Holy s**t!
Umpatan itu diucapkan Setyo di dalam hatinya, ketika dia menyadari bahwa dirinya baru saja menyatakan perasaan cintanya untuk Aulia yang saat ini sedang terpuruk dan menangis. Setyo tidak bisa mengontrol debaran jantungnya sekarang. Sebagai pengalihan, cowok itu mempererat pelukannya pada tubuh mungil dan gemetar Aulia.
Setelah beberapa detik berlalu, Setyo tidak mendengar respon apa pun. Cowok itu mengerutkan kening dan menunduk untuk menatap Aulia. Cewek itu tidak bergerak dalam pelukannya, membuat Setyo menelan ludah dan mulai berkeringat dingin.
Mati! Apa si Aulia berubah jadi batu saking kagetnya sama pernyataan cinta gue barusan? Apa dia merasa jijik sama gue sekarang? Kenapa dia cuma diam aja? Kenapa dia nggak ngomong apa pun? Maki gue kek, caci gue, apa pun itu, semua akan gue terima, tapi jangan diam kayak gini. Seandainya dia ngadu sama Austine dan Austine gebukin gue pun, gue rela. Setyo membatin.
“Mm, Aulia?” panggil Setyo. Cowok itu menjauhkan tubuh Aulia yang dipeluknya sedikit agar dia bisa menatap wajah dan kedua matanya. “Lo baik-baik aja?”
Masih tidak ada reaksi. Namun, Setyo langsung bergerak cepat begitu tubuh Aulia yang dia jauhkan sedikit darinya itu mulai meluruh ke aspal. Sigap, Setyo kembali memeluk tubuh Aulia dan menyadari bahwa cewek itu sudah pingsan.
“Aulia! Aulia, lo kenapa? Ini nggak lucu, ya! Aulia!” seru Setyo dengan nada panik dan cemas.
Meski begitu, Aulia tetap tidak sadarkan diri. Setyo sendiri tidak tahu harus merasa lega atau khawatir. Mungkin, dia merasakan keduanya. Lega karena Aulia tidak mendengarkan pengakuan cintanya dan khawatir karena Aulia mendadak pingsan. Langsung saja, Setyo mengangkat tubuh Aulia tanpa kesulitan dan keluar dari gang tersebut. Dia menoleh ke kanan dan kiri, kemudian memanggil taksi yang berbelok ke arahnya.
Tanpa ragu, Setyo menyebutkan alamat rumah lama mamanya yang memang tidak pernah beliau jual bahkan setelah menikah dengan ayahnya. Begitu sampai di rumah tersebut dan menekan bel, seorang pembantu membukakan pintu dan terkejut dengan kehadiran anak majikannya tersebut.
“Mas Setyo?” Ati, wanita berusia lima puluh tahun yang dipekerjakan khusus oleh mamanya setelah beliau menikah itu langsung mempersilahkan Setyo masuk. “Mas Setyo, ini siapa?”
“Teman,” jawab Setyo cepat dan menuju kamar terdekat. Ati buru-buru membukakan pintu kamar tersebut dan Setyo segera merebahkan Aulia di atas kasur. Dia mengusap lembut rambut dan wajah Aulia lalu fokusnya beralih kepada Ati. Kecemasan begitu jelas terlihat di matanya. “Bik Ati, bisa tolong ganti bajunya Aulia dengan baju Mama yang masih ada di rumah ini? Sekalian buatin teh hangat dan bubur.”
Setelah Ati mengangguk dan menghilang dari kamar, Setyo kembali mengusap rambut dan wajah Aulia. Cewek itu terlihat sangat pucat. Gerakan dadanya terlihat pelan, seolah-olah dalam waktu dekat malaikat maut siap melaksanakan tugasnya untuk mencabut nyawa Aulia. Rahang Setyo mengeras tanpa sadar dan dia memijat pelipisnya.
Gue nggak boleh berpikir yang aneh-aneh, batinnya. Kemudian, Setyo mengambil ponsel dan langsung menghubungi nomor Austine yang sudah dia save.
Hanya butuh dua kali nada dering, sambungan Setyo terhubung.
“Aus—“
“Setyo! Gimana, lo nemuin Sistine?” potong Austine cepat dan tegas, bahkan tanpa memberi kesempatan kepada Setyo untuk menyelesaikan sapaannya barusan.
Sambil mendesah berat, Setyo mengangguk walau dia tahu Austine tidak bisa melihatnya. “Iya,” jawabnya pelan. Tangannya mengepal kuat ketika otaknya memaksa untuk kembali mengingat pertemuannya tadi dengan Aulia. “Dia... nyaris terjun bebas ke rel kereta api, di mana dari arah berlawanan ada kereta yang melaju kencang, Austine.”
Di tempatnya, Austine mematung. Dadanya bergemuruh dan jantungnya seolah mencelos. “How... is she?”
Mata Setyo mengarah pada Aulia. “Jatuh pingsan dan sangat pucat. Gue lagi ada di rumah lama emak gue. Lo bisa menyusul ke sini, biar alamatnya nanti gue share loc.”
Sedetik setelah hubungan terputus, Setyo langsung me-share loc posisinya saat ini. Dia menaruh ponselnya di atas meja di samping ranjang dan mengusap wajah dengan kedua tangan. Entah apa yang harus dia lakukan sekarang untuk mengeluarkan Aulia dari kegelapan ini.
“Mas Setyo.”
Panggilan itu mengagetkan Setyo. Kepalanya dengan cepat mendongak dan dia menghela napas panjang sambil tersenyum lelah. “Bik Ati ngagetin saya aja.”
Ati tersenyum. “Mbak ini temannya Mas Setyo? Kenapa Bibik ngerasa ada sesuatu yang lebih dari sekedar pertemanan di antara Mas Setyo dan Mbak yang cantik ini, ya?” tanyanya menggoda, mencoba mencairkan suasana dan mengeluarkan anak majikannya tersebut dari pikirannya yang kemungkinan besar sedang kacau.
“Bibik bisa aja,” sahut Setyo pelan. “Saya emang cinta sama dia, tapi saya nggak tau perasaan dia buat saya kayak gimana. Dia lagi ada masalah di keluarganya dan saya nggak mau membebani pikirannya lagi dengan drama-drama percintaan buatan saya.”
Ati mengangguk paham dan berjalan mendekati ranjang. Dia mengusap keringat yang mengalir di pelipis Aulia dan mengerutkan kening saat merasa suhu tubuh cewek itu cukup tinggi. “Mas Setyo nggak perlu takut. Kalau memang berjodoh, pasti kalian akan dipersatukan. Sekarang, Bibik harus mengganti pakaian Mbak ini dan mengompres keningnya.”
Kening Setyo mengerut. “Mengompres?”
“Teman Mas Setyo ini demam.” Ati tersenyum menenangkan saat melihat Setyo mulai panik. “Tapi nggak tinggi, kok. Dikompres dan diberi obat penurun demam juga pasti sembuh, kok. Jadi, Mas Setyo tenang aja, ya.”
Karena Ati menyuruhnya keluar dari kamar, Setyo terpaksa menuruti. Selain karena beliau akan mengganti pakaian Aulia, Setyo juga harus menunggu kedatangan Austine. Sedang asyik dengan pikirannya sendiri, suara beberapa motor di depan rumah ini membuat Setyo tersadar. Dia bergegas keluar dan bisa melihat ada empat motor terparkir di sana. Si kembar Putra-Petra berada dalam satu motor, Austine, juga Dida dan Selvi yang diantar oleh pacar masing-masing. Mereka langsung berlari menghampiri Setyo dan Austine yang berhenti tepat di hadapan cowok itu kemudian mencengkram kuat kedua pundaknya.
“Mana adik gue?” tanyanya kalut.
“Masih pingsan,” jawab Setyo lelah dan membawa ketujuh tamunya masuk ke dalam rumah. Lalu, Setyo mengantar mereka ke kamar tempat di mana Aulia sedang dirawat oleh Ati. “Dan demam.”
Ketika Ati selesai mengompres kening Aulia dan berdiri untuk menyapa teman-teman anak majikannya, Austine langsung menghampiri ranjang dan duduk tepat di samping kembarannya tersebut. Dia menggenggam erat tangan Aulia dan mencium punggung tangannya lama. Mata Austine memancarkan luka, kasihan dan kecemasan. Lagi-lagi, dia gagal melindungi adik kembarnya dan dia sangat ingin menyakiti diri secara fisik.
“Sistine, wake up. Jangan buat aku cemas. Ayo, bangun. Kamu nggak sendirian. Ada aku dan Setyo, juga yang lainnya di sini.”
Setyo mendekati Austine dan meremas sebelah pundaknya dengan kuat. Saat Austine menoleh, Setyo menggeleng dan tersenyum tipis. “Biarin aja dia istirahat dulu. Yang dia butuhin saat ini hanya istirahat juga dukungan dari kita semua.”
Walaupun masih ingin menemani adik kembarnya, namun Austine menurut kala Setyo memintanya untuk keluar dari kamar bersama dengan yang lainnya. Baru saja Setyo dan yang lainnya duduk di ruang tamu, pintu kamar tempat Aulia beristirahat terbuka. Semuanya menoleh dan refleks berdiri, tapi Setyo yang mendekati Aulia.
“Aulia! Syukurlah lo udah sadar. Lo nggak boleh berdiri dulu, lo harus istira—“ tangan Setyo yang terulur langsung ditepis kasar oleh Aulia. Hal itu juga membuat kalimatnya tidak sempat dia selesaikan. Bukan hanya Setyo yang terkejut dengan tindakan Aulia tersebut, melainkan juga semua orang yang ada di ruang tamu.
“Aulia?” Setyo mencoba mendekat lagi, tapi langkahnya terhenti ketika Aulia menjauh darinya. “Lo kenapa? Ada apa?”
“Sistine?” Kini, Austine ikut mendekati Aulia dan berdiri tepat di samping Setyo. “Kamu kenapa?”
Tanpa ragu, Aulia mendekati Austine dan memeluknya. Cewek itu lantas menatap Setyo dengan tatapan tajam, pun ketika dia menatap si kembar Putra-Petra dan keempat temannya. “Aku nggak suka ada mereka di sini, Stev.”
Kening Austine mengerut. “Mereka teman-teman kamu.”
“Yang aku butuhin hanya cowok mandiri dan berkilau seperti para dewa seperti kamu, bukan orang-orang rendahan seperti mereka. Lagi pula, aku nggak kenal sama dua cowok di sana.” Aulia menunjuk Bagus dan Daffa yang nampak kebingungan, sementara Dida dan Selvi saling tatap. “Dan aku nggak pernah suka punya kakak seperti dua cowok di sana. Yang aku mau cuma kamu, Stev. Dan, kenapa ada cowok b******k ini di sini?”
Kini, Aulia menunjuk Setyo yang sejak tadi hanya diam dan mengawasi keadaan. Kemudian, tanpa diduga oleh Austine dan semua orang, meski tindakannya ini mungkin akan mendatangkan masalah untuknya dari ketiga kakak Aulia, Setyo langsung mencekal lengan Aulia dan menarik cewek itu. Tubuh keduanya berbenturan dan Setyo langsung menahan tubuh Aulia agar Aulia tidak melepaskan diri darinya.
“Pergi!” seru Setyo lantang dan tegas. “Pergi dari tubuh Aulia dan suruh Aulia yang asli keluar! Aulia Sistine, lo dengar gue, kan?!” Setyo mencengkram keras lengan cewek di dalam dekapannya itu dan mengguncangnya sedikit. “Keluar dan hadapi masalah lo sekarang juga, atau gue bersumpah lo akan mendapat siksaan neraka dari gue!”
Tiba-tiba, tubuh Aulia jatuh meluruh begitu saja. Karena masih berada dalam dekapan Setyo, otomatis Setyo langsung menahan beban tubuh cewek itu. Sebelum kesadaran Aulia hilang sepenuhnya, cewek itu berbisik, “Dasar Mas setan sialan.”
Dan Setyo tersenyum ketika mendengarnya. Dia mengusap rambut Aulia dan mendesah lega. “Welcome back.”
###
“Mungkin emang hanya lo yang bisa jadi pemicu untuk mengembalikan Aulia yang asli, kalau tubuhnya sedang diambil alih oleh ‘Aulia’ yang lain. Entah gimana, lo selalu berhasil melakukannya, tanpa kita harus menunggu Aulia tertidur atau keinginan cewek itu sendiri.”
Kalimat Austine membuat Setyo meliriknya. Dia dan ketujuh tamunya sedang duduk di ruang tamu sambil meminum jus segar dan biskuit sebagai cemilan yang dibuatkan oleh Ati. Dida dan Selvi sudah tahu jika Aulia memiliki kepribadian ganda dan mereka tidak kaget ketika tadi, kepribadian Aulia yang lain mengambil alih tubuh sahabat keduanya. Tapi, jelas hal itu berbeda dengan Bagus dan Daffa.
Keduanya syok luar biasa.
“Apa mungkin, lo memang ditakdirkan untuk selalu bersama dengan adik kami?” goda Petra untuk mencairkan suasana.
Setyo mendengus dan tersenyum tipis. “Gue nggak keberatan seandainya adik kalian juga memiliki perasaan yang sama dengan gue.”
Semua mata memandang Setyo. Cowok itu nampak santai dan menyesap jus jeruknya. “Gue cinta beneran sama Aulia.”
“Hah?” respon ini diberikan oleh ketujuh orang di sana.
“Gue dan Aulia hanya berpacaran pura-pura. Austine udah tau dan gue yakin Dida dan Selvi pun pasti udah tau juga, mengingat kalian bertiga udah kayak kembar siam dempet kepala sejak SMA.”
Nyaris saja wajah Setyo dilempari gelas oleh kedua cewek itu. Meski Dida dan Selvi sudah memberikan pelototan mengerikan mereka, tapi Setyo tidak takut sama sekali. Cowok itu hanya tertawa dan mengedipkan sebelah mata ke arah keduanya.
“Pura-pura?” tanya Putra. Dia agak sedikit marah karena mengira Setyo mungkin sedang mempermainkan Aulia.
“Ya, untuk menjauhkan Aulia dari kakak gue yang bernama Saizou dan sahabatnya yang bernama Irgi.”
“Irgi?” ulang Dida, Selvi, Bagus dan Daffa secara bersamaan. Mereka tidak pernah update berita mengenai Irgi lagi. Berita terakhir adalah ketika cowok itu akan menikah dengan Eri dan Eri melabrak Aulia di mall.
Setyo mengangguk. “Saizou kakak tiri gue. Dia benci sama gue dan mau menghancurkan gue melalui orang-orang terdekat gue. Karena itu, gue berpura-pura pacaran dengan Aulia supaya gue bisa mengawasi tindakan Saizou sekaligus melindungi Aulia. Soal Irgi, belum lama ini dia mendatangi Aulia. Dia bilang, dia udah membatalkan pernikahannya dengan Eri karena sadar kalau sebenarnya, dia mencintai Aulia. Austine pun ada di sana dan jadi saksi.”
“He, what?!” seru Dida dan Selvi. Dida bahkan menggebrak meja hingga membuat semua cowok di ruangan tersebut terlonjak. “Berani bener dia mau nambahin masalah di hidup Aulia! Dia nggak tau apa kalau Eri itu Medusa yang menyamar jadi manusia dan Aulia adalah mangsanya?”
Baru saja Setyo ingin kembali berbicara, dia mendengar namanya dipanggil. Setyo menoleh, pun dengan ketujuh tamunya. Di sana, di dekat pintu kamar, Aulia berdiri sambil menunduk. Kedua tangannya bergantian mengusap wajah untuk membersihkan air mata yang mengalir di sana. Tindakannya itu persis seperti anak kecil yang terbangun akibat mimpi buruk dan mencari sang ibu karena merasa takut.
“She’s back,” kata Setyo sambil berdiri dan tersenyum. Dia mendekati Aulia dan menaruh tangannya di kepala cewek itu. Setyo menurunkan kepalanya sedikit supaya dia bisa menatap wajah Aulia. “So, you’re back, huh? Did you miss me?”
Perlahan, Aulia mengangkat kepala. Dia bisa melihat senyuman lembut dan geli milik Setyo yang berbaur menjadi satu. Hati Aulia mendadak plong dan dia merasa sangat damai. Setyo seperti dikelilingi oleh cahaya yang begitu hangat dan Aulia sangat menyukainya. Langsung saja, Aulia memeluk pinggang Setyo tanpa ragu dan Setyo menghela napas lega.
“Silly girl,” katanya pelan sambil mengusap rambut dan punggung Aulia. “Lo tau kalau lo nggak pernah sendirian. Terus, kenapa harus kabur dan ingin bersembunyi di sudut hati lo yang paling dalam? Benar-benar cewek bodoh. Apa yang bakal terjadi sama lo kalau gue nggak ada, coba?”
Pemandangan itu membuat semua orang yang berada di ruang tamu dan melihatnya tersenyum. Lalu, Putra berkata, “Don’t you think that they are in a complicated situation?”
“Maksudnya?” tanya Petra tidak paham.
“They are more than friend, but less than couple.” Austine bergumam pelan. Cowok itu menatap datar ke arah Setyo yang kini nampak menjahili Aulia yang cemberut akibat perlakuanya.
Harusnya gue yang di sana dan menghibur lo, batin Austine menambahkan. Bukan Setyo!
Teaser Enemies With Benefit Chapter 14-Stay Away From Her!
“Lo minta gue untuk menjauhi Aulia?” tanya Setyo tegas.
Austine mengangguk. “Lo mendengarnya dengan jelas dan masih berani nanya?”
Setyo yang tidak mengerti dengan perubahan sikap Austine kepadanya—ya, dia tahu kalau Austine selalu bersikap dingin dan datar di sekitarnya, tapi tidak pernah sampai seperti ini—mengulurkan telapak tangannya ke arah Austine. “Apa ini semacam lelucon?”
“Apa gue keliatan seperti sedang bercanda?”
“Reason. I need a reason.” Setyo bersedekap dan menatap Austine dengan tatapan menantang.
“Karena gue nggak suka lo berdekatan dengan Aulia.”
“Dari dulu pun demikian, tapi lo nggak pernah bersikap sampai seperti ini. Lo nggak pernah melarang gue untuk mendekati adik lo.”
Austine mengertakkan gigi dan mengeraskan rahang. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. “Karena gue... suka sama Aulia. Karena sebenarnya, kami bukan saudara kembar.”
Di tempatnya, Setyo mematung. Ada desakan hebat di dalam dadanya untuk menghajar wajah Austine. Hal yang tidak diketahui keduanya, Andini mengawasi di sekitar mereka dan mendengarkan semuanya. Dia lantas menatap datar ke arah Austine. Tatapan yang sulit untuk ditebak.