Vivian menutup tas kecilnya, lalu memeriksa sekali lagi isi tas kerja yang sudah teronggok di atas ranjang. Matanya berusaha fokus, padahal hatinya masih terasa berat. Entah karena apa. Ethan berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di d**a, menatap semua gerakann wanita itu dengan tatapan tajam. “Obatmu udah masuk koper?” Suaranya dingin, tapi ada nada menekan. Vivian menoleh sebentar. “Udah.” “Yang putih sama yang biru?” Ethan melangkah masuk, mendekat, lalu membuka tas tanpa izin. Tangannya dengan cepat mengacak isi tas itu. “Ini mana? Jangan bilang kamu cuma bawa separuh. Kamu, tuh, bandel, Vi.” Vivian menghela napas. “Aku enggak lupa. Semuanya ada.” Ethan mendengkus, wajahnya tegang. “Baju hangatnya? Jangan cuma bawa dress-dress tipis itu. Malam bisa dingin. Kamu bi

