Ethan berdiri kaku di depan pintu kaca besar, jas hitamnya berkibar sedikit saat angin dari luar menerpa. Vivian di sisinya, wajahnya pucat, tubuhnya menegang begitu melihat sosok pria yang berdiri tak jauh dari mereka — Hans. Pria itu tersenyum miring, dengan jas hitam dan aura yang sombong, seolah datang bukan sebagai tamu… melainkan sebagai pengingat bahwa masa lalu Vivian belum benar-benar hilang. “Selamat pagi, Ethan. Lama tak bertemu,” ucap Hans ringan, nadanya setengah mengejek. Tatapannya beralih ke Vivian yang menunduk, lalu kembali ke Ethan. “Dan Vivian ... rupanya cepat sekali kamu mengambil langkah.” Beberapa karyawan yang lewat mulai memperlambat langkah. Tatapan ingin tahu mulai mengarah ke tiga orang itu. Vivian mencoba menjaga sikap, tapi tangannya secara refleks meremas

