Mimpi

1545 Words
Mimpi itu cuma bunga tidur, nggak memiliki kemungkinan besar mimpi itu menjadi nyata. ••• Hampir dua jam menikmati wisata malam kota Bandung Mery dan Arga akhirnya memilih pulang. Arga melirik jam tangannya, pukul 21.30. Itu artinya Arga harus cepat-cepat mengantar Mery pulang. Sebab, batas waktu jalan-jalan mereka hanya sampai jam sepuluh malam. Cewek itu sendiri, sekarang bersandar nyaman di bahunya. Sesekali menggesekan hidung yang membuat belakang Arga terasa geli. "Kok ngendus-ngendus?" Tanya Arga. Dari kaca spion, dia melihat Mery cengengesan. "Ngantuk banget, pacar. Pengen tidur tapi takut jatuh," jawabnya. Arga mengulum senyum geli. Cowok itu menghentikan motornya di pinggir jalan. Mengeratkan pelukan Mery di perutnya. "Ini alasannya kenapa aku jemput kamu lebih awal, kamu pasti ngantuk kalau pulangnya lewat jam sembilan." "Pacar tau aja," sahut Mery mengiyakan. Dia kembali bersandar di bahu Arga. Arga pun lanjut melajukan motornya, kali ini dengan kecepatan sedang saja. Membelah jalanan kota Bandung yang masih ramai oleh pengendara. Mery memeluk Arga erat, bahu yang ia sandari ini terasa sangat nyaman. Empuk sekaligus menghangatkan. Suatu hari nanti ia akan merindukan bahu ini. Membayangkannya, membuat hati Mery mendadak galau. Aku nggak mau pisah pacar, nggak mauuu. Lima belas menit kemudian, motor Arga berhenti di depan pagar rumah Mery. "Sudah sampai. Ayo turun," pinta Arga. Mery mengangguk lemah. Turun dari motor Arga dengan perasaan gundah. Arga yang melihat wajah masam pacarnya, kontak menunduk untuk menyamakan tinggi mereka. "Kok cemberut? Nggak seru ya jalan-jalannya?" "Seru kok seru. Besok lagi ya," jawab Mery antusias. Sialnya, cewek itu tidak sadar sudut matanya menggenang air. Membuat mata Arga menyipit. "Kamu nangis?" Ibu jari Arga tergerak menyapu sudut mata Mery. "Kenapa?" Mery tidak menjawab. Dia hanya menunduk, tak lama kemudian menangis sesegukan sembari mencengkram baju Arga. "HUWAA. NGGAK MAU PISAH PACARRRR. NGGAK MAU! NGGAK MAU! NGGAK MAU! AKU NGGAK MAU PISAH SAMA KAMU! AKU SAYANG KAMU PACAR. KALAU KITA PISAH. NGGAK ADA LAGI YANG AKU PELUK. NGGAK ADA LAGI YANG TRAKTIR AKU ES KRIM. NGGAK ADA LAGI YANG AKU AJAK JALAN-JALAN. HIKS. NGGAK MAUU. NGGAK MAU PISAHH. HUWAA," ucap Mery menangis sesegukan. Air matanya jatuh deras menuruni pipi mulusnya. Arga terdiam, matanya ikut berkaca-kaca, tapi ini yang terbaik untuk mereka. Dia tidak bisa menentang keputusan Riko menyekolahkan Mery di Amerika. Arga menangkup pipi Mery yang berderai air mata. "Shuuut. Nggak boleh kayak gitu. Kamu udah janji sama aku nggak akan nolak permintaan papa kamu. Aku yakin ini terbaik buat kamu." "Tapi di sana aku pasti sendiri. Nanti aku kesepian, pacarr." "Nggak. Kamu nggak akan sendiri. Pasti ada yang menemani," jawab Arga lagi. Dia menarik Mery ke dalam pelukan. Mengelus punggung cewek itu menenangkan. "Sudah-sudah. Nggak usah nangis. Setiap hari aku pasti telpon kamu untuk kasih kabar. Kita nggak akan lost contact. Ya?" bujuknya. Lama Mery terdiam, sebelum kemudian menganggukan kepala. Dia melepas pelukan Arga lalu mengacungkan kelingkingnya. "Janji ya jangan nakal. Jangan lupain aku. Pokoknya jangan deket deket cewek lain." Arga mengangguk sembari tersenyum, menyambut uluran kelingking Mery. "Janji. Udah sana masuk. Nggak usah pakai mewek. Ntar tambah jelek!" "Ish," dengus Mery. Dia mengerucutkan bibir lalu memasuki pagar dengan rasa kesal. Kemudian berbalik menghadap Arga. "Dah, pacarr, hati-hati ya." Arga yang melihat itu mengulum senyum, dia memasang helm, menyalakan mesin motor, lalu melesat pergi meninggalkan rumah Mery. Namun siapa yang tahu, cowok itu diam-diam menitikkan air mata. ☆☆☆ "Mery... pliss, Ry. Jangan tinggalin aku, aku mohon, Ry..." Arga bergumam dalam tidurnya, cowok itu terlihat gelisah. Meremas jaket yang ia jadikan bantal di atas meja. Keringat bercucuran dari bagian keningnya. "Ry.. jangan tinggalin aku, Ry... kamu..." "Ih Kak Dian bangunn! Ini sudah siang Kak." Sarah yang melihat hal itu lantas panik. Gadis itu mengguncang-guncang bahu Arga pelan. Berharap cowok itu bangun. Tapi malah semakin bergumam. "Ry... pliss.. bangun demi aku, Ry." "Aduhhh. Ini gimana?" Sarah menggigiti kuku jarinya gugup, lalu mengedar pandang. Ruangan eskul fotografi kosong. Lantas kepada siapa ia harus meminta tolong? Tak lama kemudian, sarah mendapati pintu masuk berderit, pandangannya semakin takut. Takut ada yang salah paham. Padahal dia di sini cuma di suruh Kevin memanggil Dian. Beruntung, yang datang adalah Arlan. Sarah menarik napas lega. Arlan langsung bertanya. "Eh, lo ngapain di sini hayoo?" tanya Arlan, cowok dengan baju setengah keluar itu memicing. Sarah berusaha terlihat biasa saja. "Ini kak. Aku disuruh Kak Kevin manggil Kak Dian, katanya Kak Dian harus ngeliput acara classmeet di lapangan. Tapi, Kak Diannya malah tidur. Sambil ngomong yang nggak jelas. Aku jadi bingung harus gimana. Aku udah berusaha bangunin tapi kak Diannya gak bangun-bangun," jelas Sarah. Arlan manggut-manggut dengan kening mengerut, dia mendekati Dian. Dan benar saja, cowok yang tengah merebahkan kepalanya ke meja itu terlihat gelisah sambil menggumamkan nama Mery berkali-kali. "Ohh. Paling cuma mimpi buruk. Lo tenang aja. Gue akan buat dia bangun pakai cara gue sendiri," jawab Arlan. Senyum jahilnya terbit, kemudian mengambil bandu biru di kepala Sarah. "Eh kak bandu aku kenapa di ambil?" "Gue pinjem bentar. Lo diem di situ." Sarah menurut, dia bergeming seperti perintah Arlan. Cowok itu memasangkan bandu birunya ke kepala Arga. Sarah ingin terkikik saat itu juga. "Kakak nakal banget," cicit Sarah. Arlan menyatukan telunjuk ke bibirnya. "Shutt. Lo diam aja. Liat gimana gue bangunin si bos galak." Sarah mengacungkan jempol setuju. Dia bergeming sembari menahan tawa. Arlan pun memulai aksinya. Cowok itu mengambil toa di lemari. Kemudian berteriak kencang di sebelah telinga Arga. "MERY TENGGELAM! MERY TENGGELAM! BOS BANGUN BOS. MERY TENGGELAM! WOY!" "Hah?! Mery tenggelam, dimana?" Akibatnya, Arga terbangun secara tiba-tiba, dia langsung mendongak kemudian menoleh kesana kemari. Kepalanya mendadak pusing. Namun saat menoleh ke belakang, Arga mendengus, kontan melempar jaketnya ke wajah Arlan. "HAH SIALAN! ARLAN g****k!" dengusnya. Hidung Arga kembang kempis, menahan hasrat ingin menabok kepala Arlan sekarang. "Kurang kerjaan apa gimana sih lo?!" "Sorry bos, sorry. Ceilah. Becanda doang." "Sayangnya, becandaan lo nggak lucu. Malah bikin gue panik, b**o!" "Iya dah sorry. Lo dibangunin secara baik-baik nggak mempan sih, yaudah gue pakai cara ini aja. Berhasil dah tuh. Lagian, lo napa sih pakai tidur sambil nyebut nama Mery segala. Mimpi buruk lo?" Tanya Arlan. Sarah ikut menimpali. "Iya kak, dari tadi aku berusaha bangunin kakak. Tapi kakak nggak bangun-bangun. Malah kakak makin nyaring nyebut nama Kak Mery." Arga terdiam. Dia menarik napas panjang lalu mengusap wajah gusar. Tebakan kedua orang di depannya ini tidak meleset sama sekali. Dia memang mimpi buruk mengenai Mery. Pacarnya itu menjadi korban kecelakaan pesawat di alam mimpinya sendiri. Parahnya lagi, mimpi itu terasa sangat nyata, ketika dia harus melihat tubuh Mery berlumuran darah. Argh. "Ditanyain malah bengong," celetuk Arlan. Menyimpan toanya ke dalam lemari. "Lo ada masalah apa gimana?" "Nggak ada." Arga menggidikan bahunya. "Gue...baik-baik aja." Sarah menatap Arga. "Itu kak tadi aku disuruh Kak Kevin manggil kakak. Katanya Kakak harus ngeliput acara." "Gue nggak enak badan. Suruh aja junior gue yang gantiin." "Emm oke." Sarah terdiam ketika melihat bandunya masih nempel di kepala Arga. "Itu kak punya--" Ekhem. Deheman Arlan mengalihkan perhatian Sarah, paham maksud cowok itu Sarah mengangguk. "Nggak jadi deh, makasih Kak Dian." Arga bergumam sebagai respon. Ketika Sarah sudah keluar dari ruangan, Arlan mendekati cowok itu. "Serius lo nggak papa?" Arga mengangguk singkat. Arlan terkekeh. "Muka lo pucet, btw." "Gue sehat," jawab Arga singkat. Dia berdiri kemudian memungut jaketnya yang tergeletak di lantai. Berusaha terlihat biasa saja. Padahal hatinya khawatir luar biasa. "Mau kemana lo?" "Kelas Mery." "Oh oke. Kalau ada apa-apa kasih tau gue aja." "Hmm." Hanya itu respon Arga, sebelum kemudian cowok itu pergi meninggalkan Arlan yang geleng-geleng kepala. "Bos-bos. Lo udah bucin banget ya ternyata?" ☆☆☆ Arga melangkahkan kakinya santai, ketika berjalan melewati koridor sekolah yang lumayan ramai. Wajar, hari ini sekolah mereka mengadakan classmetting. Dan murid-murid diperbolehkan menonton. Di sudut lapangan, Arga melihat sosok Kevin, cowok itu meliput acara dengan Aldi--junior yang ia percayai di eskul fotografi. Lama melihat ke lapangan, Arga tidak sengaja menabrak seseorang, hingga orang itu jatuh bersama tongkatnya. "Astagfirullah sorry-sorry. Gue nggak sengaja," ujar Arga. Dia membantu Nabilla berdiri, sebelum itu membenarkan tongkatnya dulu. "Lo nggak papa, kan?" Nabilla tersenyum. Dia lalu menatap Arga. "Nggak papa kok, Kak. Udah biasa. Hehe." "Oh. Oke. Sekali lagi gue minta maaf. Lo ceweknya Kak Raqa kan?" "Iya kak. Hehe. Kakak liat Raqa nggak? Nabilla cari di kelasnya tadi nggak ketemu." "Mungkin di ruang OSIS. Lo coba pergi aja ke sana. Atau mau gue temenin?" tawar Arga. Mengingat Raqa paling protektif pada pacarnya. Jadi, jika dia membantu gadis ini rasanya oke-oke saja. "Nggak usah deh, muka kakak aja pucet. Kakak sakit ya?" tanya Nabilla. Arga mengerutkan kening, dia jadi merasa aneh dikatai seperti itu. Memang kenapa sih kalau mukanya pucat? "Enggak gue nggak sakit." Nabilla bergeming. Dia menempelkan tangan ke dahi Arga lalu ke dahinya. "Oh iya nggak. Tapi mukanya pucat banget. Kakak habis mimpi buruk ya? Dulu, Raqa juga pernah mimpi buruk terus pas bangun mukanya langsung pucet. Kalau iya, kakak nggak usah khawatir, kata bunda mimpi itu cuma bunga tidur, nggak memiliki kemungkinan besar mimpi itu menjadi nyata," jelas Nabilla. Lama Arga terdiam, otaknya mulai mencerna perkataan Nabilla. Kalau itu ada benarnya, haruskah Arga tidak perlu khawatir lagi pada pacarnya? Entah mengapa mimpi mengerikan itu benar-benar terasa nyata, bak kaset rusak yang selalu berputar di otaknya. Aku nggak mau kehilangan kamu, Ry.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD