Bibir Ethan masih menempel di bibir Vivian ketika ia akhirnya menjauh sedikit, hanya untuk memberi ruang pada kata-kata yang sudah lama berputar di kepalanya. Napasnya terdengar berat, matanya masih menatap dalam-dalam seolah takut Vivian akan kabur kalau ia mengalihkan pandangan. “Aku mau menikah sama kamu,” ucapnya tiba-tiba, suaranya serak tapi mantap. “Secepatnya. Aku nggak peduli siapa pun yang keberatan. Aku nggak peduli omongan orang. Yang aku tahu, aku maunya kamu, Vi.” Vivian tertegun. Ia bisa melihat jelas bagaimana rahang Ethan menegang, seolah-olah kalimat itu memaksa keluar dari dirinya. Bukan karena ia ragu, tapi justru karena ia sungguh-sungguh. Ethan mengusap pipi Vivian dengan ibu jarinya, sedikit gemetar. “Aku mau buktiin ke kamu kalau aku serius. Bukan cuma main-main,

