6. Hyroniemous Academy.

2048 Words
Pagi ini, semua terlihat begitu sibuk. Bagaimana tidak, sejak saat Ernest dan Lykaios mengurus semua keperluan tentang awal masuknya mereka sebagai murid baru. Kabar tentang anak pemilik sekolahan Hyroniemus Academy yang akan masuk sekolah membuat sekolah sedikit gempar. Pasalnya mereka begitu penasaran dengan wajah anak sang pemilik sekolah yang terdengar tampan dan anak orang berada. Ellina menatap wajahnya di cermin dan membenarkan rambut panjangnya. Membiarkan rambut panjangnya tergerai dengan bebas  dengan sebuah bando pita kecil di kepalanya. Ellina tersenyum manis saat melihat cuaca yang cerah pagi ini. Ingatan Ellina kembali berputar dengan kata-kata penasaran seluruh siswa Hyroniemus tentang kedatangan anak pemilik sekolah Hyroniemus. Kabarnya mereka datang pagi ini dan langsung masuk kekelas istimewa. Dan itu adalah kelas yang penuh dengan persaingan dengan seluruh kemampuan belajar di atas rata-rata. Bahkan lexsi, Ariela dan Valerie ikut heboh tentang kabar tersebut. Berbeda dengan Aaric atau Alvian, mereka menanggapi dengan datar semua kabar tersebut. Bagi mereka bertambahnya siswa di kelas istimewa, bertambah pula saingan untuk mendapatkan nilai terbaik. Saat ada siswa baru yang masuk maka akan ada siswa lama yang akan di keluarkan. Kelas istimewa tak pernah berisi lebih dari 20 siswa. Dimana 20 siswa ini akan bersaing dalam bidang pelajaran dan semua kekuatan yang mereka miliki. Disinilah awal tak mengertinya Ellina tentang kekuatan yang para guru dan siswa tertentu katakan. Namun sejauh ini semua kelas terlihat normal dengan pelajaran yang tak berbeda dari biasanya. Sampai detik ini Ellina masih tetap tak mengetahui tentang poin tersebut, namun saat pendapat beberapa siswa kian membuat Ellina bingung, Ellina lebih memilih diam dan melihat semua hal yang akan terjadi di depan matanya. "Itu tentang kekuatan berbeda dari dalam diri kita dan hanya dimiliki oleh mereka orang-orang yang berbeda." ini pendapat Aaric dengan bada dingin yang terdengar misterius. "Itu bukan sesuatu yang bisa dimengerti oleh semua orang. Kau tahu, ada banyak hal yang tak terduga di dunia ini." kali ini pendapat Alvian terdengar tengah menyembunyikan sesuatu yang besar dan tak ingin ia beri tahukan pada siapa pun. "Itu bukan suatu hal yang penting, karena jika dirimu berbeda, maka kau akan mengerti karena kau akan memilikinya." senyum Ariela begitu terkembang saat mengatakan pendapatnya pada Ellina. "Menurutku, itu bukan sesuatu yang harus kau pusingkan. Kau tahu? Aku sudah dua tahun bersekolah disini dan sejauh ini tak ada perubahan tentang jadwal mata pelajaran atau seperti kekuatan yang kau tanyakan." Lexsi saat itu tersenyum ragu pada Ellina namun dengan keyakinan yang ia miliki, ia mencoba menenangkan Ellina. "Bukan masalah besar. Aku dengar dari ayahku yang ikut mengurus sekolah ini, kekuatan yang mereka maksud adalah kekuatan pikiran kita dalam menentukan prestasi yang akan kita raih," jawaban Valerie terdengar lebih masuk akal bagi Ellina. Ellina termenung sesaat dengan semua jawaban yang berbeda dari teman-temannya. Dalam kasus ini, Ellina merasa Ariela, Aaric dan Alvian tengah menyembunyikan sesuatu yang besar. Sesuatu yang tak boleh siapa pun tahu. "Kekuatan. Berbeda karena jika dirimu berbeda maka kau akan memilikinya. Kekuatan apa yang sekolah selipkan diantara semua jadwal pelajaran? Kenapa semua terdengar aneh jika aku memikirkannya lebih jauh? Lagi pula, sekolah itu sejak awalnya memang terlihat aneh. Siapa yang akan menyangka sekolah yang bangunannya mirip kerajaan itu memiliki fasilitas terlengkap bahkan taman yang luas. Sekolah yang sudah penuh dengan hiburan tersendiri bagi mereka yang kesepian." Ellina menggeleng pelan dengan apa yang baru saja ia ucapkan. "Anak pemilik sekolah? Kaya dan tampan? Jika itu adalah benar, maka aku yakin dia hanyalah playboy kelas kakap yang suka tebar pesona. Yang berarti, ia masuk ke kelas istimewa tanpa otak jenius dan hanya mengandalkan koneksi dalam. Menyedihkan!" ucap Ellina lagi. Menurut Ellina rasa penasaran semua murid di kelasnya begitu berlebihan. Terlebih Ariela, Lexsi dan Valerie. Mereka bertiga bagai terhipnotis saat mendengar kabar tersebut. Hal yang ditanggapi dengan sangat acuh oleh Ellina, Aaric dan Alvian. *** Kenzie menatap bayangannya di depan cermin. Pakaian sekolah telah melekat pada tubuhnya. Kenzie merapikan rambutnya dengan menyisir menggunakan jari secara asal. Lalu tersenyum dengan memasangkan dasi di bajunya. "Benar, hari ini aku akan menemuimu dan membuatmu tak akan melupakanku lagi, Queen." Kenzie menggunakan jas sekolahnya, mengambil tas dan meletakkan satu tali di bahunya. Membiarkan satu tali tergantung bersama tas di pundaknya. Keluar dari kamarnya dengan wajah fres yang terlihat berseri-seri. Lykaios, ia menatap bayangannya di depan cermin berkali-kali. Rambut putihnya yang telah ia rapikan terlihat begitu pas untuk wajahnya. Untuk kesekian kalinya, Lykaios merapikan bajunya dan penampilannya. Tersenyum lembut dengan memberi semangat pada diri sendiri. "Baiklah, harus rapi saat pergi kesekolah dan mematuhi semua peraturan sekolah. Jadi murid yang baik dan ayo pulihkan semua ingatan yang terlupakan. Lykaios, kau pasti bisa." Lykaios menggengam erat tangannya dan tersenyum lebar. Sedangkan Ernest, karena ia pernah masuk sekolah sebelummya, Ernest tak melakukan banyak hal. Ernest merapikan rambutnya secara acak lalu membuka satu kancing baju kemeja sekolahnya. Memasang satu anting di telinganya lalu dengan senyum manis ia mengambil jas sekolahnya. Memakai jas sekolahnya tanpa mengancingkan kancingnya. Ernest terlihat puas dengan bayangannya di cermin. "Baiklah, ayo kita buat Alvian geram dengan gayaku. Hahaha, aku akan mendepaknya dari pandangan para wanita di sekolah." Kenzie, Lykaios dan Ernest bertemu di halaman rumah. Mereka saling tatap dan saling tersenyum dengan gaya masing-masing. Diantara mereka, Lykaios lah yang paling rapi. Lalu dengan jahilnya Ernest mengacak rambut Lykaios yang tersisir rapi kesamping. Mengacaknya dengan pelan hingga rambut Lykaios terlihat sedikit berantakan. "Itu lebih cocok untukmu," ucap Ernest dengan yakin. Lykaios hanya pasrah saat Kenzie ikut mengacungkan kedua jempolnya. Tak cukup disitu, dengan gerakan cepat Ernest membuka kancing jas sekolah Lykaios lalu melonggarkan dasi yang terikat rapi. Memasangkan satu anting kecil ditelinga Lykaios dan menarik kekuar kemeja sekolah yang rapi. "Tak perlu serapi ini dan longgarkan dasimu agar kau terlihat keren. Kita harus membuat Alvian marah dengan gaya kita," ucap Ernest lagi. "Be-benarkah ini tak apa? Tapi kita harus mematuhi peraturan sekolah, Ernest." Lykaios tampak ragu dengan gaya yang baru saja ia dapat. "Itu tak akan jadi masalah besar," jawab Ernest tanpa tahu resiko apa yang akan mereka hadapi. Kenzie yang melihat gaya kedua anak buahnya hanya menggelengkan kepalanya. Kenzie sama sekali tak merubah penampilannya yang santai, rapi namun terlihat pas untuk tubuhnya. Ernest membukakan pintu mobil belakang untuk Kenzie. Setelah Kenzie masuk, Ernest duduk di belakang setir dengan Lykaios yang duduk di sampingnya. Mobil melaju pelan menuju Hyroniemus Academy yang akan gempar mulai pagi ini. *** Hyroniemus Academy. Pagi ini suasana Hyroniemus Academy terlihat ramai. Banyaknya siswa yang telah datang membuat suasana Hyroniemus terlihat hidup. Kebanyakan dari siswa berkumpul di depan, di bawah pohon atau taman yang dekat dengan pintu utama untuk melihat idola mereka yang datang setiap harinya. Dimulai dari Aaric. Aaric turun dari mobil mewahnya yang sangat jarang ia pakai ke sekolah. Jeritan kecil terdengar riuh saat mata para gadis melihat ketampanan dan kedinginan Aaric yang terlihat acuh pada sekitarnya. Baju kemeja yang keluar, dasi yang terikat rapi dengan jas yang pas untuk ukuran tubuhnya tanpa di kancingkan. Earphone yang melekat di kedua telinganya tak lupa sebuah tas belakang yang hanya menggantung di sebelah sisi kanannya. Aaric berjalan dengan acuh sambil membawa salah satu buku di tangan kirinya. Satu menit kemudian keadaan bertambah riuh saat sang model sekolah tiba dengan senyum manisnya. Alvian, ia turun dari mobilnya dengan earphone yang tergantung di lehernya. Baju kemeja yang keluar, dasi yang terikat dengan longgar dan jas sekolah yang ia bawa dilemparkan di pundaknya. Tak hanya itu, sebuah kaca mata hitam yang baru saja ia lepas dari hidung mancungnya, Alvian lemparkan asal kedalam mobilnya. Alvian berjalan dengan cuek namun senyum manis itu selalu menghiasi bibir tipisnya. Alvian tersenyum dan melambaikan tangannya saat matanya melihat punggung Aaric yang tak jauh darinya. Alvian berlari mendekat dan langsung menepuk bahu Aaric keras. "Kau lagi-lagi tak menungguku!" teriak Alvian sedikit keras dengan senyum manis yang masih menghiasi bibirnya. Aaric hanya menoleh pelan tanpa menanggapi perkataan Alvian. Namun saat pundak Alvian menyenggolnya berkali-kali, Aaric ikut menatap apa yang Alvian lihat. Dari sebuah mobil mewah, Ellina turun dengan rambut yang tergerai rapi. Sebuah tas sekolah menggantung di belakang tubuhnya hingga menutupi sebagian rambut panjang Ellina. Sebuah senyum manis yang menyejukkan saat Irlac mengelus puncak kepala Ellina dengan sebuah kecupan hangat sebelum akhirnya Irlac meninggalkan Ellina. Ellina berjalan dengan santai dan melambaikan tangan saat Alvian datang menjemput Ellina dengan berlari kecil. "Pagi, Ellina yang cantik." sapa Alvian dengan senyum manisnya. "Pagi Alvian, dan Aaric." balas Ellina karena melihat Aaric juga tengah berjalan ke arahnya. "Ellina...!" Sebuah suara nyaring terdengar diiringi derap langkah yang cepat. Lexsi, Ariela dan Valerie baru saja datang dan langsung bergabung dengan Ellina, Alvian dan Aaric. Mereka berbincang sesaat hingga sebuah suara riuh kembali terdengar saat sebuah mobil terparkir tak jauh dari mereka. Ellina dan yang lainnya diam karena mulai memperhatikan mobil tersebut. Ernest turun dengan santainya,  mengacak rambutnya sesaat lalu menuju pintu belakang mobil. Lykaios turun dengan santai namun terpaku saat melihat sekolah tinggi dengan ratusan siswa yang mulai keluar karena kedatangannya. Ernest membukakan pintu untuk Kenzie. Saat Kenzie turun dengan pelan, teriakan terdengar riuh. "Tampan," ucap Ariela dengan nada penuh kekaguman. "Mereka," ucap Ellina tertahan karena mencoba mengingat wajah Kenzie, Ernest dan Lykaios. "Baiklah, diantara kita harus ada yang bisa mendapatkan salah satu dari mereka," ucap Lexsi penuh dengan rencana konyol di dalam pikirannya. "Astaga, siapa mereka?" tanya Alvian karena mulai merasa gerah dengan gaya mereka. "Itu bukan sesuatu yang penting kan?" tanya Aaric lagi dan mendapat anggukan dari Ellina. Kenzie, Lykaios dan Ernest berjalan beriringan. Mata mereka tertuju pada Alvian, Aaric, Ellina dan tiga teman wanita yang sama sekali tak pernah mereka anggap ada. Langkah mereka semakin dekat dengan gerbang sekolah, jeritan kekaguman semakin terdengar namun Ellina, Alvian dan Aaric berjalan acuh masuk kedalam halaman sekolah meninggalkan Lexsi, Ariela dan Valerie yang masih mengagumi Kenzie, Ernest dan Lykaios. Kenzie melihat punggung Ellina yang kian menjauh. Ernest yang melihat itu semua hanya bisa geram dengan sikap Alvian dan Aaric yang sama sekali tak mengindahkan kedatangannya. "Yang Mulia, apakah Yang Mulia baik-baik saja?" tanya Ernest sedikit khawatir. "Jangan hiraukan aku, Avram. Aku tahu apa yang harus aku lakukan." jawab Kenzie yakin. Lykaios hanya diam dan terus melangkah hingga sebuah suara keras yang terdengar membuat mereka menghentikan langkah. "Alvian...! Aaric...! Lagi-lagi kalian melanggar aturan sekolah! Masukkan baju kalian!" Azzura berteriak kencang dengan tangan yang berada di kedua pinggangnya. "Ah, s**l! Lagi-lagi si penyihir ini," ucap Alvian dengan kesal. "Ya ampun, kenapa dia harus datang pagi ini," tambah Aaric kesal. Azzura berjalan mendekati Alvian dan Aaric namun dengan cepat Alvian berteriak. "Lari...!" Aaric lari bersama Alvian dengan cepat. Membuat Azzura geram bukan main. Mata Azzura menatap datar Ellina yang hanya menundukkan kepala saat Azzura lewat. Hingga sebuah suara membuat Ellina menoleh pelan. "Queen," sapa Kenzie lembut. Ellina menoleh dan menatap datar wajah Kenzie. "Kau lagi?" "Kalian...! Ikut aku ke kantor sekarang juga...!" Azzura menunjuk Ernest dan Lykaios yang hanya bengong menatap Azzura. "Di-dia Azzura, dia benar-benar jadi guru disini?" Ernest masih tak percaya hingga menanggapi perkataan Azzura dengan datar. "Azzura, bukankah dia salah satu orang yang kita dapatkan informasinya?" bisik Lykaios pelan. Ernest mengangguk. "Lalu kenapa Alvian dan Aaric lari saat melihatnya?" Belum sempat Lykaios menjawab, Azzura sudah menjewer telinga mereka. Membuat Kenzie dan Ellina tertawa kecil. Ernest dan Lykaios mengikuti Azzura dari belakang dengan penuh pertanyaan. Sedangkan dari jauh, Alvian dan Aaric menepukkan satu tangan mereka dan tersenyum geli. "Habislah kalian," ucap Alvian dan Aaric bersamaan. Ellina melangkah pelan dengan senyum yang masih ia tahan. Namun Kenzie menahan satu tangannya hingga membuat Ellina menoleh. "Queen, bisakah kita berjalan bersama?" tanya Kenzie pelan. Ellina tersenyum. "Namaku Ellina, bukan Queen." Kenzie tersenyum. "Aku tahu," Kenzie melangkah di samping Ellina dan berjalan beriringan. Membuat seluruh sekolah gempar karena diawal kedatangan Kenzie, Kenzie terlihat begitu dekat dengan Ellina. Kini banyak mata yang memandang Ellina kagum. Bagaimana tidak? Baru saja Ellina masuk sekolah, dua Pangeran tampan sekolah sudah terang-terangan mendekati Ellina. Kini saat kabar anak pemilik sekolah datang kesekolah,  dan lagi-lagi mereka melihat Ellina lah orang pertama yang mereka tuju. Namun tak sedikit yang mulai iri dengan Ellina, mereka mulai menatap Ellina kesal dan penuh benci. Lexsi, Ariela dan Valerie hanya terpaku melihat pemandangan di depan matanya. Melihat Kenzie yang tersenyum manis pada Ellina dengan seluruh ketampanan yang membuat seluruh siswa menjerit pelan. "Huaaa, dia tak pernah mengatakan padaku bahwa ia telah mengenal anak pemilik sekolah yang tampan itu," Lexsi merengek manja pada Ariela. "Lagi. Lagi-lagi Ellina yang mendapatkan semuanya." ucap Ariela sedih. "Bukankah itu bagus? Itu berarti kita juga akan dengan mudah dekat dengan mereka seperti dekat dengan Alvian dan Aaric," Valerie tersenyum bangga pada Ellina. ===================================
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD