Minggu berlalu dengan begitu cepat. Pagi ini, Hyroniemus Academy tampak ramai. Seluruh siswa mulai memasuki kelas saat sebuah bel tanda masuk jam pelajaran pertama dimulai. Ellina yang datang terlambat tampak bergegas melangkah menyusuri koridor sekolah. Sebuah suara yang memanggil namaya membuat Ellina menoleh pelan. "Ellina," "Iya, Pak Livian." Ellina berhenti saat Livian melangkah mendekatinya. "Aku membutuhkan bantuanmu," Ellina menatap guru di depannya dengan lembut. "Apa yang bisa saya bantu, Pak?" Livian diam sesaat dan terlihat ragu. Menatap Ellina dalam dengan semua perasaan yang membuatnya ragu selama ini. "Kau terlihat sangat mirip dengannya," ujar Livian tanpa sadar. Ellina menautkan kedua alisnya heran. "Maksud, Bapak?" Livian menggeleng. "Tidak, bukan apa-

