Pamit

1822 Words
Mery mengayunkan kakinya pelan, sekarang cewek itu duduk di kursi pinggir lapangan, menonton acara classmeeting sendirian sambil menopang dagu dengan kedua tangan. Jujur saja, Mery merasa galau banget. Sebab hari ini hari terakhirnya menginjakkan kaki di SMA Bakti Buana. Dan besok, dia harus berkemas dan menyiapkan diri untuk bersekolah di Amerika. Mery belum siap, sangat-sangat belum siap meninggalkan semua kenangannya di Indonesia. Teman-temannya, sahabatnya Raya dan Tasya, dan yang terutama adalah pacarnya--Arga. "MERY!!" Mery menoleh ketika namanya dipanggil dari arah kanan. Cewek itu tersenyum manis, menyembunyikan perasaan sedihnya dari Raya dan Tasya yang berjalan mendekatinya. "Lo di sini ternyata, capek tau kita nyariin, Ry," ucap Tasya. Cewek itu berkacak pinggang. Raya duduk di samping Mery. "Lho, tumben lo nonton sendirian? Biasanya lo ngajak kita. Kenawhy?" "Iya, Ry. Lo kenapa tiba-tiba menyendiri gini?" tambah Tasya, ikut duduk di samping Mery. Mery tersenyum sekali lagi. Dia tidak mau menjawab pertanyaan kedua sahabatnya, justru langsung merangkul bahu mereka. "Gue minta maaf ya kalau ada salah sama lo bedua." "Eh?" Raya terkejut. "Tumben lo minta maaf gini?" Tasya memutar bola matanya jengah dan langsung menoyor kepala Raya. "Ya kan besok Mery berangkat ke Amerika. Lo gimana sih, Ya. b**o amat!" "Oh. Hehe," Raya cengengesan. Dia lantas memeluk Mery. "Kita juga bakal kangen banget sama lo, Ry. Jangan lupain kita-kita ya, Ry. Setiap hari lo harus kasih kabar pokoknya," ujarnya. Air di sudut mata Tasya menggenang, cewek itu ikut memeluk Mery sekarang. Kini, mereka bertiga saling berpelukan, menyalurkan rasa rindu yang setiap hari nanti akan datang. Dengan cepat, Mery menyapu sudut matanya yang berair kala pelukan mereka sudah terlepas. Lalu menatap kedua temannya bergantian. Raya dan Tasya merupakan sahabatnya sejak SMP, mereka selalu ada kapan pun Mery membutuhkannya. Menjadi tempat keluh kesah saat dirinya dilanda masalah. "Gue nggak akan lupain kalian kok," Mery memeluk Raya. Sahabatnya itu hampir menangis sesegukan. "Kalian itu teman terbaik yang gue punya. Walaupun kita kepisah, lo bedua masih ada di sini." Kemudian menunjuk dadanya. Tangis Raya justru semakin kencang. "HUWAAA." "Dih, cengeng banget sih, Ya. Kayak gue dong," cibir Tasya. Menunjuk dirinya sendiri, sayang air mata cewek itu ketahuan oleh Mery. "Lo juga nangis tuh," ujar Mery. Buru-buru Tasya menyeka sudut matanya. Mery terkekeh geli dibuatnya. Selama beberapa menit mereka saling berpelukan, susah payah Mery menahan air matanya. Dia tidak mau kelihatan sedih oleh siapa pun. Dia harus kuat menghadapi semua ini. Sekalipun berpisah dengan orang-orang yang singgah di hidupnya selama ini. Toh, dia tidak selamanya menetap di Amerika. Dia pasti pulang dan kembali menemui mereka semua. "Mery." Sampai akhirnya, sebuah suara tiba-tiba menginterupsi, memaksa mereka semua melepas pelukannya. "Pacar?" Arga, berdiri tepat di depannya. Mery buru-buru menyeka air matanya. Cewek itu berdiri dan saat itulah dia menemukan Arlan dan Kevin berjalan mendekat. "Hai, Ry," sapa Arlan dan Kevin bersamaan. Mery tersenyum tipis. "Hai juga." "Arga cerita ke gue lo bakal berangkat ke Amrik, Ry. Serius?" tanya Arlan. Mery mengangguk. "Iya. Gue disuruh papa ngelanjutin sekolah kedokteran di sana." "Berapa lama?" Kali ini Kevin yang bertanya. "Kayaknya lima tahunan deh." "Buset dah, kalau gitu lo sama aja nyiksa Arga, Ry," timpal Arlan, Arga lantas melotot ke arah cowok itu. "Terus lo masih mau ldr?" "Iyalah," Bukan Mery yang menjawab, tapi Arga yang langsung mendekat ke arah pacarnya. "Sekalipun jaraknya jauh banget, gue nggak akan melepaskan Mery." "Ahayyy," celetuk Kevin. Dia ikutan berdiri di samping Raya. Merangkul bahu pacarnya. "Gue juga nggak akan ngelepasin my honey baby sweety Raya." "Heleh. Alay banget lo, t*i kecoa!" cibir Arlan. Kevin hanya menggidikan bahu. Sedangkan Raya santai-santai saja sambil bersandar di bahu cowok itu. "Pasangan guoblok ya gini." Tasya ikut mencibir, melipat tangan di bawah d**a. Lagi-lagi Mery tertegun, suasana seperti inilah yang nanti dia rindukan. Dimana keempat teman lainnya, Arlan, Kevin, Raya dan Tasya membuat sebuah lelucon yang pasti jarang dia dapatkan di Amerika. Mery mendekat ke arah Arlan. "Gue minta maaf kalau ada salah sama lo, Lan," ujarnya. Arlan manggut-manggut kemudian merentangkan tangan. "Siap gue maafin. Mau peluk gue nggak nih?" "Nggak usah pake peluk-pelukan," titah Arga. Dia menepis tangan Arlan. Cowok itu menggaruk leher salah tingkah. "Iye dah iye. Ngamuk dah yang punya!" Mery tertawa geli. Cewek itu beralih mendekati Kevin lalu mengucapkan maaf seperti tadi. Usai meminta maaf kepada teman-temannya, Mery mendekati Arga, menatap penuh arti pacarnya. "Aku juga minta maaf ya pacarr, aku banyak salah sama kamu. Maaf kalau selama ini aku sering ma--" "Shuut." Arga menempelkan telunjuknya ke bibir Mery. Cowok itu mengacak gemas rambut pacarnya. "Bosen deh dengernya. Lagian kamu marah-marah itu bukan berarti kamu salah. Dan seharusnya aku nyesel, besok-besok kamu nggak bisa marah-marah ke aku lagi. Aku akan merindukan itu, Ry." Dalam sekejap, air di sudut mata Mery menggenang. Dia langsung lari ke pelukan Arga. Dia tidak peduli seberapa banyak orang melihatnya. Yang pasti, sebelum ia benar-benar pergi, Mery hanya ingin berada dalam dekapan pacarnya. "Makasih banyak ya, pacarrr. Makasihhh." "Iya sama-sama." Arga membalas pelukan Mery, mengecup puncak kepala gadis itu. "Aku sayang kamu, Ry. Berapa lama pun kamu pergi. Aku janji akan selalu menunggu kamu." Pipi Mery memanas. Kevin merangkul bahu Arlan lalu bersiul seraya melirik Arga. "Cielah. Uhuyyy, sob," celetuk Kevin. "Umm... Gimana kalau hari ini kita kumpul-kumpul aja? Ngabisin waktu sama Mery gitu," tutur Tasya menyarankan. Raya mengangguk mengiyakan. "Setuju aja guenya. Tapi di rumah siapa?" "Rumah gue aja. Kebetulan sore ini gue ngadain pesta kecil-kecilan buat Mery," jawab Arga. Mereka lantas berpandangan lalu mengangguk setuju. Mendengar hal itu, Mery kontan mendongak, menatap pacarnya. "Huwaa. Makasih pacarrr." ☆☆☆ "Papa?" gumam Mery. Cewek itu mendapati Riko--papanya keluar dari ruang BK bersama Bu Martha. Mereka tampak membicarakan sesuatu. Alis Mery bertaut, dia heran apa yang dilakukan papanya di sana. Mery lantas menghampiri mereka. "Papa!" Panggil Mery. Cewek itu setengah berlari mendekati papanya. Riko lantas menoleh dan mendapati Mery sudah berada di sampingnya. "Papa ngapain di sini?" tanya Mery. Dia menatap papanya lalu sekilas melirik Bu Martha. "Oh iya, Papa lupa ngasih tau kamu kalau papa mau datang untuk mengurus surat kepindahan. Dan alhamdulillah sudah selesai. Mulai besok kamu bukan murid SMA Bakti Buana lagi." Deg. Dalam sekejap, Mery merasakan matanya memanas. Jantungnya berdegup tidak karuan. Sebelah tangan cewek itu mengepal. Perkataan Riko berhasil menusuk hatinya. Mery menarik napasnya, entah kapan dia harus seperti ini. Selalu tidak terima saat ada orang yang mengatakan dia harus pindah. Hatinya mengatakan dia tidak mau, dan dirinya seperti tidak punya kata-kata untuk menggubris semua itu. "Mery?" panggil Bu Martha. Lamunan Mery buyar seketika. Dia menatap Bu Martha. Wanita tua itu tiba-tiba memeluknya. "Ibu harap di Amerika nanti kamu menjadi pribadi yang lebih baik. Buat papa kamu bangga sama pencapaian kamu. Jangan kecewakan beliau." Mery menggangguk pelan. Dia membalas pelukan Bu Martha. Ada rasa kecanggungan. Sebab, ini rekor pertama Mery memeluk wanita tua itu. "Iya, Bu. Mery pasti berusaha. Terima kasih sudah mendidik Mery selama dua tahun ini. Mery minta maaf karena Mery sering buat masalah sama ibu," ujar Mery kemudian. Bu Martha mengelus rambutnya pelan. "Nggak papa. Ibu sudah memaafkan kamu sejak lama. Lagian, guru-guru tidak boleh menyimpan dendam terlalu lama pada muridnya. Dan kenakalan kamu, pasti akan menjadi hal yang dirindukan guru-guru di sini," tuturnya. Mery tersenyum malu-malu, semoga saja akan seperti itu. Bahkan bukan guru-guru saja yang akan Mery rindukan, semua hal menyangkut sekolah ini pasti terkenang di ingatan. "Kalau begitu, saya pamit dulu, Bu. Terima kasih kasih sekali lagi sudah mendidik Mery," ucap Riko pada Bu Martha. "Oh iya-iya silahkan. Mau saya antar keluar, Pak?" "Tidak. Terima kasih, Bu," tolak Riko sopan, lalu menatap Mery. "Papa pulang dulu. Habiskan waktu bersama teman-teman kamu. Sisa hari ini kamu bisa berkumpul bersama mereka." "Iya, Pa," jawab Mery. Dia menyalimi tangan Bu Martha. Kemudian menatap Riko. "Mery mau ngantar papa keluar. Boleh?" "Boleh." Setelahnya, mereka beranjak pergi ke parkiran. Tiba di sana Mery melambaikan tangan pada Riko, sebelum kemudian papanya itu memasuki mobil dan melesat pergi melewati gerbang sekolah. Mery menarik napasnya, dia menatap gerbang bertuliskan SMA Bakti Buana. Sekelebat bayangan pertemuannya dengan Arga pun terlintas di ingatan Mery, cewek itu tersenyum penuh arti. Tidak sampai disitu rupanya kesialan Dian, baru saja dia sampai di depan gerbang sekolah, Mery menghadangnya dengan merentangkan tangan di tengah jalan. Menghalangi cowok itu untuk masuk lebih dalam menuju parkiraan. "Stop!" Mesin motor Dian kontan berhenti, telat sedikit saja bagian depan motornya akan menghantam perut Mery. "Udah bosen hidup lo hah?!" tanya Dian tegas, ketika cewek itu malah acuh dan bersidekap. "Gue malah bosen liat muka lo," ucap Mery, ketika Dian turun dari motornya. Cowok itu membuka helm dan merapikan rambutnya. Tidak sepenuhnya Dian kesal, ia malah tersenyum sinis karena penampilan Mery yang 80% berubah, rambutnya dikepang, kacamatanya hampir melorot, dan kuku yang dulunya dicat sekarang bening kembali. Lalu 20% yang kurang itu adalah seragamnya yang begitu ketat dan sifatnya yang urakan. "Lah, kalo gitu kenapa lo ngalangin jalan gue?!" ucap Dian penuh penekanan. "Suka-suka gue lah!" "Ck, berarti suka-suka gue juga mau ngebongkar aib lo." Mery kaget, kedua alisnya naik, lagi-lagi Dian mengancamnya soal pensi kemarin. Mery memicing, ia tetap memasang wajah sok tidak peduli. Namun lagi ia kalah telak saat Dian memasang kembali helmnya dan berkata. "Siap-siap skors lo nambah tiga hari." Ancaman Dian kontan menyentaknya kembali dalam ketakutan, masalahnya yang menjadi korban di sini bukan dirinya saja tapi Raya dan Tasya juga. "Tapi kan gue udah penuhin syarat lo," Mery mencebik tidak terima. Enak saja Dian berkata seperti itu padahal dirinya sudah rela merubah gaya. Dian tersenyum sinis."100% lo harus berubah 100% yang gue mau." Mery berdesis. "Lo ngelunjak ya. Gak ah, emang siapa lo sok ngatur-ngatur hidup gue?" Dian mendengus. Dasar cewek pelupa. "Sekarap lo. Gue cuma ngasih lo peluang nutupin kesalahan," ucapnya datar, tapi itu ada untungnya juga buat Mery, mungkin suatu saat cowok itu akan lupa dan membiarkannya kembali menjadi Mery seperti semula. Tapi, apa yang belum berubah seratus persen dari dirinya? Mery memandang tubuhnya sendiri dari atas ke bawah, lalu menatap Dian seolah meminta penjelasan. "Ish. Apa coba yang belum berubah dari gue?" tanya Mery akhirnya. Mata Dian lantas melihat bagian tubuh atas Mery, dua kancing atasnya terbuka. Menampilkan d**a putih cewek itu. "Lo gak liat kancing lo udah kayak seragam dua tahun gak diganti?!" "Ini kancingnya hilang, lagian bagus kalo kebuka, lumayan gue bagi rezeki sama cowok." Dian geleng-geleng, kalau di hadapannya sekarang Arlan bukan dirinya, bisa berabe nanti. "Gak sebanding sama muka lo!" ketus Dian sedikit menghina, tapi ia tidak mengelak dari fakta jika Mery itu lumayan cantik. Bibirnya tipis, alisnya serasi dengan matanya, sementara pipi chubyy yang polos. Mery mengibaskan rambutnya. "Gue kan cantik, wajarlah!" "Ngarep." "Ihhh!" Tanpa sadar, setetes air mata Mery jatuh. Duh, gue cengeng banget sih, gumamnya lalu tersenyum paksa. Mery berbalik, cewek itu tersentak kaget ketika mendapati Aileen bersedekap sambil tersenyum sinis. "Gimana? Udah siap, 'kan melepas pangeran lo buat gue?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD