“Pasti.” Ethan mengangguk lemah. Senyumnya terbit dengan tulus, tapi Ethan tak memberi kesempatan bagi Vivian untuk mundur lagi. Dengan gerakan mantap, ia menggeser kedua lengannya lalu mengangkat tubuh wanita itu dalam gendongan. Vivian terperanjat, tangannya refleks melingkar di leher Ethan. “E–Ethan…,” bisiknya gugup. “Diam saja. Aku hanya mau dengar desahanmu saja malam ini,” jawab Ethan tegas, tapi ada nada lembut yang menyusup di balik suara beratnya. Dalam beberapa langkah saja, Ethan sudah tiba di tepi ranjang. Ia duduk dengan Vivian masih dalam gendongan, hingga posisi mereka berubah, Vivian kini duduk di pangkuan di atas paha Ethan. Kedekatan itu membuat d**a mereka saling bersentuhan, degup jantung keduanya bertubrukan tanpa bisa disembunyikan. Vivian menunduk, menatap waja

