Bab 20 Saras Kabur Dari Rumah Sakit

1012 Words
Siska tersenyum melihat layar ponselnya. Anaknya sudah kirimkan tanggapan. “Mama, maafkan karena baru membalas. Malam ini aku bisa pulang. Aku kangen masakan Mama.” Ia lirik jam dinding sudah hampir pukul dua belas siang. Dengan sigap ia panggil orang kepercayaannya agar bisa menunggui toko dan ia bergegas ke dapur untuk siapkan makan malam untuknya dan anaknya. Mereka memang hanya berdua saja karena Siska tidak menikah atau pun adopsi anak yang lain. Sementara itu di pelataran rumah sakit umum di mana mobil Natan baru saja berhenti. “Tolong ambilkan kursi roda, Tuan Natan,” pinta Livia dengan suara memohon dan ekspresi memelas. Musik sudah dipelankan begitu mereka masuki gerbang tempat umum itu. Natan menatap sopirnya yang juga pengawalnya di sebelahnya agar turun dan lakukan permintaan Livia, tapi sopir itu menjawab, “Maaf Tuan. Saya tidak bisa parkir di sini. Mobil harus dalam keadaan hidup karena area drop pasien saja.” Natan mendengus tapi ia tidak paksakan kehendak. Sementara sopir nampak sibuk dengan sabuk pengamannya dan juga turun dari mobil meski ia hanya berdiri dekat pintu dan menatap tuannya dari jauh. Kesempatan itu Livia gunakan untuk buka pintu perlahan-lahan lalu ia cubit lengan Saras untuk segera bergerak turun bersamanya. Mereka lakukan dengan cepat tanpa timbulkan bunyi apa pun. Karena masih pusing maka Saras tetap memeluk tangan kiri Livia agar tidak terjatuh. Mereka merunduk dan bergerak munduk ke arah belakang mobil. Setelah itu Livia merangkul Saras untuk berjalan cepat tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan. Livia sigap mengamati sekeliling untuk temukan ruangan yang bisa mereka pakai untuk bersembunyi tapi tidak ada. “Lari, Saras ke balik mobil itu!” pinta Livia menarik sahabatnya. Ia dan Saras akhirnya bersembunyi sementara di balik mobil yang sedang terparkir. Ponsel Livia berdering dengan sangat nyaring buat keduanya membeliak kaget. Dengan tangan gemetar, Livia mengambil ponselnya dan ia getarkan saja. “Natan yang menelepon.” “Abaikan pria menyebalkan itu. Aku tumbang karena lapar. Kita harus cari sesuatu untuk lambungku sebelum aku pingsan lagi,” ucap Saras terbata-bata. “Jangan bergerak, kamu tunggu di sini. Aku lihat situasi dulu.” Saras mengangguk. Ia berusaha atur pernapasannya sekaligus alihkan pikirannya dari makanan untuk bisa tetap sadar. Rasa pening tetap berputar di kepalanya dan ia tidak ingin melawan rasa itu tapi sebaliknya ia menutup matanya dan rasakan dalam diam setiap sakit nyeri yang belum bisa hilang. Kata orang, ikuti dan resapi rasa sakit maka tubuh akan lebih mudah menerimanya daripada sebaliknya. Sedangkan Livia sudah temukan kantin dan ia segera pesan satu gelas teh hangat manis untuk diberikan pada sahabatnya agar ada kekuatan untuk berlari. Livia sudah ubah tatanan rambutnya jadi tergerai yang tadinya ia ikat rapih. Semuanya dengan tujuan agar Natan dan pengawalnya terkecoh. Sambil tungguh pesanan ia tetap waspada agar jangan sampai terlihat oleh Natan dan pengawalnya. Sepuluh menit kemudian, Livia sudah berjongkok di samping Saras. “Minum dulu sampai habis. Setelah ini kita cari tempat makan yang sulit dilacak oleh Natan dan kontak Viana untuk berjumpa dengan kita di sana.” “Terima kasih untuk tehnya. Ini sangat membantu. Biar kita makan saja dan balik ke kampus. Mobilku masih di sana.” “Tapi, kalau Natan bertemu kita bagaimana?” “Kita memang tidak larikan diri dari Natan, jadi nanti aku jelaskan kalau kita jumpa dengan pria sok pahlawan itu di kampus.” Livia hanya bisa mengangguk karena terkadang sulit paham dengan jalan berpikir Saras. Di saat yang sama di sebuah kamar kos. “Jadi, kamu sudah putus dengan pacarmu yang dosen itu?” tanya Andre sambil mainkan jemarinya di bagian tubuh Indah yang membusung. Sesekali jemari yang lincah itu terus turun untuk merasakan apakah kekasihnya sudah basah. Kalau belum, maka ia terus beraksi memancing sampai mereka benar-benar siaga lagi untuk ronde selanjutnya. Indah belakangan memang menginap di kamar sewaan milik Andre. Tepatnya setelah ia diputuskan oleh Wira beberapa hari yang lalu. Sejak semalam mereka terus bermain cinta untuk lampiaskan hasrat masing-masing. Indah memang temukan Andre sebagai pemain ranjang yang sepadan dengannya. Setiap kali ia inginkan, maka Andre pun tidak pernah enggan untuk memuaskannya. Agak berbeda dengan Wira yang terkadang memang butuh upaya lebih untuk bangkit, setiap Indah butuhkan. Tapi, bersama Wira ada kepuasan tersendiri buat Indah karena ia bisa miliki status. Jadi pacar seorang dosen muda tentu saja akan sangat membanggakan apalagi kalau mereka berhasil sampai di pelaminan, kedua orang tua dan keluarga besar Indah tentu sangat senang. Andre sendiri memang tampan secara fisik tapi masih belum mapan. Ia adik semester satu tingkat sebelum Indah. Jadi, Indah sebenarnya sedang dilema. Ia ingin mengemis cinta Wira lagi tapi ia belum temukan caranya. “Aku tidak putus dengannya. Tapi, dia sepertinya marah dan agak curiga padaku karena pernah dapati bau parfummu melekat di kemejaku,” elak Indah saat dibilang sudah putus dengan Wira. “Kamu memang selalu nikmat untuk dimakan. Apalagi seperti ini,” balas Andre sudah susupkan kepalanya di antara dua organ membukit yang terpampang polos karena ia barusan singkap selimut yang Indah pakai. “Kamu memang brutal, aku sedang bicara serius,” ucap Indah di tengah desahannya mulai terpicu oleh kelihaian Andre. “Bicaralah terus, aku dengar,” sahut Andre tidak begitu jelas di telinga Indah karena ia lihat kekasihnya itu sibuk mengulum puncak organ kembarnya. “Aku tetap kekasih Wira dan juga selalu mainkan peranku sebagai istrimu. Jadi, kamu tidak perlu khawatir dan cemburu. Ke mana pun aku pergi, aku akan selalu kembali padamu karena kamu yang terhebat di ranjang, dari semua pria yang pernah bersamaku.” Pujian yang Andre dengarkan seperti pecut yang melucuti seekor kuda sehingga berlari dengan penuh kekuatan. Percakapan sepasang kekasih itu berubah jadi permainan panas membara di siang hari. Jika ingin dihitung, mereka sudah lakukan pada ronde kelima, sejak berjumpa semalam. Indah memang sejak awal dikenalkan dengan olah raga fisik yang memicu hormon dopamin ini, ia jadi ketagihan. Hampir semua mantan pacarnya kewalahan untuk buat ia puas. Paling lama Indah bertahan tanpa sentuhan adalah lima jam saja. Sama halnya dengan Andre yang hampir setiap hari mesti menggesekkan permukaan kulitnya pada lawan jenisnya. Terkadang hanya selang beberapa jam saja seperti saat ia bersama dengan Indah. Sungguh pasangan kekasih yang gila dan maniak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD