Pagi itu, cahaya matahari menembus kaca besar ruang makan keluarga Sinclaire. Isabelle menuruni tangga dengan langkah anggun, pakaiannya berkilau lembut, wajahnya masih dingin setelah semalaman kepikiran soal pernikahan mendadak putranya. Begitu sampai di bawah, ia langsung menatap ke arah dapur. “Apa menu sarapan kita hari ini?” tanyanya datar pada salah satu ART yang sedang menata meja. ART itu saling pandang sebentar dengan yang lain, lalu menjawab dengan hati-hati, “Nyonya… pagi ini, bukan kami yang memasak.” Alis Isabelle langsung bertaut. “Maksudmu?” “Semua menu… dimasak oleh Nyonya Ethan. Oleh Nyonya Vivian,” jawab salah satunya. Isabelle refleks menoleh ke meja makan. Kedua matanya membesar seketika. Di sana, meja panjang keluarga Sinclaire sudah penuh dengan hidangan hangat,

