bc

Resonansi Jiwa: Cinta dalam Cahaya Indigo

book_age16+
9
FOLLOW
1K
READ
fated
friends to lovers
independent
drama
sweet
bxg
campus
highschool
mythology
small town
like
intro-logo
Blurb

Ari adalah remaja indigo yang bisa merasakan emosi orang-orang di sekitarnya seolah-olah itu miliknya sendiri. Dianggap aneh dan tertutup oleh orang-orang sekitarnya, Ari tumbuh dengan perasaan terasing, menyimpan rahasia kekuatannya sendirian.

Segalanya berubah saat ia pindah ke sebuah kota kecil yang dikenal masyarakatnya sebagai "kota spiritual". Di sana, ia bertemu Maya, seorang gadis yang juga memiliki kemampuan indigo yang bahkan lebih kuat darinya. Ada sesuatu dalam diri Maya yang membuat Ari merasa “di rumah” untuk pertama kalinya.

Keduanya membentuk ikatan mendalam yang membawa mereka ke dalam petualangan spiritual dan emosional. Bersama, mereka membantu orang-orang yang tersesat dalam perasaan, luka masa lalu, dan pencarian cinta sejati. Namun, mereka juga mulai menyadari adanya kekuatan gelap yang mengintai energi-energi batin yang mereka bangkitkan.

Pertanyaannya bukan hanya tentang apakah mereka bisa mencintai satu sama lain, tetapi juga apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan bayang-bayang yang datang dari dalam... dan dari luar diri mereka.

chap-preview
Free preview
Bab 1: Bayangan yang Tak Terlihat
“Kadang, apa yang paling nyata adalah yang tidak bisa dilihat dengan mata.” Hari masih gelap saat Ari membuka mata. Hujan semalam meninggalkan aroma tanah basah yang menyusup masuk lewat celah jendela kamarnya yang sedikit terbuka. Ia duduk di tepi ranjang, mengatur napas sambil menatap langit-langit yang temaram. Matanya sedikit merah. Bukan karena kurang tidur, tapi karena mimpi itu kembali datang, mimpi tentang perempuan tua dengan mata kosong yang menangis dalam diam, sementara ribuan lilin padam satu per satu di sekelilingnya. Mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Ari tahu pasti. Sudah bertahun-tahun ia hidup dengan ‘kemampuan rahasia’ yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun, kecuali keluarganya. Tidak ada yang tahu bahwa Ari memiliki kemampuan unik. Ia bisa merasakan emosi orang lain sejelas ia merasakan detak jantungnya sendiri. Bukan sekadar menebak. Tapi benar-benar merasakannya, seperti gelombang energi yang menembus kulit, masuk ke dalam darah. Marah, sedih, kecewa, takut, semua itu datang silih berganti, dan kadang membuatnya ingin berteriak, namun tak bisa. Saat orang lain marah, Ari bisa merasakannya bagai gelombang panas menghantam dadanya. Saat seseorang menangis dalam diam, ia ikut tercekat, meski bibirnya tak mengucap apa-apa. Emosi orang-orang menempel di dirinya seperti bayangan yang tak bisa ia lepas. Sejak usia tujuh tahun, Ari menyadari bahwa dirinya bukan anak biasa. Dan sejak itu, ia mulai menarik diri. Sebutan seperti “anak aneh” atau “pengundang aura gelap” adalah makanan hariannya. Di sekolah, Ari adalah siswa kelas XI yang lebih dikenal sebagai 'anak pendiam'. Ia tak punya banyak teman, dan itu bukan karena ia tidak mau bersosialisasi, tapi karena setiap kali ia terlalu dekat dengan seseorang, ia langsung bisa merasakan luka-luka batin mereka. Pernah suatu kali, saat duduk di kantin bersama teman sekelas bernama Dito, Ari tiba-tiba merasa ketakutan yang begitu besar. Napasnya sesak, tangannya gemetar. Ternyata, Dito sedang menyembunyikan kecemasan besar tentang ayahnya yang sakit parah dan tak punya biaya pengobatan. Dito tersenyum dan bercanda seperti biasa, tapi Ari tahu: di balik semua itu, ada badai yang sedang meledak dalam diam. Karena kejadian seperti itu, Ari memilih menjaga jarak. Ia lebih suka duduk di pojok kelas, membaca buku, atau melukis sketsa-sketsa wajah yang muncul dalam mimpinya. Wajah-wajah yang belum pernah ia temui, namun terasa sangat nyata. Di rumah, hanya keluarganya yang tahu siapa Ari sebenarnya. Ibunya, seorang guru seni yang hangat, selalu mengatakan bahwa kemampuan Ari adalah anugerah. “Kamu punya mata batin yang jernih, Nak,” kata Ibu suatu malam ketika Ari menangis karena terlalu lelah menyerap energi orang-orang di sekitarnya. “Kemampuanmu bukan kutukan. Ini warisan dari kakek buyutmu, Mbah Wiryo. Dia dulu seorang tabib dan penenang jiwa di desa kami.” Ari sering mendengar cerita itu. Tentang Mbah Wiryo yang bisa ‘melihat’ penyakit dalam tubuh seseorang hanya dengan menyentuh tangan mereka. Tentang bagaimana ia membantu banyak orang, meski hidupnya sendiri sunyi dan penuh ujian. Ayah Ari, meskipun lebih pendiam dan rasional, tak pernah menganggap kemampuan Ari sebagai sesuatu yang salah. Ia tak bicara banyak soal itu, tapi selalu ada di samping Ari saat dibutuhkan. Kadang, kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat Ari merasa tenang. Namun, semua dukungan itu tak bisa menghilangkan rasa asing yang Ari rasakan setiap kali berada di luar rumah. Di sekolah, ia merasa seperti bayangan. Ia berjalan di lorong tanpa ada yang menyapa. Ia duduk di kelas dan suara-suara teman sekelas hanya terdengar seperti gema jauh. Bahkan para guru pun menganggapnya biasa saja—tak pernah menonjol, tak pernah bermasalah. Hingga hari itu tiba. Ari duduk di kamar dengan selembar kertas kosong di meja. Tangannya bergerak sendiri, menggambar wajah yang samar, seorang gadis dengan mata yang tajam, tapi menyimpan kesedihan mendalam. Ia tak tahu siapa gadis itu. Tapi entah kenapa, ia merasa akan segera bertemu dengannya. Saat ibunya masuk membawa segelas s**u hangat, Ari hanya diam menatap gambar itu. “Kamu sering menggambar wajah yang sama belakangan ini,” kata Ibu sambil duduk di sampingnya. Ari mengangguk pelan. “Aku merasa… dia penting. Tapi aku nggak tahu siapa dia.” Ibu menatap gambar itu sejenak, lalu tersenyum samar. “Mungkin dia yang akan membuat perjalananmu berubah.” Ari memandangi ibunya. “Perjalanan?” “Ya,” jawab Ibu. “Kadang, hidup membawa kita ke tempat yang tak kita duga. Tapi selalu ada alasan di baliknya.” Malam itu, Ari tidur dengan gelisah. Dan mimpi itu kembali datang. Kali ini, perempuan tua itu berdiri lebih dekat. Di belakangnya, ribuan lilin masih padam, tapi di tengah kegelapan, ada satu cahaya yang menyala pelan… dan di dalam cahaya itu, berdiri gadis dalam gambar yang ia buat. Dan ketika Ari terbangun keesokan harinya, ia mendengar kabar dari ayahnya: mereka akan pindah ke kota kecil tempat kakek buyutnya dulu tinggal. Karena alasan pekerjaan, Ayah dipindahkan ke kota itu. Ari hanya menatap langit-langit kamar, lalu melirik gambar di meja. Ia tidak tahu apa yang menantinya di sana. *** Langit berwarna kelabu saat Ari dan keluarganya memasuki gerbang kota kecil bernama Langitjaya, sebuah nama yang terlalu megah untuk kota yang tampak seperti diam membeku di masa lalu. Kabut menggantung rendah di antara perbukitan. Angin menggesek dedaunan pinus dan membawa aroma tanah basah bercampur harum melati yang samar, aroma yang tidak semua orang bisa cium, hanya mereka yang peka terhadap energi, seperti Ari. Ari menatap keluar jendela mobil, matanya kosong. Ia sudah terbiasa dengan rasa kehilangan: kehilangan tempat, kehilangan teman (jika bisa disebut begitu), dan kehilangan pemahaman dari orang-orang yang tak pernah benar-benar melihatnya. “Ari, kita sudah sampai,” suara lembut Ibu membuyarkan lamunannya. Ia mengangguk, turun dari mobil dengan langkah perlahan. Di depannya, berdiri rumah kayu tua bergaya kolonial. Rumah yang akan mereka tempati selama ayahnya menjalani penugasan baru sebagai kepala kantor distrik Langitjaya. Sebuah kota yang dikenal oleh kalangan tertentu sebagai “kota spiritual”, disebut begitu karena banyaknya tempat meditasi, klinik penyembuhan holistik, toko batu kristal, dan legenda-legenda mistis yang tumbuh bersama akar pepohonan di hutan-hutan sekitarnya. “Kau yakin akan baik-baik saja di sini?” tanya Ibu, saat mereka menaiki tangga kayu menuju beranda rumah. Ari menatap mata ibunya, satu-satunya orang yang menerima keanehannya tanpa perlu penjelasan. “Selama aku masih bisa mendengar suara Ibu, aku akan baik-baik saja,” jawabnya pelan. Ibu tersenyum, memeluknya sebentar, lalu masuk ke dalam rumah. Ari tetap berdiri di ambang pintu. Hatinya menegang. Ia merasa... sesuatu sedang menunggu. Sesuatu yang tidak terlihat, tapi terasa sangat nyata. Lalu, angin bertiup, dan sekilas, hanya sekilas, ia melihat bayangan perempuan berdiri di bawah pohon beringin di halaman depan. Rambutnya panjang, matanya kosong, dan ia seperti menatap langsung ke dalam jiwa Ari. Tapi saat Ari berkedip, bayangan itu sudah lenyap. Malam itu, saat semua sedang membongkar koper dan menata barang, Ari berdiam diri di kamar lantai atas yang menghadap ke barat. Cahaya matahari terbenam menembus tirai tipis, melukis dinding kamar dengan warna jingga pucat. Tapi yang membuat Ari merinding adalah pantulan dirinya di cermin, yang tampak lebih pucat dari biasanya. Mata pantulan itu… seolah bukan miliknya. Ia menatap cermin itu lama. Terlalu lama. Hingga sebuah suara pelan terdengar dari dalam pikirannya. “Kamu sudah dekat...” Ari terhentak. Nafasnya memburu. Suara itu bukan suaranya. Bukan suara ibunya. Tapi suara perempuan tua... yang entah kenapa terasa familiar. Keesokan paginya, sekolah baru. SMA Cahaya Langit, sekolah negeri satu-satunya di kota kecil itu, terletak di lereng bukit, dikelilingi kabut yang belum surut meski matahari sudah naik. Sekolah itu tampak seperti lukisan lama, bangunannya dari kayu, penuh jendela besar, dan memiliki taman kecil yang dipenuhi tanaman obat. Di dinding dekat gerbang, tertulis dengan huruf timbul: “Di tempat ini, semua jiwa belajar bukan hanya untuk tahu... tapi untuk sadar.” Ari berjalan menyusuri koridor dengan langkah hati-hati. Suasana terasa... tenang. Tidak seperti sekolah-sekolah pada umumnya. Anak-anak bicara pelan, beberapa bahkan duduk membaca buku pelajaran di taman. Ia menatap ke arah ruang kelas barunya, XI-B. Namun sebelum ia masuk, matanya tertumbuk pada seorang gadis di seberang halaman. Dia sedang berdiri di bawah pohon sakura yang belum berbunga. Rambut hitamnya terurai, wajahnya menghadap ke matahari pagi. Ia tampak seperti tidak menyadari dunia sekitar. Tapi saat Ari hendak berpaling... Gadis itu membuka mata dan menatap langsung ke arah Ari. Dan dunia... mendadak hening. Suara-suara di kepala Ari yang selalu berdengung, suara emosi orang-orang yang memenuhi pikirannya semua menghilang. Seperti tombol "mute" ditekan dalam dirinya. Dadanya ringan, jiwanya hening, dan entah kenapa... matanya memanas. Gadis itu tersenyum tipis, lalu melangkah pergi begitu saja. Tapi kesan itu tertinggal. Dalam. Menghujam. Pelajaran pertama berlangsung hambar. Ari mencoba menyimak, tapi kepalanya berdenyut. Emosi-emosi samar dari teman-teman baru mulai merayap masuk. Rasa cemas, bosan, rindu rumah, semua bersatu dalam dirinya. Ia hampir tak tahan. Saat istirahat, ia berjalan keluar sendirian ke arah taman belakang sekolah. Dan di sanalah… gadis itu lagi. Duduk sendiri di bangku tua dekat kolam teratai. Ia menoleh. “Kamu akhirnya datang juga,” katanya tenang, seolah mereka sudah lama mengenal. Ari bingung. “Maksudmu…?” “Aku Maya. Dan aku sudah melihatmu di mimpi. Lebih dari sekali.” Ari menahan napas. “Aku… juga. Tapi… kenapa? Siapa kamu?” Maya tersenyum, tapi ada kesedihan dalam matanya. “Aku bukan siapa-siapa. Tapi mungkin… aku adalah bagian dari ingatanmu yang hilang.” Mereka terdiam. Di sekeliling mereka, angin bertiup pelan. Teratai di kolam bergetar tanpa disentuh. Dan Ari tahu... pertemuan ini bukan kebetulan. Malam itu, Ari bermimpi. Ia berjalan di hutan yang diselimuti kabut ungu. Di antara pohon-pohon tinggi, terdengar suara nyanyian lirih. Di kejauhan, ia melihat perempuan tua duduk di depan api unggun. Di pangkuannya… ada anak perempuan kecil dengan rambut Panjang wajahnya menyerupai Maya. Perempuan tua itu menoleh padanya dan berkata: “Jangan takut pada cahaya, Ari. Tak semua bayangan diciptakan untuk menakutimu.” Ia terbangun dengan peluh dingin. Nafas memburu. Dan di dalam hati kecilnya, satu suara bergema: “Perjalananmu dimulai sekarang.” Pagi harinya, saat berjalan menuju kelas, Maya menatapnya sejenak lalu berkata: “Kalau kamu mau tahu alasan kenapa aku bisa melihat kamu bahkan sebelum kamu datang ke kota ini… kamu harus berani melihat ke dalam dirimu sendiri. Apa kamu siap?” Ari menatap mata Maya, mata yang menenangkan sekaligus menakutkan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengangguk bukan karena yakin, tapi karena ingin tetap bersama Maya, apapun yang akan datang.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Menyala Istri Sah!

read
4.5K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
21.7K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
54.4K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.9K
bc

Trapped in My Future Boss

read
3.4K
bc

Desahan Sang Biduan

read
56.8K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
16.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook