Bab 19 Natan Pahlawan Kesiangan

1246 Words
Siska termenung di meja kasirnya karena dua hari sudah berlalu sejak ia bicara dengan kakaknya dan anaknya belum juga mengontaknya. Ada dilema dalam diri Siska. Tidak biasanya ia minta anaknya berkunjung. Tapi, di lain pihak, ia juga tahu betapa sulitnya Devinta atur waktu untuk bisa bicara dengannya. Kalau sampai ia dikontak dan belum bisa berikan apa yang Devinta minta maka ia iba dengan tekanan yang mungkin dialami oleh Devinta. Siska menatap ke semua tembok di sekelilingnya. Tidak ada fotonya berdua dengan anaknya yang bisa ia ambil seperti permintaan Devinta. Dengan berat hati, Siska akhirnya kirimkan pesan untuk anaknya. Meski ia tidak yakin akan dibalas, tapi ia berharap usahanya akan berbuahkan hasil. Sementara di kampus Saras. Natan baru saja selesai rapat dengan salah satu kliennya. Ia bersama pengawalnya menyusuri lorong menuju deretan ruangan kuliah untuk temukan kelas di mana Saras berada. “Tuan, apa kita akan terus lakukan hal ini setiap hari? Mengamati gadis itu?” tanya salah satu pengawalnya. “Kenapa? Kalian mulai bosan? Ingin kehilangan pekerjaan?” “Tidak, Tuan. Tapi, maksud kami gadis itu seperti tidak peduli pada Tuan. Makanya kami kesal.” “Tidak usah dibahas. Soal sikap gadis itu, sudah jadi urusanku. Kalian hanya perlu waspada saja. Amati jika ada pria yang melirik Saras meski dari jauh. Mereka harus langkahi dulu diriku.” Para pengawal hanya saling pandang dan memilih untuk diam. Sedangkan di balik pintu salah satu ruangan kuliah. Wira jelaskan sebuah konsep dan semua mahasiswa sedang menyimak. Hanya Saras yang sudah tidak tenang lagi. Enam puluh menit sudah berlalu dan rasa lapar yang menggigit masih menyerang Saras. ‘Aku harus ke kantin sekarang. Kepalaku mulai pening. Tapi, bagaimana kalau ia panggil aku untuk masukkan tugas ini. Apa aku titip saja pada Livia?’ batin Saras. Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Saras tidak sadar kalau sedang jadi fokus tatapan dari semua temannya karena Wira sedang bertanya padanya. “Inilah contoh mahasiswa yang secara fisik hadir ikuti kuliah tapi pikirannya sedang berkelana ke segala arah,” sindir Wira karena tidak dapatkan respon dari Saras. Livia baru tersadar juga kalau Saras sedang berada di dunia lain untuk sesaat, sehingga ia akhirnya menyikut dengan keras lengan temannya itu agar fokus pada dinamika di ruang kuliah. “Aw, sakit!” seru Saras buat semua di kelas tertawa. Riuh suara itu buat Saras bingung. Di tambah lagi dengan pernyataan dari pak asisten dosen Wira. “Materi kita selesai sampai di sini. Silakan boleh keluar kecuali Saraswati Kusuma.” “Gawat, jangan bandel lagi saat berbicara dengan Pak Wira. Tadi dia bertanya padamu dan tidak dapat respon. Dia mungkin sedang dalam keadaan kesal karena kamu terkesan tidak memperhatikan ceramahnya.” Livia berusaha jelaskan situasi yang ada. Saras benar-benar tidak simak dengan baik apa yang tadinya disampaikan oleh Wira. Dia sedang sibuk pikirkan cara atasi teriakan lambungnya. Kepalanya pun semakin pening karena tidak ada asupan gizi dan dipaksa belajar. Viana hanya tersenyum dan keluar mengikuti teman-teman yang lainnya. Livia pun ikut menyusul tinggalkan Saras sendirian. Dengan perlahan, Saras keluarkan tugasnya dari tas dan berjalan menghampiri meja asdos. Di saat itu, Wira sedang melihat ponselnya. Ada beberapa pesan baru yang masuk tapi belum sempat dia baca. Konsentrasinya buyar karena dengar suara Saras. “Maaf Pak. Ini tugas yang harus saya kerjakan.” Wira mengangkat wajahnya dan menatap Saras. ‘Andaikata kamu bukan mahasiswaku, sudah pasti aku perlakukan berbeda,’ batin Wira. “Kenapa kamu tidak merespon saat saya bertanya tadi?” “Saya tidak begitu dengar pertanyaan Bapak. Mohon diulangi lagi!” pinta Saras dengan nada sopan dan pelan. “Untuk apa? Bukan saya yang butuh jawaban dari kamu tapi harusnya tanggapan kamu jadi pembelajaran untuk temanmu yang lain. Kelas sudah berakhir, tidak ada gunanya lagi dijawab.” “Saya tidak bisa berkonsentrasi dari tadi karena saya…” Mata Saras berkunang-kunang. Suaranya menghilang karena matanya tertutup dan ia langsung limbung dan terjatuh di depan meja Wira. “Saras!” seru Wira kaget. Ia segera bangkit dari kursi untuk bisa lihat keadaan gadis itu. “Saras!” seru Livia dan Viana serentak sembari berlari masuki kelas. Mereka memang sedang amati Saras dari luar dan ikut terkejut saat lihat teman mereka terjatuh. “Kita bawa ke ruang kesehatan saja!” seru Livia berusaha untuk mengangkat tubuh Saras namun tidak berhasil. “Aku amankan tasnya saja dulu,” timpal Viana sudah menuju tempat duduk mereka bertiga. “Biar saya sa…!” timpal Wira tapi terpotong karena suara yang lain. “Jangan sentuh Saras! Saya akan langsung bawa ke rumah sakit saja!” seru Natan sudah ada di dalam ruangan. Ia dari tadi memang mencari ruang kuliah Saras dan begitu ia lihat dua sahabat Saras ia langsung mendekat dan dapati Saras sedang tergeletak. Wira batalkan niatnya dan mundur karena Natan sudah menerobos dan membopong tubuh Saras dalam gendongannya. Viana dan Livia tidak bisa protes tapi langsung mengekori Natan yang bergerak cepat membawa Saras ke mobilnya. “Satu orang saja, karena mobilku tidak cukup!” kata Natan setelah dudukkan Saras di jok tengah. Gadis itu masih menutup matanya dan tidak tahu kalau Natan yang sudah jadi pahlawan untuknya. “Tunggu di sini! Kami nanti kembali,” ucap Livia pada Viana yang mengangguk sambil serahkan tas Saras yang ia peluk dari tadi. “Kamu juga tunggu di sini saja,” kata Natan pada salah satu pengawalnya yang patuh. Livia langsung masuk dan duduk di samping Saras yang masih lunglai tak bergerak. Viana menatap pengawal Natan di sampingnya dan tersenyum sambil berkata, “Hai, aku Viana.” Si pengawal hanya tersenyum sinis lalu berjalan menjauh dari Viana. Gadis itu pun melengos dan tinggalkan tempat parkir menuju kantin. Sedang di dalam mobil Natan cukup ramai dengan suara musik dalam perjalanan ke rumah sakit. “Saras bangun!” bisik Livia sambil menepuk-nepuk pipi temannya pelan. ‘Kenapa pakai pingsan sih, Ras. Kamu pasti akan ngamuk kalau tahu Natan yang membopongmu tadi. Habisnya, aku dan Viana juga tidak kuat. Harusnya tadi biar Pak Wira yang bawa ke ruangan kesehatan di kampus. Kebetulan lagi berisik. Ayo, Saras, bangun!,’ batin Livia. “Bangun Saras!” bisik Livia lagi. Kali ini ia tambahkan cubitan di lengan Saras dan ia pijat-pijat ujung jempol sahabatnya. “Ayo lebih cepat lagi karena kita harus sampai di rumah sakit secepatnya!” perintah Natan pada sopirnya sambil melirik ke jok tengah di mana Saras dan Livia berada. “Kamu harus bangun sekarang atau Natan akan akui kamu sebagai istrinya di depan petugas rumah sakit!” tegas Livia lagi di telinga Saras tapi tetap berusaha agar tidak terdengar oleh Natan atau sopirnya. Rupanya kalimat terakhir dari Livia cukup ampuh karena Saras mulai gerakkan ujung jemari tangannya dan buka matanya perlahan. Ia tangkap suara musik yang cukup keras. Livia bisa rasakan pergerakan kecil itu dan ia lihat kelopak mata Saras terbuka. Ia berbisik tapi jelaskan situasi yang ada perlahan, kata demi kata, “Kamu pingsan. Kita ada di mobil Natan. Jangan banyak bergerak kalau kami tidak ingin Natan yang sedang duduk di depan, tahu kalau kamu sudah sadar.” “Kepalaku pusing, kita mau ke mana?” balas Saras pelan dengan mata sudah tertutup kembali. “Aku akan papah kamu begitu turun dari mobil. Kita mau ke rumah sakit.” “Kabur, Li. Aku tidak mau diperiksa. Jangan biarkan dia sentuh aku. Bawa aku pergi dari mobil ini!” tegas Saras berusaha untuk kuatkan tubuhnya. “Oke. Tetap terlihat pingsan. Aku akan pikirkan caranya begitu kita sudah turun.” Saras menahan rasa pusing yang amat sangat tapi berusaha untuk tetap terjaga. Ia tidak ingin dirawat di rumah sakit ditemani oleh Natan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD