"Seneng banget yang baru dianterin pacarnya pulang" ucap seseorang dari arah belakang yang sontak membuatku kaget. Aku memukul bahu Bang Arman keras, sehingga membuatnya meringis kesakitan saat merasakan tangan mautku di bahunya. "Kapan pulang?" tanyaku tanpa tendeng aling-aling. Aku menatapnya yang terliha tampan dengan t-shirt hitam salah satu brand mahal dunia yang ia padukan dengan celana jeans pendek. Tampilan casual yang ia perlihatkan membuat siapa saja akan menahan napas. "Tadi sore setelah dapet kabar tentangmu." Abang menghela napas. "Aku bingung sama yang nyebarin fitnah tentangmu sama Ayah, De? Nggak punya otak dia." ucap abang kesal. Aku berjalan memasuki rumah, terlihat Bunda sedang duduk di samping Ayah yang sedikit kelelahan akibat perjalanan panjangnya dari London me

