Begitu pintu ruang CEO terbuka, suasana kantor yang semula sibuk mendadak terasa canggung. Semua orang spontan menoleh. Vivian keluar dengan langkah teratur, wajahnya tetap tenang meski jelas ada tekanan yang menahan di balik tatapannya. Di belakangnya, pintu kaca berlogo Sinclaire Holdings menutup perlahan, menyisakan gema samar di lorong yang sunyi. Tak butuh waktu lama sebelum bisik-bisik mulai berembus. “Dia barusan dari ruangan Pak Ethan?” “Iya. Sendirian. Pintu ditutup lama banget.” “Aku dengar tadi Pak Ethan sempat marah ke seseorang di lobi.” “Serius? Jangan-jangan soal dia?” Kalimat-kalimat setengah berbisik itu menjalar cepat seperti api kecil di antara kertas kering. Beberapa karyawan pura-pura sibuk di depan layar, tapi mata mereka menatap tajam ke arah wanita yang kini

