Bab 15 Bodyguard untuk Saras

1166 Words
Jam dinding yang terpajang di pintu masuk gedung kantor para diplomat tunjukkan pukul setengah sepuluh. Saras baru saja antarkan kedua sahabatnya ke kampus dan ia ijin sebentar untuk bicara dengan ayahnya. Saras dapat info dari resepsionis kalau ayahnya sedang bicara dengan seseorang jadinya ia menanti di dekat pintu. Ruang kantor Hadi berkamera sehingga ia bisa pantau siapa saja tamu yang ingin berkunjung dan yang ingin ia temui. Tak lama kemudian tamu yang dari dalam sudah keluar dan Saras langsung masuk karena dia satu-satunya yang sedang menanti di ruang tunggu. “Pagi Papi!” sapa Saras mencium pipi Hadi. “Pagi Saras. Apa kamu tidak ada kuliah hari ini?” “Masih satu jam lagi baru mulai Pi. Saras memang sengaja ke mari untuk berjumpa dengan Papi.” “Kebetulan sekali, Papi juga sedang menanti kedatangan seseorang yang tentunya kamu sudah kenal dengan baik. Sungguh waktu yang sangat tepat.” “Oh, siapa dia Pi?” “Seharusnya dia sudah tiba. Mungkin masih di parkiran. Kita tunggu saja,” balas Hadi melirik jam tangannya. “Sebenarnya Saras ke sini karena ingin bicara tentang kejadian semalam…,” ucap Saras tapi sudah dihentikan oleh Hadi dengan isyarat telapak tangannya agar Saras tunda perkataannya. “Pagi Natan. Kebetulan sekali Saras juga ada di sini!” kata Hadi sambil beri isyarat dengan tangannya agar tamunya segera masuk. Saras hanya bisa menarik salivanya dalam-dalam dan mengatupkan matanya sesaat dan ia buka kembali. Dengar nama Natan buat emosinya langsung melejit sampai ke ubun-ubun sehingga ia butuh untuk tenangkan diri agar terlihat santai di depan ayahnya. “Selamat pagi, Sayang. Maaf, aku yang terlambat menjemputmu padahal harusnya kita bisa bersama-sama bertemu dengan Papimu,” kata Natan dengan penuh percaya diri. Natan memilih untuk berdiri sangat dekat dengan Saras untuk tunjukkan keintiman mereka tapi ia tidak berbuat lebih dari sekedar berdiri saja. “Aku harus ke kampus terlebih dahulu tadi,” balas Saras berusaha imbangi kata-kata Natan sambil bergeser untuk duduk di salah satu kursi yang ada di dalam ruangan. Pemuda itu tersenyum simpul karena tahu kalau Saras mulai bisa tempatkan diri dengan baik. “Karena kalian berdua sudah ada di sini. Ada baiknya kita luruskan informasi yang semalam kamu sampaikan, Natan!” “Siap Pak Hadi. Memang apa yang saya lihat benar adanya. Saras pernah bersama seorang pria sedang makan bersama. Tapi, saya mungkin terlalu cepat ambil kesimpulan yang keliru. Rupanya mereka sedang diskusikan tugas kuliah karena ada dua orang sahabat Saras yang juga duduk bersama di meja tersebut.” Saras menatap tajam pada Natan saat pria itu coba untuk jelaskan kembali ucapannya. Ada kecamuk dalam diri Saras. Rasa benci, muak dan juga jijik pada Natan dan segala sikapnya yang ingin tampil seperti pahlawan di depan Hadi Kusuma. “Jadi, apa yang semalam kami dengar itu salah.” “Benar adanya soal Saras bersama seorang pria tetapi mereka tidak punya hubungan spesial karena hanya teman kuliah saja,” balas Natan. “Di mana kamu lihat aku bersama pria tersebut?” sela Saras ingin tunjukkan kelemahan dalam ucapan Natan. “Setelah kamu tinggalkan jamuan makan siang bersama waktu itu. Pantas saja kamu terburu-buru, karena rupanya kamu lupa kalau sudah ada janji bersama teman-temanmu.” ‘Kamu memang bajingaan Natan. Kamu berusaha untuk jerat aku dan masukkan dalam perangkapmu,’ gerutu Saras membatin. “Papi paham sekarang. Kalian pura-pura tidak saling tertarik di depan kami orang tua, tetapi ternyata komunikasi kalian sudah cukup intens selama ini,” timpal Hadi. Saras mengeraskan rahangnya tapi tidak bisa menjerit untuk patahkan perkataan