"P-Pak A-lan," ucap gugup seorang laki-laki tinggi besar ini saat melihatku. Aku tak peduli dengannya. Amarahku memuncak saat melihat tangannya terangkat berusaha menampar gadisku. "Apa yang sedang kamu lakukan?" desisku marah menatapnya. Gilang, atau siapalah nama pria hanya terdiam sesekali menatapku dengan gugup. "Saya tidak suka ada kekerasan di kantor saya, terutama pada wanita. Sekali lagi saya lihat kamu melakukan kekerasan di kantor saya. Saya tidak akan sengan mengeluarkan surat peringatan buat kamu atau bahkan memecat dengan tidak hormat dirimu," ucapku sengit. Ingin rasanya aku menghajar tubuhnya karena berani menampar Ora jika saja aku tidak menahannya. Ia hanya menunduk menahan rasa marah sekaligus malunya. "Kamu boleh pergi." "B-baik, pak," ucapnya meninggalkan kami. Aku

