"Ibuku pulang malam hari ini," kataku sambil mengunci pintu rumahku dan menyalakan lampu utama lantai 1. Lalu aku menyusul Lynx yang sudah melepaskan sepatunya terlebih dahulu dan menukarnya dengan sendal rumah yang berada di rak samping pintu.
Aku mengambil langkah duluan untuk menaiki tangga menuju kamarku dan Lynx mengikutiku dari belakang. Begitu sampai di lantai 2, terdapat koridor pendek sebesar 5 x 2 meter dengan 2 pintu yang berdampingan. Satu menuju kamarku dan 1 lagi menuju kamar mandi.
Saat membuka pintu kamarku, cahaya matahari masuk dari jendela kamar dan menyinari sebagian kamarku sehingga aku tidak perlu menyalakan lampu. Sebuah meja belajar terletak pada sisi ruangan yang mempunyai jendela. Di seberang meja belajar terdapat lemari baju dan pada dinding sebelah kiri dari pintu kamar terdapat sebuah televisi berukuran 40 inchi yang ditopang oleh bracket.
Pada sisi yang berjauhan dengan pintu kamar terdapat sebuah ranjang berukuran 200 x 200 cm yang memenuhi hampir 1/2 dari kamar ini. Tentu saja ukuran tempat tidur untuk 2 orang itu diperuntukkan supaya baik aku maupun Lynx bisa tidur dengan nyaman bila Lynx menginap di rumahku.
Bagiku dan ibuku, Lynx sudah seperti salah satu bagian dalam rumah ini. Tidak aneh kalau terdapat bagian lemariku yang berisi pakaian dalam hingga seragam sekolahnya. Bahkan perlengkapan mandi hingga perlengkapan tidur pun sudah tersedia untuk Lynx. Ehem.... Maksudku perlengkapan tidur adalah selimut. Lynx tidak bisa memakai selimut ringan berbahan bulu yang kupakai, jadi kami juga menyediakan selimut tebal bahan kain yang selalu terbungkus rapih di saat Lynx tidak menginap.
Setelah menaruh tas dan melepas blazer, aku menyalakan televisi, duduk di lantai kayu, lalu bersandar pada dipan. Jari jempolku menekan tombol pada remote berkali-kali sambil mengamati perubahan gambar di layar telivisi. "Tidak ada yang menarik," gumamku sambil bergantian melihat layar televisi dan Lynx yang sedang memposisikan diri untuk duduk.
Beberapa saat kemudian terdengar suara hembusan nafas yang berat dari sebelah kiriku. Aku melihat ke samping dan mendapati Lynx sedang memejamkan mata, mengerutkan dahi dan mengepalkan tangan hingga gemetar. Sejak makan siang tadi hingga sekarang ternyata Lynx berusaha keras menyembunyikan emosinya. Aku pun cukup terkejut dengan ekspresinya saat ini karena sesulit apa pun masalah yang dia hadapi Lynx biasanya tetap bisa mempertahankan sikapnya yang tenang dan wajah yang tanpa ekspresi.
"Aku ambilkan minuman...," kataku sambil menepuk bahu kanan Lynx. Baru saja kakiku menekuk untuk beranjak dari tempat duduk, Lynx menarik tangan kiriku dengan cukup kuat. Dengan pijakan kaki yang tidak terlalu seimbang, badanku pun ikut tertarik dan hampir menimpa sosok yang berada di depanku.
Tangan kananku yang bersentuhan dengan lantai dan kedua kaki yang tertekuk menandakan aku sedang berusaha menahan badanku supaya tidak menimpa badan Lynx. Sedangkan tangan kiriku yang masih digenggam erat oleh Lynx membuatku tidak bisa bergerak bebas saat memilih posisi untuk mendaratkan diri. Sudah susah payah aku menjaga jarak supaya tidak bersentuhan, Lynx malah menarik punggungku ke arahnya dengan tangan kanannya saat aku berusaha beranjak dari posisi itu. Dengan tenaganya yang luar biasa besar, mau tidak mau tangan kananku tidak dapat menopang lagi dan kini badanku sudah berada tepat di atas badan Lynx.
"Seperti ini sebentar saja," kata Lynx dengan suara yang berat dan pelan terdengar persis di samping telinga kiriku. Aku berusaha melepaskan badanku sekali lagi, tapi tangan Lynx cukup kuat untuk menahannya.
Aku bisa mendengarkan tarikan nafas yang bergetar dari Lynx. Hembuskan nafasnya pun terdengar tersendat seperti sedang menahan emosi yang hampir tidak terkontrol. Kepalaku menghadap ke arah yang berlainan dengan Lynx sehingga aku tidak tahu seperti apa ekspresi Lynx saat ini. Apa yang ia pikirkan sampai memeluk teman sesama jenisnya seperti ini?Mungkin hari ini memang terasa berat baginya, tapi tetap saja... kenapa harus aku?
Walaupun masih merasa ganjil, perlahan-lahan aku berusaha menyesuaikan posisi ini dengan tetap diam karena Lynx tidal membiarkan badanku banyak bergerak. Detik demi detik berlalu dan nafas Lynx berangsur normal. Sebelum Lynx melepaskan tangannya dari pinggangku, ia mengambil nafas panjang dan hembusan nafas dari mulutnya sampai mengenai daun telingaku.
Setelah dapat menggerakkan badan dengan leluasa, spontan aku segera berdiri dari posisi yang menurutku aneh ini. Pandanganku dan Lynx sempat bertemu sesaat lalu Lynx mengalihkan wajahnya. "Aku ambil minuman dulu," kataku dengan nada kesal.
Aku melangkahkan kaki dengan kebingungan mengingat adegan yang terjadi barusan. Ah.... dia pasti sudah gila. Apa sih yang dia pikirkan? Apakah dia sudah tidak waras? Apakah terjadi sesuatu hingga ia hilang kewarasan? Apakah kepalanya terbentur tembok dengan keras saat berada lama di toilet?
Entah berapa kali aku menggelengkan kepala seiring pertanyaan demi pertanyaan yang terpikirkan selama perjalanan menuju dapur. Bila monolog pada pikiranku diterjemahkan ke dalam sebuah chat, sepertinya pertanyaan yang aku ajukan pada diri sendiri sudah melebihi 1 layar handphone.
Aku mengambil gelas kosong dari rak cuci piring, mengisinya dengan air mineral lalu meneguknya dengan cepat. Bukan hanya Lynx yang ingin menenangkan diri, tapi aku juga butuh menenangkan diri darinya. Kuputuskan untuk memejamkan mata, menarik nafas panjang dan menghembuskannya lalu mengulangnya berkali-kali hingga perasaanku lebih tenang.
"Aaaaakh!" teriakku saat membuka mata dan wajah Lynx sudah berada 15 cm di depan wajahku. Baru saja perasaanku lebih stabil, sekarang jantungku malah berdetak dengan sangat cepat karena adrenalin yang meningkat. Dengan wajah tanpa ekspresinya, Lynx mengambil gelas dari tanganku dan meminumnya.
"Lama sekali kamu mengambil minuman," kata Lynx dengan nada datar. Selain bingung dengan kejadian aneh di kamarku, aku pun bingung bagaimana caranya Lynx bisa kembali pada kondisi normalnya setelah melakukan hal yang menurutku tidak lazim dilakukan sesama laki-laki.
"Kamu ini ya.... apa sih yang kamu pikirkan?" tanyaku tidak habis pikir terhadap makhluk tanpa ekspresi yang berada di depanku.
"Aku memikirkan terlalu banyak hal tapi bisa kembali tenang karenamu. Thanks," kata Lynx sambil mendekati dispenser untuk mengisi ulang gelas yang dipegangnya.
"Lynx... Aku bisa melihat dari tingkahmu kalau hari ini kamu mendapatkan masalah yang besar, tapi tetap saja memeluk sesama jenis itu tidak lazim. Apakah..." Aku tiba-tiba saja menghentikan kalimatku karena melihat sebuah tatapan mata tajam dari kedua iris yang berwarna coklat tua persis dari arah depanku.
"Apa yang membuatmu berpikir mendapat pelukan dariku itu merupakan hal yang tidak lazim?" tanya Lynx dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya. Aku bisa merasakan keseriusan dari sorot matanya yang seakan menembus ke dalam bola mataku dan membuatku lupa berkedip dalam beberapa detik. Bahkan dengan pandangan Lynx seperti itu aku tidak bisa berpikir hal lain selain menjawab pertanyaannya.
"Aku... hanya merasa aneh dan ingin melepaskan diri dari pelukanmu itu segera..." jawabku beberapa saat setelah mereka ulang adegan yang terjadi di kamarku dan berusaha merasakan kembali apa yang terjadi. Tidak sabar menunggu penjelasanku yang lain, Lynx mendekati tempatku berdiri tanpa sedikit pun melepas pandangan ke arah mataku. Mataku sempat menghindari mata Lynx saat ia berada pada jarak yang semakin dekat, tapi Lynx tiba-tiba memegang bahu kiriku dan pandanganku refleks berbalik ke arahnya kembali.
"Rui.... Apa yang tadi kita lakukan itu tidak salah, kamu hanya tidak terbiasa. Sama seperti orang-orang yang tidak terbiasa melihat kita berdua bersama," kata Lynx berusaha meyakinkanku. Aku menelan ludah dan berusaha mengangguk untuk merespon perkataan Lynx. Lynx pun tersenyum. Ia menepuk bahuku lalu meneguk isi gelas yang berada di tangan kanannya.
Aku mengangguk karena perkataan Lynx sebenarnya masuk akal. Di luar lazim atau tidaknya berdasarkan norma sosial yang berlaku saat ini, memeluk teman baikmu sendiri bukan merupakan hal yang salah. Bahkan sesama perempuan berpelukan adalah hal yang lazim. Jadi bila dikaitkan dengan kesetaraan gender, seharusnya tidak salah jika sesama laki-laki saling berpelukan apalagi bila disebabkan oleh suatu masalah yang berat. Tapi mengapa sampai saat ini masih ada perasaan yang mengganjal dalam diriku?
Pandangan mataku mengikuti pergerakan Lynx yang sedang membuka kulkas di dapur dan mencari sesuatu. Melihat wajah Lynx yang tenang dari samping, aku mulai merasa bahwa mungkin saja perasaanku yang salah. Aku menggelengkan kepala sebagai tanda untuk berusaha melupakan perasaan tidak enak yang tidak kunjung hilang lalu menyusul Lynx yang sedang berjongkok di depan kulkas.
"Yang paling baru saja, sisanya akan kuberikan pada orang lain," kataku mengambil 1 kotak tiramisu yang terletak paling depan di antara 5 kotak tiramisu yang ada.
"Kalau kamu yang membuatnya aku akan membawa pulang semua kotaknya," kata Lynx sambil memerhatikan 1 per 1 kotak tiramisu di depan wajahnya. "Kecuali yang ini." Lynx menunjuk 1 buah kotak tiramisu yang sangat berantakan yang berada di pojok kanan.
"Ya....itu percobaan pertama. Whipped cream nya diaduk terlalu lama hingga komponen air dan minyaknya sudah terpisah dan mencair kembali. Aku sedang berusaha menghabiskannya dan sisanya mau aku berikan kepada petugas minimarket," kataku sambil menggaruk-garuk pelipisku yang tidak gatal.
Aku menoleh ke arah kanan karena sepertinya Lynx sedang memerhatikanku bicara. Lynx tersenyum lalu menepuk-nepuk kepalaku dengan tangan kirinya. "Nice effort, Rui. Aku akan tetap membawa semuanya kecuali 1 itu," kata Lynx beranjak dari posisinya sambil mengambil box tiramisu dari tanganku.
Lynx sudah 2 kali tersenyum pada hari yang sama. Apakah sebentar lagi dunia akan kiamat? Gumamku dengan pertanyaan retoris yang hiperbola karena senyuman Lynx terlalu langka bagiku.
Lynx menaruh box tiramisu di atas meja kayu, menarik kursi dari meja makan dan duduk dengan manis sambil memerhatikan kue di depan matanya. Seperti para influencer dari bidang perkulineran, Lynx mengutak atik posisi dari kotak kue dan mengecek cahaya yang pas untuk studio foto dadakannya. Sementara Lynx sibuk dengan kegiatannya, aku memilih duduk di seberang tempat duduknya dalam diam.
"Buat apa difoto kalau rasanya belum tentu enak?" tanyaku setelah Lynx selesai menghasilkan foto yang dirasa cukup baginya. Karena Lynx seorang yang perfeksionis, tidak aneh kalau untuk menghasilkan 1 foto yang dapat diterima saja bisa membutuhkan waktu lebih dari 5 menit.
"Karena tiramisu ini adalah hasil usahamu berhari-hari," jawab Lynx yang membuatku spontan mengucapkan terima kasih karena mempertimbangkan usaha yang telah kulakukan. "Tentu saja Rui seseorang yang mengikutiku ke mana pun ia pergi. Ia menemaniku dari samping, bukan dari belakang," kata Lynx sebelum ia mengambil suapan pertama dari tiramisunya dengan sendok kecil yang sudah kusediakan di atas meja.
"Kamu... benar-benar mendengarkan perkataan Kai tadi siang," kataku setengah terkejut karena ternyata Lynx memang marah saat Kai menginformasikan isu yang terjadi di antara aku dan Lynx. Lynx mengangguk sambil mengunyah kue.
"Sebenarnya rasanya ok, tapi kurang rich. Hanya ada rasa manis dan gurih, kopinya pun hampir tidak terasa," kata Lynx sudah seperti juri pada kontes masak. Aku berusaha mencatat komentar demi komentar yang diutarakan Lynx dalam pikiran. Dan setelah Lynx selesai mencicipi kue buatanku, aku berusaha memanfaatkan momen dengan mengutarakan pemikiranku yang mengganjal.
"Dan... hal lain yang membuatmu sampai marah?" Akhirnya aku bisa mengeluarkan pertanyaan ini setelah menahan untuk tidak menanyakannya beberapa kali sebelum ini.
"Apakah aku tampak seperti marah?" tanya Lynx dengan wajah tanpa ekspresinya. Aku juga sudah menduga jawaban seperti ini jadi aku sudah mempersiapkan jawaban yang netral.
"Aku hanya mendapati sikapmu yang tidak biasa. Ya, mungkin juga aku memang belum terbiasa dengan sikapmu itu," kataku mengutip kata-kata Lynx sebelumnya saat membicarakan tentang lazim atau tidaknya sesama laki-laki berpelukan.
"Ya itu memang kata-kata darimu." Perkataan Lynx membuatku memutar bola mata untuk berpikir. Kenapa ia jadi membalikkan kata-katanya kembali? Atau... kapan ya aku pernah mengatakan hal itu? Sebelum aku mencoba menggali pikiranku lebih dalam, Lynx sudah melanjutkan kalimatnya. "Ayahku hanya mencoba ikut campur pada urusan pribadiku. Mungkin ia akan melakukan hal-hal yang aneh untuk beberapa hari ke depan." Lynx akhirnya menjawab pertanyaanku walaupun ia sempat mengelak seakan bisa membaca pikiranku bahwa aku memang benar-benar membutuhkan penjelasan ini.
"Seperti mengurungmu di rumah selama liburan?" kataku dengan memberikan contoh nyata dari pengalaman yang terjadi beberapa tahun ke belakang. Selama aku dan Lynx berteman, ada beberapa periode di mana Lynx sama sekali tidak bisa ditemui karena ia diperintahkan oleh ayahnya untuk berada di rumahnya selama 1 minggu hingga 2 bulan. Aku tidak bisa bertemu dengan Lynx pada periode-periode itu seakan ia harus berpulang ke rumahnya yang berada di negeri entah berantah, padahal kedua rumah dan sekolah kami berada di kota yang sama. Dan sejujurnya aku belum pernah masuk ke rumah keluarga Olivine. Aku hanya bisa melihat pemandangan tanaman pagar dari gerbang pintunya yang sangat tinggi dan megah.
"Bukan itu. Mungkin ayahku akan mengirimkan seseorang untuk mengawasiku," jawab Lynx yang membuatku semakin bingung terhadap ayahnya. Aku pikir mengurung anaknya sendiri sudah cukup aneh, ternyata ada tindakan lebih aneh lagi yang masih bisa dilakukan oleh keluarga Olivine.
"Aku masih tidak habis pikir tentang apa yang diajarkan oleh keluargamu," kataku sambil menghela nafas.
"Rui.... aku hanya ingin kamu mengetahui bahwa aku selalu percaya padamu. Dan semoga kamu juga bisa percaya padaku." Aku hanya bisa memandang Lynx dalam diam saat mendengar perkataannya.
Kedua mata Lynx hampir tidak berkedip selama kami berpandangan. Adegan saling pandang ini tidak seperti apa yang dilakukan kebanyakan orang. Banyak yang mendeskripsikannya kegiatan seperti ini sebagai tanda saling suka atau pun sebagai tanda tidak suka. Bagiku aku lebih merasakan adanya kenyamanan, tidak kurang maupun tidak lebih. Aku tidak pernah menilai bahwa pandangan Lynx itu dingin, tidak seperti yang semua orang katakan. Intens. Iya. Tajam. Iya. Tapi tidak terasa dingin, justru pandangannya cukup hangat bagiku.
Aku tidak pernah memandang orang dengan cukup lama seperti ini selain pada Lynx, begitu pula aku tidak pernah mendapatkan pandangan yang sulit dideskripsikan ini selain dari Lynx. Banyak informasi tentang psikologi yang mengatakan bahwa kesungguhan dapat dilihat dari cara mereka memandang lawan bicaranya. Aku pun dapat melihat kesungguhan Lynx pada pandangannya saat ini dalam meyakinkan kepercayaan kami satu sama lain. Aku hanya berharap supaya kepercayaan kami tidak akan hilang.
Lynx menutup pembicaraan dengan senyuman ketiga nya dalam sehari. Lalu ia mengambil handphone yang berlogokan sebuah apel di atas meja makan dan menelepon seseorang dari gadget tersebut. "Kamu bisa masuk sekarang," kata Lynx singkat sebelum menutup teleponnya.
Aku berpikir sesaat untuk memprediksi siapa yang ditelepon oleh Lynx. Tapi beberapa lama kemudian seseorang membuka pintu rumahku dan jawabannya ada di sana. Karena aku sudah mengerti apa yang sedang direncanakan oleh Lynx, aku mendekati kulkas dan mengeluarkan 3 kotak tiramisu dan sebuah jinjingan plastik dari sana.
Seorang laki-laki berambut cepak dengan kacamata hitam dan setelan jas yang dikenakannya sedang berjalan ke arah ruang makan di mana aku dan Lynx berada. Laki-laki bernama Jonathan menundukkan kepala ke arahku kemudian menoleh ke arah majikannya untuk menerima perintah lanjutan.
"Berikan saja pada kepala chef. Dia sudah tahu harus melalukan apa," kata Lynx sambil menunjuk pada sebuah jinjingan yang sudah diisi 4 kotak tiramisu olehku.
"Baik, tuan muda," kata Jonathan mengambil jinjingan tersebut lalu beranjak dari ruang makan.
"Aku bahkan tidak sadar mobilmu masih terparkir di depan rumah," kataku sambil mengambil pisin dan sendok yang selesai dipakai oleh Lynx untuk dicuci. "Seharusnya tadi langsung ke ruang makan saja."
"Tenang saja dia sudah biasa menunggu. Dia hampir selalu menunggu kita saat kita berada di sekolah kok." Jawaban Lynx membuatku diam dan tidak bisa berkata-kata. Bagaimana bisa ia menyuruh seseorang untuk menunggu selama sekitar 7 jam setiap harinya? Ah... aku lupa seorang tuan muda seperti Lynx biasa menyelesaikan masalah dengan hal yang tidak pernah terpikirkan oleh rakyat jelata sepertiku.