Wira mengusap bibirnya dan masih meresapi permukaan kulit Saras yang ia lumat belasan menit sebelumnya.
“Terima kasih Saras. Kamu berhasil buat aku enyahkan Indah dari kepalaku. Kamu memang gadis yang istimewa,” gumam Wira pada dirinya sendiri.
Ia ada di sana karena ingin bunuh waktu tunggunya agar bisa balik ke apartemennya. Ia tidak ingin berjumpa dengan Indah lagi di sana.
Awalnya ia hanya ingin minum saja tapi kemudian rasa lapar menyerang dan buat ia harus habiskan waktu di restoran. Sekitar lebih dari dua jam dia ada di sana.
Soal Indah, pastinya akan selalu ada kemungkinan bagi mereka berpapasan di kampus. Hanya saja Wira lebih lega dan merasa akan lebih mudah karena ikatan mereka sudah terlepas.
Setelah puas mengingat sentuhan Saras barulah Wira keluar menuju mobilnya di parkiran.
Saras sampai di mobil dengan tangan yang masih sedikit bergetar karena perlakuan Wira padanya. Kekuatan yang pernah ia punya saat minta Wira tunduk padanya seolah lenyap begitu saja. Semuanya terjadi karena ia sudah kenal siapa Wira dan ia jadi kikuk sendiri atas fakta yang ada.
“Akhirnya kamu datang juga. Aku sudah ngantuk,” sambut Livia.
“Kita akan pulang sekarang. Memang keputusan yang salah keluar dari rumah malam ini. Nasi sudah jadi bubur, tak ada gunanya lagi menyesal.”
“Aku tidak paham apa yang kamu maksud. Besok kita bicarakan lagi.”
Saras menyetir hanya ditemani oleh alunan musik karena kedua sahabatnya sudah terlelap.
“Besok, pagi-pagi sekali aku akan ke kampus untuk tanda tangan daftar kehadiran saja, lalu aku akan ke kantor papa untuk bicara langsung padanya,” gumam Saras pada dirinya sendiri.
Ia parkir mobilnya sampai rapi barulah ia bangunkan Livia dan Viana.
Sampai di kamar, kedua sahabat Saras langsung berteman dengan kasur, menyisakan Saras nikmati es krimnya sendiri.
Minuman lainnya Saras masukkan ke dalam lemari pendingin di dapur.
Di situasi yang berbeda.
Ada banyak hal berseliweran dalam kepala Devinta saat jeda terjadi dalam percakapannya dengan adik perempuannya.
“Kak, kamu masih ada di sana?”
“Aku dengar. Ada beberapa orang lewat tepat di sampingku, jadi aku sempat terdiam.”
“Akan sangat membantuku untuk jelaskan pada anakku, alasan ia tidak dibesarkan oleh ibu kandungnya agar rasa kecewa yang mungkin ia punya, dapat sedikit terobati karena alasan yang logis.”
“Nyawanya terancam kalau dia tetap hidup bersama orang tua kandungnya.”
“Siapa yang ingin membunuh anakku waktu itu?”
“Hubungan yang rumit. Ayah kandungnya punya anak laki-laki dari perempuan lain karena intrik bisnis. Jadi, saat tahu nyonyaku hamil, si perempuan yang tidur bersama tuan buat sumpah kalau ia akan bunuh anak laki-laki dari istri sah agar tidak jadi pesaing bagi putranya sendiri.”
“Rupanya ancaman dari wanita simpanan tuan. Kalau waktu itu, tuan tahu dia sebenarnya punya anak sebagai pewaris dari pernikahan yang resmi, tentu dia akan senang dan berikan perlindungan maksimal untuk istri dan anaknya.”
“Itulah alasan utamanya. Setelah ini, aku akan buang nomor ini. Tiga hari lagi aku akan kontak agar kamu bisa kirimkan foto anakmu. Apa kita bisa sepakat demikian?”
“Ya, kita coba. Semoga anakku akan datang akhir pekan ini. Besok siang, aku coba undang dia untuk makan malam bersama. Sudah lama juga kami tidak berbicara dari hati ke hati.”
“Istirahatlah. Terima kasih karena selalu ada saat aku butuhkan.”
“Kakak juga jaga kesehatan di sana.”
Setelah berhenti berbicara. Devinta langsung keluarkan kartu ponselnya dan ia patahkan. Setelah itu barulah ia buang ke tempat sampah.
Sepeninggal Devinta, ada orang asing berpakaian pemulung yang nyalakan senter dan mengais-ngais tempat sampah yang baru saja Devinta lewati.
Butuh waktu cukup lama barulah orang tersebut kumpulkan apa yang ia cari.
Ia masukkan ke dalam plastik dan tinggalkan taman dengan berkendara sepeda motor.
Motor tersebut terus melaju sampai di sebuah kawasan perumahan elit. Si pengendara berhenti sebentar agar pintu pagar bisa terbuka dan tertutup secara otomatis.
Namanya Prabu. Pria tanpa kerja tetap yang hidup nyaman karena sokongan dari kekasihnya.
“Apa ada berita baik dari hasil kerjamu hari ini?” sambut sang kekasih yang muncul dengan gaun tidur transparannya.
“Di mana anak laki-lakimu? Apakah ia sudah tidur?”
“Saul sedang tidak ada di kamarnya. Dia sudah pergi, tak lama setelah kamu keluar tadi.”
“Apakah dia akan kembali dalam waktu dekat?”
“Mungkin, dua atau tiga jam lagi.”
“Sejujurnya, aku bawa sampah ke sini karena aku tidak tahu apa yang kamu cari. Aku tidak bisa dengar percakapan dari pembantu Bintang juga tadi karena dia sangat berhati-hati dalam bicara.”
“Mana, tunjukkan yang kamu dapat.”
“Nanti saja. Masih ada hari esok. Sebaiknya, kamu layani aku sekarang juga, selagi Saul pergi, karena kamu begitu seksi.”
Prabu yang sudah berusia di awal 50 tidak pernah lelah untuk mencicipi kekasihnya. Mereka belum sah menikah tetapi sudah hidup bersama cukup lama.
Hanya saja, mereka tidak pernah bermesraan di depan Saul karena anak Katy itu berpikir kalau Prabu adalah pamannya yang selalu dampingi ibunya dan bukan kekasih dari ibunya.
Katy adalah ibu dari Saul. Dia anak seorang pengusaha kaya raya tapi aset keluarga mereka tidak sebanyak apa yang dimiliki oleh Bintang Pramudya.
Katy dan Prabu sudah berpacaran sejak Prabu masih berusia dua puluh lima tahun tapi hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua Katy karena Prabu bukan dari keluarga yang berada.
Prabu tidak punya kekayaan berupa aset-aset besar. Selama ini ia tinggal di salah satu kamar kecil di belakang rumah Katy bersama Saul.
Tapi, Saul tidak pernah curiga karena Katy sudah rancang semuanya sehingga Saul hanya melihat Prabu di sekitar area rumah yang lazim dikunjungi oleh para tamu.
Siapa pun yang berkunjung ke rumah Katy, tidak pernah sadar kalau Prabu tinggal di dekat Katy dan putranya Saul.
Tugas Prabu di siang hari adalah sebagai supir pribadi Katy sedangkan di malam hari, pria itu adalah penghangat ranjang Katy.
Prabu sudah menggiring Katy untuk masuk ke dalam kamar tidur mereka. Pria itu sudah kenal betul aksi apa yang bisa buat Katy enggan menolak sebaliknya, bertekuk lutut pada keperkasaannya.
Sayangnya, Prabu tidak tahu kalau Katy simpan rahasia besar selama ini menyangkut relasi mereka dan Saul.