Bab 14 - Nathan dan Jane

1287 Words
“Seok Jin! Tunggu aku, jangan salah paham dulu!” Tae Min langsung mengejar rekannya itu untuk menjelaskan. Yoo Ra duduk di sofa dengan perasaan kecewa yang berkecamuk dan bercampur dengan malu. Dia tetap tagk akan bisa mendapatakan Tae Min yang selalu setia pada Vanesha. “Tunggu, dengarkan dulu penjelasanku. Apa yang kau lihat itu hanyalah salah paham.” Tae Min menarik tangan Seok Jin. “Halah, cepat atau lambat kau pasti akan tergoda dan bertekuk lutut pada Yoo Ra. Seharusnya kau tahu kalau Yoo Ra menyukaimu. Dia tak pernah suka padaku!” bentak Seok Jin. “Percayalah Seok Jin, aku hanya mencintai Vanesha.” “Baiklah, aku akan percaya ke padamu kali ini.” * Sebulan berlalu, Nathan akhirnya menerima keberadaan Vanesha sebagai adiknya. Mereka satu ibu tetapi beda ayah. Keduanya juga sudah akrab satu sama lain demi menjaga ibunya. Vanesha juga menceritakan hal tersebut pada Tae Min. Betapa senangnya pria itu kala saingan yang selama ini dia takutkan berada di sekitar kekasihnya, ternyata adalah kakak dari Vanesha sendiri. Paling tidak hati Tae Min merasa lega dalam menjalani hubungan long distance relationship Bersama Vanesha. "Sudah siap semua?" tanya Nathan pada Jane dan Vanesha. "Sudah, Kak!" jawab Jane dan Vanesha bersamaan. Mereka sudah menjadi sahabat dekat yang baik sejak peristiwa Vanesha yang keracunan makanan karena ulah Jane. Mereka bergegas mengikuti langkah panjang Nathan ke ruang pertemuan untuk mengadakan rapat tentang penerima anak magang baru di rumah sakit itu. Vanesha sengaja membuat Nathan dan Jane untuk duduk berdampingan di ruang pertemuan yang luas itu. Terlihat sang kakak memimpin rapat dengan tegas, jelas, dan terarah. Mereka mengoreksi kesalahan penerimaan murid magang tahun lalu dengan kata-kata yang singkat dan jelas. Pertemuan itu akhirnya selesai tepat jam makan siang. Hanya Jane dan Vanesha yang masih bertahan Bersama Nathan setelah para anggota rapat keluar. Dua gadis itu hendak membuat notulen rapat. "Belum beres, Jane?" tanya Nathan menatap gadis yang masih fokus pada laptopnya sambil mengetik. "Sedikit lagi, Kak. Kalau Kak Nathan sudah lapar, silakan duluan saja, aku akan menyelesaikan ini sebentar." Jane tersenyum ke arah Nathan sekilas, lalu kembali focus pada layer laptop-nya. Tiba-tiba, Nathan bangkit dan berdiri di belakang Jane. Pria itu ikut mengamati apa yang Jane lakukan dan fokus menatapa ke arah laptop milik gadis itu. Jane terkejut dan sedikit kaget menoleh ke belakang. Gadis itu langsung tampak kikuk. Vanesha merasa dirinya seperti pengharum ruangan di antara Nathan dan Jane, akhirnya memutuskan untuk keluar mengendap-endap agar kakaknya dan juga Jane tidak menyadari kepergiannya. "Sini aku bantu!" Tiba-tiba saja Nathan meraih kertas coret-coretan Vanesha tentang hasil rapat karena Jane bertugas untuk mengetiiknya. Nathan membaca kertas itu dan menyebutkan poin-poin rapat dan tanya jawab yang berlangsung pada rapat tadi. Harum segar Hugo Boss menyeruak memenuhi rongga hidung Jane saat Nathan mulai membantu mendiktenya. Gadis itu merasakan bulu kuduknya meremang. Ya ampun, kenapa Kak Nathan sedekat ini? Duh, mau pingsan rasanya. "Huufftt!" Jane mengembuskan pelan napasnya. Gadis itu mencoba menetralisir jantungnya yang berdegub kencang sedari tadi kala berada begitu dekat dengan Nathan. Pria itu setengah membungkuk dan tangannya bertumpu pada meja. Setelah detak jantungnya kembali pada ritme normal, gadis itu kembali fokus Bersama Nathan di sampingnya. Sebenarnya bukan pekerjaannya yang sulit, hanya saja keberadaan Nathan membuat jantungnya berdegup kencang tak menentu. Apalagi harum Hugo Boss yang maskulin makin membuat nafsu cintanya menyeruak. Jane merasa jantungnya seakan keluar jatuh dari rongga dadaanya. “Akhirnya selesai juga. Terima kasih, Kak Nathan." Jane mengangkat wajahnya tepat pada saat Nathan dengan spontan menundukkan wajahnya hingga pandangan mata mereka saling bertemu. Pria tampan itu membeku menatap bibir sensual wanita yang tampak tersenyum di hadapannya. Nathan tanpa sadar mendekatkan wajahnya ke wajah teman adiknya itu yang kini ada di bawah wajahnya. Nathan membawa dagu Jane mendekat dan mendaratkan kecupan di bibir merah merekah itu. Awalnya