Istri yang Tidak Punya Rumah

1818 Words
Elena menarik selimut kasmir itu dengan sentakan kasar, seolah-olah kain lembut itu adalah musuh yang terpaksa ia ajak bersekutu. Dengan gerakan kaku, ia meringkuk di atas kursi armchair beludru, menarik lututnya hingga ke d**a dan membungkus seluruh tubuhnya hingga ke dagu. Ia mengabaikan kemewahan ranjang king size yang hanya berjarak beberapa langkah darinya—ranjang yang tampak begitu luas, hangat, dan menghina. ​Julian hanya menatapnya sesaat. Tidak ada kilat kecewa, tidak ada pula paksaan lebih lanjut. Ia hanya mematikan lampu nakas dengan gerakan efisien, menenggelamkan kamar itu dalam kegelapan total, kecuali sisa cahaya bulan yang mengintip dari celah tirai balkon. ​"Pilihan yang sulit," gumam Julian dari kegelapan, suaranya tenang dan datar. "Selamat malam, Elena. Semoga punggungmu tidak menyesali keputusanmu saat fajar tiba." ​Keheningan malam di Mansion Armand terasa begitu pekat, seolah dinding-dinding batu besarnya ikut menahan napas. Elena bisa mendengar suara napas Julian yang perlahan menjadi teratur, tanda bahwa pria itu telah terlelap dengan mudah, tanpa beban nurani sedikit pun. Sementara itu, Elena terjaga dalam siksaan. ​Malam merayap seperti siput. Setiap jam yang berlalu membawa rasa sakit baru. Korset di balik gaun pengantinnya mulai terasa seperti duri yang menusuk kulit, dan posisi meringkuk di kursi membuat persendiannya kaku. Berkali-kali ia hampir menyerah, matanya melirik ke arah ranjang yang empuk, namun harga dirinya segera menamparnya kembali. Ia lebih memilih remuk di kursi itu daripada harus berbagi kehangatan dengan pria yang telah membeli hidupnya. Cahaya abu-abu mulai menyusup masuk melalui celah gorden, menyapu lantai marmer dan menyinari wajah Elena yang tampak pucat dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Ia tidak benar-benar tidur; ia hanya terjebak dalam kondisi setengah sadar yang menyakitkan. ​Suara gesekan kain sutra menandakan Julian telah bangun. Elena tetap memejamkan mata, berpura-pura tidur meski tubuhnya menggigil hebat. Ia mendengar langkah kaki yang mantap mendekat. ​Deg. Langkah itu berhenti tepat di depan kursinya. ​Elena bisa merasakan kehadiran Julian yang mengintimidasi, aroma kayu cendana yang kini terasa familiar itu kembali menyentuh indranya. Julian membungkuk, wajahnya begitu dekat hingga Elena bisa merasakan embusan napas pria itu di keningnya. ​"Aku tahu kau sudah bangun," bisik Julian, suaranya serak namun tetap terukur. ​Elena membuka matanya perlahan, menatap lurus ke dalam mata gelap Julian yang tampak segar, seolah ia baru saja menghabiskan malam di resor bintang lima, bukan di tengah perang saraf. ​"Fajar sudah tiba, Nyonya Armand," ucap Julian sambil menegakkan punggung. Ia menatap Elena yang tampak berantakan di atas kursi—gaun yang kusut, rambut yang acak-acakkan, dan mata yang merah. "Dan kau masih bernapas. Artinya, pemberontakanmu tidak membunuhmu, hanya membuatmu tampak sangat menyedihkan." ​Julian berjalan menuju kamar mandi, namun ia berhenti sejenak di ambang pintu dan menoleh tanpa ekspresi. ​"Mandilah. Kita sarapan sepuluh menit lagi di meja panjang. Ingat, para pelayan sedang menunggu untuk melihat bagaimana 'ratu' baru mereka menjalani hari pertamanya." ​Julian menutup pintu kamar mandi, dan tak lama kemudian terdengar suara aliran air shower yang deras. ​Elena mencoba berdiri, namun seluruh tubuhnya menjerit kesakitan. Ia harus berpegangan pada sandaran kursi agar tidak jatuh kembali. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar—sosok wanita dalam balutan gaun pengantin mewah yang kini tampak seperti reruntuhan perang. ​Ia telah berhasil melewati malam pertama tanpa menyerahkan diri pada ranjang itu. Namun, saat ia melihat bayangan pintu kamar yang terkunci rapat dengan sistem digital, Elena menyadari satu hal pahit: fajar tidak membawa kebebasan. Fajar hanya menandakan dimulainya hari baru di dalam sangkar emas yang lebih terang. Elena menyeret langkahnya menuju ruang ganti dengan tubuh yang terasa remuk. Setiap sendinya seakan berkarat, dan tulang rusuknya terasa perih akibat tekanan korset yang tak dilepas selama belasan jam. Di dalam ruangan itu, deretan pakaian desainer terbaru telah tergantung rapi—semuanya pilihan Julian, semuanya berwarna monokromatik yang membosankan. ​Namun, masalah pertamanya bukan memilih baju. Masalah utamanya adalah gaun yang masih melekat erat di tubuhnya. ​Elena memutar tangannya ke belakang, mencoba meraih ritsleting tersembunyi di balik deretan kancing bungkus yang rumit. Jemarinya yang kaku dan gemetar berusaha menggapai, namun posisinya sangat mustahil. Ia mencoba memutar tubuh, menarik kain itu sekuat tenaga hingga napasnya tersengal, namun gaun itu tetap mengunci tubuhnya dengan angkuh. ​"Sialan," desisnya, air mata kelelahan nyaris tumpah. ​Tepat saat itu, pintu geser ruang ganti terbuka. ​Julian melangkah masuk. Rambutnya basah kuyup, tetesan air mengalir di atas bahunya yang lebar dan jatuh ke dadanya yang bidang. Ia hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya dengan rendah, memamerkan garis otot perut yang tegas. Aroma sabun maskulin yang segar dan uap air hangat seketika memenuhi ruangan yang sempit itu. ​Elena membeku, tangannya masih terangkat dalam posisi canggung di belakang punggung. ​Julian berhenti tepat di hadapannya. Ia tidak tampak terkejut, tidak pula merasa sungkan. Ia menatap Elena melalui cermin besar dengan tatapan kaku yang biasa. "Masih terjebak di dalam zirahmu, Elena?" ​"Keluar," suara Elena parau, namun tetap mencoba terdengar tajam. "Aku bisa melakukannya sendiri." ​"Kau sudah mencoba selama tiga menit dan hasilnya nihil," sahut Julian santai. Ia melangkah mendekat, mengabaikan protes Elena. "Berhentilah bersikap seolah-olah martabatmu akan hancur hanya karena bantuan teknis." ​Julian memutar tubuh Elena dengan tangan kirinya yang besar, memaksanya membelakangi pria itu. Elena bisa merasakan hawa dingin dari rambut basah Julian yang mengenai kulit pundaknya, kontras dengan sentuhan jemari Julian yang hangat dan mantap di punggungnya. ​"Jangan menyentuhku," ancam Elena, meski ia tahu itu gertakan kosong. ​"Tundukkan kepalamu," perintah Julian, mengabaikan ancamannya. Jemarinya mulai bekerja dengan ketangkasan yang menjengkelkan. Ia membuka satu demi satu kancing kecil itu dengan gerakan yang sangat klinis, seolah ia sedang membuka segel dokumen penting, bukan pakaian seorang wanita. ​"Kau sangat menikmati ini, bukan?" sindir Elena, matanya menatap tajam ke arah pantulan Julian di cermin. "Melihatku tidak berdaya bahkan hanya untuk melepas baju sendiri." ​Julian menarik ritsleting itu turun dalam satu tarikan yang halus dan panjang. "Aku tidak menikmati ketidakefisienan. Jika kau melepasnya sejak semalam, kita tidak perlu membuang waktu lima menit berharga di pagi hari ini." ​Gaun itu melonggar seketika. Elena menarik napas dalam yang pertama sejak semalam, merasakan paru-parunya kembali mengembang. Namun, saat gaun itu mulai merosot dari bahunya, Julian tidak segera menjauh. Ia justru membiarkan tangannya tetap berada di sisi leher Elena, jemarinya menyentuh bekas merah yang ditinggalkan oleh korset ketat itu. ​"Lihat dirimu," gumam Julian, suaranya rendah dan dalam, bergema di ruang ganti yang sunyi. "Kau menyiksa dirimu sendiri hanya untuk membuktikan poin yang sudah aku ketahui: bahwa kau membenciku. Apakah bekas luka ini sepadan dengan kemenangan moralmu yang semu?" ​Elena berbalik dengan cepat, menahan gaunnya di depan d**a agar tidak jatuh sepenuhnya. Wajah mereka kini sangat dekat. Mata Elena berkilat penuh api. ​"Bekas ini akan hilang, Julian. Tapi fakta bahwa kau memaksaku berada di sini akan tetap ada selamanya." ​Julian menatap mata Elena dengan ketenangan yang mematikan, lalu matanya turun perlahan ke bahu Elena yang terekspos, sebelum kembali ke matanya. ​"Pakaianmu ada di sana," kata Julian sambil menunjuk ke deretan blouse sutra tanpa mengubah ekspresi wajahnya. "Pakailah sesuatu yang pantas. Aku tidak suka menunggu di meja makan." ​Ia berbalik dan berjalan keluar begitu saja dengan langkah santai, membiarkan Elena berdiri di tengah tumpukan gaun pengantinnya yang putih, merasa sangat telanjang bukan karena pakaiannya yang lepas, melainkan karena Julian baru saja menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi paling berantakan sekalipun, pria itu tetap memegang kendali penuh atas situasi. Elena menatap pintu ruang ganti yang baru saja tertutup dengan tangan gemetar. Ia melirik jam dinding berlapis emas di sana. Sepuluh menit, kata Julian tadi. ​Elena tersenyum sinis. Jika Julian mengagungkan efisiensi dan disiplin, maka Elena akan memberikan pemberontakan yang paling dibenci pria itu: penundaan. ​Ia sengaja menghabiskan waktu di bawah pancuran air hangat, membiarkan uap air menyamarkan rasa lelahnya. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia merias wajahnya—tebal dan tajam, memberikan kesan angkuh yang tak tersentuh. Ia memilih blouse sutra berwarna merah darah yang kontras dengan suasana mansion yang monokrom, lalu menghabiskan waktu lima menit penuh hanya untuk memastikan tatanan rambutnya terlihat terlalu sempurna untuk sekadar sarapan. ​Satu jam telah berlalu ketika Elena akhirnya menuruni tangga agung menuju ruang makan. ​Suara langkah kakinya yang menggunakan stiletto bergema di atas marmer, tajam dan menuntut perhatian. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu ruang makan yang luas. Di sana, di meja panjang yang bisa menampung tiga puluh orang, Julian tidak duduk sendirian. ​Dua sosok paruh baya duduk di sisi kiri meja dengan postur yang sangat kaku dan formal. Paman Julian, Leon Armand, yang memiliki tatapan setajam elang, dan Bibinya, Sofia, yang tampak elegan namun dingin dengan perhiasan mutiara yang melingkar di lehernya. Di depan mereka, piring-piring porselen putih bersih telah kosong, menandakan sarapan sebenarnya sudah berakhir. ​"Kau terlambat lima puluh menit, Elena," suara Julian terdengar datar, tanpa perlu mendongak dari koran bisnis di tangannya. Ia menyesap kopinya yang pasti sudah mendingin. ​"Aku butuh waktu untuk menghapus jejak 'kenyamanan' yang kau berikan semalam," balas Elena tajam sembari melangkah masuk tanpa rasa bersalah. ​Bibi Sofia meletakkan sendok peraknya dengan bunyi denting yang kentara, matanya menyapu penampilan Elena dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Sangat... berani," komentar Sofia dengan nada yang merendahkan. "Di keluarga Armand, disiplin adalah fondasi. Sepertinya keponakanku perlu waktu lebih lama untuk mengajarimu cara menjadi Nyonya yang pantas." ​Elena duduk di kursi yang berseberangan dengan Julian, sejauh mungkin yang ia bisa. "Mungkin karena 'pengajarannya' semalam terlalu melelahkan, Bibi. Anda tahu sendiri bagaimana Julian jika sedang memegang kendali, bukan?" ​Suasana meja makan itu seketika mendingin. Paman Leon berdeham berat, tampak terganggu dengan sindiran Elena yang terlalu vulgar bagi telinga bangsawan mereka. ​"Julian," paman itu bersuara dengan nada bariton yang keras. "Kami di sini untuk memastikan aset Adiwangsa Group telah sepenuhnya terintegrasi ke dalam portofolio Armand. Kami tidak punya waktu untuk drama pengantin baru yang tidak disiplin." ​Julian akhirnya melipat korannya dengan gerakan yang sangat rapi. "Semua sudah terkendali, Paman. Hendra sedang memproses dokumen terakhir. Termasuk rumah utama keluarga Adiwangsa yang baru saja aku amankan pagi ini." ​Darah Elena seolah membeku. "Apa maksudmu? Kesepakatannya adalah utang perusahaan, bukan rumah itu!" ​"Jangan berteriak di depan orang tua, Elena," tegur Bibi Sofia dingin. "Rumah itu adalah jaminan yang masuk akal bagi modal tunai yang Julian suntikkan dua jam sebelum pernikahan kalian. Kau seharusnya berterima kasih karena rumah itu tidak jatuh ke tangan bank." ​Elena menatap Julian dengan amarah yang meluap. "Kau sengaja membawa mereka ke sini? Untuk menunjukkan bahwa aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk membelaku? Bahkan di rumahku sendiri?" ​Julian bangkit berdiri, gerakannya tenang namun mendominasi seluruh ruangan. "Ini bukan rumahmu lagi, Elena. Ini rumah kita. Dan Paman serta Bibi di sini untuk menyambutmu... secara formal." ​Ia memberi isyarat kecil pada kedua kerabatnya. "Paman, Bibi, saya rasa pertemuan ini sudah cukup. Saya akan mengurus istri saya." ​Sorot mata Julian tajam mengunci setiap pergerakan Elena yang baginya sudah terlalu berani di awal pagi setelah pernikahan mereka. "Kau tahu dimana letak kesalahanmu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD