Di kantor besar milik Tae Min, seorang gadis sudah datang lebih awal ke kantor. Gadis itu sedang menikmati sandwich buatan ibunya. Gadis bernama Bae Yoo Ra itu merupakan sekretaris dari Kim Tae Min.
Brak!
Tiba-tiba, seseorang menendang pintu kantor seraya tertawa mengejutkan Yoo Ra. Gadis itu sampai menyemburkan isi makanan dalam mulutnya ke tubuh lawan bicaranya.
"Cih, jorok sekali kau ini!" seru Seok Jin rekan kerja Tae Min yang sebenarnya menyukai Yoo Ra. Hanya saja gadis itu sebenarnya memendam perasaannya pada Tae Min.
"Oppa, kenapa kau suka membuatku terkejut?" sentak Yoo Ra.
"Maafkan aku ya cantik. Ini aku bawakan ginseng untukmu." Seok Jin menepuk lembut kepala gadis itu.
"Wah, wah, kalian pagi-pagi sekali sudah bermesraan seperti ini?" Tae Min datang mengejutkan lalu meledek kedekatan para anak buahnya itu.
"Maaf, Bos, tadi Seok Jin oppa masuk begitu saja sambil menendang pintu. Saya kan jadi terkejut," ucap Yoo Ra membela diri.
"Wah, apa-apaan itu malah menyalahkan aku seenaknya," sahut Seok Jin.
"Ah, sudahlah, aku sedang tak ingin ribut denganmu!" Yoo Ra bangkit menyambut Tae Min yang merebahkan bokongnya di kursi kerja miliknya.
"Hahaha, kalian lucu sekali," ucap Tae Min yang memandangi ponselnya. Sudah dari kemarin ponsel milik Vanesha itu tak bisa dihubungi.
"Bos, hari ini ada jadwal mengunjungi pabrik otomotif karena akan dilakukan pemotretan untuk peluncuran produk mobil terbaru," ucap Yoo Ra mengingatkan jadwal atasanya.
Tae Min masih saja termenung memandangi foto gadisnya yang cantik.
"Oke, kalau begitu aku harus ikut!" sahut Seok Jin.
"Ta-tapi, untuk apa Oppa ikut?" Yoo Ra langsung mendelik melirik pria di sampingnya.
"Kalau aku bilang ikut ya ikut!" Seok Jin menatap genit ke arah Yoo Ra sampai gadis itu tak bisa membantah lagi.
Tae Min masih saja diam termenung.
"Tae Min, apa yang terjadi?" Seok Jin menyentak sahabatnya itu.
"Oh, tentu saja, kau boleh ikut." Tae Min menjawab seraya mengetuk ponselnya di dagu.
"Kau berada di sini, tetapi hatimu berada di tempat lain." Seok Jin menepuk bahu Tae Min.
"Aku hanya memikirkan–"
"Vanesha, kan? Nanti aku bantu untuk cari tau. Ayo, kita ke pergi ke Wang Corporation.
Akhirnya tepat pukul sepuluh pagi, Tae Min dan Seok Jin pergi. Yoo Ra juga mengikuti langkah dua pria itu menuju mobil milik kantor.
"Suruh dia duduk di sampingku, aku tak mau dia duduk di depan!" titah Seok Jin pada sang sopir yang membukakan pintu mobil di bagian belakang jaguar hitam itu.
"Siapa juga yang mau duduk di samping Anda, cih!" lirih Yoo Ra meledek dengan mendengkus kesal saat sopir itu membukakan pintu mobil untuknya.
"Hahaha, kalian ini memang terlihat saling cinta ya?" Tae Min gantian meledek.
Yoo Ra dan Seok Jin hanya bisa saling menatap. Lalu, gadis itu lebih menoleh mengamati jendela.
Satu jam kemudian, mereka sampai di Wang Corporation, anak perusahaan milik ayahnya Tae Min di bidang otomotif. Rupanya manajer perusahaan itu sudah menunggu bersama seorang wanita bernama Min Yu Ki. Ia sedang mencari model gadis belia untuk dijadikan bintang iklan produk otomotif terbaru yang dikhususkan untuk kaum muda milenial.
"Selamat datang Tuan Kim Tae Min, senang akhirnya bisa bertemu dengan Anda secara langsung dan bisa langsung juga bekerja sama dengan Anda," sapa Tuan Min Yu Gie seraya menjabat tangan Tae Min.
"Terima kasih, Tuan Yu Gie, saya juga senang bekerja sama dengan Anda," jawab Tae Min.
Pria dengan rambut keriting dan menggunakan kaca mata itu juga memperkenalkan putrinya yang bernama Min Yu Ki tadi pada Tae Min. Mereka saling menjabat tangan lalu kemudian, pandangan wanita itu mengarah pada sosok gadis yang berdiri di belakang sang bos.
"Wah, cantik juga gadis di belakang Anda, benar- benar wajah baru yang pas untuk ikut audisi produk mobil terbaru nanti," ucap Yu Ki saat melihat Yoo Ra.
Seorang pria dengan gaya gemulai menghampiri Yu Ki.
"Bagaimana kalau kita minta dia untuk daftar, Nona Yu Ki?" tanya pria gemulai itu.
"Aku setuju, daftarkan saja dia!"
Yu Ki menunjuk ke arah Yoo Ra yang langsung kebingungan.
"Aku? daftar apa?" tanya gadis itu tak mengerti.
"Itu!"
Pria gemulai itu menunjuk pengumuman iklan mencari model gadis belia pada layar besar di hadapannya. Seok Jin angsung tertawa dengan ide yang menurutnya konyol barusan.
"Kenapa kau malah tertawa?" tanya Yoo Ra menatap pria di hadapannya itu kini dengan pandangan sinis.
"Ya, habisnya kau lucu, bagaimana mungkin gadis sepertimu bisa menjadi model, hahahaha," sahut Seok Nin masih menertawakan ide konyol itu.
"Hei, kalian ini!" Tae Min menepuk tangannya di antara dia orang yang masih berdebat itu.
"Memangnya ada masalah, Tuan Tae Min?" tanya Yu Ki.
"Mereka ini lucu, kan?" tunjuk Tae Min.
"Tae Min, lihat saja Yoo Ra! Tuh, dia itu tak secantik mereka, tubuh mungilnya itu bukankah terlihat jelek?" Seok Jin masih saja meledek wanita yang disukai itu.
"Baiklah, aku akan mendaftar," ucap Yoo Ra dengan yakin seolah menantang Seok Jin.
"Yoo Ra, kau—" Seok Jin sampai mendelik.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita mulai audisinya!" ajak Yu Ki meraih tangan Yoo Ra.
"Lho, apa-apaan ini?" Seok Jin malah tak mengerti karena Yoo Ra begitu saja menurut dan melangkah mengikuti Yu Ki dan asisten yang gemulai itu.
"Nah, kalau begitu, ayo kita berbincang mengenai produk mobil yang baru, nanti setelah para model siap, kita ikuti jalannya pemotretan," ucap Tuan Yu Gie mengajak Tae Min menuju ke ruangannya.
"Tuan Yu Gie apa aku bisa–" tanya Seok Jin.
"Kau mau mengawasi Yoo Ra, kan? Tentu saha kau bisa," potong Tae Min seraya meremas bahu Seok Jin dan tertawa.
*
Satu jam kemudian, Yoo Ra berhasil lolos edisi. Ia langsung berganti pakaian dengan para model. Wajahnya juga sudah diberi tata rias yang mempercantik gadis itu. Seok Jin dan Tae Min sempat menatap tak percaya ke arah sang sekretaris yang wajahnya berubah drastis. Namun, rasa ego Seok Jin terlalu besar untuk mengakui kecantikan gadis itu, ia malah menggoda para model lainnya.
Setelah melihat Yoo Ra melakukan pemotretan, Tae Min pergi ke ruangan yang sudah disiapkan untuknya. Aneka makanan dan kopi sudah disiapkan, tetapi bukan yang sesuai dengan yang pria itu mau.
"Apa Yoo Ra belum selesai ya? Seok Jin, aku ingin kau membelikan kopi kesukaanku," ucap Tae Min.
"Oke, Bos!"
Tae Min sampai tertidur saat merebahkan tubuhnya di sofa. Tak lama kemudian, Yoo Ra masuk ke ruangan tersebut saat atasanya sedang duduk di sofa dengan mata terpejam. Gadis itu mendekat ke pria tersebut dan memandangnya lebih dekat.
"Dia tampan sekali," gumam Yoo Ra. Gadis itu nekat ingin memberi kecupan pada pria yang sudah dua tahun ini dia sukai.
Kedua mata Tae Min langsung terbuka mengejutkan gadis itu, ia lalu menatap Yoo Ra.
"Apa yang mau kau lakukan, mau menggodaku, ya, atau berbuat kurang ajar kepadaku?" tanya Tae Min yang bercanda dengan menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya
"Percaya diri sekali Anda, Bos. Tapi, apa boleh aku menggoda Anda?" tanya Yoo Ra.
Timbul rasa berani untuk bertindak genit pada Tae Min. Gadis itu maju lebih dekat ke arah pria itu. Kedua tangan gadis itu mengunci pria itu saat meletakkan di atas sofa bagian sandaran kepala.
"A-apa yang akan kau lakukan, Yoo Ra?" tanya Tae Min yang mendadak mulai salah tingkah.
"Menggodamu, Tuan Tae Min. "
Kedua tangan Yoo Ra kini mendarat di bahu sang atasan. Belahan d**a gadis itu sempat terlihat karena gadis itu masih menggunakan mini dress dengan belahan d**a yang rendah. Wajah gadis itu mulai mendekat. Dia segera menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
Gadis itu menurunkan kedua tangan Tae Min dari bibirnya dengan tangan kanannya. Sementara tangan kiri sang gadis mulai berpindah ke pipi pria itu. Kini, tangan Yoo Ra mulai memajukan wajah si pria mendekat ke wajahnya.
Detak jantung Yoo Ra sebenarnya sudah berdetak lebih kencang. Jantungnya terasa melompat keluar dari rongga dadanya kala wajah tampan itu makin membuatnya gila. Kedua hidung mereka sudah bertemu.
Yoo Ra sudah membayangkan seorang Tae Min langsung menyerang leher mulusnya. Pria itu lalu menghisap dan menggigitnya di wilayah yang berbeda. Gadis itu berteriak kesakitan dan mencoba memberontak. Namun, saat bibir pria itu mulai mendarat melumat bibirnya, mendadak ada perasaan yang berbeda.
Saraf di otak gadis itu mulai gila. Bahkan saraf-saraf itu malah memerintahkan Yoo Ra untuk diam dan menikmati sensasi lumatan yang diciptakan Tae Min. Kedua mata pria itu lantas terperanjat kala sang sekretaris mendadak membalas ciumannya.
Kedua tangan Yoo Ra yang tadinya berusaha memberontak, mulai melemah. Gadis itu malah melingkarkan kedua tangannya di leher Tae Min. Tiba-tiba, suara seseorang masuk melalui pintu ruangan itu membuyarkan lamunan jalan Yoo Ra yang sedang b******u dengan Tae Min.
"Wow, pemandangan macam apa ini. Apa-apaan ini, apa yang sedang kalian lakukan itu?"
Hardik Seok Jin yang datang membuka pintu dan melihat adegan tangan Yoo Ra melingkar di leher Tae Min. Pria itu mengucap dengan nada kesal dan tatapannya langsung sinis.