Hadi, karena Natan pegang kartu as di tangannya. “Saya sebenarnya sudah bicara dengan Saras tapi belum ada waktu yang tepat untuk jumpa dengan Pak Hadi dan Ibu. Saya ingin minta ijin untuk jadi pelindung Saras. Saya bisa jaga dan temani Saras ke mana pun ia ingin pergi, sambil kami mengenal lebih dekat lagi satu dengan yang lainnya.” Gelegak didih emosi dalam diri Saras benar-benar tidak bisa dia bendung lagi. Akibatnya, ia hanya bisa mengepalkan tangannya dan ujung kuku jemarinya yang panjang melesak masuk ke dalam permukaan telapak tangannya sebabkan rasa nyeri yang amat sangat. “Itu bukan ide yang buruk sama sekali, Natan. Namun, sebagai orang tua, saya juga tidak ingin paksa Saras untuk lakukan hal yang tidak ia sukai atau inginkan. Bagaimana Saras? Apa kamu setuju dengan tawaran dari Natan?” pancing Hadi benar-benar tidak tahu kalau Natan sedang permainkan emosi dari Saras. Saras menelan salivanya sebelum balas ucapan papanya. “Apa mungkin Natan ingin jalankan peran sebagai bodyguard untuk Saras, Papi?” cetus Saras secara spontan. Kali ini Natan yang harus meradang dalam diam karena salah pilih kata saat bicara tadi. Harusnya ia tidak pakai kata pelindung tapi langsung saja ingin jadi kekasih untuk Saras. “Bisa saja. Jadi, saya bisa 24 jam ada di samping Nona Saras,” sahut Natan terima tantangan dari Saras. “Tidak mungkin seperti itu. 24 jam kerja tentunya terlalu berlebihan, Natan. Papa dan mamamu bisa protes pada saya karena kamu juga punya pekerjaan utama yang harus dilakukan.” “Saya bisa atur waktu saya dengan baik untuk bisa ada di samping Saras,” sela Natan penuh percaya diri sambil menatap lekat ke arah Saras. “Saya tidak akan ikut campur dalam relasi pertemanan kalian. Tentunya, waktu yang akan berbicara nanti tentang masa depan hubungan di antara kalian. Tapi, kalau memang kamu setuju untuk jadi bodyguard Saras, maka setelah ini, saya ingin bicara khusus denganmu. Ada hal-hal penting yang perlu kamu ingat saat sedang bersama dengan putriku.” “Baiklah. Kalau memang Tuan Natan ingin jadi bodyguard Saras maka ada satu syarat yang harus kita sepakati bersama sekarang juga,” tegas Saras berusaha untuk setarakan posisinya dengan Natan. ‘Kamu pikir aku akan takut dengan ancamanmu? Aku akan pastikan kamu tidak bisa permalukan aku di depan orang tuaku dengan video yang telah kamu pegang di tanganmu,’ batin Saras. “Tentu, Nona Saras. Sebutkan saja!” pancing Natan. “Tuan Natan tidak punya hak untuk melarang Saras berteman dengan siapa saja dan dengan cara apa pun, karena Saras punya hak pribadi untuk bebas bergaul dengan siapa saja dan dalam bentuk apa pun. Etis atau pun tidak, sesuai standar norma yang berlaku atau pun tidak. Bagaimana?” sahut Saras balas menantang mata Natan saat ia bicara. “Kalau saya tidak setuju?” tantang balik Natan. “Tawaran Tuan soal jadi bodyguard dibatalkan. Kita kembali kepada hubungan awal, berteman biasa saja,” sahut Saras dengan nada yakin. ‘Kalau aku bantah lagi perkataanku sebelumnya akan terlihat seperti pria yang tidak bertanggung jawab di depan pak diplomat. Tapi, kalau aku setuju, maka aku tidak bisa pakai video yang kupegang untuk laporkan perilakunya pada orang tuanya. Ah, tapi kalau aku tidak bisa dekat dengannya, bagaimana bisa menaklukkannya? Sudah banyak kisah bodyguard akan jatuh cinta pada wanita yang ia lindungi jadi bukan ide yang buruk. Aku hanya butuh sedikit bersabar agar bisa mainkan jebakanku. Aku tidak boleh kalah dari gadis kecil ini,’ batin Natan. “Jadi, apa kalian sudah sampai pada kata sepakat?” tanya Hadi masih tidak ingin mencampuri percakapan antara putrinya dan Natan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD