'kurikulum' tambahan untuk istri saya siang ini. Tampaknya dia merindukan kehadiran suaminya." ​Julian berjalan menuju ruang musik dengan langkah yang mantap dan berat. Ia tidak marah; ia justru merasa terpacu. Elena baru saja memberinya alasan untuk melakukan intervensi pribadi yang jauh lebih intens, dan kali ini, ia tidak akan membiarkan istrinya itu lolos hanya dengan kata-kata. Pintu ruang musik terbuka perlahan. Nada piano yang semula mengalun lembut… tiba-tiba berhenti. Julian berdiri di ambang pintu, bayangannya jatuh panjang menelan tubuh Elena dari belakang. Senyum tipisnya muncul—tenang, tapi jauh lebih berbahaya daripada kemarahan. "Sepertinya," gumamnya pelan, mengunci pintu dengan bunyi klik yang tajam, "istriku mulai lupa… siapa yang memegang kendali."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD