5. Masa yang lalu.

1896 Words
Satu minggu berlalu sejak kejadian pertemuan itu. Irlac semakin memperhatikan Adiknya agar tak terkena hujan dan jatuh sakit lagi. Selain itu Aaric dan Lexsi selalu menunggu Ellina untuk pergi dan pulang sekolah bersama. Meski Ellina tak dapat masuk sekolah selama beberapa hari, Aaric dan Lexsi selalu menyempatkan diri untuk berkunjung kerumah Ellina. Sedangkan Alvian, di tengah sibuknya jadwal pemotretan, ia selalu memyempatkan diri untuk masuk sekolah dan selalu membuat kehebohan. Peringkat ketampanannya naik sekian persen hingga fansnya semakin bertambah banyak. Hal yang tak orang-orang ketahui adalah, Alvian seorang Pangeran Vampire yang hidup terpisah dari keluarganya. Livian Agler, tak banyak orang yang tahu tentang guru satu ini. Statusnya yang sebagai guru, Kakak kandung Alvian dan seorang Raja Vampire, membuatnya cukup disegani di kalangam para bangasawan Vampire. Tak banyak dari para manusia yang mengetahui tentang mahkluk-mahkluk hidup abadi yang hidup berdampingan bersama mereka. Pagi ini, mentari bersinar lembut dengan kicauan burung-burung yang bernyanyi indah. Ellina baru saja keluar dari halaman rumahnya dengan tas dan semua perlengkapan sekolahnya. Irlac yang menunggu Ellina berkali-kali melihat jam di pergelangam tangannya. Menatap geram pada Ellina yang hanya tersenyum kecil dengan memamerkan deretan gigi putihnya. "Kau akan terlambat jika tetap saja bangun siang, Queen." Ellina memainkan keduanya matanya. "Ayolah Kak, aku harus menghabiskan sarapan pagiku." "Baiklah, kau juga harus bertemu Dokter hari ini." "Ellina sudah sembuh, Kak. Ellina tak akan bertemu dengan dokter dan meminum obat lagi." "Tidak, kau harus tetap bertemu dokter hari ini untuk memastikan keadaanmu sekali lagi. Atau Kakak tak akan mengijinkan teman-temanmu berkunjung minggu depan." Ellina memajukan bibirnya. "Kakak...!" Ellina cemberut dan membuang muka. Irlac tertawa. "Baiklah, tapi berjanjilah bahwa kau akan ke dokter hari ini." Ellina mengangguk paksa. "Bagus, karena hari ini jadwal Kakak sangat sibuk, Kakak tak akan bisa menjemputmu dan mengantarkanmu ke dokter. Jadi, bisa kau pergi ke dokter sendiri? Atau kau ingin Kakak menyuruh dokter itu datang kerumah?" Ellina menggeleng. "Aku akan pergi ketempat prakteknya hari ini. Kakak puas? Jadi Kakak cukup bekerja dengan tenang karena aku benar-benar akan menemui dokter pribadi Kakak." "Gadis pintar, itu baru Adik Kakak." Irlac mengusap lembut rambut Ellina dan mencubit pelan pipi Ellina, membuat Ellina memukul pelan perut Kakaknya dan merapikan kembali rambutnya. "Ellina...!" "Ellina, menyingkir sedikit." "Ellina...! Menyingkir dari sana, rem sepedaku blong!" Tiga buah teriakan yang berbeda membuat Irlac dan Ellina menoleh cepat. Irlac dengan cepat meraih pinggang Ellina dan membawa Ellina dalam pelukannya. Menyingkir dari tengah jalan dan berpindah kesamping mobil. Irlac kembali menatap tiga teman Ellina yang terlihat akrab dengan Ellina. Ciittt! Sepeda itu berhenti total dan membuat pemiliknya terjungkal ke depan. "Hahaha...," tawa Ellina, Irlac dan dua orang teman Ellina pecah. "Alvian...! Apa kau masih hidup?" sapa Ellina diantara tawanya. "Kau gila ya?" Aaric yang menahan tawanya tetap berkata dingin pada Alvian. "Astaga, itu pasti sakit sekali." Lexsi meringis melihat Alvian yang bangun dari jatuhnya. "Apa temanmu baik-baik saja, Queen?" Irlac terlihat sedikit khawatir dengan Alvian. Sedangkan Alvian hanya nyengir dan menyunggingkan senyum manisnya. "Tentu saja aku baik. Itu bukan apa-apa. Aku harus menjadi orang  yang kuat untuk melindungi Ellina. Bukankah begitu, Ellina?" kata Alvian dengan penuh percaya diri yang mendapat ejekan dari Aaric dan Lexsi. "Sepertinya kau bertambah gila saja," sambung Aaric prihatin. Ellina, Irlac, dan Lexsi hanya tertawa lepas melihat kelucuan Alvian. Membuat Alvian kian tersenyum dengan merapikan baju dan rambutnya. "Ah, sepedaku rusak." kata Alvian sambil melihat kondisi sepedanya. "Naiklah kedalam mobil. Aku akan mengantarkan kalian semua. Lagi pula ini sudah hampir siang, kalian akan telat jika tak cepat."Irlac membuka pintu belakang mobilnya. "Benarkah? Ahk, Kak Irlac aku menyukaimu," Lexsi tersenyum senang lalu cepat naik kedalam mobil Irlac dan meninggalkan sepedanya begitu saja. Alvian menyusul Lexsi dengan duduk di samping Lexsi. Membuat Lexsi sedikit gugup karena baru pertama kalinya duduk berdampingan dengan Alvian. Ellina berjalan kesisi mobil dan duduk di depan. Tak lama Aaric menyusul dengan duduk di samping Alvian. Setelah semua masuk, Irlac yang baru saja memasukkan sepeda teman-teman Ellina ke halaman rumah ikut masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya. *** Kenzie duduk termenung di sebuah balkon ruang keluarga. Bayangan wajah Ellina kembali terbayang dengan jelas di pelupuk matanya. Kejadian malam saat turun hujan yang membuatnya bertemu dengan Ratunya membuat Kenzie meneteskan air mata secara perlahan. Kerinduan dan kenyataan yang begitu jauh dari harapan membuat Kenzie terhempas jauh. Kenyataan saat Ratunya begitu mudah jatuh di pelukan pria lain yang dia sebut Kakak. Atau saat bibir mungil Ellina yang begitu mudah dan terang-terangan mengatakan tak mengenalnya. Tak mengenal dirinya, Ernest atau pun Lykaios. Tak mengenal keluarga kecil yang dulu begitu ia inginkan. Kenzie menghela napas dalam dan menghembuskan kasar. Ada banyak hal yang ingin Kenzie ucapkan namun semua terasa kelu saat wajah Ellina begitu mudahnya melupakannya. Lagi-lagi waktu dan harapan yang tinggi memporakporandakan segalanya. Semua impian yang tertata rapi hancur dengan begitu mudah hanya dengan satu ucapan dari bibir Ellina. Bukan hanya sangat terluka, Kenzie merasa semua sangat tak adil untuk dirinya. Kenzie merasa waktu mempermainkan takdir dan jalan hidupnya. "Queen, kau terlihat jauh untuk kusentuh." Kenzie mendesah pelan dengan semua luka di hatinya. Tak lama sebuah suara langkah kaki terdengar. Kenzie menoleh dan mendapati Ernest tengah berjalan dengan tumpukan kertas ditangannya. Tak lama Lykaios pun menyusul juga dengan tumpukan kertas di tangannya. "Apa yang kau temukan, Avram?" tanya Kenzie langsung. Ernest menunduk hormat sesaat lalu menyerahkan sebuah kertas penting dari tumpukan kertas ditangannya. "Sesuatu yang membuat Yang Mulia terkejut dan bahagia. Karena hamba sendiri sangat tak menduga semuanya," jawab Ernest sopan. Kenzie menatap Ernest sesaat karena perkataan Ernest yang membuatnya kian penasaran. Menerima kertas yang Ernest berikan dan membaca dengan teliti. Kening Kenzie mulai mengerut karena Kenzie menautkan dua alisnya. Tak lama mata Kenzie terbelalak lebar karena tak percaya dengan apa yang Ernest temukan.Sesuatu hal yang ia baca benar-benar membuatnya tak percaya. "Hyroniemus Academy? Mereka?" tanya Kenzie tak percaya. "Seperti Yang Mulia Lord baca, Yang Mulia Ratu bersekolah disana bersama Aaric dan Alvian. Tak hanya itu Yang Mulia bahkan tiga tikus kecil yang Alvian buru dulu kini menjadi teman baik Ratu Ellina." Kenzie menggeleng pelan lalu membuka kertas halaman selanjutnya. Mata Kenzie kini kian bertambah lebar karena tak percaya. "A-azzura Xaviera dan Livian Agler seorang guru di Hyroniemus Academy? Lelucon macam ini!" Kenzie tertawa sinis dan melempar kertas di tangannya. "Yang Mulia," panggil Ernest pelan. Kenzie bangun dari duduknya dan berjalan menatap hamparan luas di bawah sana. "Aku hanya terlalu terkejut, Avram. Maaf membuat kalian khawatir," Lykaios maju dan menundukkan kepalanya. "Yang Mulia, hamba mendapatkan info yang lebih menarik," Kenzie menoleh dan menatap Lykaios. "Katakan," "Raven Thian dan Ethan Cadissanova, mereka...," Tanpa banyak kata, Kenzie menarik dan membaca dokumen di tangan Lykaios. "Mereka," ucap Kenzie menggantung namun tertawa kecil. "... ya ampun, lelucon apa lagi ini? Apakah hidupku terlihat membosankan? Kenapa waktu seakan mempermainkan takdir dengan lelucon gila yang tak bisa kumengerti!" "Tentang Irlac," ucap Ernest pelan. Kenzie diam dan mendengarkan Ernest lebih tajam. Ernest menelan salivanya pelan karena melihat Kenzie meliriknya tajam. "Dia adalah iblis lemah bawahan Raven Thian pada masa yang lalu, Yang Mulia." Ernest diam lagi. "Lalu," ucap Kenzie dingin karena tak begitu menyukai nama pria yang Ernest sebut. "Irlac, dia, dulu Alvian membunuhnya. Hal yang baru Alvian sadari adalah tubuh Irlac bersinar putih bersih saat tubuhnya lenyap. Saat itu Alvian mulai terlihat ragu akan pilihannya yang telah membunuh Irlac." Kenzie kembali duduk dan mendengarkan cerita Ernest. "Lanjutkan," "Dia, seorang iblis dengan darah manusia di dalam tubuhnya." "Darah manusia?" tanya Kenzie yang semakin tertarik dengan cerita Ernest. Ernest mengangguk. "Benar Yang Mulia. Dia adalah orang yang membangkitkan Raja Raven dari tidur panjangnya. Dan dia juga lah yang membuang Ratu kedalam laut kelam atas perintah Raja Raven Thian. Sebagai iblis lemah, ia tak akan bisa melawan apa pun perintah Rajanya." Kenzie diam dan terus berpikir. Sedangkan Ernest kembali membuka ingatannya saat itu. "Saat itu hamba datang tepat setelah Alvian menghancurkan tubuh Irlac. Sedangkan Aaric melawan ribuan pasukan klan Lucifer yang terus saja bertambah. Meski para peri kecil membantu,  namun tak banyak perubahan yang terjadi. Hilangnya Ratu membuat kekuatan para kecil melemah dan membuat tubuh Yang Mulia kembali dalam batas ketidak sadaran. Kami tak dapat melakukan apa pun hingga memutuskan untuk mencari Ratu lebih cepat." Kenzie diam. Apa pun itu ia merasa juga salahnya karena harus kembali tak berdaya saat tubuh Ellina juga tak berdaya. Ernest menghela napas dalam dan bercerita lagi. "Setelah Raja Raven mendapatkan darah Ratu Ellina, dia berubah menjadi sangat kuat. Hamba kalah dan harus di selamatkan oleh Aaric dan Alvian. Semua telah sangat lama Yang Mulia." Kenzie mengangguk. "Seorang iblis dengan darah manusia di dalam tubuhnya. Bersinar terang saat Alvian membunuhnya. Itu adalah kemurnian hatinya. Kemurnian iblis lemah yang mempunyai sisi kebaikan." Ernest menatap Kenzie sesaat dan mengangguk. Pikirannya melayang hingga mengingat lagu kematian milik Ellina. "Yang Mulia, hamba ragu ini benar. Namun sepertinya, Irlac ada dalam lagu kematian Phoenix untuk Ratu Ellina," Kenzie diam berpikir. "Lagu kematian?" Ernest menganggukkan kepalanya. Bibirnya bersenandung kecil untuk mengingat bait lagu kematian. " Nyanyian rindu dari air mata penyesalan. Sang pemilik kemurnian diantara kegelapan. Sesamar cahaya kecil dari hati yang mati. Pengorbanan menjadi kunci abadi. Sua-tu-" "Cukup Avram, aku mengerti sekarang." ucap Kenzie cepat. Lykaios yang sedari tadi diam dan mendengarkan kini mulai angkat bicara. "Yang Mulia, semua sedikit rumit tapi hamba sedikit mengerti. Tapi bolehkah hamba tahu lagu yang di nyanyikan oleh Ernest? Itu-itu terdengar sedikit mengerikan." Kenzie tersenyum lembut. "Itu lagu kematian dari burung Phoenix milik Ratu, Lykaios. Dan semua bait itu menyimpan maksud yang jelas. Artinya, semua bait itu memiliki arti tersendiri." Lykaios mengangguk mengerti. "Hamba mengerti, Yang Mulia." "Avram, aku tak bisa membiarkan Ratuku terus dalam bahaya. Terlebih ada banyak orang dari masa lalu yang menginginkan kematiannya. Untuk kali ini, aku tak akan membiarkan siapa pun menyakitinya. Tidak, aku tak akan membiarkan mereka mendekat sejengkal saja." Ernest mengangguk mengerti. "Lalu apa yang akan Yang Mulia lakukan?" "Katakan pada pengurus Hyroniemus Academy. Bahwa anak pemilik Hyroniemus Academy akan bersekolah disana," Kenzie tersenyum dengan pilihannya. Lykaios menaikkan satu alisnya. "Yang Mulia," "Yang Mulia, hamba tak mengerti dengan maksud kata 'Anak pemilik sekolah'. Apakah Yang Mulia-" kali ini Ernest pun ikut angkat bicara. Kenzie mengangguk. "Benar, aku akan masuk sebagai murid disana. Agar aku lebih mudah mendekati dan menjaga Ratuku!" Ernest dan Lykaios diam. Membuat Kenzie tersenyum tipis. "Tak hanya aku, kalian juga akan ikut pergi kesekolah bersamaku," Seketika wajah Ernest dan Lykaios  berubah cerah. "Yey, aku akan melanjutkan sekolahku yang tertunda. Bertemu Ratu, sibodoh Aaric dan siidiot Alvian. Tapi kali ini Lord akan ikut bersama kami. Aku tak sanggup membayangkan semuanya. Semua pasti akan lebih menyenangkan." ucap Ernest dalam hati. "Sekolah? Aku penasaran tempat seperti apa itu. Aku hanya tahu itu adalah tempat banyak anak berkumpul untuk belajar. Sejak kebangkitan dan hilangnya ingatanku, aku merasa menjadi orang bodoh yang hanya bisa mendengarkan dari pada memberikan pendapat. Ah, aku begitu ingin bersekolah sekarang." Lykaios tersenyum dengan pilihan Kenzie. "Selesaikan semua yang dibutuhkan untuk rencana kita. Pastikan tampilan kalian terlihat tua agar pengurus sekolah dapat mempercayai kata-kata kalian," "Dimengerti, Yang Mulia." jawab Ernest dan Lykaios serempak. Ernest dan Lykaios langsung undur diri untuk mengurus semuanya. Sedangkan Kenzie menatap hamparan taman luas yang ia buat untuk Ellina. "Tunggu aku disana, Queen. Aku akan terus bersamamu hingga kau mengingat semua tentangku. Tentang kita dan keluarga kecil kita." Kenzie menggaruk rambutnya dan berjalan menatap cermin. Melihat rambut coklatnya yang bisa berubah kapan pun sesuai kekuatan yang ia keluarkan. Kenzie menatap wajahnya di cermin lagi. "Apakah aku sudah tak menarik lagi bagimu? Hingga kau melupakanku begitu cepat. Tidak, kau tak bisa melakukan itu padaku, Queen. Kau adalah milikku dan sampai kapan pun akan tetap jadi milikku. Aku tak peduli pada waktu yang telah merubah semuanya. Hal yang aku tahu adalah kau Ratu dan istriku!" ===================================
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD