Malam Pertama Tanpa Sentuhan

1898 Words
Di balik kaca balkon, Julian tampak berbicara dengan nada rendah yang serius, siluetnya terlihat dominan di bawah cahaya bulan, meninggalkan Elena sendirian di tengah kemegahan kamar yang tiba-tiba terasa jauh lebih luas dan mengintimidasi. ​Cermin besar di hadapan Elena memantulkan sosok seorang wanita yang tampak asing. Mahkota kecil itu kini terasa seperti paku yang menancap di kepalanya. Dengan gerakan kasar, ia mencabut hiasan itu hingga beberapa helai rambutnya ikut tertarik, lalu melemparkannya ke atas ranjang king size yang tertutup sprei sutra abu-abu. Elena tidak bergerak seinci pun dari posisinya. Ia memilih sebuah kursi armchair berbahan beludru gelap yang terletak di sudut terjauh ruangan, seolah-olah kursi itu adalah benteng pertahanan terakhirnya. Dengan gerakan kaku, ia duduk tegak, membiarkan rok gaun pengantinnya yang bervolume tumpah di atas lantai marmer seperti buih ombak yang membeku. ​Beberapa menit kemudian, Julian kembali masuk dari balkon setelah menyelesaikan teleponnya. Ia menghentikan langkahnya dan menatap Elena dengan satu alis terangkat tipis. Keheningan di antara mereka kini bukan lagi sekadar sunyi, melainkan medan magnet yang saling tolak-menolak. ​"Kau tidak mandi?" tanya Julian datar. Suaranya memecah kesunyian seperti retakan pada es. ​"Aku akan tetap seperti ini," jawab Elena tajam. Matanya menatap lurus ke depan, menolak untuk memberikan Julian kepuasan dari sebuah kontak mata. "Anggap saja ini seragam perangku. Aku tidak akan melepas satu kancing pun di bawah atapmu." Julian tidak menunjukkan amarah. Ia justru berjalan menuju sofa panjang di sisi lain ruangan, melepas kancing manset kemejanya satu per satu dengan ketenangan yang menjengkelkan. ​"Pemberontakan diam," gumam Julian, hampir seperti sedang mengevaluasi sebuah strategi bisnis yang menarik. "Sangat klasik, Elena. Namun, kau lupa satu hal. Gaun itu dirancang untuk pesta selama empat jam, bukan untuk bertahan menghadapi kerasnya malam di kursi beludru." Ia melangkah mendekati meja kecil, menuangkan scotch ke dalam gelas kristal. Bunyi gesekan es batu yang beradu dengan gelas terdengar begitu nyaring di ruangan yang kedap suara itu. ​"Kau akan merasa kedinginan dalam dua jam," lanjut Julian sambil menyesap minumannya. "Lalu punggungmu akan mulai sakit karena korset itu. Dan saat fajar tiba, kau akan menyadari bahwa pemberontakan ini hanya menyiksa dirimu sendiri, bukan aku." ​"Aku lebih suka tersiksa oleh kain ini daripada harus tunduk pada perintahmu," desis Elena. Suasana kamar itu terasa semakin berat. Cahaya lampu kristal yang mulai redup menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding, membuat mansion itu terasa semakin seperti labirin yang tak berujung. Angin malam menyusup lewat celah balkon yang masih sedikit terbuka, membawa aroma tanah basah dan melati yang kontras dengan aroma sandalwood milik Julian. ​Julian berjalan mendekati Elena. Ia berhenti tepat di hadapannya, cukup dekat hingga Elena bisa melihat pantulan dirinya yang tampak rapuh namun keras kepala di bola mata pria itu. Julian membungkuk sedikit, meletakkan gelasnya di meja samping kursi Elena. ​"Kau tahu apa yang paling aku benci, Elena?" bisik Julian. Suaranya rendah, bergetar di udara yang tipis. "Sesuatu yang tidak efisien. Dan duduk sepanjang malam dengan gaun pengantin adalah puncak dari ketidakefisienan." ​Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang hangat menyentuh sandaran kursi, tepat di samping leher Elena. Elena bisa merasakan hawa panas dari tubuh Julian yang mulai mengepungnya. ​"Tapi jika ini cara yang kau pilih untuk menandai wilayahmu," Julian menegakkan tubuhnya kembali, wajahnya kembali kaku dan tenang seperti sedia kala, "silakan. Aku akan tidur di ranjang itu. Dan setiap kali kau merasa kedinginan atau lelah di kursi itu, ingatlah... ranjang ini cukup luas untuk dua orang, tapi harga diri yang kau pertahankan itu sangatlah sempit." Julian berbalik, berjalan menuju tempat tidur dengan langkah yang sangat teratur. Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang remang-remang, mengubah atmosfer kamar menjadi panggung bayangan yang dramatis. Elena mencengkeram lengan kursi beludru itu hingga buku-buku jarinya memutih. Ia bisa mendengar suara Julian yang merebahkan diri di ranjang sutra—suara kemenangan yang tenang. Di dalam kegelapan yang sunyi itu, Elena menyadari bahwa perang saraf ini baru saja dimulai, dan Julian adalah musuh yang tidak akan pernah kehabisan kesabaran. Waktu merayap lambat, seolah setiap detak jam dinding di kamar itu sengaja memperlambat ritmenya untuk menyiksa Elena. ​Dua jam berlalu. Prediksi Julian mulai menampakkan kebenarannya. ​Suhu di dalam mansion yang menggunakan sistem pendingin sentral itu mulai turun drastis, menusuk pori-pori kulit Elena yang terekspos di bagian bahu. Napasnya mulai membentuk uap tipis yang nyaris tak terlihat. Kursi beludru yang awalnya terasa empuk kini terasa sekeras batu, dan korset gaunnya mulai menekan tulang rusuknya, membuat setiap tarikan napas terasa seperti perjuangan kecil. ​Namun, Elena tetap bergeming. Ia melipat tangannya di d**a, mencoba menyembunyikan getaran di jemarinya. Matanya yang mulai perih karena kantuk dipaksa tetap terbuka, menatap punggung Julian yang tenang di atas ranjang. Pria itu tampak tertidur pulas—atau setidaknya, ia sangat ahli dalam berpura-pura tenang. ​"Satu malam," bisik Elena pada dirinya sendiri, suaranya parau. "Aku hanya perlu bertahan satu malam untuk membuktikan aku tidak bisa dipatahkan." ​Tiba-tiba, suara gesekan kain sutra terdengar. Julian bergerak. Ia tidak bangun, hanya membalikkan tubuhnya hingga kini ia menghadap ke arah Elena. Dalam keremangan lampu tidur, mata Julian terbuka sedikit, berkilat dingin. ​"Kau masih di sana," gumam Julian. Suaranya serak khas orang bangun tidur, namun tetap memiliki ketajaman yang presisi. "Keras kepalamu jauh lebih besar daripada akal sehatmu, rupanya." ​Julian bangkit duduk, membiarkan selimut duvet tebalnya merosot ke pinggang. Ia tidak mengenakan atasan, memperlihatkan garis otot punggung dan bahunya yang kokoh—hasil dari disiplin yang ketat, sama seperti cara ia mengelola bisnisnya. ​Pria itu turun dari ranjang, langkah kakinya tidak terdengar di atas karpet tebal saat ia berjalan menuju lemari besar di sudut ruangan. Ia mengeluarkan sebuah selimut kasmir berwarna abu-abu gelap, lalu berjalan mendekati Elena. ​"Jangan mendekat," desis Elena, meskipun bibirnya mulai membiru karena kedinginan. ​Julian berhenti tepat di depan Elena. Ia tidak memaksa menyelimuti wanita itu. Sebaliknya, ia meletakkan selimut itu di atas sandaran kursi, tepat di samping kepala Elena. ​"Aku tidak suka barang milikku rusak karena kelalaian yang konyol," kata Julian kaku. "Jika kau jatuh sakit besok pagi, kau akan mengacaukan jadwal pertemuan dengan dewan direksi Adiwangsa. Dan aku tidak mentoleransi kekacauan." ​"Aku bukan barang milikmu!" Elena menyentak, mencoba berdiri untuk memberikan penekanan, namun kakinya yang kaku karena posisi duduk yang lama membuatnya limbung. ​Dengan gerak refleks yang cepat dan terkontrol, tangan Julian menangkap pinggang Elena. Tarikannya begitu kuat hingga tubuh Elena menabrak d**a bidang Julian. Kehangatan tubuh pria itu merambat seketika, kontras dengan dinginnya sutra gaun Elena yang seperti es. ​Untuk beberapa detik, napas mereka beradu. Elena bisa merasakan detak jantung Julian yang stabil, sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu liar karena amarah dan... sesuatu yang lain yang tidak ingin ia akui. ​"Tatap aku, Elena," perintah Julian rendah. "Kau sedang menggigil hebat, namun kau masih mencoba mengibarkan bendera perang. Apakah harga dirimu benar-benar sebanding dengan pneumonia?" ​"Harga diriku adalah satu-satunya hal yang tidak kau beli dengan uangmu, Julian!" ​Julian menatap mata Elena dengan intensitas yang membuat ruangan itu seolah menyusut. Ia tidak melepaskan cengkeramannya. Sebaliknya, ia menarik Elena sedikit lebih dekat, hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. ​"Kalau begitu, pertahankan itu dengan cara yang lebih cerdas," bisik Julian. "Pakai selimutnya, atau aku akan memanggil pelayan untuk melepaskan gaun ini secara paksa agar kau bisa masuk ke bak mandi air panas. Pilih mana, Nyonya Armand? Pemberontakanmu berakhir dengan selimut, atau berakhir dengan kehormatanmu yang dipreteli oleh orang lain atas perintahku?" ​Elena melihat kilat absolut di mata Julian. Pria ini tidak sedang menggertak. Baginya, ini hanyalah penyelesaian masalah yang efisien. Elena membalas tatapan itu dengan nyalang, meski giginya beradu karena kedinginan. Ia bisa merasakan panas tubuh Julian merembes melalui kain tipis gaunnya, sebuah invasi kehangatan yang terasa seperti pengkhianatan bagi tubuhnya sendiri. ​"Kau sangat suka memberi pilihan yang bukan pilihan, ya?" desis Elena, suaranya parau namun tajam. "Itu bakatmu, Julian. Menodongkan senjata sambil tersenyum sopan." ​Julian tidak menarik tangannya. Ibu jarinya justru bergerak pelan di atas kain sutra di pinggang Elena, sebuah gerakan yang terlalu santai, seolah ia sedang memeriksa tekstur kain mahal, bukan sedang menghadapi istri yang membencinya. ​"Senjata hanya untuk orang yang tidak punya rencana," sahut Julian dengan nada yang sangat datar, hampir seperti gumaman malas. "Aku tidak butuh senjata untuk menghadapi seseorang yang bahkan tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya sendiri." ​Ia melepaskan pegangannya secara tiba-tiba, membuat Elena sedikit terhuyung sebelum akhirnya kembali mencengkeram lengan kursi beludru itu. Julian kembali ke meja kecilnya, menuangkan sedikit lagi scotch ke gelas kristalnya. Suara denting botol dan gelas itu seolah mengejek kesunyian Elena. ​"Kau tahu, Elena," Julian berbalik, menyandarkan bahunya yang kokoh pada tiang ranjang yang megah. "Aksi mogokmu ini... mengingatkanku pada negosiasi buruh di salah satu pabrik baja milikku tahun lalu. Mereka menolak makan, menolak bicara. Kau tahu apa yang kulakukan?" ​Elena hanya diam, dagunya terangkat tinggi, meski tubuhnya masih sedikit gemetar. ​"Aku membiarkan mereka," lanjut Julian dengan senyum tipis yang membekukan. "Aku memerintahkan koki terbaik untuk memasak di depan mereka. Aroma daging panggang, mentega, bumbu... aku tidak memaksa mereka makan. Aku hanya membiarkan insting manusiawi mereka bekerja. Pada jam kedua belas, mereka menyerah bukan karena aku kejam, tapi karena mereka sadar bahwa kelaparan tidak akan mengubah angka di saldo bankku." ​Ia berjalan mendekati Elena lagi, kali ini dengan gelas di tangan. Ia berdiri cukup dekat hingga aroma kayu cendana dan alkohol itu kembali mengepung Elena. ​"Kau sedang melakukan hal yang sama. Kau mencoba menyiksa dirimu untuk membuatku merasa bersalah. Tapi lihat aku..." Julian merentangkan satu tangannya, menunjukkan sosoknya yang tetap terlihat sempurna dan tak terguncang. "Aku sudah tidur, aku sudah minum, dan besok aku akan bangun dengan segar untuk mengambil alih aset ayahmu. Sementara kau? Kau akan bangun dengan wajah pucat dan tubuh lemas. Jadi, katakan padaku... siapa sebenarnya yang sedang kau hukum malam ini?" ​Elena menggertakkan gigi. "Aku sedang menjaga jarak agar kau tidak lupa bahwa kau hanya memiliki namaku, bukan diriku!" ​Julian tertawa kecil, suara baritonnya yang rendah bergema di sudut-pijar kamar yang luas itu. Ia meletakkan gelasnya di atas meja, lalu membungkuk, menaruh kedua tangannya di sandaran kursi tempat Elena duduk, mengurung wanita itu dalam ruang sempit di antara lengannya. ​"Kau pikir aku selemah itu hingga harus memaksamu?" bisik Julian. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Elena. "Aku bisa menunggumu menyerah, Elena. Sebulan, setahun, satu dekade. Aku punya waktu yang tak terbatas, dan aku punya kesabaran yang jauh lebih besar dari kebencianmu." ​Julian menarik napas dalam, matanya menyapu wajah Elena yang tampak lelah namun tetap cantik di bawah temaram lampu tidur. ​"Sekarang, ambillah selimut itu. Atau aku akan menganggap diammu sebagai izin bagiku untuk membantumu melepaskan gaun itu. Dan percayalah, cara kerjaku sangat efisien jika aku sudah kehilangan kesabaran." ​Suasana kamar itu kini terasa begitu pengap. Suara angin yang melolong kecil di balik balkon dan detak jam dinding seolah ikut menekan Elena. Julian tidak bergerak, ia tetap di sana, menunggu dengan ketenangan yang absolut—ketenangan seorang predator yang tahu bahwa mangsanya tidak punya jalan keluar selain menyerah pada rasa lelahnya sendiri. ​Elena menatap selimut kasmir di sampingnya, lalu menatap Julian. Di mata pria itu, ia tidak melihat amarah, tidak melihat nafsu, hanya ada sebuah keyakinan kaku bahwa segala sesuatunya akan berjalan sesuai prediksinya. ​"Aku benci kau," bisik Elena lirih. ​"Aku tahu," jawab Julian santai sembari berdiri tegak kembali. "Dan aku tidak butuh cintamu untuk membangunkanku besok pagi. Tidurlah, Elena. Sangkar emas ini tidak akan terasa begitu buruk jika kau berhenti mencoba menabrakkan dirimu ke jerujinya." ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD