Terlalu sayang itu boleh, tapi jangan berlebihan saat kamu sendiri belum memberikannya kepastian.
•••
Seorang cewek tengah misuh-misuh ketika melihat pemandangan di depannya. Alisnya bertautan tanda tidak suka. Mengintip dari balik pohon rindang seraya merenggut kesal satu persatu daun dari pohon itu.
Ada setengah jam cewek itu berdiri, hanya untuk mengintip kebersamaan Arga dan Mery. Tidak puas? Ya, ia sangat tidak puas jika hanya melihatnya saja. Mungkin sebentar lagi akan keluar dan menghancurkan kebersamaan mereka.
Namun harapan itu langsung pupus, saat lengannya mendadak ditarik, menghadap seseorang. Mata cewek itu menyipit.
"Lo?"
"Sampai kapan kamu akan seperti ini Aileen? Ayo sekarang kita pulang, dan biarkan mereka bahagia," tutur cowok itu, menarik lengan Aileen, memaksa cewek itu ikut dengannya.
Aileen menghempas tangan cowok itu kasar. "No! He is my first love. I have the right to own it! You know?! "
"What do you expect from someone who already has a partner?!" tukas cowok itu tegas. Dia menangkup wajah Aileen, agar cewek itu sadar. "Sebaiknya kita pulang. Jangan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin. Lo cuma buang-buang waktu. Masa depan lo masih panjang Aileen, jangan stuck di satu cowok doang. He is not for you and you are not for him. Sadarlah mulai sekarang, Aileen."
"Tidak! Aku tidak akan menyerah. Mereka belum terikat apa pun. That means I still have the right to take it."
"You lose, Aileen! Dia bukan hakmu! Terosebsi pada cinta pertama itu salah Aileen! Sekarang pulang!"
"Tidak!"
"Aileen!"
Plak.
Seketika rasa perih menjalari menyerbu sebelah pipi kanannya, Aileen menatap berkaca-berkaca pada cowok yang telah menamparnya. Cowok itu sendiri kini merasa bersalah telah menampar pacarnya.
"Aileen aku--"
"Kenapa?! Sekarang udah puas?! " geram Aileen, menangkup sebelah pipinya yang memanas.
"Aileen Aku nggak bermaksud--"
"Bodo! Kamu saja kayak mereka! Kamu jahat! Kamu nggak pernah mengerti apa mau aku, Dirga!"
☆☆☆
"Ih foto lagi ayo! Sekali lagi," pinta Mery melas. Memasang wajah seimut mungkin di hadapan Arga. Setelah asik menjelajah permainan, sekarang waktunya mereka jalan-jalan menikmati pemandangan sekitar.
Arga memakai topi kelinci yang di dapat Mery. Itu membuat Mery gemas dan pengen banget moto cowok itu.
"Udah dua kali tadi, kan. Itu cukup buat koleksi kamu," jawab Arga datar. Mery mengerucutkan bibirnya lalu membuang muka.
Pacarnya ini paling susah diajak foto bersama. selama mereka pacaran tiga hampir bulan, Mery cuma punya lima foto Arga. Itu pun diambilnya candid, tanpa sepengetahuan pacarnya.
"Tukang foto tapi nggak mau difoto, aneh banget sih!" gumam Mery, usai mengatakan itu dia melepas genggaman tangan Arga. Mempercepat langkah hingga mereka tidak lagi berjalan bersisian.
Arga terkekeh ringan. Dia mendengar gumamaman Mery tadi, tapi tidak berniat menggubris sama sekali. Dia memang tidak mau di foto. Alasannya cukup sederhana, dia tidak suka.
Mengamati pacarnya dari jauh, Arga tersenyum tipis. Mery berhenti di salah satu penjual donat. Arga yakin, Mery pasti mau membeli banyak makanan. Senjata ampuh cewek itu kalau lagi ngambekkan.
"Donatnya tiga ya, Pak, rasa tiramisu, matcha, sama coklat," pinta Mery. Bapak itu mengangguk. Dengan cemberut Mery menunggu pesanannya sambil duduk di kursi samping gerobak donat itu.
"Nah, ini, Dek." Bapak tadi mengulurkan donat pesanan Mery yang terbungkus, Mery menerima sambil mengulurkan sejumlah uang. Namun bapak itu menggeleng.
"Udah dibayar tadi, Dek."
"Hah?" beo Mery, dia menatap sekitar, tapi tidak menemukan siapa pun di sekitar gerobak donat. "Sama siapa, pak?"
Bapak itu tidak menjawab. Dia mengedarkan pandangan. Berhenti pada penjual kentang goreng di seberang, lantas bapak itu menunjuknya. "Nah itu, si cowok yang pakai baju putih. Selain bayarin donatnya, dia juga kasih ini." Lalu menyodorkan sebuah kotak hitam. Mery lantas menerima tanpa bertanya macam-macam.
"Oke deh, makasih, Pak," jawab Mery. Setelahnya cewek itu duduk seperti tadi. Saat sadar telunjuk bapak itu mengarah ke siapa. Mery yakin 100% kotak ini adalah alat cowok itu membujuknya.
Bisa banget ah pacar ganteng padahal kan gue ngambeknya becandaan doang, batin Mery sambil terkikik. Tangannya dengan segera membuka kotak hitam tadi. Alangkah terkejut, ketika ia menemukan banyak foto Arga. Di antaranya ada foto cowok itu pas lagi memakai topi kelinci. Eh, serius ini Arga? Berarti baru dong dia motonya?
Satu lagi, di belakang foto itu tertulis 'Jangan ngambek lagi. Ntar cepat tua.'
"Suka?"
Senyum Mery lantas memudar saat mendengar suara itu. Dia mendongak dan menemukan cowok jangkung berdiri di hadapannya dengan satu tangan memegang kentang goreng dan satu tangan lain memegang milkshake rasa strawberry. Milkshake strawberry? Astaga, itu kesukaan aku pacarr, pekik Mery dalam hati.
"Suka?" tanya Arga sekali lagi. Mery lantas mengangguk, lalu pura-pura memasang wajah biasa saja.
"Bagus."
Gitu doang responnya?
"Masih ngambek nggak?"
Mery menggeleng. Arga bergumam saja.
"Ohh."
Oh doang? Dih, nggak peka. Pengennya kan dimanja.
Tiba-tiba, Arga berjongkok di hadapannya, Mery yang sedang duduk sambil memakan donatnya lantas menahan napas. Arga mengikat sebelah tali sepatunya yang lepas. Pipi Mery menghangat. Apalagi, cowok itu masih memakai topi kelinci tadi.
"Pipi kamu merah. Habis makan apa sih?" tanya Arga. Selesai mengikat sepatu Mery, cowok itu mengulurkan milkshake strawberrynya.
"Nggak ada," Mery menerima milkshakenya tanpa memandang wajah Arga. Masih aja ya ngga enggak peka?
"Oke." Lagi-lagi, jawaban Arga membuat Mery menghela napas. Cowok itu mengambil duduk di sampingnya.
Mereka saling diam, Arga menatap lurus ke depan seraya memakan kentang goreng miliknya, sedangkan Mery dengan lahap memakan donat coklatnya.
Sampai akhirnya, Mery sadar akan sesuatu, cewek itu refleks menggetok kepalanya sendiri berkali-kali. Arga yang melihat itu mengulum senyum geli.
"Ngapain kayak gitu?"
"Enggak papa," jawab Mery sambil nyengir. Tingkah konyolnya berhasil menarik perhatian Arga.
"Cewek banget jawabannya."
Ya kan emang cewek, gimana sih pacar? Tau ah.
"Pacar," panggil Mery tiba-tiba. Lagi, Arga menoleh ke arahnya.
"Ya?"
"Foto tadi itu baru ya? Yang itu pas kamu pakai topi kelinci?"
Arga menggangguk singkat. Mery mengambil donatnya lagi lalu melahapnya.
"Pas kamu pergi aku langsung minta fotoin sama orang lain, ada juga sih yang selfie sendiri. Terus aku pergi ke tukang cuci foto buat nyetak semuanya," jelas Arga. Mery terdiam dibuatnya. Lagi-lagi ia membuat Arga susah. Padahal, sebelum mereka jalan-jalan tadi. Mery telah berjanji nggak ngambek lagi. Tapi ya mau gimana lagi.
"Pacar maaf, aku bikin kamu susah lagi," ucap Mery pada akhirnya. Menatap Arga penuh sorot bersalah. "Maaf ya?"
Arga yang melihat wajah melas Mery jadi tidak tega, dia mencubit gemas pipi pacarnya. "Nggak papa. Malah aku suka. Kamu lucu pas ngambek."
Pipi Mery bersemu. "Kalau gitu, aku sering-sering ngambek aja deh biar kelihatan lucu."
"Nggak gitu juga. Ntar kesannya malah kelihatan, b**o," sahut Arga datar. Mery menggembungkan pipinya kesal. Arga mengulurkan kentang gorengnya. "Mau?"
Pastilah, respon Mery menggangguk. Soal makanan ia nomor satu. Diambilnya kentang goreng dari tangan cowok itu. "Makasih pacarr."
"Dihabisin."
"Pacar mau juga?" Mery menawarkan donat rasa tiramisu yang baru saja ia gigit dari tangan satunya. Tanpa babibu lagi Arga langsung membuka mulutnya.
"Suapin aja."
Mery lantas menyuapi Arga sambil tersenyum malu-malu. Bapak penjual donat yang melihat itu jadi mengenang masa lalu.
Mereka pun suap-suapan tanpa peduli banyak orang berlalu lalang. Sambil sesekali selfi bersama dengan pose menggigit makanan. Selesai acara makan-makan, Arga mengeluarkan tisu basah dari sakunya, menyeka tangan Mery yang penuh selai donat berbagai rasa di sela-sela jarinya.
"Habis ini kamu ikut aku," ucap Arga.
Mery yang sedang menjilati jarinya terhenti seketika. "Kemana?"
"Ikut aja."
☆☆☆
Mery menatap sekeliling sambil mengayunkan genggaman tangan mereka. Arga membawanya ke tempat yang Mery sendiri tidak tahu dimana. Ya secara dia kan jarang banget pergi ke tempat wisata di Bandung ini. Paling sering itu club malam atau tempat karaoke saja. Ehehe.
Banyak lampion-lampion bergelantungan di langit-langit tempat ini. Ditambah sepoi-sepoi angin malam yang sejuk menyentuh kulit.
Mery menarik napasnya dalam-dalam, suasana di sini benar-benar menenangkan.
"Kita dimana pacar?" Tanya Mery pada akhirnya.
Arga yang tadinya memandang lurus ke depan, kini memandang wajah cewek itu. "Taman lampion Tegalega Bandung."
"Beneran?!" Seketika, Mery menghentikan langkah, pupil matanya membesar. Heboh.
"Kamu nggak percaya?"
Anggukan cepat dari Mery.
Arga lantas menunjuk bangunan huruf berwarna-warni di depan sana.

"HUWAA BENERAN IH!!" seru cewek itu kagum. Bergegas lari menuju tempat yang ditunjuk Arga tadi.
"JANGAN LARI-LARI!" peringat Arga. Namun Mery terlanjur ngibrit lari darinya.
Tiba di tempat itu, Arga mendapati Mery langsung selfi-selfi.
"Nggak usah heboh juga kali."
Mery cengengesan. Ia memberikan gawainya. "Fotoin ya pacar."
Arga menurut, selesai memoto Mery, cowok itu mengembalikan ponselnya lagi.
"Makasih pacar."
"Hmm. Kamu...kenapa heboh sih? Baru pertama kali ke sini?"
Mengalihkan perhatiannya sejenak dari gawai, Mery mengangguki. "Dulu, waktu SD pengen banget jalan-jalan sama Papa Bunda ke sini. Tapi sampai sekarang nggak ke sampaian."
"Kenapa?"
"Karena seminggu setelahnya mereka cerai, aku nggak bisa apa-apa. Udah sering ngajak mereka tapi jawabannya selalu nggak bisa," tuturnya.
Arga mendapati setetes air di sudut mata cewek itu, tanpa babibu langsung memeluknya. Arga tau sakit yang dirasakan Mery sungguh luar biasa. "Maaf."
Mery manggut-manggut, Arga melepas pelukannya.
"Aku nggak bisa memastikan mereka bakal bersatu lagi, tapi aku selalu berusaha untuk itu, Ry. Aku pengen ngeliat keluarga kamu bahagia," ungkapnya. Menangkup pipi Mery kemudian berkata lagi. "Dan untuk hari ini aja aku nggak mau ngeliat kamu sedih, aku nggak mau liat kamu terluka, karena waktu kita tinggal satu hari. Setelahnya aku bakal rindu banget sama kamu. Aku bakal rindu kebersamaan kita. Setelah kamu pergi, nggak ada lagi yang ngambek sama aku, nggak ada lagi yang ngatain aku ganteng, nggak ada lagi recehan kamu yang bikin aku ketawa. Maka dari itu, aku mohon banget sama kamu, untuk hari ini aja jangan terluka. Jangan ingat apa pun yang bikin kamu kecewa. Aku--"
Cup.
"MERY!" pekik Arga, dengan kedua bola membulat sempurna. Belum selesai kalimatnya, Mery lebih dulu berjinjit kemudian mengecup bibirnya. Lalu ngibrit lagi begitu saja. Hei!
"AKU DAPAT SATU, GA. YEAY. AKU DAPAT SATUU!" teriaknya dari kejauhan, seraya melambaikan tangan.
Arga terkekeh geli. "Awas aja yaa. Aku tangkep kamu!"
"HUWAA LARIII!!"
"MERY!!"
Setelahnya mereka kejar-kejaran. Kaki Mery yang kecil membuat cewek itu terpaksa memperbesar langkah dengan ngos-ngosan. Apalagi memakai dress membuatnya semakin kesulitan.
Di sisi lain, di tempat yang sama, Arga kewalahan mengejar Mery. Tiba di tempat yang banyak kerumunan, Arga kehilangan jejak cewek itu. Sial.
"MERY!!" Arga berteriak nyaring. Dia mendadak panik. Mery benar-benar hilang dari pandangannya. "MERY! KAMU DIMANA?! MERY!!"
Sungguh, Arga benar-benar panik. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Telah menyelip kerumunan sana-sini. Ia tidak menemukan cewek itu juga.
"MERY JANGAN BECANDA. INI NGGAK LUCU. CEPET BALIK, MERY!!" teriak Arga lagi. Kali ini tidak peduli pada beberapa orang yang memandangnya aneh.
Mengacak rambut frustasi, sebelah tangannya mengepal, Arga mulai menyesali perjalanan ini. Kemana sih Mery pergi, ini nggak lucu, Ry. Nggak lucu! Batin Arga menjerit.
Tiba-tiba, matanya ditutup dari arah belakang. Arga lantas mengernyit kemudian meraba sang pemilik tangan. Dalam sekejap, ia langsung mengenali siapa, ini Mery dengan gelang yang baru saja tadi ia belikan.
"Maaf."
Tuh, kan bener.
Setelah melepaskan tangannya, Mery berpindah posisi ke hadapan Arga lalu mengangkat kedua jarinya, peach. "Maaf, pacar."
Arga tidak merespon, dia memutar bola mata, lalu berbalik membalakangi cewek itu.
"Ih aku minta maaf, Ga. Jangan ngambek dong," ucapnya. Memeluk Arga dari belakang. "Iya-iya. Aku janji nggak lagi deh. Janji."
Arga tetap diam, ya diam-diam mengulum senyum, sedetik kemudian cowok itu berbalik dan memeluk Mery erat. Sangat erat sampai cewek itu menjerit seperti ini.
"HUWAA. NGGAK BISA NAPASS."
"Biarin. Ini balasan. Siapa suruh tadi ngilang."