SEPULUH

1912 Words
Crap!             Nyaris saja Setyo mengumpat kasar ketika dia melihat Aulia juga baru sampai di depan pagar rumahnya. Cowok itu berdeham untuk menetralisir kegugupan yang tiba-tiba saja datang mendera, tapi tindakannya itu justru memancing perhatian Aulia. Dia menoleh dan menatap datar rivalnya tersebut.             “What?” tanya Aulia.             “Hah?”             Aulia menarik napas panjang dan bersedekap. “Kenapa tadi lo ehem-ehem nggak jelas begitu? Mau apa? Mau ngapain? Ngapain manggil-manggil gue?”             Setyo mengangkat satu alis dan ikut bersedekap seperti Aulia. “Dih, geer banget jadi cewek. Gue tadi itu berdeham, membersihkan tenggorokan gue yang agak kering, itu aja. Siapa yang bilang gue tadi ehem-ehemin elo?”             Aulia hanya diam. Cewek itu memicingkan mata dan melirik ke sekitar Setyo. Tidak ada motor. Berarti, Setyo pergi ke kantor hari ini tidak membawa kendaraannya. Kenapa? Apa cowok itu sedang tidak enak badan? Lalu kenapa? Apa hubungannya dengan dia kalau rival resenya itu sedang tidak enak badan dan tidak membawa kendaraannya?             Tanpa membalas kalimat Setyo, Aulia memutar tubuh dan bersiap masuk ke dalam rumahnya, ketika dia merasa lengannya ditahan. Dia menoleh sekilas dan bertatapan dengan Setyo yang memberinya tatapan tegas.             “Now, what?”             “Mm, itu... anu, gue—“             Kening Aulia mengerut. “Anunya elo? Ih! Lo jadi manusia super m***m dan b******k sekarang ya, Mas Setan?!”             “Hah? Nggak! Nggak! Lo benar-benar sembarangan banget kalau ngomong, ya? Disaring dulu, Ul.”             “Ul?!”             “Nama lo. Ul. Dari Aulia. Disingkat Ul.”             “Lama-lama lo minta dibunuh, Mas Setan. Nama gue Aulia. Call me Aulia! Not Aul, not Ul. Aulia!”             “Lah elo manggil gue Mas Setan gue biasa aja, nggak protes. Masa lo boleh manggil gue dengan nama sebutan aneh bin jelek begitu, sedangkan lo marah kalau gue panggil Ul?”             Aulia mengerang frustasi dan mencoba melepaskan lengannya yang ditahan oleh Setyo. Gagal. Cekalan itu begitu kuat dan kokoh, seperti berhadapan dengan dinding yang tidak bisa digeser atau dijatuhkan begitu saja.             “Kenapa lo malah balas kata-kata gue, sih?” protes Aulia. Kini cewek itu melotot dan menghadapkan tubuhnya ke arah Setyo.             “Oh, itu kemampuan gue sejak SMA, Ul. Sejak gue mengenal lo dan berhadapan dengan lo, kemampuan itu mulai tumbuh dan berkembang pesat seiring berjalannya waktu. Thanks to you, Ul.”             “Arrgh! Stop calling me that! I hate that name!”             “Jadi, lo maunya dipanggil apa sama gue? Sayang?”             Aulia mengerjap. “EXCUSE ME?!”             “You heard me, sweetheart.” Setyo tersenyum puas dan mengedipkan sebelah matanya. Ini sangat menyenangkan. Semuanya mencair begitu saja hanya karena perdebatan tidak karuan ini dan Setyo sangat lega karenanya. Jujur saja, dihindari oleh Aulia dan atmosfer di sekitar mereka menjadi sangat canggung sejak kejadian malam itu sangat mempengaruhi dirinya dan membuatnya uring-uringan.             “You are really out of your mind! Just go to hell and rotten in there, you pervert!”             Bukannya marah, Setyo justru terbahak. Hatinya yang tadi sempat kesal akibat cerita Satria mengenai pernyataan cinta sahabatnya itu untuk Aulia, sekarang meringan begitu saja. Setyo sendiri tidak tahu, entah seberapa besar pengaruh kehadiran Aulia bagi akal, kehidupan terutama hatinya. Dia seperti sebuah boneka yang dikendalikan oleh kehadiran cewek itu.             Kemudian, Setyo menarik lengan Aulia yang sejak tadi ditahannya, membawa tubuh mungil cewek itu ke arahnya. Tubuh mereka bertabrakan. Aulia terkesiap dan membelalak, sedangkan Setyo menyeringai. Dinikmatinya ekspresi terkejut Aulia.             “Hei, Aulia,” kata Setyo dengan penekanan kata pada nama cewek itu. “Kalau gue seorang cowok m***m seperti yang lo tuduhkan barusan, gue akan langsung membawa lo detik ini juga ke rumah gue, kamar gue dan gue akan dengan senang hati menindih lo di kasur.”             Lagi, Aulia terkesiap. Cewek itu bersiap memaki Setyo, namun Setyo telah lebih dulu melepaskan tubuh Aulia sehingga rivalnya itu terkejut dan mundur beberapa langkah ke belakang. Ketika Aulia berhasil mendapatkan keseimbangan tubuhnya lagi, cewek itu mengerang frustasi dan meniup anak rambutnya yang menutupi wajah.             “Sinting! Sakit jiwa! Kalau gue tadi jatuh gimana?! Mau tanggung jawab, hah?!”             Setyo mengedikkan bahu. “Belum gue apa-apain kok udah minta tanggung jawab? Gue apa-apain dulu sini, baru gue rela dan bersedia tanggung jawab.”             “Setyo!”             “Iya?”             Aulia mengerang lagi dan mendongak untuk menatap langit malam sambil berkacak pinggang. Bisa-bisa, dia terkena hipertensi karena harus berhadapan dengan manusia rese macam Setyo Rajawali. Lalu, Aulia mendengar namanya dipanggil. Cewek itu menoleh dan mematung.             “Irgi?” panggil Aulia dengan nada pelan nyaris berbisik. “Ngapain lo di sini?”             Sementara itu, Setyo mengerutkan kening dan meneliti keseluruhan fisik cowok yang tadi dipanggil Irgi oleh rivalnya itu. Dia berusaha mengingat-ingat, kapan dia pernah bertemu dengan cowok bernama Irgi ini karena Setyo merasa familiar. Lalu, saat Setyo bisa mengingat kapan dan di mana dia pernah bertemu dengan Irgi, cowok itu sudah bersuara.             “Gue sama Eri putus karena gue sadar kalau gue sebenarnya menyukai lo lebih daripada seorang sahabat.”             Dan Setyo pun mengumpat kasar di dalam hati.             Baru juga berkurang satu saingan gue, sekarang muncul lagi yang baru! ### Saizou melempar kunci mobilnya ke atas meja.             Cowok itu menarik kursi dan menghempaskan tubuhnya di sana. Wajahnya datar, tatapannya dingin dan rahangnya mengeras. Suasana hatinya benar-benar kacau karena mimpi buruk yang selalu menimpanya beberapa malam belakangan ini. Keramaian di kafe ini pun tidak bisa mengurangi kekacauan dan kekesalan hatinya akibat terus teringat akan mimpi buruknya.             “Mau pesan apa, Mas?” tanya pelayan yang datang ke meja Saizou.             Cowok itu melirik sekilas. Dia bisa melihat gestur tubuh si pelayan yang terlihat tidak nyaman akibat tatapannya saat ini. Setelah menyebutkan minuman yang dia inginkan dan si pelayan pergi dari hadapan, Saizou kembali larut pada pikirannya.             Meskipun almarhumah mamanya memberi pesan untuk tidak membenci keluarganya, tapi Saizou tidak bisa. Tidak, setelah apa yang papanya lakukan pada beliau dan dirinya. Selama ini, Saizou selalu menahan diri untuk tidak kelepasan menyakiti keluarganya secara fisik. Oh, jangan tanyakan berapa banyak rencana pembunuhan yang tersusun rapi di otaknya hanya untuk sekedar membalaskan dendam. Tapi, karena selalu teringat pesan almarhumah mamanya, Saizou meredam semuanya. Jadi, yang dia lakukan hanyalah melampiaskan rasa benci dan dendam itu dalam bentuk lain.             Merebut semua milik Setyo Rajawali.             Ayolah, apa kalian percaya bahwa orang jahat memang terlahir jahat? Tentu saja itu tidak benar. Semua bayi yang lahir ke dunia itu bersih dan suci dari dosa. Di saat beranjak dewasa, mereka dihadapkan pada pilihan yang akan membawanya kepada pahala atau dosa. Kalau mereka memilih kebaikan, maka hidupnya akan damai dan tentram. Mereka akan mendapatkan pahala. Tapi, kalau mereka memilih kejahatan, sudah bisa dipastikan dosa akan mengikuti setiap langkahnya.             Begitu juga dengan dirinya.             Saizou ingat dulu dia adalah anak yang sopan dan baik hati. Dia tidak pernah jahat kepada orang lain. Hidupnya bahagia bersama papa dan mamanya. Tapi, tiba-tiba saja dia dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa dirinya memiliki adik tiri. Adik cowok yang usianya tiga tahun lebih muda daripada dirinya. Adik tiri yang langsung mengambil seluruh dunianya, termasuk kasih sayang papanya sendiri.             Dia ingat, waktu itu orang tuanya bertengkar hebat. Mamanya menangis dan terus bertanya ‘kenapa’ kepada papanya. Dia mengintip dari celah pintu dan menoleh saat pundaknya disentuh pelan. Ketika melihat senyuman lembut dan tatapan penuh kasih yang diberikan oleh ibu dari adik tirinya tersebut, Saizou tidak bisa membalasnya. Meskipun Saizou tahu dari lubuk hatinya yang paling dalam bahwa wanita itu baik.             Lalu, mamanya menjelaskan secara perlahan kepada dirinya yang waktu itu masih berumur sepuluh tahun. Bahwa Setyo adalah adik tirinya. Anak dari papanya dan wanita baik hati yang selalu memberikan senyuman lembutnya tersebut. Saizou hanya diam ketika diberikan penjelasan dan sudah mengerti. Papanya menikah lagi tanpa sepengetahuan mamanya dan kejadian itu sudah lama terjadi.             Kemudian, mamanya mulai sakit-sakitan. Saizou yang tadinya periang, setelah kejadian itu berubah pendiam dan sifatnya menjadi sedikit dingin. Dia mengurus mamanya dan tidak menerima bantuan siapa pun. Tidak dari wanita baik hati itu begitu juga dari papanya sendiri. Bahkan Setyo yang ingin membantu pun tidak pernah dia gubris. Saizou selalu bersikap dingin kepada Setyo, mengeluarkan kata-kata pedas dan menyakitkan untuk adiknya tersebut.             Ketika mamanya meninggal dunia, Saizou sudah duduk di bangku SMP tahun terakhir. Dia semakin tidak tersentuh oleh orang lain. Hanya menatap datar dan kosong ke arah foto mendiang mamanya. Memberikan tatapan dingin dan tajam kepada semua orang, terlebih pada Setyo dan mamanya yang ikut bersedih atas kepergian beliau. Saat itulah, Saizou bersumpah akan merampas semua hal milik Setyo dan tidak akan membiarkan cowok itu bahagia.             Meski begitu, dia tetap teringat pesan mendiang mamanya untuk tidak membenci dan menyakiti Setyo juga mamanya. Tapi, Saizou tidak bisa menuruti keinginan terakhir beliau. Itu terlalu berat untuknya. Walau begitu, dia berusaha sebisa mungkin bersikap ‘normal’ kepada mama Setyo. Dia memasang topeng malaikat di wajahnya ketika berhadapan dengan mamanya Setyo, begitu juga di hadapan Setyo sendiri dan di belakang keduanya, Saizou selalu mencari celah untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.             “Topeng malaikat lo terlepas, Kak Saizou.”             Saizou tersadar dari lamunannya dan mendongak. Kursi di hadapannya ditarik dan seseorang duduk di sana. Tersenyum dingin, Saizou melipat kedua tangannya di depan d**a dan memberikan tatapan merendahkannya.             “Ngapain lo di sini?”             “Ini tempat umum dan kebetulan gue melihat lo tadi. Jadi, gue putuskan untuk menghampiri. Siapa tau gue akan mendapat traktiran?”             Saizou mendengus dan mengaduk minumannya. “Memata-matai gue mungkin maksudnya.”             “Yang benar aja. Emang, Setyo berani bayar gue berapa sampai-sampai bisa menyuruh gue untuk memata-matai lo?”             Saizou tertawa dan menggeleng. Cowok itu bersandar dan mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sesuatu yang sudah diremas dengan kuat, tapi orang di hadapan Saizou masih bisa melihatnya dengan jelas. Selembar foto. Foto seorang cewek cantik dengan senyuman manisnya. Foto yang entah didapatkan Saizou dari mana, tapi mengingat teknologi sudah canggih, pastinya tidak sulit mencari foto cewek tersebut.             Foto Aulia Sistine.             “Dia yang paling sulit di antara semua teman ceweknya Setyo.”             Orang di hadapan Saizou tersenyum dan mengangguk mantap. “Emang. Dia cewek yang tegas dan kuat pendiriannya. Dia nggak akan mudah terpengaruh dengan berita nggak penting tanpa membuktikannya terlebih dahulu dengan kedua matanya.”             “Karena itu, gue mau menjebak Setyo dan membiarkan Aulia melihatnya secara langsung dengan kedua matanya sendiri. Bahwa adik gue tersayang itu adalah cowok b******k yang bahkan nggak pantas untuk berteman dengan cewek sebaik dia. Gue yakin, begitu Aulia menjauh darinya, Setyo akan hancur. Gue yakin, tanpa Setyo sadari, dia sebenarnya sudah jatuh cinta sama Aulia Sistine.”             Orang di depan Saizou hanya diam. Ini menarik. Dia ingin tahu sejauh mana rencana yang akan dilakukan oleh Saizou untuk melibatkan Aulia. Apakah Aulia akan termakan semua yang dilakukan oleh Saizou atau cewek itu justru lebih mempercayai nemesisnya sejak SMA tersebut.             “Gue akan menonton.”             “Lo nggak akan mencegah gue? Bukannya lo sahabat terbaik adik gue?”             Satria tersenyum misterius dan bersedekap. Tatapannya sulit diartikan. “Nah, itu hanya di depan orang-orang. Sebenarnya, gue udah muak sama semua sikap sok baik dan sok pedulinya itu. Apalagi, dia juga memang mulai jatuh cinta sama Aulia.”             Saizou mengangkat satu alisnya. “Lo menyukai Aulia?”             “Sangat.” Satria tertawa dan menatap foto Aulia Sistine di atas meja. “Dan gue akan melakukan apa pun untuk mendapatkan Aulia Sistine.”       Teaser Enemies With Benefit #11-Disaster! Saizou VS Austine   “Gue suka sama cewek lo.”             Austine hanya diam dan menatap tajam Saizou yang dia kenali sebagai kakak dari Setyo Rajawali. Cowok itu menarik kerah kemeja Saizou kuat, hingga membuat Saizou meringis dan menahan batuknya namun tetap memberikan seringaiannya. Seringaian yang mengejek Austine.             “Silahkan lo mencoba merebut Andini dari gue dan gue akan pastikan lo mendekam di neraka selamanya, Saizou Rajawali.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD