DUA BELAS

2446 Words
“Saizou menyangka gue benar-benar membenci lo.”             Setyo mengacungkan jempolnya ke arah Satria sambil tetap melahap makan siangnya. Mereka berdua sudah selesai mengintai Saizou dan Austine—yang untungnya tidak terjadi kekacauan, di mana Austine langsung meninggalkan Saizou begitu saja—serta mengantar Kayla ke stasiun kereta karena cewek itu akan pulang ke kota asalnya. Kini, keduanya sedang menghabiskan jam makan siang di kafe dekat kantor Satria yang otomatis dekat juga dengan kantor Aulia. Setyo sendiri sedang izin tidak masuk kerja hari ini.             “Gue nggak menyangka lo adalah aktor yang sangat lihai,” puji Setyo seraya membersihkan mulut dengan serbet bersih dan meminum es cokelatnya. “Apa yang lo bilang ke dia?”             “Lupa.” Satria mengedikkan bahu. “Something like gue udah muak dan enek sama lo, juga karena gue mencintai Aulia dan ingin merebut Aulia dari lo. Kurang lebih seperti itu.”             Mendengar nama Aulia disebut, Setyo langsung tersedak dan batuk. Cowok itu menatap jengkel ke arah sang sahabat yang hanya menanggapi insiden tersedaknya Setyo dengan tawa geli.             “Kenapa harus kaget? Kan lo tau kalau gue emang suka sama Aulia. Gue udah cerita soal penolakan Aulia saat gue menyatakan perasaan gue, kan?”             “Wajar lah gue kaget, wong elo ngebahas soal perasaan lo itu lagi ke gue.” Setyo menopang dagu dengan sebelah tangan. “Karena gue—“             “Karena elo?” kejar Satria.             Setyo diam. Cowok itu menarik napas panjang dan berdecak kesal. Diusapnya kepala belakangnya pelan dan dia menunduk. Matanya menatap meja dengan tatapan datar. Jantungnya berdebar tidak karuan hanya dengan mendengar nama Aulia dan dia merasa sedikit sebal pada Satria ketika diingatkan lagi oleh sahabatnya itu mengenai pernyataan cinta sialannya tersebut untuk Aulia.             Kalau Setyo pikir-pikir lagi, tingkahnya saat ini sudah seperti Dojo Atsushi, karakter utama dari manga kesukaannya, Library Wars: War and Love. Dia benar-benar patut dikasihani, seperti Dojo Atsushi tersebut. Lalu, sikap Satria saat ini mengingatkan Setyo pada sahabat dekat Dojo Atsushi yang bernama Komaki.             “Pasti lagi menyamakan diri sendiri sama si Dojo Atsushi.”             Kepala Setyo terangkat dengan cepat dan matanya membelalak kala menatap Satria yang sibuk menahan tawa. “Lo cenayang, ya?”             Satria tertawa keras. “Keliatan, kali. Lo sebenarnya cemburu banget waktu gue cerita soal gue yang menembak Aulia. Terus, lo mulai berpikir, apa sebenarnya lo itu suka sama Aulia, cinta sama Aulia, tapi memutuskan untuk menyangkal perasaan itu karena menurut lo, itu sama sekali nggak mungkin mengingat kalian berdua udah kayak anjing sama kucing setiap kali ketemu. Persis seperti Dojo Atsushi dan Kasahara Iku, kan? Dari manga kesukaan lo.”             Setyo mendengus. “Dasar duplikat Komaki!”             “Well, gue nggak keberatan disamain sama Komaki karena emang gue senang melihat perkembangan hubungan lo dengan Aulia.” Satria mengibaskan sebelah tangan. “Apa sih yang lo takutin?”             “Maksud lo apa?” tanya Setyo defensif.             “Lo takut mengakui kalau lo sebenarnya memang sudah jatuh cinta sama Aulia, nemesis lo itu. Kenapa? Lo nggak enak sama gue?”             “Kata siapa? Geer, lo.”             “Terus? Lo takut ditolak?”             Setyo diam. Sejujurnya, dia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya terus saja menyangkal perasaan cintanya, perasaan baru yang tumbuh untuk Aulia itu. Mungkin dia hanya tidak ingin Aulia menjauhinya ketika tahu soal perasaan cintanya untuk cewek itu.             “Mungkin gue takut dijauhi sama dia, kalau dia tau gue cinta sama dia.”             Oh, sekarang dia mulai mengaku kalau dia memang cinta sama Aulia, Satria membatin.             “Aulia nggak sedangkal itu.” Satria mengambil kentang goreng dan mencelupkannya ke saus sambal. “Kalau dia sedangkal itu, dia nggak akan menghadapi Irgi face to face waktu Irgi menyatakan perasaannya. Lo sendiri yang cerita hal itu ke gue semalam. Jadi, misalkan lo menyatakan perasaan lo ke Aulia dan dia kebetulan nggak punya perasaan yang sama dengan lo, dia nggak akan menjauh dari lo. Dia akan menghadapi lo.”             Alis Setyo terangkat satu. Cowok itu bersedekap. Ada sesuatu dalam kalimat Satria tadi yang sedikit mengganggu pikirannya. “Kenapa lo menekan nada suara lo waktu lo bilang kalau misalkan Aulia kebetulan nggak punya perasaan yang sama?”             “Coba lo pikir sendiri, kenapa gue berbicara dengan nada seperti itu.” Satria menahan tawanya lagi dan terpaksa memalingkan wajah supaya tidak kelepasan tertawa.             Baru saja Setyo ingin membalas kalimat Satria, ponselnya berdering. Cowok itu mengambil ponselnya dari saku celana dan mengerutkan kening ketika melihat sederet nomor yang tidak dia kenal. Meski ragu, Setyo menggeser tombol berwarna hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga. Sebelah tangannya yang bebas mengisyaratkan Satria untuk menunggu sebentar dan Satria mengangguk.             “Halo?” sapa Setyo dengan nada datar. Selalu seperti itu kalau dia menerima panggilan dari orang yang tidak dikenal. “Siapa ini?”             “Setyo!”             Alis Setyo terangkat satu. Dia kenal suara ini. Tapi, ini yang pertama kalinya dia mendengar orang tersebut menyebutkan namanya dan bukannya ‘Mas Setan’ seperti biasa. Dan tahu-tahu saja, perasaannya mulai tidak enak sekarang. “Austine?”             Nada suara Austine yang terdengar panik, cemas juga terputus-putus yang kemungkinan besar karena sedang terengah itu membuat Setyo mulai menegang. Tanpa sadar, cowok itu mengepalkan sebelah tangannya dengan kuat hingga buku tangannya memutih.             “Sistine! Sistine!”             Jantung Setyo mulai berdetak cepat. Rasanya dia mulai kehilangan kemampuannya untuk bernapas.             “Aulia? Kenapa sama Aulia?” tanya Setyo dengan nada keras. Nada yang membuat Satria memperhatikannya dengan seksama dan serius. “Demi Tuhan, Austine Stevano! Ada apa sama Aulia? Kenapa lo terdengar panik dan ketakutan seperti ini? Dan, siapa yang menangis itu?”             Di seberang sana, Austine berusaha mengatur napasnya terlebih dahulu. “Aulia kabur dari rumah, Set. Dia menghilang!”             What did he say?             “Hilang?” ulang Setyo dengan nada tidak percaya. “Apa maksudnya dengan Aulia menghilang, Austine? For God’s sake! Ada apa sebenarnya?”             Austine mengertakkan giginya dan mengepalkan sebelah tangannya. Dia menoleh sekilas dan melihat orang tuanya masih menangis dan berusaha ditenangkan oleh Putra dan Petra. “Dia kabur setelah nggak sengaja menemukan sebuah surat.”             “Surat?”             Austine mengangguk dan menyadari bahwa Setyo tidak bisa melihatnya saat ini. “Surat yang sudah berumur dua puluh lima tahun. Surat di mana di situ tertulis kalau si pengirim adalah orang tua kandung Aulia dan gue.”             Hah?             Baru saja Setyo ingin bertanya apa maksud ucapan Austine, ketika dia mendengar Austine menghela napas berat dan berbicara dengan nada lelah.             “Setyo, gue dan Aulia bukan anak kandung orang tua kami. Orang tua kami di rumah itu sebenarnya adalah om dan tante kami. Kakak dari orang tua kandung kami. Dan Aulia yang tidak sengaja menemukan surat dari orang tua kandung kami itu meminta penjelasan, kemudian pergi dari rumah sambil menangis hebat saat mendengar semua penjelasan tersebut. Please, Set... gue mohon, tolong bantu gue menemukan Aulia. Gue takut dia kenapa-napa. Tolong gue.”             Setyo menjauhkan ponselnya. Matanya menatap ke meja dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Jantungnya semakin berdetak cepat, membuat dadanya terasa sakit dan sesak. Silih berganti, bayangan Aulia yang sedang marah, tersenyum, tertawa dan lain sebagainya, menari-nari di benaknya. Hal terakhir yang muncul adalah bayangan Aulia yang sedang menangis hebat.             “Gue harus pergi, Sat.”             Satria hanya bisa mengerjap ketika dia melihat Setyo bangkit dari kursi dan lari meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. ### Aulia bagaikan mayat hidup.             Dia tidak tahu berada di mana dan terus saja melangkah. Suara bising kendaraan, orang-orang yang saling bercengkrama di sekitarnya, semuanya diabaikan oleh cewek itu. Pandangannya kosong dengan kedua mata berwarna merah, begitu juga dengan hidungnya. Wajah cantiknya terlihat kusut dan kacau. Air mata itu masih terus mengalir dan ada yang sudah membekas di wajah karena sebelumnya sudah dihapus olehnya.             Tabrakan cukup kuat pada pundaknya membuat langkah Aulia terhenti. Cewek itu hanya menatap datar orang yang menabraknya dari arah berlawanan tersebut, meski orang itu menatap Aulia dengan tatapan jengkel dan terus saja memarahinya. Merasa Aulia sepertinya agak terganggu mentalnya, orang tersebut akhirnya memutuskan untuk pergi.             Aulia lantas melanjutkan langkahnya yang terlihat sempoyongan seperti orang yang sedang mabuk. Pikirannya kembali kepada kejadian satu jam yang lalu, di mana dia menemukan sebuah surat. Surat yang mengantarnya pada kenyataan pahit dan gelap mengenai jati dirinya yang sebenarnya.             Bahwa dia dan Austine bukanlah anak kandung kedua orang tua mereka.             Ketika dia meminta penjelasan dari kedua orang tuanya, mereka menjelaskan sambil menangis dan meminta maaf berulang kali. Kedua orang tua kandung Aulia dan Austine bernama Lestari dan Hermawan. Lestari adalah adik dari ibunda Aulia saat ini yang ternyata adalah tantenya. Saat Lestari melahirkan Aulia dan Austine, Hermawan meninggalkan Lestari dan anak kembar mereka untuk pergi bersama wanita lain.             Syok dan sedih, juga sakit hati, Lestari menyerahkan Aulia dan Austine kepada sang kakak untuk dirawat dan dibesarkan. Lestari mengaku tidak bisa membesarkan dan merawat si kembar karena tidak sanggup melihat wajah mereka. Wajah si kembar akan mengingatkan Lestari pada Hermawan. Saat itu saja, kalau sang kakak tidak berkunjung ke rumah Lestari bersama suami dan si kembar Putra-Petra, mungkin Lestari sudah berhasil membunuh Aulia dan Austine, darah dagingnya sendiri.             Saat itu, Lestari menangis hebat. Dia mengaku tidak akan pernah bisa melihat wajah si kembar tanpa teringat akan pengkhianatan Hermawan. Karena itu, dia menjadi gelap mata dan memutuskan untuk melenyapkan Aulia juga Austine. Tadinya Lestari akan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, namun tiba-tiba saja Lestari menghilang dan meninggalkan sepucuk surat di mana wanita itu meminta tolong kepada sang kakak untuk merawat dan membesarkan Aulia juga Austine.             Mendengar semua penjelasan ibundanya, Aulia mulai histeris. Cewek itu berdiri dari sofa dan menangis keras. Dia mengucapkan kata ‘bohong’ berulang kali sambil menutup kedua telinga dan menggeleng sekuat tenaga. Hari ini, Aulia memang izin tidak masuk kerja karena sakit sejak semalam dan si kembar Putra-Petra pun sedang tidak ada jadwal pemotretan.             Sekuat tenaga, Austine mencoba menenangkan saudara kembarnya itu, tapi tidak berhasil. Aulia berlari keluar rumah dan dikejar oleh Austine. Namun, cewek itu langsung naik taksi yang kebetulan sedang melintas, menyebabkan Austine mengumpat dan segera meminjam motor Putra untuk mengejar taksi tersebut. Sialnya, taksi itu masuk ke jalur yang tidak bisa dilewati oleh pengendara motor.             Panik dan cemas, Austine menelepon Selvi dan Dida. Keduanya langsung berjanji akan ikut membantu mencari Aulia dan menyebutkan beberapa tempat yang biasa didatangi oleh Aulia kepada Austine. Austine sudah mencoba mencari ke tempat-tempat tersebut, namun hasilnya nihil. Sampai kemudian, Austine kembali ke rumah dan langsung menelepon Setyo untuk meminta bantuan.             Aulia berhenti di sebuah jembatan. Cewek itu berpegangan pada pagar pembatas jembatan dan melihat ke bawah. Rel kereta itu tidak menarik tentu saja, tapi Aulia seperti merasa ada magnet kuat yang membuatnya untuk terus menatap ke rel tersebut. Hatinya terasa sesak dan sakit. Air mata itu bahkan tidak bisa berhenti mengalir sejak tadi.             Semuanya terlalu tiba-tiba bagi Aulia. Aulia bertanya terus di dalam hatinya, kesalahan apa yang sudah dia perbuat? Dosa apa yang sudah dia perbuat selama ini? Apa ada seseorang yang mengutuk hidupnya? Mendoakannya untuk menderita? Pertama dia mendapatkan perlakuan tidak bersahabat dari kakak kembarnya sendiri, meski sudah berhasil menyelesaikan semua kesalahpahaman tersebut dan berakhir dengan dekatnya hubungan persaudaraan mereka saat ini. Dan sekarang, dia mendapat kenyataan pahit lainnya. Kenyataan yang sangat menyakitkan dan menamparnya telak.             Dia ternyata bukan anak kandung kedua orang tuanya. Dia bahkan tidak diinginkan, dibenci dan hampir dibunuh oleh orang tua kandungnya sendiri.             Oh, Tuhan... Aulia membatin dan memejamkan kedua mata. Ini terlalu menyakitkan. Ini terlalu berat buat gue. Gue nggak bisa. Gue mau mati aja rasanya. Mata Aulia terbuka dan tatapannya kembali jatuh pada rel kereta di bawahnya yang baru saja dilintasi oleh kereta api. Apa gue harus mengakhiri hidup gue sekarang supaya rasa sakit ini menghilang?             Perlahan, Aulia mencondongkan tubuhnya ke bawah. Angin berhembus sangat kencang. Di kejauhan, Aulia bisa melihat ada kereta api yang akan melintas ke arahnya. Kalau dia menjatuhkan tubuhnya, dia akan menghantam kereta tersebut dan kemungkinan besar akan meninggal dunia. Rasa sakitnya tertabrak kereta pasti tidak akan sempat dia rasakan karena nyawanya akan langsung dicabut oleh malaikat maut.             Semakin lama, tubuh Aulia semakin menjorok ke bawah. Dia memejamkan kedua mata. Bayangan kedua orang tua asuhnya, si kembar Putra dan Petra yang dia pikir kakak kandungnya namun ternyata kakak sepupu, Austine, Selvi, Dida, Bagus, Daffa, Andini, Satria...             Dan terakhir, Setyo.             Ketika wajah Setyo muncul di benaknya, Aulia merasa lengannya dicekal kuat dan tubuhnya ditarik paksa hingga menjauhi jembatan. Suara kereta api yang melintas terdengar keras dan Aulia refleks membuka kedua mata. Di hadapannya, Setyo menatapnya tajam. Wajahnya tampannya dibasahi peluh, rambut lebatnya sedikit berantakan dan napasnya terengah hebat. Kini, Setyo mencengkram kedua lengan Aulia hingga cewek itu meringis dan mengerjap.             Kesadarannya mulai kembali.             “Setyo...?”             “Apa yang baru aja mau lo lakuin, Aulia Sistine?” tanya Setyo dengan nada dingin.             “Setyo, sakit!”             “Sakit?” ulang Setyo sambil mendengus. Dia semakin menguatkan cengkramannya. “Kalau lo mau bunuh diri barusan, bukannya lo juga akan merasakan sakit? Bahkan rasanya jauh lebih sakit dari cengkraman gue saat ini.”             Aulia berusaha melepaskan diri dari Setyo namun gagal. “Setyo! Lo kasar banget sih jadi orang?!”             “Lo emang harus dikasarin saat ini supaya otak lo kembali normal, Aulia!” Setyo menarik Aulia menuju gang terdekat yang tadi sempat dia lihat, kemudian membawa tubuh mungil itu ke dinding.             Aulia sendiri hanya diam. Tidak ada celah yang bisa dia gunakan untuk keluar dari situasi ini, di mana di belakangnya berdiri tembok kokoh dan di hadapannya Setyo berdiri tegak sambil mengurung Aulia dengan kedua tangannya. Mata Setyo masih terlihat dingin, membuat Aulia sedikit takut.             “Lo apa-apaan, sih?!” teriak Aulia. “Apa mau lo?!”             “Apa mau gue? Lo nggak salah nanya begitu ke gue? Harusnya pertanyaan itu buat diri lo sendiri!” Setyo mendekatkan wajahnya hingga dia bisa merasakan hangat napas Aulia dan melihat ketegangan yang terpancar dari manik cewek itu. “Apa mau lo, hah?! Apa lo bermaksud untuk bunuh diri?!”             Aulia kembali diam. Cewek itu balas menatap manik Setyo namun hanya bertahan sebentar. Tak lama, Aulia menunduk dan mulai terisak di hadapan nemesisnya itu. Di tempatnya, Setyo langsung menatap Aulia dengan tatapan kasihan. Cowok itu mengertakkan gigi dan akhirnya mengambil satu keputusan.             Diraihnya tubuh mungil dan gemetar Aulia dan dibawanya ke dalam pelukan. Di dalam pelukan erat dan hangat Setyo, Aulia menumpahkan semua tangisnya, kesedihannya, rasa sesak dan sakitnya. Aulia seolah menggantungkan hidupnya kepada Setyo saat ini. Dia menarik kaus Setyo, memanggil nama Setyo berulang kali, mengucapkan kata ‘bohong’ berulang kali dan yang terakhir, cewek itu berkata dia ingin sekali mencabut nyawanya sendiri karena merasa tidak sanggup dengan semua kenyataan ini.             Setyo memejamkan mata saat mendengar semua kalimat Aulia yang diucapkan dengan nada terbata dan gemetar. Dia mengusap rambut dan punggung Aulia, mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Aulia.             “Lo nggak sendirian Aulia,” kata Setyo pelan. Tanpa sadar, dia mencium kening Aulia. “Ada gue di sini. Gue nggak akan pernah meninggalkan lo. Gue nggak akan pernah membiarkan lo sedih dan tersakiti. Gue....” Setyo memantapkan hati dan menarik napas panjang. “Karena gue mencintai lo, Aulia. Gue jatuh cinta sama lo.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD