Suasana di dalam mobil mewah itu terasa senyap. Jalanan pagi yang padat seolah hanya menjadi latar kabur, sementara Isabelle duduk di samping Richard tanpa suara. Tangannya meremas ujung tas di pangkuannya, bibirnya terkatup rapat. Sejak tadi ia ingin bertanya, tapi bayangan wajah anaknya yang baru saja keluar dari kantor catatan sipil masih berputar-putar di kepalanya. Richard menghela napas pelan, matanya tetap menatap lurus ke depan. “Kamu pasti masih bingung kenapa aku bisa langsung setuju, kan?” Suaranya tenang, nyaris datar, tapi setiap katanya mengandung ketegasan. Isabelle menoleh sekilas, tapi tetap bungkam. “Aku nggak asal memberi restu, Ma,” lanjut Richard. “Aku sudah selidiki semuanya. Siapa Hans, siapa Vivian. Aku tahu latar belakang mereka, dan aku tahu apa yang sudah terj

