“Ethan kenapa enggak pulang, ya, Pa? Dia enggak ada telepon Mama juga, loh.” Meja makan masih terasa sepi ketika Isabelle dan Richard turun dari kamar. Keduanya hendak menyantap sarapan sebelum melakukan aktivitas lainnya. Wajah Isabelle tampak cemas karena anak lelakinya tak pulang semalam. Ya, walaupun Ethan memang sering melakukannya. “Biar aja, Ma. Nanti kalau pengen pulang, dia pasti pulang. Udah gede, jangan dimanjain terus,” sahut Richard. “Namanya juga anak, Pa. Mama juga suka heran sama dia. Dulu, dia sama sekali enggak minat sama bisnis. Sekarang, semuanya mau dia kerjakan sendiri.” Keduanya mengambil duduk di meja makan. Lampu kristal menyala temaram dan hangat. Sehangat pembicaraan mereka saat ini. “Ya, baguslah. Mungkin dulu dia masih belum mikirin masa depan, Ma. Sekara

