4. Meet You.

2014 Words
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa malam datang menyambut dengan semilir angin dan rintik hujan yang datang perlahan. Ellina memegang erat tali tas di kedua sisi pundaknya karena Aaric juga terlihat tengah terburu-buru mengantarkannya pulang. Di belakang sana, Alvian ikut mengantarkan Ellina karena sedikit khawatir dengan lampu motor Aaric yang kurang terang. Sedangkan di luar pagar besi rumah berlantai dua, Irlac sibuk dengan handphone di dalam genggamannya. Entah berapa banyak panggilan yang tak tersambung membuat Irlac begitu resah akan keadaan Ellina. Irlac berjalan mondar-mandir di luar pintu gerbang dengan payung di salah satu tangannya. Untuk kesekian kalinya, Irlac mencoba menghubungi Ellina dan berharap kabar dari Adiknya. "Ada dimana kau, Queen? Kenapa belum pulang juga? Kau janji tak akan pulang malam." Irlac terus menunggu hingga hujan datang kian deras. Berkali-kali Irlac berjalan keluar halaman dan melihat jalanan di sekitar rumahnya untuk memastikan kedatangan Adiknya. Namun jalanan tetaplah kosong dan sepi dengan hujan yang mengguyur deras. Irlac mendesah kecewa, rasa khawatir di hatinya, membuat Irlac tak dapat menunggu dengan tenang. Dilain sisi, Aaric memarkirkan motornya di sebuah halte bus yang tak lagi ada orang duduk untuk menunggu. Ellina menggosokkan kedua tangannya berulang kali karena hawa dingin begitu terasa di kulitnya. Aaric menatap Ellina dengan rasa bersalah. "Maaf, membuatmu basah," ucap Aaric memecah keheningan. Ellina tersenyum tipis. "Tak apa, lagi pula kau sudah meminjamkan jacketmu. Kau lebih basah dariku," Aaric bernapas lega. "Kenapa kau tak mau bersama Alvian? Kau akan aman tanpa kehujanan." Ellina kembali menoleh dan menatap mata Aaric. "Aku tak begitu mengenalnya di bandingkan dirimu. Setidaknya aku berangkat bersamamu dan aku pikir, aku juga harus pulang bersamamu." Sebuah jawaban yang membuat Aaric lega. "Terimakasih, Ellina." ucap Aaric tulus. Ellina mengangguk dan kembali duduk di bangku halte. Membuka tasnya dan menyalakan handphonenya kembali. Mata Ellina begitu tercengang saat melihat deretan panggilan dan pesan dari kakaknya. Dengan cepat Ellina kembali menghubungi Kakaknya. "Ada dimana kau, Queen?!" Ellina langsung menjauhkan telepon genggamnya dari telinga. Pasalnya Irlac langsung berteriak marah saat telepon itu baru saja diangkat. Aaric menaikkan satu alisnya karena ikut mendengar suara dari dalam telepon Ellina. "A-aku ada di halte bus dekat rumah kit-" "Tunggu disana dan jangan pergi kemana-mana. Kakak akan datang menjemputmu sebentar lagi," Ellina mendesah kasar karena telepon tersebut telah terputus. "Kau baik-baik saja?" tanya Aaric ingin tahu. Ellina hanya mengangguk lalu menatap lurus kedepan. Angin kencang berhembus bersamaan dengan datangnya petir. Ellina berjengkit kaget dan memegang erat kedua tali tasnya. "Ahkkk, Kak Irlac...!" teriak Ellina kaget karena ketakutan. Aaric mencoba menenangkan Ellina tapi Ellina menggeleng. Tak lama kemudian Alvian datang dengan kantong minuman hangat di tangannya. "Maaf, sedikit lama." ucap Alvian mengusap rambutnya dengan jari tangan karena terkena hujan. Alvian membagikan minuman di tangannya dengan cepat. "Bukan hanya sedikit, tapi kau sangat lama!" jawab Aaric dingin. Alvian hanya nyengir dan duduk tak jauh dari Ellina. Ellina tersenyum kecil melihat perbedaan sifat antara Alvian dan Aaric. Namun matanya menangkap sosok di sebrang sana yang baru saja turun dari mobil. Ellina tersenyum lega dan langsung berdiri. Berjalan kedepan dan melangkah hingga ketepian halte. Angin lagi-lagi berhembus kencang membuat rambut Ellina bergoyang tak beraturan. "Kakak, aku disini." Ellina melambaikan tangannya pada sosok yang jauh disana. Tertawa lebar karena ia pikir itu adalah Irlac. Alvian dan Aaric saling berpandangan. Menatap Ellina lalu pada sosok yang jauh disana dengan payung yang menutupi wajahnya. Meski hanya sesaat, Aaric  dan Alvian merasakan energi kuat yang membuat mereka saling waspada dan selalu berjaga untuk Ellina. "Kakak...!" karena merasa bosan, Ellina melangkah menerobos hujan dan berlari kecil. "Ellina...!" teriak Alvian dan Aaric bersamaan. "Ahhhkkkkk," Ellina berteriak kencang dengan air mata yang perlahan menetes di sudut matanya. Kilatan lampu mobil itu terlalu menyilaukan mata. Kedatangannya yang tak terduga dengan kecepatan tinggi membuat kaki Ellina begitu kelu untuk melangkah minggir. Ellina memejamkan kedua matanya dengan tangan yang memegang erat ujung seragam sekolahnya. Sedangkan Aaric dan Alvian ikut berdiri karena shock. Mobil itu berubah arah dengan membantingkan stir ke kanan. Braaakkkkk! Suara benturan terdengar begitu keras di telinga. Dari dalam mobil itu, Kenzie keluar dari pintu belakang dan langsung menghampiri Ellina yang masih memejamkan mata dengan tangan yang menutupi wajahnya. Alvian dan Aaric membeku saat melihat sosok Kenzie yang juga terpaku berdiri di depan Ellina. Lalu beralih pada sosok jauh diujung sana yang tiba-tiba saja hilang karena hujan semakin deras. Kenzie masih terpaku dengan sosok di depan matanya. Tangannya terulur pelan dengan air mata yang entah kapan telah jatuh di pipinya. Rasa rindu dan tak percaya hadir menguasai relung hatinya. Dengan pelan Kenzie menyentuh anak rambut yang menutupi wajah Ellina. "Nyata. Kau benar-benar nyata, Queen. Kau...," ucap Kenzie pelan. Ellina tersadar dan menurunkan kedua tangannya. Menatap sosok Kenzie yang berada di depan matanya dengan heran. Lalu beralih pada mobil yang tak jadi menabraknya. Ellina bernapas lega. Setidaknya, ia selamat dari kecelakaan maut yang akan menimpa dirinya. "Queen," Grep! Kenzie langsung memeluk tubuh Ellina erat. Menangis menumpahkan rindu yang selama ini ia rasakan. Ellina membeku! Merasakan keanehan dalam dirinya saat pria di depannya menyebutnya dengan panggilan Ratu yang terdengar tak biasa di telinga Ellina. Untuk kesekian menit Ellina diam dan mendengarkan semua ucapan kerinduan dari pria yang terlihat asing di matanya. Untuk beberapa saat Ellina terhanyut hingga tak terasa air matanya ikut mengalir. "Apa yang kau lakukan! Menjauh darinya, b******k!!!" Pelukan hangat itu terlepas. Irlac datang dan langsung menarik tubuh Kenzie menjauh dari tubuh Ellina. Ellina tersadar dan kembali berteriak saat hantaman tangan dari Kakaknya telah membuat pria yang memeluknya terhempas ke jalanan. Aaric dan Alvian datang dan memisahkan Irlac dan Kenzie. Ellina ikut berteriak agar Kakaknya berhenti untuk memukuli pria yang tak ia kenal. Irlac menyudahi pukulannya dan langsung menarik tubuh Ellina dalam pelukannya. Menatap Ellina khawatir dari atas hingga bawah, mengecup kening Ellina berkali-kali karena ternyata Ellina baik-baik saja. Kenzie bangun dan mengeratkan genggaman tangannya. Melihat Ellina dalam pelukan pria lain dan dengan mudahnya pria itu mengecup kening Ellina, membuat Kenzie hilang akal. "Apa yang kau lakukan?! Dia milikku! Dia istriku!" teriak Kenzie murka hingga tanpa sadar petir kembali bersahutan. Irlac menoleh dan menatap Kenzie aneh. Hingga kedatangan dua orang asing yang lagi-lagi membuat suasana kian berubah menjadi dingin. Aaric dan Alvian kembali saling pandang saat melihat dua orang yang baru saja datang dan menghampiri Kenzie. "Yang Mulia," ucap Ernest khawatir. "Siapa yang menyakiti Yang Mulia?" kali ini Lykaios menatap orang-orang di sekitar Kenzie. Hening. Tak ada yang menjawab atau pun berkata-kata. Irlac masih membawa Ellina dalam pelukan erat tangannya. Menarik pinggang Ellina agar tetap berada dekat dengan tubuhnya. Lalu Alvian dan Aaric semakin diam saat mendengar panggilan kerajaan yang baru saja mereka dengar. Ada aura kuat yang lagi-lagi berbeda dari yang ia rasakan beberapa menit yang lalu. Kini Kenzie, Ernest dan Lykaios juga saling diam. Ernest pun ikut menatap arah pandang Kenzie dan begitu kaget hingga tubuhnya refleks mundur kebelakang. "Ra-ratu Ellina," ucap Ernest pelan namun dapat di dengar jelas oleh mereka semua. Lykaios yang mendengar itu menatap sosok yang Ernest panggil Ratu. Menelusuri wajah Ellina dengan tajam hingga membuat Irlac semakin menarik rapat tubuh Ellina. "Ir-irlac Fallon Agate," Ernest kembali mengucapkan nama yang membuat Kenzie dan Lykaios menatap Ernest tak mengerti. Irlac yang mendengar namanya di sebut secara lengkap menaikkan satu alisnya. Kini pandangan Ernest tertuju pada dua sosok pria yang mengenakan seragam sekolah yang sama dengan yang Ellina kenakan. Lagi-lagi Ernest menatap tak percaya. "Aaric Leighton Blade, dan Alvian Raitrama," ucap Ernest dengan sangat jelas. Kenzie ikut menatap sosok yang Ernest sebut. Dan kali ini Kenzie baru tersadar bahwa mereka adalah orang-orang yang ia cari selama ini. Bukankah waktu mempermudah semuanya? Kenzie menemukan dua pengawalnya yang hilang tepat bersama Ratunya. "Alvian, Aaric...," panggil Kenzie pelan. Aaric diam dan beralih tempat. Bergeser dan berjalan di sisi Irlac karena merasa tak mengenal Kenzie dan dua orang pria asing yang baru saja datang. Sedangkan Alvian ikut berdiri di sisi Ellina dengan senyum manis yang terkembang. Senyum yang membuat Ernest dan Kenzie bernapas lega. "Alvian, ka-" ucapan Ernest terpotong karena Alvian langsung angkat bicara. "Kau mengenalku?" tanya Alvian tak percaya. Ernest dan Kenzie mengangguk. Alvian kian tersenyum lebar dan merapikan rambutnya meski hujan masih saja deras. Membuat Ellina tersenyum tipis dengan tingkah Alvian. "Tentu saja kalian mengenalku. Karena aku Artis dan model terkenal yang tengah naik daun. Hahahaha, Aaric, kau lihat? Mereka mengenalku karena aku Artis yang sukses." Alvian tertawa keras dan bangga dengan profesinya. "..." Ernest dan Kenzie kembali diam. Harapan mereka pupus seketika bagaikan kaca yang jatuh dan terpecah belah. Sedangkan Aaric menggelengkan kepala frustasi dengan tingkah temannya. Lalu Irlac pun juga sedikit tersenyum dengan jawaban Alvian. "Siidiot satu ini, dia benar-benar tak berubah," Ernest menepuk pelan kepalanya. Alvian mengernyit mendengar perkataan Ernest. "Apa maksudmu? Kau tak mengenalku karena aku artis? Ah s**l, padahal aku telah merapikan rambutku dan bersiap-siap saat kau meminta foto bersamaku," Alvian mengusap kasar rambutnya. Kenzie sedikit tersenyum dengan jawaban Alvian. Menurutnya Alvian sama sekali tak berubah. Ia tetap konyol dan jujur dengan semua hal di dalam pikirannya. Satu hal yang membuat keluarganya menjadi penuh warna. Sedangkan Ernest sudah menahan rasa kesal di hatinya. Rasa rindu, rasa kehilangan dan rasa bahagia karena pertemuan yang ia tunggu membuat Ernest tak mengerti cara mengekspresikannya. Sedangkan Lykaios masih mencerna semua kata-kata dan kejadian yang membuatnya bingung. "Queen, kita pulang sekarang." Irlac menatap Ellina karena merasa tubuh Ellina mulai mengigil karena kedinginan. Ellina mengangguk dan menuruti perkataan Kakaknya. Sedangkan Kenzie kembali marah dengan panggilan Ratu yang Irlac sebutkan. "Aku tidak mengijinkanmu membawa Ratuku!" ucap Kenzie tegas. Irlac diam dan menatap Kenzie dingin. "Siapa kau hingga berani memerintahku!" "Dia milikku. Dia istriku! Dia Ratuku!" ucap Kenzie lagi. Irlac tertawa sumbang. "b******k! Beraninya kau mengatakan itu di depanku! Ellina, kau mengenalnya?" Irlac menatap wajah Ellina yang juga terlihat bingung. Ellina menggeleng. "Tampak tak asing tapi aku tak mengenalnya. Aku tak mengenal mereka," Sebuah jawaban yang membuat Kenzie sakit. Ernest menunduk dengan kata-kata yang Ellina lontarkan. Entah kenapa harapannya untuk mengumpulkan keluarganya secara cepat kian terasa jauh. "Queen, ini aku! Aku suamimu. Queen jangan berpura-pura, aku sudah sangat lama menunggumu." Kenzie mendekati Ellina dan membuat Irlac kembali menarik tubuh Ellina dalam pelukannya. "Menjauh dari Adikku, b******k! Adikku bukan milikmu apa lagi istrimu!" teriakan marah Irlac membuat suasana kembali memanas. "A-adik?" ulang Ernest untuk memastikan sesuatu. "Benar. Wanita ini adikku. Bukan istri temanmu! Pastikan kau menyadarkan temanmu agar tak lagi menganggu adikku!" "Adik?" ucap Kenzie tak percaya. "... tak mungkin. Itu tak mungkin. Dulu kau sebatang kara, Queen. Kau tinggal sendirian saat orangtuamu meninggal!" Kenzie merasa tak dapat menerima semua kenyataan yang baru saja ia dengar. Irlac dan Ellina semakin heran. Heran karena bingung dengan pengetahuan mereka yang tiba-tiba saja hampir benar seluruhnya. "Siapa kalian sebenarnya? Kenapa mengenalku, Adikku, dan tahu dari mana bahwa orangtua kami telah meninggal?" kini Irlac merasa perlu tahu semuanya. "Aku bahkan tahu semua tentangmu, Ellina Aracelia Azzuri." jawab Kenzie pasti, membuat Irlac dan Ellina semakin bingung. Merasa kian membingungkan, Ellina menyentuh tangan Irlac erat. "Kakak, aku lelah. Aku dingin dan capek, " Irlac menatap wajah Ellina khawatir. "Kita pulang sekarang, Queen." Irlac jongkok dan menggendong Ellina di belakang tubuhnya. Ellina mengalungkan kedua tangannya di leher Irlac saat Irlac mulai melangkah. "Queen, " ucap Kenzie jelas di telinga Ellina. Ellina merebahkan kepalanya di punggung Irlac dan menatap Ernest, Lykaios, dan Kenzie bergantian. Saat matanya bertemu dengan mata Kenzie, Ellina tersenyum sangat tipis. Membuat Kenzie sedikit lega. Lalu Alvian dan Aaric juga mulai melangkah meninggalkan Kenzie, Ernest dan Lykaios. "Kau ikut mobilku?" tanya Alvian pada Aaric. Aaric mengangguk. "Hujan semakin deras. Aku akan menelepon supirku untuk menjemput motorku." "Hei, kau mengenal mereka?" tanya Alvian lagi sambil menatap Kenzie, Ernest dan Lykaios yang masih menatap kepergiannya. Aaric menggelengkan kepala. "Sama sekali tidak. Tapi mereka mempunyai energi yang wow," Alvian tertawa keras dan memukul pelan bahu Aaric. "Terkadang kau jadi orang yang sok tahu." Ernest maju dan melihat keadaan Kenzie. "Yang Mulia, hamba akan menyelidiki semuanya. Mohon sabar dan segera masuk ke dalam mobil, hujan semakin deras." "Benar Yang Mulia." Lykaios ikut maju dan khawatir pada keadaan Kenzie. Kenzie menatap Ernest lama. "Avram, semua berubah. Amat sangat berubah. Seperti kebangkitan Lykaios yang juga berubah. Perubahan waktu yang benar-benar membuatku terkejut." Ernest mengerti maksud perkataan Kenzie. "Hamba rasa kita hanya perlu mengikuti alur yang telah berputar, Yang Mulia. Setidaknya kita berhasil menemukan mereka saat ini," Kenzie mengangguk. "Aku menunggu kejutan dari waktu yang telah sangat berubah." ===================================
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD