Di ruang tamu rumah lama Setyo, Aulia duduk dikelilingi oleh ketiga kakaknya.
Dida, Selvi beserta pacar masing-masing sudah pamit pulang beberapa saat yang lalu. Kedua cewek itu bersyukur Aulia baik-baik saja dan memarahi Aulia akibat tindakannya yang sangat tidak masuk akal tersebut. Sambil menangis, Aulia meminta maaf kepada kedua sahabatnya dan berjanji tidak akan melakukan hal-hal seperti itu lagi.
Setyo sendiri memberikan privasi bagi keempat bersaudara itu untuk membicarakan masalah yang sedang menimpa Aulia dan Austine. Namun, cowok itu tidak berada dalam radius yang jauh dari Aulia. Dia masuk di kamar tamu, di tempat Aulia tadi beristirahat dan bermain ponsel.
Di sofa, Aulia menunduk. Cewek itu mengepalkan kedua tangannya di atas paha dan menarik napas panjang. “Maaf, Kak,” ujarnya pelan.
“Kenapa kamu harus minta maaf? Kamu kan nggak salah apa-apa, Sayang,” kata Putra menenangkan. Dia tersenyum dan mengusap rambut adiknya itu. “Semua orang yang ada di posisi kamu pasti akan syok dan membutuhkan waktu untuk sendiri.”
Aulia menoleh dan senyuman Putra menyambutnya. Dia juga disambut oleh senyuman Petra dan Austine. Untuk Austine sendiri, Aulia menyadari senyuman kakak kembarnya itu agak sedikit dipaksakan. Senyuman itu tidak mencapai matanya. Senyuman yang sulit untuk dijangkau.
Dan Aulia merasa bingung karenanya.
“Karena aku ngelakuin hal yang harusnya nggak boleh aku lakuin, Kak,” kata cewek itu dengan nada pelan yang sama. “Karena aku nyaris bunuh diri.”
“Tapi kamu nggak jadi ngelakuinnya, kan?” Petra menggenggam erat tangan Aulia yang terasa hangat.
“Itu karena Setyo datang. Kalau dia nggak ada, mungkin aku akan—“
“Sst,” potong Petra. “Meskipun Setyo nggak datang, aku yakin kamu nggak akan ngelakuin hal itu. Kamu bukan tipe orang yang berotak dangkal.”
Jujur saja, Aulia merasa sangsi. Tadi, dia benar-benar dikuasai kegelapan. Dia benar-benar ingin menghilang dari dunia ini hanya untuk menghindari kesedihan dan rasa sakit akibat kenyataan pahit yang harus dia hadapi. Di saat dia melihat rel kereta di bawahnya, perasaan untuk melenyapkan diri sendiri begitu kuat terasa, sampai akhirnya Setyo datang dan membentaknya.
Dan kegelapan itu menghilang begitu saja, tergantikan oleh cahaya.
“Sistine,” panggil Austine. Dia berdiri dari sofa dan berlutut di hadapan Aulia. Kedua tangannya menggenggam erat kedua tangan Aulia yang tadi baru saja digenggam oleh Petra. “Kamu kan nggak sendirian menghadapi ini semua. Ada Kak Putra dan Kak Petra, terutama aku. Aku saudara kembar kamu. Kita berdua sama-sama korban. Kamu bisa bergantung sama aku, meminta perlindungan, kekuatan. Kenapa kamu harus lari dan mencoba mengakhiri hidup? Apa kamu nggak kasihan sama Kak Putra, Kak Petra dan aku? Nggak kasihan sama orang tua kita?”
Aulia menatap kedua mata Austine dan mulai menangis. Cewek itu terisak pelan dan Austine langsung menghapus air mata adiknya tersebut sambil tersenyum tipis. “Kamu nggak akan pernah sendirian, Sistine. Kami akan selalu ada di sekitar kamu. Bahkan Setyo pun ada di sisi kamu,” katanya ragu pada kalimat terakhir.
Dan Putra serta Petra bisa menangkap nada ragu pada nama Setyo yang diucapkan oleh Austine.
Aulia mengangguk dan mengalungkan kedua lengannya pada leher Austine. Austine sendiri balas memeluk tubuh mungil Aulia dan mengusap rambut serta punggungnya dengan lembut. Matanya menatap pintu kamar tamu yang tadi ditempati oleh Aulia dan sekarang Setyo ada di sana. Tatapan yang datar dan sulit untuk diartikan.
Yang tidak diketahui oleh Austine, Petra melihat tatapan datar itu.
“Austine, ada apa?” tanyanya berusaha terdengar normal dan biasa saja. Petra bahkan menampilkan seulas senyum. “Kenapa ngeliatin kamar Setyo kayak gitu?”
Austine mengalihkan tatapannya dan tersenyum dingin. “Nggak ada apa-apa, Kak.”
Entah hanya perasaan Petra saja atau tidak, tapi Petra berani bersumpah nada suara Austine begitu jauh dari kata bersahabat. Nada itu begitu dingin, tajam dan membuat bulu romanya berdiri. Ini seperti mengingatkan Petra pada sifat Austine sebelumnya. Sifat asli Austine yang memang sulit didekati, dingin dan tidak ingin dijangkau oleh orang lain.
Bukan hanya Petra, Aulia pun bisa merasakan keanehan pada diri Austine. Cewek itu menguraikan pelukan mereka dan mencoba mencari tahu melalui tatapan dan raut wajah kakak kembarnya itu. Nihil. Austine Stevano adalah manusia yang paling tidak bisa ditebak jalan pikirannya.
Ketika pintu kamar terbuka dan Setyo muncul sambil tersenyum, matanya bertemu dengan mata Austine. Senyuman Setyo menghilang dan cowok itu mengangkat satu alisnya ketika menyadari perubahan sikap Austine kepadanya.
“Something’s wrong, Austine?” tanya Setyo dengan nada tegas.
Austine diam sejenak. Lalu, cowok itu menggeleng. “No. Everything’s ok.”
###
Semenjak kejadian di rel kereta api waktu itu, semua orang mengawasi Aulia dengan begitu ketat.
Meskipun sudah membicarakan semuanya secara baik-baik dan dari hati ke hati dengan orang tuanya yang sebenarnya merupakan om dan tantenya, namun Aulia masih belum bisa menyembuhkan luka hati itu sepenuhnya. Ada kalanya Aulia akan melamun dan hal itu terus terang saja membuat keluarganya khawatir. Bahkan Austine sampai menunggui Aulia di kantor cewek itu, supaya dia bisa menjaga adik kembarnya tersebut.
Jam di tangan kirinya membuat Austine menarik napas panjang. Masih jam empat sore dan Aulia masih ada di kantor. Jam pulang cewek itu adalah jam lima, tapi hari ini Aulia berkata pada Austine jika dia harus pulang jam enam karena ada pekerjaan yang belum selesai.
Ketika sedang menunggu Aulia di kafe dekat dengan kantornya, Austine menangkap sosok Setyo. Cowok itu baru memasuki kafe dan sedang memesan sesuatu. Lalu, saat Setyo akan mencari meja kosong, Austine menyadari jika tetangganya itu melihat ke arahnya secara tidak sengaja dan mengangkat sebelah tangan sebagai bentuk sapaan. Sambil tersenyum, Austine melihat bagaimana Setyo berjalan ke arahnya dengan langkah santai.
“Tumben keluar rumah,” kata Setyo dan duduk di hadapan Austine tanpa menunggu persetujuan dari yang bersangkutan.
Austine meminum es jeruknya dan tersenyum dingin. Senyuman yang membuat Setyo bersikap waspada dan jujur saja, dia sangat membenci senyuman saudara kembar Aulia tersebut.
“Apa gue harus laporan sama lo setiap kali gue mau keluar rumah?”
Setyo mengangkat satu alisnya. “Tentu aja nggak. Lo bebas keluar rumah kapan pun yang lo mau. Itu sama sekali bukan urusan gue.”
“That’s what i’m talking about,” balas Austine sambil mengangguk puas. Lalu, cowok itu bersedekap. “Ada yang harus gue bicarain sama lo, Setyo. Ini menyangkut Sistine.”
Aulia? Apa yang mau dibicarain sama Austine soal Aulia? Apa Aulia baik-baik aja? “Aulia? Apa dia baik-baik aja?” tanya Setyo dengan nada khawatir.
“She’s fine. You don’t have to worry about her.” Austine menarik napas panjang dan menatap tajam Setyo tepat di manik mata. “Gue mau lo menjauhi Sistine. Menjauh dari dia untuk selamanya. Jangan pernah dekati dia lagi, jangan pernah cari dia lagi. Gue harap, lo mau pindah dari rumah di sebelah rumah kami supaya lo dan Sistine nggak perlu ketemu lagi.”
Untuk sesaat, Setyo terdiam di tempatnya. Cowok itu mencoba mencerna semua kalimat Austine tadi dan ketika otaknya mulai bisa memahami semua yang diinginkan oleh kakak kembar Aulia tersebut, Setyo mengerutkan kening.
“Lo minta gue untuk menjauhi Aulia?” tanya Setyo tegas.
Austine mengangguk. “Lo mendengarnya dengan jelas dan masih berani nanya?”
Setyo yang tidak mengerti dengan perubahan sikap Austine kepadanya—ya, dia tahu kalau Austine selalu bersikap dingin dan datar di sekitarnya, tapi tidak pernah sampai seperti ini—mengulurkan telapak tangannya ke arah Austine. “Apa ini semacam lelucon?”
“Apa gue keliatan seperti sedang bercanda?”
“Reason. I need a reason.” Setyo bersedekap dan menatap Austine dengan tatapan menantang.
“Karena gue nggak suka lo berdekatan dengan Aulia.”
“Dari dulu pun demikian, tapi lo nggak pernah bersikap sampai seperti ini. Lo nggak pernah melarang gue untuk mendekati adik lo.”
Austine mengertakkan gigi dan mengeraskan rahang. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. “Karena gue... suka sama Aulia. Karena sebenarnya, kami bukan saudara kembar.”
Di tempatnya, Setyo mematung. Ada desakan hebat di dalam dadanya untuk menghajar wajah Austine. Hal yang tidak diketahui keduanya, Andini mengawasi di sekitar mereka dan mendengarkan semuanya. Dia lantas menatap datar ke arah Austine. Tatapan yang sulit untuk ditebak.
Andini sebenarnya sudah berada di kafe ini lebih dulu dibandingkan dengan Austine. Ini adalah kafe langganannya dan Aulia, kalau mereka berdua sedang ingin berbicara dari hati ke hati. Ketika tadi Andini melihat kedatangan Austine, cewek itu sengaja tidak memanggil sang pacar karena sejujurnya, Andini sedang ada masalah pribadi dan sedang ingin sendirian. Dia tidak ingin membebani Austine dengan masalahnya, karena cowok itu sudah menceritakan masalah keluarganya di hari Aulia menghilang dari rumah.
Lalu, Andini melihat Setyo datang. Setyo dan Austine berbicara dengan serius dan Andini bisa mendengarnya karena tempatnya yang lumayan dekat dengan tempat Austine. Entah apa yang direncanakan oleh Austine, Andini pun tidak tahu. Cowok itu belum bercerita apa-apa dan Andini menduga bahwa ini adalah rencana dadakan ketika Austine melihat kemuncullan Setyo.
“Bukan saudara kembar?” ulang Setyo dengan nada datar. Cowok itu lantas mendengus. “Kalau mau bohongin gue, tolong latihan dulu lain kali. Lo pikir gue seorang i***t?”
Alis Austine terangkat satu. “Apa maksud ucapan lo?”
“Come on, bro! Sejak kapan lo dan Aulia bukan saudara kembar? Kalau lo nggak lupa, belum lama ini lo dan Aulia menemukan surat dari orang tua kandung kalian. Orang tua kandung kalian yang menitipkan kalian ke orang tua kalian yang sekarang alias orang tua si kembar Putra-Petra. Dan sekarang, nggak ada angin, nggak ada hujan, banjir, gempa, tsunami, lo mendadak nembak gue dengan kalimat, ‘gue bukan saudara kembar Aulia’?”
Austine masih menatap tajam Setyo. Sialnya, Setyo tidak terintimidasi sama sekali. Dia justru menatap Austine dengan tatapan menantang. Tidak gentar apalagi takut. Tatapan yang menggambarkan keseriusan dan ketekadan. Akhirnya, Austine menghembuskan napas berat dan mendengus.
“Apa lo nggak pernah bersikap lengah satu kali pun? Apa kalimat gue nggak bikin lo kaget, sampai-sampai melupakan fakta penting itu?”
Setyo menyeringai dan menoleh ketika pelayan membawakan pesanan minumnya. Dia mengucapkan terima kasih dan meminum minumannya terlebih dahulu, sebelum mengedikkan bahu.
“Buat informasi aja, gue jadi rival adik kembar lo di SMA dulu itu adalah salah satu bukti bahwa otak gue encer. Kalau gue itu kepintaran dan kecerdasannya di atas rata-rata. Jadi, hal seperti itu gampang untuk gue ingat. Gue selalu mengingat detail kecil dari setiap peristiwa, apalagi kalau peristiwa itu penting untuk gue.”
“Dan masalah di keluarga gue merupakan peristiwa penting bagi lo untuk lo ingat? Kurang kerjaan banget ingat-ingat masalah keluarga orang lain.”
“Itu masalah yang menyangkut Aulia. Semua hal yang menyangkut Aulia selalu penting buat gue.”
“Karena lo cinta sama adik gue?”
Setyo diam. Dia tahu, kemungkinan besar Austine sedang mengujinya. Cowok itu menguji apakah dirinya memang serius mencintai Aulia atau tidak. Menurut Setyo, semua itu tidak harus dipertanyakan lebih jauh lagi. Dia sudah mengakui semuanya di hadapan ketiga kakak Aulia dengan nada tegas dan lantang, jadi seharusnya, Austine tidak perlu repot-repot mencari tahu dan mengujinya mengenai keseriusan perasaan cintanya untuk Aulia.
Tapi, biarlah. Ini adalah Austine Stevano yang kita Setyo bicarakan di dalam hati. Cowok itu sangat protektif pada Aulia sejak kecil, walau dia menutupinya dengan memasang topeng.
“Gue rasa lo udah tau apa jawabannya tanpa harus gue menjawab pertanyaan lo barusan.”
Baru saja Austine ingin mengucapkan sesuatu, bayangan seseorang mengganggunya. Dia menoleh, begitu juga dengan Setyo. Di saat Setyo tersenyum pada Andini yang bahkan tidak menanggapi keberadaannya, Austine justru mengerutkan kening dan mengangkat satu alis. Cowok itu berdiri, berhadapan dengan Andini yang memberinya tatapan datar dan kosong, diikuti dengan Setyo.
“Din? Lo ada di sini?” tanya Austine bingung. “Sejak kapan? Kenapa nggak manggil gue?”
Andini diam sejenak. Lalu, cewek itu mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh dan menatap langsung ke manik Austine. “Kesampingkan masalah lo yang ingin menguji keseriusan cinta Setyo untuk Aulia sampai-sampai lo bohong ke dia kalau kalian bukan saudara kembar, lo sebenarnya memang benar mencintai Aulia, kan?”
Pertanyaan ini terang saja membuat Setyo tersentak. Dia langsung menatap Austine dan bisa melihat Austine sama kagetnya dengan dirinya saat ini.
“Apa maksud lo, Din?” tanya Austine setelah sadar dari kekagetannya. Dia mencekal pergelangan tangan Andini kuat. “Apa maksud ucapan lo barusan?”
“Lo dengar apa yang gue katakan dan lo pasti paham dengan maksud ucapan gue.” Andini berusaha melepaskan tangannya dari cekalan kuat Austine, tapi Austine tidak membiarkan. “Lo mencintai Aulia. Secara romantis.”
“Andini,” panggil Setyo. Dia mencoba mencairkan suasana dan melirik Austine yang nampak tidak percaya dengan kalimat Andini dan mulai terlihat emosi. “Lo kenapa ngomong nggak jelas seperti itu? Austine mencintai Aulia secara romantis? Mana mungkin. Mereka saudara kembar. Saudara kandung. Tadi itu, Austine hanya bohongin gue untuk menguji gue.”
Kali ini, Andini bisa melepaskan tangannya dari cengkraman kuat Austine dan menoleh untuk menatap Setyo. “Poor you, Setyo. Lo dibohongi sama Austine. Sebenarnya, dia sangat mencintai Aulia. Perasaan yang terlarang untuk adik kembarnya sendiri. Dia mau menghancurkan hubungan lo dan Aulia. Dia mau Aulia hanya jadi miliknya. Dia tau kalau kakak lo mau menghancurkan lo melalui Aulia dan dia nggak sudi dengan semua itu. Karenanya, dia mau menjauhkan Aulia dari lo. Semua yang Austine bilang ke lo tadi, kecuali tentang dia dan Aulia bukan saudara kembar, adalah benar dan kenyataan! Bahkan setelah gue hamil anak dia saat ini pun, dia tetap mau Aulia jadi milik dia seutuhnya dan mau menyingkirkan gue beserta janin ini!”
Setyo tidak tahu dia merasa kaget karena apa. Apakah karena kalimat Andini mengenai Austine dan Aulia, pengakuannya yang hamil anak Austine atau justru karena beberapa detik yang lalu, Austine baru saja menampar Andini. Menamparnya keras, di hadapan semua pengunjung kafe yang langsung terdiam. Langsung saja, Setyo menarik Austine menjauh dari Andini, memosisikan tubuhnya di antara Austine dan Andini yang menunduk dan memegang pipinya, menghadapkan tubuhnya ke arah Austine.
“Lo gila, hah?!” seru Setyo. Dia menunjuk Austine yang mengeraskan rahang dan menatap Andini dengan tatapan penuh kebencian dan rasa jijik. Tidak menyangka jika Andini bisa bersikap seperti ini. “Lo baru aja menampar seorang cewek, dan cewek itu adalah pacar lo. Pacar yang baru aja mengaku sedang mengandung anak lo, b******k!”
Mendengar lagi bahwa Andini sedang mengandung anaknya membuat Austine mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh. Dia bahagia mendengarnya, sungguh. Tapi, kenapa Andini menuduhnya yang bukan-bukan? Kenapa sikapnya jadi seperti ini? Ada apa dengan cewek itu?
Tunggu dulu! Saizou pernah mengaku padanya bahwa dia menyukai Andini. Dia dan Andini hanya pernah melakukan hubungan itu satu kali dan seingatnya, itu bukan di tanggal yang berbahaya bagi Andini karena dia tahu tanggal-tanggal pada kalender cewek sang pacar. Apa itu artinya...
“Lo mengaku itu anak gue? Kita ngelakuinnya hanya satu kali dan itu di tanggal yang aman karena gue tau semua tanggal di kalender cewek lo. Saizou bilang dia menyukai lo dan mau merebut lo dari gue. Lo yakin itu anak gue? Hm? Bisa aja kan lo tidur sama Saizou di belakang gue karena dia tajir dan lebih punya segalanya daripada gue?”
Andini mendongak dan Austine berani bersumpah dia melihat kesedihan dan rasa sakit pada kedua mata cewek itu. Austine sudah ingin meminta maaf, tapi Andini justru tertawa dan menggeleng.
“Ya, lo benar. Mungkin ini anak Saizou dan bukan anak lo. Sorry kalau gitu. Well, silahkan lanjutkan lagi obrolan kalian berdua mengenai Aulia kesayangan lo itu, Austine. Oh, by the way, kita putus aja sekarang. Terima kasih udah menemani gue selama ini. Semoga hari lo menyenangkan.”
Ketika Andini pergi dari hadapan Austine dan Setyo, Austine berteriak penuh amarah dan melempar gelas ke lantai dengan d**a bergemuruh hebat. Setyo sendiri hanya diam dan berusaha mencerna semua kekacauan yang baru saja terjadi.
What the hell is going on right now?
###
Aulia mengerutkan kening ketika melihat Setyo duduk di teras rumah kontrakannya sambil melamun.
Suara petir beberapa kali terdengar di malam yang dingin ini dan bintang-bintang tidak muncul di langit. Tadi, Aulia baru saja pergi ke warung untuk membeli cemilan kesukaannya dan menemukan Setyo sedang duduk bermuram durja saat dirinya kembali dari warung. Memutuskan tidak ada salahnya menegur Setyo, Aulia mendorong pagar rumah kontrakan Setyo dan masuk. Bahkan setelah dia berdiri tepat di depan Setyo, cowok itu tidak bergeming.
“Biasanya cowok lagi mikirin hal-hal jorok malam-malam begini, apalagi kalau sampai ngelamun,” ucap Aulia dengan nada keras. Tapi, Setyo masih saja melamun.
Aulia kesal sekarang. Cewek itu cemberut. Dia melambaikan tangan di depan wajah Setyo, menjentikkan jari, semua nihil. Setyo begitu larut pada lamunannya. Sambil menarik napas panjang, Aulia membungkuk agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah Setyo yang sedang duduk di lantai. Lalu, Aulia berteriak keras memanggil nama Setyo, membuat Setyo terlonjak dan kehilangan keseimbangan. Dia tidak sengaja menarik kedua tangan Aulia dan keduanya jatuh ke lantai dengan posisi Aulia berada di atas tubuh Setyo.
“Oh, jadi ini ceritanya balasan terima kasih untuk gue karena udah nolongin lo waktu itu? Dengan cara lo menyerang gue?” tanya Setyo sambil menyeringai.
Aulia mengerjap dan mendengus. Dia berusaha bangkit, tapi Setyo melingkari kedua lengannya di pinggang Aulia dengan erat. “Lepasin gue, sialan.”
“Jangan galak gitu lah sama gue. Hari ini, gue menyaksikan drama yang lumayan menguras emosi di kafe.” Setyo menghela napas berat dan wajahnya terlihat frustasi. “Benar-benar drama yang nggak bisa ditebak.”
Aulia mengangkat satu alis dan tanpa sadar memainkan rambut lebat Setyo. Dia merasa nyaman dengan posisi ini dan merasa aman di dalam lingkaran erat Setyo. “Drama apaan? Kenapa drama orang lain bikin lo frustasi?”
Setyo mengerucutkan bibirnya dan Aulia terkekeh geli. Ekspresi Setyo sangat lucu menurut cewek itu. “Karena ini lumayan ada hubungannya sama gue.”
“Oh ya? Coba cerita.”
Untuk sesaat, Aulia melupakan rasa bersaingnya dan permusuhannya dengan Setyo selama ini. Untuk sesaat, Setyo terpesona pada kecantikan Aulia di hadapannya. Dia mengusap rambut Aulia, kemudian pipi putihnya. Lalu, ibu jarinya mengusap bibir merah ranum Aulia. Cewek itu nampak terkejut, tapi tidak melarikan diri. Dia tidak merasa takut dan justru merasa sangat nyaman.
Perlahan, Setyo mendekati wajah Aulia. Cowok itu memberi peluang bagi Aulia untuk menarik diri dan kabur darinya, tapi Aulia tidak melakukannya. Aulia diam, menunggu apa yang akan dilakukan oleh Setyo padanya. Matanya menyusup masuk ke dalam dunia Setyo pun sebaliknya. Lalu, Setyo tersenyum.
“Lo nggak mau kabur? Nggak takut?” tanyanya.
“Buat apa? Lo hanya seorang Setyo.”
Setyo tertawa dan menarik napas panjang. Wajahnya semakin dekat dengan wajah Aulia dan jarak bibirnya dengan bibir cewek itu tinggal tiga senti saja. “Lo tau? Setelah ini, lo nggak akan bisa lari ke mana pun. Lo nggak akan bisa lari dari gue. There’s no turning back.”
Aulia balas tersenyum. “Apa boleh buat, nasib gue.”
“Apa lo... meski sedikit, mencintai gue?”
Jujur saja, Aulia bingung. Dia tidak mengerti apa yang dia rasakan terhadap Setyo. Tapi, Setyo selalu ada untuknya. Dia selalu menolongnya, menyemangatinya, menyelamatkannya, di mana pun Aulia membutuhkan cowok itu. Meski mereka bermusuhan selama ini, bersaing, tapi ada yang mulai tumbuh di hatinya. Aulia bahkan merasa jengkel ketika mendengar hal mengenai mantan Setyo yang bernama Kayla.
“Sejujurnya, gue nggak tau apa yang gue rasain ke lo. Tapi, gue rasa, sedikit demi sedikit, gue mulai menyukai lo.”
Setyo tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan lagi. Cowok itu lantas berkata, “Then, you are mine now. I love you.”
Dan Setyo mencium bibir Aulia.