Hari itu terasa menyenangkan bagi Vanesha maupun Tae Min. Untuk pertama kalinya mereka berdua berbincang santai tanpa batasan setelah hubungan jarak jauh setahun belakangan ini. Sayangnya, Nathan tak mengizinkan Tae Min menginap. Dia sengaja membuat kekasih adiknya itu kesal.
Akhirnya, Tae Min menginap di hotel bintang lima yang dekat dengan kawasan rumah Vanesha dan keluarganya itu. Malam itu rasa lelah sudah menghinggapi keduanya setelah lelah kencan dan berjalan-jalan mengunjungi tempat kencan terbaik di kota itu.
Vanesha masih tersenyum-senyum sendiri di kamarnya. Rupanya Tae Min bersungguh-sungguh mencintainya karena rela menempuh perjalanan jauh demi ingin bertemu dan mengenal keluarganya lebih dekat.
*
Tae Min menghubungi sekertarisnya Yoo Ra. Gadis itu akhirnya mau membuka hati dan menjadi lebih dekat dengan Seok Jin.
"Terima kasih untuk kalian, Yoo Ra dan Seokjin yang sudah menggantikan pekerjaan saya sampai lembur begitu," ucap Tae Min yang sedang melakukan video call bersama dengan Yoo Ra dan Seok Jin.
"Tenang saja, Bos! Jam berapa di sana sekarang?" tanya Seok Jin.
"Ummm, sekitar hampir jam sepuluh malam," sahut Tae Min.
"Wah, di sini justru jam sepuluh siang. Maaf ya Boss, saya mau mengatakan hal yang jujur," ucap Yoo Ra.
"Apa yang hendak kau tanyakan?" tanya Tae Min.
"Begini, Bos, maaf ya sebelumnya. Tolong maafkan saya sebelumnya karena membahas gaji dan bonus. Saya juga kalau tak ditanya para karyawan tak akan berani bicara seperti ini. Saya juga tak pernah berani untuk menjelek-jelekan Anda le karyawan yang lainnya," ucap Yoo Ra terlihat bingung.
"Apa yang sih yang ingin kalian bicarakan itu. Lagipula aku juga tau kalian tak pernah menjelek-jelekkan aku, tetapi tiap hari kalian bergosip tentang saya sama teman-teman kalian, iya kan?" Tae Min tersenyum masam.
"Hahaha, kau tak usah khawatir Tae Min," sahut Seok Jin.
"Toh, saya sudah tahu sudut pandang kalian melihat saya. Oke, saya mau berusaha berubah agar kalian tidak bisa bergosip tentang saya lagi. Mereka ingin bonus dipercepat dan naik gaji, kan?" tuding Tae Min.
Yoo Ra dan Seok Jin saling menatap lalu keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Nah, apa hal itu bisa terjadi?" tanya Seok Jin.
"Nanti aku usulkan saat rapat dewan direksi. Aku mau istirahat dulu," ucap Tae Min menutup sambungan video call itu.
*
"Sayang, ayo makan malam. Kok, belum mandi juga?" tanya Nyonya Gisel yang tiba-tiba sudah berdiri di samping ranjangnya dan mengejutkannya.
"Ya ampun, Ibu … kenapa kau mengejutkan aku? Iya nih baru saja aja mau mandi. Tadi Vanes sudah makan malam bersama Tae Min, Bu."
Vanesha bergegas bangun dari ranjangnya.
"Jelas saja kau terkejut, kau sedari tadi malah tak menyadari kalau Ibu sudah masuk ke sini. Kau dari tadi itu sedang melamun sambil senyum-senyum sendiri. Sayang, ayo cerita ke Ibu. Bagaimana hubungan mu dengan Tae Min, apa kalian akan segera menikah? " tanya Nyonya Gisel yang memberondong putrinya dengan banyak pertanyaan.
"Aduh, Ibu ini. Jangan berpikir yang aneh-aneh ke arah sana, deh! Kami masih sangat muda dan rasanya aku juga belum siap untuk menikah," ucap Vanesha yang berusaha menyangkal karena gadis itu masih trauma dengan pernikahan.
"Ada apa, Nak, apa kau ragu untuk menikahi Tae Min? Apa keluarganya menyebalkan? Apa ibu mertuamu nanti juga menyebalkan? Awas saja kalau ibu mertua mu nanti sampai berani menyakitimu," ucap Nyonya Gisel dengan geram.
"Tenanglah, Bu, Nyonya Han Na itu baik sekali. Dia akan menjadi ibu mertua terbaik di dunia. Begitu juga dengan ayahnya Tae Min. Mereka keluarga yang harmonis dan sempurna. Hanya saja aku masih takut dengan pernikahan," sahut Vanesha seraya meringis.
Nyonya Gisel terdengar mendesah. Dia tahu kalau putrinya pasti masih takut dengan pernikahan yang gagal seperti pernikahan dirinya. Kala itu, dia tak lagi memaksa Vanesha untuk menikah.
Setidaknya ada Nathan yang sudah dekat dengan Jane. Mereka juga sedang jatuh cinta. Pasti tak lama lagi keduanya akan menikah. Nata hati seorang ibu tak bisa dibohongi. Nyonya Gisel yakin kalau Jane akan menjadi menantu yang baik di rumah itu.
*
Keesokan harinya, Tae Min datang lagi untuk menjemput Vanesha di rumahnya. Dia membawa sendiri mobil miliknya. Ternyata, pria itu juga punya anak cabang perusahan di negara yang sama dengan Vanesha tinggal.
Belum apa-apa Nyonya Gisel sudah heboh menyambut Tae Min. Ada seorang pria tampan kaya raya yang bertamu ke rumah dan mencari Vanesha tepat di hadapan ibu-ibu tetangga. Para wanita paruh baya itu sampai terpana melihat Tae Min.
"Wah, kau tak salah memilih seorang menantu, Gisel," ucap wanita dengan rambut keriting itu.
"Iya, dong!" sahut ibunya Vanesha dengan bangga.
"Wah, selera putri mu benar-benar tinggi. Pantas saja putaku tak mampu menarik perhatian Vanesha," ucap si rambut keriting.
"Hahaha, apa benar begitu? Padahal dulu aku pikir putra tampan mu itu dapat menaklukkan hati putri ku, tapi yang ini memang istimewa, sih," ucap Gisel.
"Halo, para nona cantik!" sapa Tae Min menggoda para ibu yang sedang bergosip tentangnya.
"Hehehe, Nak Tae Min bisa saja. Kau pasti ke sini mau bertemu Vanesha, kan?" tanya Nyonya Gisel.
"Kalau mau bertemu Anda, boleh kan?" Tae Min mengedipkan satu kelopak matanya.
"Woaahh, kau makin membuatku gerah saja. Ayo, silakan masuk dulu. Ibu akan panggilkan Vanesha." Nyonya Gisel mempersilakan Tae Min masuk.
Pria itu sempat melambaikan tangannya dan membuat para nyonya di halaman itu menjerit kegirangan bagaikan seorang fans yang mendapat lambaian tangan idolannya. Tae Min lalu duduk di atas sofa empuk dalam rumah itu. Sementara sang ini berlalu untuk segera memanggil Vanesha.
Nyonya Gisel mengetuk pintu kamar Vanesha. Dia berseru kalau Tae Min sudah datang. Gadis itu segera bergegas merapikan pakaian yang dia kenakan. Dia juga berdandan natural tetapi masih memperlihatkan aura kecantikannya.
Hari itu dia dan Tae Min akan pergi ke sebuah taman dan juga bioskop untuk menonton film. Karena hanya jalan santai dan nonton, Vanesha hanya mengenakan blouse nyaman tanpa lengan dengan bawahan rok jeans sebatas lutut. Blouse yang dia kenakan dipadukan dengan jaket jeans. Dia juga memakai sneaker putih yang makin mempercantik busana yang dia kenakan saat itu.
Gadis itu kemudian memoleskan lagi lipstik di bibirnya. Dia lantas menyisir rambut panjangnya dan membiarkan rambut indahnya terurai begitu saja. Tak lupa ia raih tas mungil yang langsung dia isi dengan dompet kartu, bedak cushion, pemulas bibir, dan tisu basah berukuran mini serta ponsel ke dalam tas itu.
"Aku siap, Bu!" seru Vanesha seraya bergegas ke ruang tamu. Dari jauh dilihatnya Tae Min yang sedang duduk berbincang-bincang dengan ibunya. Sesekali keduanya tertawa bersama entah apa yang dibicarakannya.
Makin mendekat, Vanesha kemudian berhenti ketika Tae Min menatapnya tak berkedip. Hal itu sering dilakukan oleh si pria karena terus terpesona oleh kecantikan Vanesha. Begitu juga dengan gadis itu yang sama mematung di tempatnya berdiri. Sesaat seakan detik jam dinding terhenti saat kedua insan itu saling menatap satu sama lain.
Vanesha juga selalu melihat kekasihnya itu tampak jauh lebih muda dan tampan dengat out fitnya kala itu. Kemeja biru muda dengan motif garis yang bagian lengannya digulung hingga siku di pasukan dengan celana jeans yang senada dengan yang Vanesha kenakan.
Di kepala Tae Min juga ada topi baseball yang membuatnya jauh berbeda dari kesehariannya di kantor yang selalu tampak serius dan dingin.
"Ah, tampan sekali kekasih ku ini," puji Vanesha.