"... Gadis aneh itu sengaja memamerkan kedekatannya dengan Lynx setelah mengatakan bahwa dia adalah calon istrinya. Bila dia memang percaya diri bahwa dia bisa menjadi istri Lynx suatu saat nanti, mana mungkin dia mengatakan hal itu padaku sebanyak 3 kali."
"Dia bahkan selalu ingin mengambil tempat duduk di samping Lynx. Saat di mobil pun aku sempat ingin berpindah tempat duduk di jok depan, tapi Lynx melarangku. Aku tidak dapat membayangkan apa yang telah dikatakan oleh ayah Lynx pada anaknya kemarin sehingga Lynx mau tidak mau menerima kehadiran gadis aneh itu di sampingnya terus menerus."
"Tapi anehnya... mulai dari kejadian makan siang, gadis aneh itu mulai mendekatiku. Apakah dia tidak lagi mencurigaiku, apakah dia memilih mengganti strateginya untuk bisa mengamati gerak-gerik ku, ataukah alasan lainnya. Masih banyak yang kupikirkan, tapi aku yakin gadis aneh itu tidak seumur dengan kami. Aku masih ingat aku melihatnya di televisi sekitar 3 tahun lalu dan wajah dan badannya tidak berubah hingga sekarang. Sungguh aneh bila fashion seorang artis sepertinya tidak berubah saat berumur 13 tahun dan 16 tahun."
"Dan... andai saja kamu melihat sikapnya, Mom... dia memintaku menunggu saat ia menghabiskan makan siangnya dan bahkan membuatku menemaninya memakan 5 jenis kue yang dipesannya hingga bel istirahat selesai. Yang menyebalkannya Lynx dengan santainya membiarkan kami berdua......"
Setelah entah berapa menit aku bercerita panjang lebar non stop dengan emosi yang meluap Ibu tidak dapat menahan tawanya. Setelah Ibu sadar bahwa aku berhenti berbicara, ia berusaha menutup mulutnya dengan tangan walaupun aku tahu gestur badannya masih memperlihatkan tawa.
"Maaf... Awalnya aku merasa sepertinya anakku sedang jatuh cinta saat membicarakan seorang gadis seksi yang membuat banyak laki-laki terpana. Tapi pada akhirnya ceritamu akan kembali pada satu orang itu. Aku tertawa karena sudah mengabaikan instingku yang mengatakan bahwa ceritamu pasti berujung pada Lynx kembali," kata Ibu membuatku mengerenyitkan dahi.
"Sebegitukahnya aku tidak mempunyai kehidupan lain selain tentang Lynx?" tanyaku setelah aku berusaha mencerna perkataan Ibu dalam beberapa detik.
"Ya, begitulah," jawab Ibu sambil meneguk habis sisa air putih dalam gelasnya. Mendengar keyakinan nada dalam jawaban Ibu membuatku terdiam untuk berpikir lebih lanjut. Suasana makan malam yang awalnya berisik akan cerita panjangku kini terasa canggung karena suasananya tiba-tiba berubah menjadi hening. "Kadang kala kamu hanya perlu berhenti berpikir dan menanyakan hatimu sendiri, Rui."
Ibu memandangku dengan senyuman yang berbeda dari biasanya. Bukan senyuman setengah bibir menaik yang ambigu tapi Ibu tersenyum sepenuh hati dengan sorot mata yang teduh. Karena pemandangan ini jarang kulihat, aku sedikit terpana dengan aura kecantikan yang dipancarkan oleh Ibu.
"Tapi tetap saja...."
"Bahkan belum 5 detik dari perkataanku barusan, kamu sudah memakai kembali otakmu," kata Ibu menghentikan kalimatku dengan telapak tangan yang diarahkan ke depan wajahku. Raut wajah Ibu langsung berubah menjadi kecewa. Matanya menyipit. Alisnya mengerut. "Berhentilah menganalisa."
"Ini tidak adil.... bahkan aku harus menganalisa dulu semua perkataanmu sebelum melakukan apa yang kamu suruh, Mom!" kataku dengan suara seperti orang merengek. Ibu beranjak dari tempat duduknya, membereskan semua peralatan makan yang ada di meja dan mulai mencucinya dalam diam. Aku mengamati semua kegiatan yang dilakukan oleh Ibu tapi ia seakan tidak memberikan ruang untukku bicara.
Berhenti berpikir? Berhenti menganalisa? Mana bisa. Bahkan untuk mencerna perkataan Ibu saja aku harus berpikir.
Menanyakan hatiku? Maksudnya apa yang kurasakan saat membicarakan Vanilla dan Lynx? Aku tidak nyaman karena Vanilla sangat menggangguku. Kenapa ada perasaan tidak nyaman? Hal apa yang menggangguku sehingga perasaanku menjadi tidak nyaman?
"Aku merasa tidak nyaman saat Lynx menyembunyikan sesuatu dariku kemarin dan aku tidak nyaman dengan kehadiran Vanilla hari ini. Maksudmu aku harus mempertanyakan perasaan tidak nyaman itu?" Penjelasanku kali ini berhasil membuat Ibu menghentikan kegiatannya. Kami berdua pun saling berpandangan.
"Ya, betul. Selama ini kamu selalu memikirkan apakah hal ini logis apakah hal itu logis atau tidak. Tapi kamu tidak pernah mempertanyakan.... apakah yang di sini merasa sakit atau tidak," kata Ibu dengan ucapan lembut sambil menaruh tangan kanannya di dadaku. "Bila saat itu kamu merasa tidak nyaman, pertanyakanlah kenapa kamu tidak merasa nyaman. Bukan hanya mempertanyakan apakah tindakan orang lain itu logis atau tidak."
Saat aku mulai mengerti arti dari perkataan Ibu sedikit demi sedikit, tiba-tiba saja handphone yang berada di atas meja makan bergetar dan mengeluarkan cahaya dari layarnya. Nama Lynx tertera di tengah layar dilengkapi dengan 2 tombol berwarna merah dan hijau di bagian bawahnya.
"Aku menerima telepon dulu, Mom." Ibu membalas ucapanku dengan senyuman dan memberikan beberapa kali tepukan ringan pada kepalaku. Lalu aku menggeser tombol berwarna hijau di layar handphone sambil beranjak dari dapur menuju kamarku di lantai 2. "Aku baru beres makan malam. Maaf belum sempat membalas pesan darimu," kataku sambil menempelkan layar handphone pada telinga kiriku.
Aku bisa membayangkan secara persis wajah Lynx sedang terdiam dengan sorot matanya yang intens seakan-akan aku sedang bertatap muka dengannya saat ini. "Sedang bercakap-cakap dengan ibumu?" tanya Lynx dengan jeda pendek setelah aku menginisiasi percakapan.
"Ya. Kami mengobrol cukup panjang. Sebelumnya aku harus mempersiapkan makan malam jadi belum sempat mengecek isi handphone," kataku secara spontan memberikan alasan walaupun tidak diminta. Aku sudah berada di depan pintu kamarku dan selama aku membuka pintu hingga aku duduk di kursi dalam kamar tidak ada suara yang keluar dari speaker handphoneku. "Ada apa, Lynx?"
"Aku hanya khawatir kejadian hari ini membuatmu tidak nyaman, tapi sepertinya kamu sudah menumpahkannya pada ibumu." Perkataan Lynx membuatku cukup kaget. Dua orang terdekat dalam hidupku bisa menilai bahwa aku tidak baik-baik saja, sedangkan aku tidak pernah berpikiran seperti itu selama ini. Setidaknya sampai dua orang mengingatkanku hari ini.
"Ibuku mengatakan hal yang kurang lebih sama denganmu. Coba tolong berikan aku petunjuk dengan spesifik sebenarnya apa yang bisa membuatku tidak nyaman."
"Karena mungkin aku bisa saja meninggalkanmu." Kini giliranku yang terdiam cukup lama. Perkataan Ibu muncul di benakku kembali. Sebenarnya apa yang kurasakan
saat ini? "Aku pernah mengalami hampir ditinggalkan olehmu dan hal itu benar-benar membuatku tidak nyaman."
"Maksudmu... saat aku sakit waktu itu?" Lynx tidak menjawab pertanyaanku tapi tidak ada hal lain yang berkaitan dengan apa yang dikatakan oleh Lynx saat ini selain saat aku tidak masuk sekolah selama beberapa hari.
Saat aku berumur 9 tahun, aku tidak boleh keluar kamar oleh Ibu karena sedang demam tinggi. Saat itu pertama kalinya Lynx harus menahan diri tidak bertemu denganku setelah selama 2 tahun kami bertemu hampir setiap hari. Untuk anak seumuran kami saat itu, sangat wajar bila Lynx tidak menjengukku dan memilih untuk diam di rumahnya. Tapi saat itu ia bersikeras untuk datang ke rumahku, menunggu di ruang tamu berjam-jam hingga akhirnya Ibu menyerah dan mengizinkannya masuk ke kamarku.
Selama demam tinggi itu badanku sangat lemas, jadi tidak terlalu ingat apa saja yang kami bicarakan. Tapi satu hal yang tidak mungkin kulupa adalah ekspresi wajah Lynx yang awalnya berusaha tegar hingga terisak-isak di pinggir ranjangku. Ibu mengatakan ia duduk di samping ranjang sambil memegangi tanganku selama berjam-jam sementara aku tertidur kembali. Setelah aku sembuh, aku sempat menanyakan pada Lynx mengapa ia sampai menangis seperti itu saat aku sakit. Lynx menjawab kalau ia sangat takut aku mati dan meninggalkannya.
"Tapi kan kondisinya sangat berbeda antara waktu kita masih kecil dan sekarang," kataku menemukan kejanggalan atas perbandingan kondisi yang dibuat oleh Lynx.
"Kenapa berbeda?"
"Ya tentu saja berbeda! Waktu itu kan kamu berpikir aku mungkin akan mati, jadi wajar bila merasa ditinggalkan. Kali ini kan berbeda... Jadi sebenarnya gadis aneh itu benar-benar calon istrimu atau bukan sih? Bahkan kamu membiarkan kami makan berdua, pastilah alasannya karena kamu tidak ingin terganggu oleh gadis itu. Tidak mungkin kan kalau kamu ingin menghindari calon istrimu sendiri?"
"Kamu masih bersikeras tidak merasa akan ditinggalkan tapi bahkan kamu masih ragu-ragu. Ckckck...." Lynx berdecak dengan kerasnya dengan tujuan ingin memojokanku saat ini.
"Lagipula bila gadis aneh itu memang calon istrimu, toh aku masih bisa menemuimu kan?"
"Lagi-lagi ada keraguan dalam kata-katamu."
"Sebenarnya apa sih yang terjadi? Kenapa ayahmu tiba-tiba datang ke rumahku kemarin? Kenapa gadis aneh itu tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa ia adalah calon istrimu? Kenapa semuanya tidak ada yang aku ketahui? Kenapa..."
"Hei, Rui." Suara bass dari Lynx menghentikan semua pikiran dan emosiku yang sedang menyembur keluar dari sumbernya. "Aku telepon untuk memastikan hal ini. Ternyata kamu memang tidak baik-baik saja."
"Ya....," jawabku singkat sambil menghela nafas dengan panjang.
"Dengarkan aku..." Terdapat jeda yang cukup panjang sebelum Lynx melanjutkan kalimatnya. "Ada yang mengancam ayahku dengan mengatakan bahwa ia akan membeberkan rahasia keluarga Olivine kepada publik. Semua kerabat dari masing-masing anggota keluarga, semua pegawai yang bekerja untuk perusahaan dan keluarga kami telah dijadikan tersangka oleh ayahku. Mungkin ibumu belum mengatakannya padamu, tapi ayahku juga sudah mendatangi ibumu sebelum bertemu denganmu kemarin." Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Dua hari ini aku tidak menyadari bahwa selama aku bercerita pada Ibu tentang berbagai masalah yang terjadi padaku sebenarnya ia sedang menutupi masalah yang sama supaya tidak membuatku lebih khawatir.
"Ayahmu mencurigai ibuku juga? Lalu apa yang dia dapatkan dari ibuku?"
"Tidak ada. Karena ibumu pernah bekerja dengan ayahku, ayahku cukup memercayai ibumu. Lalu tempat di mana banyak orang yang bisa dicurigai lagi adalah sekolah kita. Dan Vanilla diutus untuk mengawasi gerak-gerik orang yang berada di sekitarku."
"Dengan mengatakan bahwa ia calon istrimu?" Lagi-lagi jeda yang panjang. Aku mulai tidak sabar dengan jawaban dari Lynx dan mulai meracau. "Setidaknya aku harus tahu kalau gadis itu benar-benar calon istrimu atau tidak. Jika benar ia calon istrimu.... berarti... aku akan mencoba berteman dengannya... ya... mungkin kamu benar, suatu saat nanti masing-masing dari kita berdua akan mempunyai pacar dan... saling meninggalkan... aku... hanya cukup terkejut karena ke khawatiranku terjadi secepat ini," kataku dengan gugup dan suara terbata-bata. Untung saja aku mengatakannya lewat telepon karena aku pasti akan terlalu malu untuk berhadapan langsung dengan Lynx saat ini.
Pada awalnya aku mengira sambungan telepon kami terputus, tapi saat aku melihat handphone tidak ada yang berubah dari layarnya selain angka pada waktu telepon yang berubah setiap detik. Dan 1 menit pun berlalu tanpa ada percakapan di antara aku dan Lynx.
"Halo? Lynx, kamu masih di sana?"
"Ya...," jawab Lynx singkat sambil berdeham.
"Apakah barusan suaraku tidak terdengar?"
"Tidak, aku mendengarnya."
"Masih tidak mau menjawabnya? Ya... sudahlah..."
"Sebentar, Rui. Aku hanya masih terpana karena kamu sangat jujur mengenai kekhawatiranmu itu." Perkataan Lynx kembali membuatku gugup dan kali ini aku memilih untuk diam sebelum mengeluarkan perkataan-perkataan lain yang lebih membuatku malu. "Andai saja saat ini aku bisa ke rumahmu sekarang juga," kata Lynx dengan volume yang sangat kecil sehingga terdengar seperti gumam untuk dirinya sendiri.
"Sebentar... kamu ingin ke rumahku..?"
"Vanilla sangat lihai memutar balikkan fakta bila seseorang berniat mengancamku di depan umum saat berada di sekolah. Dan satu-satunya jalan baginya untuk tetap selalu berada di dekatku adalah dengan berpura-pura menjadi orang yang paling dekat denganku," kata Lynx mengabaikan pertanyaan remehku dan memberikan jawaban dari pertanyaan yang selama ini kutunggu-tunggu.
"Ah... baiklah... pantas aku tidak melihatnya sebagai orang yang hanya basa-basi belaka. Tapi apakah aku juga masih dicurigai sebagai tersangka?"
"Iya. Sebaiknya Vanilla tetap mengawasimu juga supaya tidak ada konflik kepentingan saat ia melaporkan informasi pada ayahku."
"Mengenai rahasianya... kamu belum mau mengatakannya juga, Lynx?" Pertanyaanku membuat Lynx terdiam kembali. Aku pun tidak perlu mengecek handphoneku karena mulai terbiasa dengan keheningan yang cukup lama ini.
"Maaf, Rui. Aku tahu hal ini juga membuatmu tidak nyaman. Tapi aku tidak boleh salah mengambil langkah perihal rahasia ini karena akan beresiko tinggi yang kemungkinan belum bisa aku tangani."
"Tidak apa-apa... aku hanya terlalu sering mempertanyakannya dalam kepalaku. Setidaknya aku tahu sekarang bahwa kamu tidak bisa memberitahukannya padaku karena resikonya tinggi," jawabku sambil tersenyum walaupun lawan bicaraku tidak bisa melihatnya. "Sepertinya aku harus berterima kasih pada ibuku karena dia menyuruhku untuk mendengarkan kata hatiku."
"Kata hati?"
"Iya... aku tidak menyangka bahwa dengan mengatakan apa yang membuatku tidak nyaman justru bisa membuatku lega, walaupun tetap tidak mengetahui semua hal yang ingin kuketahui."
"Ibumu pasti sangat mengerti dirimu."
"Ya, tentu saja. Ibuku pernah mengatakan bahwa saat mengobrol denganku ia seperti melihat cerminan dirinya di masa lalu. Oleh karena itu dia tahu apa yang kubutuhkan saat aku mendapat masalah."
Perbincanganku dengan Lynx di telepon malam ini telah menggantikan waktu kebersamaanku dengan Lynx yang hilang karena kedatangan Vanilla di pagi hari tadi. Aku tidak menyangka bahwa aku bisa sebegitu khawatirnya akan kehilangan teman baik ku sendiri seperti sekarang.
Selama ini aku berusaha mengabaikan perasaanku dan tidak mengatakannya pada Ibu karena aku tahu bahwa Ibu adalah orang yang paling kehilangan akan banyak hal. Keluarga Ibu tidak menyetujui pernikahan Ibu dengan Ayah, sehingga dari aku lahir hingga saat ini aku dan Ibu belum pernah sekali pun bertemu dengan keluarga Ibu. Ayah dan keluarganya pun menghilang dan tidak pernah mencariku dan Ibu, seakan kehadiran kami tidak pernah ada dalam benak mereka.
Aku merasa aku harus menjadi orang yang kuat untuk Ibu, sehingga aku tidak mengandalkan perasaanku sama sekali selama ini. Aku berpikir bahwa aku harus mengerti suatu saat aku juga akan ditinggalkan oleh kedua orang yang paling dekat denganku selama ini yaitu Ibu dan Lynx. Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa hal kecil seperti kedatangan Vanilla bisa memicu kekhawatiran yang selama ini terpendam.