Jane terkejut tetapi sesuatu yang sudah lama dia tunggu itu akhirnya datang juga. Mereka saling berpagut dan melumat dengan panas. Tangan kekar Nathan bahkan mulai menjelajah di tubuh gadis itu tanpa ampun. Dia menaikkan tubuh Jane ke atas meja untuk melanjutkan cumbuan panas dan liar itu. Tak! “Ma-maafkan saya, Pak, saya pikir ruangan ini sudah tak ada siapapun makanya saya mau membersihkannya,” ucap petugas janitor di rumah sakit itu mengejutkan Nathan dan jane. Keduany langsung terkejut dan tertawa Ketika mereka tertangkap basah b******u di ruang pertemuan itu. " Emh. Kita keluar saja, Kak,” lirih Jane. “Baiklah, kita susul Vanesha untuk makan siang di luar,” ajak Nathan. Keduanya lantas beranjak keluar setelah membereskan berkas di meja. " Sini, biar aku yang bawa laptop itu!” pinta Nathan menawarkan diri. Ternyata, tanpa menunggu jawaban jawaban dari Jane. Nathan langsung mengambil tas berisi laptop yang dijinjing oleh Jane. "Biar saya saja, Kak.” Jane merasa tak enak hati. “Sudah menurut saja, mulai sekarang semua barangmu aku yang bawa.” Sontak saja pernyataan Nathan langsung membuat Jane mabuk kepayang. "Terima kasih, Kak Nathan." “Jane tersenyum tulus. “Mulai sekarang, kau boleh memanggilku saying.” Nathan mengedipkan kelopak mata kirinya pada gadis itu. Jane tidak menjawab. Tetapi. Kedua kaki rampingnya terasa lunglai kala mendengar kata “sayang” dari bibir Nathan. Keduanya kemudian berjalan beriringan ke menuju area parker. Vanesha sudah menunggu keduanya sedari tadi. Lalu keluar kembali untuk makan siang. * “Apa yang terjadi, kalian lama sekali tau!” keluh Vanesha. “Sudah masuk saja ke mobil. Oh iya, Vanes, hari ini ulang tahun ibu kita harus buat pesta kejutan untuknya,” ucap Nathan. “Okay, Kak!” Vanesha menoleh pada Jane yang masih tersenyum-senyum sendiri. “Apa yang terjadi, Jane?” tanya Vanesha berbisik pada sahabatnya itu. “Kak Nathan.” “Ada apa dengan Kak Nathan, aku lihat dia baik-baik saja,” tutur Vanesha. “Dia … dia menciumku, Vanesh! Aahhhh senangnya hatiku!” pekik Jane sampai semua pengunjung yang ada di area parker menoleh. Sontak saja Nathan langsung melukiskan rona merah menahan malu di wajahnya. “Astaga Kak Nathan dan Jane, kalian ….” Vanesha menunjuk kea rah Jane dan Nathan bergantian seraya tersenyum menggoda keduanya. “Sudah sudah sudah, ayo masuk ke dalam mobil!” seru Nathan yang tak ingin lebih malu lagi kala itu. * Malam itu setelah merayakan ulang tahun ibunya dengan pesta barbeque, Nathan dan Jane duduk bersama di beranda belakang rumahnya. Vanesha sengaja menarik tangan ibunya untuk segera pergi ke dapur menjuahi pasangan yang sedang dimabuk cinta itu. Nathan sempat berdehem saat menoleh pada Jane. Harum parfum gadis itu terasa sangat manis dan menenangkan yang seolah menyapa penciuman pria itu dengan penuh menggoda. “Hai, Kak!” sapa Jane yang merasa kikuk dan takt ahu harus mengatakan apa. “Hai, Jane, eh wangi parfummu kenapa jadi manis seperti ini? Membuatku ingin menghirupnya lagi dan lagi.” Penuturan Nathan lagi-lagi membuat Jane mabuk kepayang. Nathan makin merasa gemas. Apalagi melihat wajah bengong Jane saat mendengar penuturannya. "Kak Nathan ini kenapa, sih? Akhir-akhir ini suka sekali menggodaku?” tanya Jane saking tidak percayanya mendengar ucapan Nathan. "Kau mau kan jadi kekasihku?" tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari bibir Nathan. Karena sesudah aku mengatakannya, pria itu sendiri terkejut dan shock. What the hell? Apa yang sudah kukatakan ini? Nathan sampai menutup wajahnya sendiri. “Tentu saja aku mau, kenapa kau tanyakan itu, hahahaha!” Jane langsung memeluk Nathan menghamburkan tubuhnya masuk lebih dalam ke pelukan dadaa bidang milik pria pujaannya itu. Dari balik jendela, Vanesha dan ibunya sudah berjingkrak dan bersorak berulang-ulang saking senangnya melihat Jane dan Nathan. “Duh, aku jadi sangat merindukan Tae Min,” ucap Vanesha. Suara bel pintu terdengar. Nyonya Gisel meminta Vanesha untuk membuka pintu itu. “Surprise!” Suara pria yang lantang dan Vanesha sangat hapal itu terdengar membahagiakan untuknya. “Sayang, kenapa kau tak bilang akan berkunjung ke sini?” Vanesha langsung memeluk Tae Min dengan erat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD