Mungkin gambaran yang tepat untuk perasaan Setyo Rajawali saat ini adalah pusaran angin topan.
Kalau boleh Setyo bersikap lebay, dia sangat ingin melempar shuriken milik Naruto ke arah Irgi yang saat ini duduk di sofa ruang tamu Aulia sambil menatap cewek itu dengan tatapan memuja. Tidak sulit bagi Setyo untuk bisa melihat tatapan memuja itu terpancar dari kedua mata Irgi karena sepertinya, cowok yang mengaku sebagai sahabat dari Aulia tetapi membiarkan sang cupid menembakkan panah cintanya untuk Aulia tersebut tidak berniat untuk menutupinya sama sekali atau merasa canggung.
Dan si cewek tengil bernama Aulia Sistine ini justru mengundang serigala masuk ke dalam rumahnya dengan sukarela! Setyo membatin.
“Sebelum gue berbicara serius sama lo, Gi,” kata Aulia dengan nada datar yang tertangkap jelas di kedua telinga Setyo. Mata cewek itu beralih dari Irgi kepada Setyo dan Setyo langsung mengangkat satu alisnya. “Kenapa lo ikutan masuk ke rumah gue?”
Demi Dewi Hera yang bertugas sebagai dewi pernikahan dan membatalkan rencananya untuk menyatukan si b******k Irgi dengan sang pacar sehingga akhirnya Dewi Aphrodite memutuskan untuk mengubah rasa sayang persahabatan di hati Irgi kepada Aulia menjadi rasa cinta, kenapa si Aulia Sistine ini oonnya nggak ketulungan? Mana mungkin gue biarin dia berdua aja sama Irgi setelah cowok itu mengaku cinta sama dia?
“Lo bilang rumah lo kosong. Orang tua lo lagi ada acara makan malam di luar dan semua kakak lo juga belum pulang.”
“Terus?”
“Kakak?” tanya Irgi. Namun sepertinya, pertanyaan itu tidak dipedulikan oleh Setyo dan Aulia.
Aulia Sistine benar-benar bego!
“Ya gue memutuskan untuk menemani kalian, dong. Kalau ada apa-apa, gue bisa bersaksi. Nggak baik malam-malam begini cewek sama cowok berduaan aja di dalam rumah yang nggak ada penghuninya.”
Irgi mengerutkan kening. Tatapannya memancarkan bahwa dia tidak suka dengan ucapan Setyo barusan. “Apa lo berpikir gue akan berbuat yang aneh-aneh ke sahabat gue sendiri?”
Setyo mengedikkan bahu. “Who knows?”
“Gue nggak sebejat itu!”
Seringaian di wajah Setyo membuat Irgi meradang di tempatnya dan mati-matian menahan diri untuk tidak kelepasan meninju wajah tampan tersebut.
“Mas Irgi,” kata Setyo dengan nada pongah. “Situ baru aja bilang kalau situ mencintai Aulia. Aulia yang katanya adalah sahabat situ. Situ adalah cowok yang sebentar lagi akan menikah, tapi seenaknya aja memutuskan secara sepihak karena memiliki perasaan lebih kepada sahabat situ. Apa itu nggak b******k namanya, Mas? Dan, akui ajalah, cowok adalah kaum serigala. Baik atau nggak, ada sedikit sifat b***t dalam diri semua cowok, tergantung bagaimana cara cowok tersebut bisa menahannya. Dan situ berharap gue akan diam aja, begitu tau situ menyatakan perasaan cinta terlarang situ kepada Aulia yang notabene adalah cewek gue? Membiarkan situ berdua aja sama cewek gue? Hoho, sorry, dude. Not a chance.”
Aulia mendesah berat dan memijat pelipisnya. Dia tidak bisa menyalahkan Setyo karena sudah mengucapkan kalimat nyelekit barusan. Irgi dan Eri memang tahunya Setyo dan dirinya adalah sepasang kekasih, karena Setyo yang menciptakan permainan itu saat dia menolongnya dulu dari amarah Eri di mall.
“Gue tau!” Irgi mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh dan menunduk. “Gue tau,” ucapnya lagi, kali ini lebih pelan. Lalu, Irgi mengangkat kepalanya lagi dan menatap Aulia. “Tapi, gue nggak bisa bohongin perasaan gue sendiri. Gue nggak bisa menyakiti hati Eri nantinya, kalau kami tetap memaksakan pernikahan kami, di saat gue nggak cinta sama dia. Gue nggak bisa menikah dengan cewek lain, di saat pikiran dan hati gue justru tertuju pada Aulia.”
Aulia memutus kontak matanya dengan Irgi dan menoleh untuk menatap Setyo. Melihat bagaimana Setyo hanya diam dengan raut wajah dan tatapan datar yang diarahkan kepada Irgi membuat Aulia mematung. Ada sesuatu dalam tatapan Setyo yang membuat Aulia merasa sedikit takut dan tahu-tahu saja, Aulia langsung mencekal lengan Setyo kuat.
Membuat Setyo sedikit terkejut dan menoleh. Ditatapnya Aulia yang memberinya tatapan cemas dengan tatapan bingung. Alis Setyo terangkat satu dan cowok itu menyentil pelan kening Aulia.
“Kenapa ngeliatin gue kayak gitu?” tanya Setyo pelan.
Aulia tidak bisa merespon. Jantungnya berdebar keras sekali. Dia merasa takut. Takut kalau Setyo akan menjauhinya seperti dulu Austine yang menjauhinya. Dia takut Setyo akan pergi meninggalkannya dan Aulia sendiri tidak tahu alasan dibalik pemikiran tersebut, mengingat hubungan keduanya yang seperti kucing dan anjing.
“Hei,” panggil Setyo lembut. Dia menangkup wajah Aulia dan tersenyum tipis. “Kenapa? Ada apa?”
Aulia menggeleng. Dia menjauhkan kedua tangan Setyo dari wajahnya dan berdeham. Kemudian, tatapan Aulia kembali pada Irgi yang sangat jelas menunjukkan ketidaksukaannya terhadap perlakuan Setyo kepadanya tadi. “Sori, Gi. Gue hanya menganggap lo sebagai sahabat sejak dulu. Gue nggak menganggap lo sebagai seorang cowok yang bisa gue cintai. Rasa sayang gue untuk lo hanya rasa sayang sebagai sahabat, nggak lebih.”
Irgi diam. Cowok itu bangkit dari sofa dan menatap Aulia serius. Kemudian, tatapannya beralih pada Setyo. Dia menunjuk Setyo dan berkata, “This is not over. I’m not giving up. Gue akan merebut dia dari lo, mengubah perasaannya dari lo kepada gue.”
“Be my guest,” sahut Setyo kalem. “Yang perlu lo tau, apa yang sudah menjadi milik gue nggak akan pernah gue lepas dan nggak akan pernah terlepas dari genggaman gue. Sekarang dan selamanya. Lo boleh berbuat sesuka lo untuk merebut Aulia dari gue, lo boleh mencoba apa pun untuk mengubah perasaan Aulia. Tapi, satu hal yang pasti. Dia nggak akan terpengaruh dan gue pun nggak akan membiarkan hal itu terjadi.” Kini, Setyo menatap Aulia dengan tatapan lembut yang langsung membuat Aulia menahan napas tanpa sadar dan membiarkan jantung malangnya menghentak kuat dadanya. “Karena Aulia mencintai gue.”
Aulia merasa wajahnya memanas dan dia sangat yakin kalau wajahnya sudah memerah saat ini. Karenanya, cewek itu menunduk dan memainkan kedua tangannya yang saling bertautan di atas paha.
Kenapa Setyo bisa ngomong kayak gitu? Dan kenapa gue jadi deg-degan nggak karuan?
“Oh, apa dramanya udah selesai?”
Kalimat itu membuat Aulia, Setyo dan Irgi menoleh. Di dekat pilar penghubung ruang depan dan ruang tamu, bersandar dengan sebelah pundak dan bersedekap, sosok Austine terlihat. Cowok itu menatap datar ke arah Irgi dan mulai berjalan menuju ruang tamu. Kemudian, Austine duduk di samping Aulia, mencium singkat kening adik kembarnya itu dan mengacak rambutnya gemas.
“Drama?” ulang Irgi dengan nada tidak senang. “Maksud lo apa? Dan lagi, lo ini siapa? Main masuk ke rumah orang seenaknya dan cium-cium kening orang seenaknya.”
Belum sempat Austine menjawab, tawa Setyo telah menggema. Entah dia harus merasa takjub dan kagum dengan kepintaran Aulia dalam hal merahasiakan semua anggota keluarganya atau justru merasa kasihan kepada Irgi yang katanya mengaku sebagai sahabat dekat cewek itu tapi tidak cukup dipercaya untuk mengetahui semua hal tentang Aulia.
“Allow me to introduce him,” kata Setyo dengan nada bangga. Hell, dia merasa sangat senang sekarang karena menurutnya, ini sudah merupakan keuntungan tersendiri baginya. “Dia Austine Stevano, kakak kembar Aulia. Ah, Aulia juga punya dua kakak cowok lainnya dan mereka pun kembar seperti Aulia dan Austine. Namanya Putra dan Petra.”
Ekspresi terkejut di wajah Irgi sangat menyenangkan untuk ditonton oleh Setyo saat ini.
“Lo punya tiga kakak cowok dan gue sama sekali nggak tau, Aulia?!” seru Irgi emosi.
Untuk urusan ini, Setyo sepenuhnya menyerahkan kepada Austine karena cowok itu yakin, Austine tidak akan pernah tinggal diam jika ada orang lain yang menyakiti atau membentak adik kesayangannya seperti tadi.
“Lo pikir lo siapa sampai bisa seenaknya membentak adik kembar gue seperti barusan?” tanya Austine dengan nada dingin.
See? Setyo membatin dan tersenyum puas. Udah gue duga, Austine nggak akan diam begitu aja.
“Sori, gue nggak ada maksud untuk ngebentak Aulia. Maksud gue tadi—“
“Cukup,” potong Austine dengan nada tegas. Cowok itu bangkit dari sofa dan menunjuk Irgi. “Silahkan lo pergi dari rumah ini kalau urusan lo udah selesai.”
“Tapi, gue—“
“And for your information,” tambah Austine lagi. “Adik gue ini udah jadi milik Setyo. Dia pacar Setyo. Lo nggak malu, berniat merebut dia di depan batang hidung pacarnya sendiri?”
Rahang Irgi mengeras dan giginya mengertak. Sambil menatap tajam Austine dan juga Setyo, Irgi pergi dari rumah Aulia bahkan tanpa menatap cewek itu.
“Wah, jadi gue udah direstui sama calon kakak ipar, nih?” tanya Setyo penuh semangat. Dia memainkan kedua alisnya dengan jenaka dan terbahak saat Austine memberinya tatapan membunuh.
“Jangan gede kepala,” gerutu Austine. “Gue cuma muak sama kelakuan cowok tadi yang seenaknya aja bilang cinta ke Sistine, padahal dia tau Sistine udah punya pacar.”
“Hmm? Jadi lo udah mendengar semuanya dari awal, Aus?”
“Aus?!”
“Dia emang minta dibunuh, Stev,” sahut Aulia keki. “Sistine juga dipanggil Ul sama si Mas Setan.”
Setyo mengibaskan sebelah tangan. “Jadi, lo menguping sejak awal?”
Austine mendengus. “Kebetulan aja pas gue sampai rumah, lo berdua lagi adu bacot. Dan kamu, Sistine,” kini, tatapan cowok itu beralih kepada adik kembarnya. “Kamu nemu orang macam begitu di mana, sih? Kok bisa sahabatan sama cowok macam dia?”
“Irgi orang baik, Stev.”
“Menurut kamu. Tapi menurut aku, dia nggak sebaik yang ditampakkan. Mulai sekarang, kamu harus hati-hati, oke? Aku nggak mau kamu kenapa-napa karena dia.”
“Stevano, please—“
“Matanya, Sistine,” potong Austine tegas. “Matanya memancarkan sesuatu yang jahat. Sesuatu yang gelap. Dan aku nggak suka sama sekali dengan tatapan itu.”
Aulia tidak bisa memberikan argumen lagi. Tidak, setelah Austine memberinya tatapan tegas dan nada final dalam kalimatnya. Cewek itu hanya mendesah panjang dan menunduk. Lalu, ketika Austine menatap Setyo, Setyo mendadak menegakkan punggung. Dia balas menatap dan seketika tahu apa yang diucapkan Austine kepadanya melalui tatapan matanya tersebut.
Tolong awasi dan lindungi adik gue.
###
“Ah, sori.”
Saizou mengerjap dan menunjuk dengan ragu ke arah cewek di hadapannya yang baru saja tidak sengaja menabrak pundaknya. Dengan senyuman tipis, dia berkata, “Mm... Andini, right?”
Andini menjentikkan jari dan tersenyum ramah. “Kak Saizou, kan? Kakaknya Setyo.”
Beberapa detik keduanya terdiam, kemudian tawa mereka menggema di udara. Andini merapatkan jaket yang menutupi tubuh mungilnya, lantas menatap ke sekitar Saizou. Cowok itu baru saja keluar dari dalam kafe sendirian di mana banyak pasangan bertebaran di sekelilingnya.
“Kak Saizou sendiri?”
“Yup.” Saizou mengangguk. “Emang maunya lo gue sama siapa?”
“Dunno. Mungkin sama pacar?”
Saizou tertawa lagi dan menggeleng. “Nggak, lah. Gue nggak punya pacar. Lo sendiri sama siapa ke sini?”
“Sendirian juga, Kak. Mau beli makan malam dan kebetulan makanan di kafe ini adalah makanan kesukaan gue. Masa orang kayak Kak Saizou belum punya pacar?”
“Serius.” Saizou mengangguk mantap. “Gue belum tertarik untuk cari pacar. Tapi, seandainya lo mau jadi kandidat, gue bersedia kok jadi pacar lo. Gue pasti bakal bahagia banget punya pacar secantik, semanis dan seramah elo, Din.”
Kini, ganti Andini tertawa. “Seandainya gue masih sendiri, gue pun nggak keberatan menerima lo sebagai pacar gue, Kak. Sayangnya, gue udah taken.”
“Oh ya?”
“Yup. Sama kakaknya Aulia yang waktu itu kenalan sama lo. Ingat, kan? Namanya Austine Stevano, kakak kembar Aulia.”
Ah, dia. Jadi cowok dengan aura misterius dan nggak boleh diremehkan itu adalah pacar Andini?
“Ah, dia. Tertarik untuk bikin gue jadi Sephia elo?” tanya Saizou sambil mengedipkan sebelah mata.
Andini mengerjap dan kembali tertawa. Sambil menggeleng, Andini menjawab, “Sama sekali nggak tertarik karena gue sangat mencintai Austine, begitu juga sebaliknya. Hubungan kami berdua dan ikatan yang kami miliki sejak kecil nggak akan pernah bisa dipatahkan oleh siapa pun, Kak.” Cewek itu melirik jam tangannya dan kembali menatap Saizou. “Maaf, gue buru-buru, Kak. Gue harus beli makan malam dan langsung pergi ke rumah Austine. Dia lagi nggak enak badan dan uring-uringan. Kalau udah begitu, dia bakalan berubah jadi orang super menyebalkan yang bahkan keluarganya sendiri aja nggak sanggup untuk handle.”
“Kecuali elo.” Suara Saizou terdengar jauh dan datar.
Andini mengangguk dan tersenyum manis sekali. “Yup, kecuali gue. Kalau gitu, sampai jumpa lain waktu, Kak.”
Setelah melambaikan tangan dan tersenyum lebar ke arah Saizou, Andini masuk ke dalam kafe. Dia tidak menyadari bahwa Saizou masih berdiri di tempatnya, menatap ke arahnya dengan tatapan memuja yang tidak pada tempatnya.
Jantung Saizou kini berdetak cepat. Bibirnya mulai menyunggingkan seulas senyum yang bahkan tidak disadari oleh Saizou sendiri. Senyuman malu-malu seperti ABG yang baru mengenal cinta. Matanya tetap menatap ke arah Andini yang bisa dilihatnya melalui jendela kafe dan sedang memesan makanan.
“Interesting,” gumam Saizou. Cowok itu bersedekap. “Dia nggak tertarik diajak berselingkuh dengan cowok tampan dan mapan seperti gue. Dia memilih setia sama cowok b******k bernama Austine itu. Dia sangat berbeda dengan Papa yang justru menikahi wanita lain di belakang Mama. I want her. I really want her so bad. Gue akan merebut lo dari Austine, Andini. Lo akan menjadi milik gue dan harus menjadi milik gue.”
###
Austine Stevano sedang dalam masa PMS.
Setidaknya, itulah yang diucapkan oleh Aulia Sistine dan Setyo Rajawali, ketika keduanya bertemu dengan Austine pagi ini. Setyo bahkan langsung mengangkat kedua tangan ke udara tanda menyerah dan tidak malu-malu bersembunyi di belakang punggung Aulia, saat Austine menatapnya garang.
Bukannya tanpa alasan Austine bersikap seperti ini. Semalam, dia kesal bukan main dengan sikap Irgi, teman semasa kuliah adik kembarnya. Masih dalam keadaan kesal dan kondisi tubuh yang tidak bagus, Andini datang membawa makan malam dan bercerita bahwa dia bertemu dengan Saizou Rajawali, si cowok berbahaya menurut Austine yang notabene adalah kakak Setyo, parasit yang selalu berada di sekitar adik kembarnya.
Sialnya lagi, Andini bercerita dengan nada penuh semangat dan tatapan berbinar. Seolah-olah yang cewek itu ceritakan sangat lucu dan sanggup membuatnya tertawa. Yang menjadi permasalahan bagi Austine bukan pada bagian sang pacar bercerita secara menggebu-gebu, melainkan pada bagian ketika Saizou Rajawali mengajak pacarnya itu untuk berselingkuh di belakangnya.
“Sialan banget tuh cowok,” gerutu Austine sambil berjalan di trotoar. Dia sedang menuju ke kafe langganannya dan Andini untuk mengisi perut karena sudah memasuki jam makan siang. Kafe yang tadi malam menjadi tempat pertemuan tidak sengaja antara sang pacar dan Saizou. “Berani-beraninya dia ngajak si Dini untuk selingkuh di belakang gue.”
“Kenapa harus nggak berani?”
Pertanyaan itu menghentikan langkah Austine. Dia menoleh dan menatap tajam ke arah Saizou Rajawali yang berdiri di samping mobil terios putih. Cowok itu tersenyum menantang dan mengunci mobil tersebut, sebelum kemudian mendekati Austine.
“Lo mengikuti gue?” Austine balas bertanya.
“Lucu sekali.” Saizou tertawa. “Gue hanya kebetulan mau makan siang di tempat takdir mempertemukan gue dengan cewek cantik tadi malam.”
Alis Austine terangkat satu. “Cewek cantik? Andini maksud lo?”
“Ah, Andini cerita rupanya.” Saizou manggut-manggut. “Gue suka sama cewek lo.”
Austine hanya diam dan menatap tajam Saizou yang dia kenali sebagai kakak dari Setyo Rajawali. Cowok itu menarik kerah kemeja Saizou kuat, hingga membuat Saizou meringis dan menahan batuknya namun tetap memberikan seringaiannya. Seringaian yang mengejek Austine.
“Silahkan lo mencoba merebut Andini dari gue dan gue akan pastikan lo mendekam di neraka selamanya, Saizou Rajawali.”
Tak jauh dari tempat keduanya, Satria mengawasi sambil melahap puding pandan kesukaannya dari balik kemudi mobil avanza hitam. Cowok itu melirik ke samping dan ke belakang, kemudian menunjuk ke arah Saizou dan Austine dengan menggunakan dagu.
“See? Sekarang kayaknya dia mau memulai permainan baru sama kakaknya Aulia.”
Setyo berdecak dan memijat pelipisnya. “Gue nggak ngerti lagi harus berbuat apa ke orang itu. Gue ngerti kalau dia benci banget sama gue karena menganggap gue sebagai sumber permasalahan di keluarganya dulu, karena emak gue menikah sama bapak gue tanpa sepengetahuan dia dan emaknya. Tapi, emak gue udah bersaksi ke gue kalau waktu itu, beliau sama sekali nggak tau kalau bapak gue udah punya anak satu.”
“Bapak lo nggak benar tuh berarti,” sahut Kayla kalem dari kursi belakang.
“Emang,” balas Setyo sambil mendengus. “Kalau dia emang mau hancurin gue, harusnya dia hancurin gue langsung dan jangan bawa orang lain di sekitar gue.”
“Justru itu tujuannya. Menghancurkan lo melalui orang-orang terdekat lo. Terutama Aulia. Dia bakalan bikin Aulia membenci lo sehingga lo hancur lebur karena dia yakin, lo mulai jatuh cinta sama Aulia.”
Setyo diam. Cowok itu menarik napas panjang dan bersedekap. “Makasih loh, udah jadi mata-mata nggak resmi gue. Sampai nekat mendekati Saizou segala.”
Satria mengedikkan bahu. “Keep your friend close, but your enemy closer.”
“Tapi, ada satu hal yang gue takutkan sekarang.”
Kayla dan Satria sama-sama menatap Setyo dengan tatapan ingin tahu sekaligus tatapan tegang. Mereka bisa melihat bagaimana cowok itu mengawasi gerak-gerik Austine dan Saizou di kejauhan.
“Kali ini, Saizou nggak main-main. Tatapan mata Saizou saat ini begitu serius dan menantang. Ekspresi dan tingkah Austine pun berbeda. Ini bukan ekspresi dan tingkah ketika dia ingin melindungi Aulia karena merasa Aulia dalam bahaya. Ini lebih kompleks. Dan kalau asumsi gue benar, kali ini Saizou melibatkan orang lain.” Setyo menatap Satria dan Kayla bergantian. “Andini, pacar Austine sekaligus sahabat dekat Aulia.”