Bab 4. Jebakan Berkedok Bantuan

1139 Words
Ethan melangkah keluar dari ruang kerjanya dengan gaya santai, tangan kirinya menyelip di saku celana, sementara tangan kanan memegang ponsel yang layarnya tak benar-benar ia perhatikan. Di belakangnya, seorang pria tinggi berpenampilan rapi menyusul—Roy, asistennya yang setia. Mereka berjalan melewati lorong privat di lantai dua, jalur yang jarang dilalui karyawan biasa. Lampu-lampu langit-langit memantulkan cahaya lembut ke setelan jas abu-abu yang membalut tubuh Ethan. Setiap langkahnya penuh perhitungan, nyaris seperti predator yang sedang mengarahkan mangsa ke perangkap. Vivian mengikuti di belakang dengan langkah cepat, tumit sepatunya mengetuk pelan lantai marmer yang licin. Sesekali, ia menoleh ke arah pintu kaca di ujung lorong, seperti memastikan Hans tidak akan tiba-tiba muncul. “Jadi kamu beneran serius mau bantu aku keluar dari sini?” tanyanya setengah tak percaya. Ethan menoleh setengah, senyumannya tipis dan berbahaya. “Kamu sendiri yang bilang tadi, kamu malas ketemu suamimu. Aku cuma mempermudah keinginanmu.” Dia memberi isyarat pada Roy. “Kenalin, ini Roy. Dia yang akan memastikan kita tidak diikuti.” Roy mengangguk sopan, lalu mendorong sebuah panel kayu di dinding yang ternyata adalah pintu tersembunyi. Di baliknya, terbentang koridor sempit yang menuju langsung ke area parkir bawah tanah—tempat mobil Ethan sudah menunggu. Udara di koridor itu lebih dingin, bau kulit dari interior mobil-mobil mewah bercampur dengan aroma bensin samar. Ethan berjalan sedikit di depan Vivian, lalu membuka pintu belakang mobil hitamnya dan menatapnya dengan tatapan tajam, tapi main-main. “Masuk,” ucapnya singkat. “Kecuali kamu mau keluar lewat lobi dan memberi suamimu tontonan gratis.” Vivian mendesah, lalu masuk ke dalam mobil. Kulit jok yang dingin langsung membungkus tubuhnya. Saat Ethan ikut masuk dari sisi lain, jarak di antara mereka terasa terlalu dekat. “Kenapa rasanya kayak kamu sengaja bikin ini dramatis?” gumam Vivian. Ethan menoleh, matanya berkilat nakal. “Karena hidup tanpa drama itu membosankan, Sayang. Dan kamu … adalah drama favoritku,” katanya tanpa basa-basi. Mobil mulai melaju, meninggalkan gedung Sinclaire Holdings tanpa melewati pintu depan. Vivian menatap keluar jendela, berusaha menenangkan degup jantungnya. Namun ia tahu, di sampingnya duduk pria yang bukan hanya berbahaya, melainkan juga sangat sulit untuk dihindari. Mobil melaju mulus melewati area depan lobby utama, kaca jendela dibuat gelap sehingga tak seorang pun di luar bisa mengintip. Dari kursinya, Vivian sempat melirik ke arah luar. Di tepi jalan, berdiri Hans dengan ekspresi menunggu yang dipaksakan tenang, ponsel di tangan, sesekali melihat ke pintu gedung. Vivian menahan napas. Saat mobil mereka lewat, Hans tetap berdiri di tempatnya, tak menyadari bahwa istrinya tengah duduk hanya beberapa meter darinya—terlindung kaca yang memantulkan langit. Begitu jarak di antara mereka semakin jauh, Vivian mengembuskan napas panjang. “Syukurlah,” gumamnya, setengah lega, setengah getir. Ethan, yang duduk di sebelahnya dengan posisi santai, melirik dari sudut mata. “Lihat? Aku, kan, sudah bilang, kamu aman bersamaku.” Senyum itu kembali—tipis, penuh percaya diri, dan entah kenapa, membuat Vivian makin tegang. “Terima kasih,” ucap Vivian singkat, berusaha mengabaikan cara tatapan pria itu menelusuri wajahnya. Mobil memasuki jalan besar, meninggalkan kawasan perkantoran. Ethan memutar tubuhnya sedikit, menyandarkan punggung di jok sambil menatapnya lekat-lekat. “Jadi … bagaimana kalau kita langsung ke apartemenku?” Vivian spontan menoleh, matanya membulat. “Apa?” Ethan mengangkat satu alis. “Tenang saja. Aku janji nggak akan … memungut biaya.” Nada suaranya menggoda Vivian tanpa malu-malu, seperti mengungkit peristiwa semalam. Vivian mendengkus pelan, matanya menatap ke depan. “Tidak. Turunkan aku di sini saja.” Mobil masih terus melaju. “Kamu serius mau turun di pinggir jalan? Dengan makeup rapi, kacamata hitam, dan ekspresi seperti habis menyembunyikan sesuatu? Percaya sama aku, Sayang, itu akan memancing gosip lebih cepat daripada kalau kamu ikut aku.” Vivian menggertakkan gigi, separuh kesal, separuh karena tahu Ethan benar. “Ethan, aku cuma mau pulang. Sendiri.” Pria itu menghela napas dramatis, lalu mencondongkan tubuh sedikit. Suaranya lebih rendah ketika berbicara kali ini, ada ketegangan halus di balik nada main-mainnya. “Aku nggak akan memaksa. Tapi kamu tahu, kan, kamu sedang menolak tumpangan dari pria yang baru saja menyelamatkanmu dari suami yang … kalau boleh jujur, kelihatannya siap meledak?” Vivian menatap lurus ke depan, tangan kirinya menggenggam ujung tas erat-erat. Dia merasa seperti berada di antara dua jebakan—Hans di luar, Ethan di samping. “Berhenti di lampu merah depan,” katanya akhirnya. Ethan menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum miring. “Baiklah. Tapi kamu berhutang satu kali jalan-jalan denganku, Vivian.” Lampu lalu lintas menyala merah. Mobil melambat dan berhenti. Vivian membuka pintu sebelum Ethan sempat menahan. Udara panas siang langsung menyambut wanita itu. Sebelum ia keluar sepenuhnya, suara Ethan terdengar dari belakang. “Jangan terlalu lama menghindar. Aku ini … kebiasaan mengejar hal yang mencoba lari,” katanya santai. Vivian tak menoleh. Ia hanya menutup pintu dengan pelan, lalu berjalan menjauh. Namun, di balik kacamata hitamnya, matanya membulat—karena ia tahu, pria itu bukan tipe yang sekadar menggoda. Ethan benar-benar akan mengejarnya. Ethan tidak langsung meminta mobil bergerak ketika pintu di sisi penumpang tertutup. Ia bersandar di kursi belakang, satu siku di sandaran, jemarinya mengetuk pelan kulit jok, matanya tak lepas memandangi punggung Vivian yang menjauh cepat di trotoar. Langkah wanita itu tegas, tapi bahunya sedikit terangkat—tanda ia sedang berusaha keras menyembunyikan kegelisahan. Tumit sepatunya memantul di aspal, rambutnya yang sebagian terurai bergoyang mengikuti gerakan, dan ada sesuatu di tiap detail itu yang membuat Ethan tak bisa memalingkan pandangan. Vivian bukan tipe wanita yang biasanya mengisi perhatiannya. Ia bukan sosialita haus sorotan, bukan model yang gemar pamer pesona, dan jelas bukan perempuan yang datang demi keuntungan pribadi. Namun, ada hal lain yang justru membuatnya lebih menarik: sikapnya yang keras kepala di tengah retakan besar hidupnya, sorot mata yang tajam tapi menyimpan lelah, dan—yang paling mengganggu pikirannya—bagaimana semalam ia datang kepadanya dengan kemarahan, lalu pergi tanpa meninggalkan nama. Itu membuatnya ingin tahu segalanya. Siapa dia. Apa yang mendorongnya melangkah seperti sekarang. Dan mengapa, meski jelas mencoba menjauh, tatapan Vivian tetap menyimpan jejak takut sekaligus … tertarik. Senyum tipis terulas di bibir Ethan, bukan senyum ramah, melainkan senyum predator yang baru menemukan jejak mangsa. “Menarik sekali…,” gumamnya rendah. Ia memindahkan pandangannya pada pria di kursi depan. “Roy,” panggilnya pelan tapi tegas. “Ya, Pak?” “Cari tahu di mana Vivian akan tinggal. Semua detailnya. Aku mau tahu sebelum matahari terbenam.” Roy mengangguk. “Baik, Pak.” Ethan kembali menatap keluar jendela, mengikuti Vivian yang kian mengecil di kejauhan. Ada kilatan kepuasan di matanya, seperti seseorang yang sudah menentukan cara untuk menutup jarak. “Karena, Vivian….” ia berbisik sendiri, nada suaranya nyaris seperti janji, “…kamu boleh lari, tapi aku selalu punya cara untuk menemukanmu.” Mobil pun mulai bergerak, meninggalkan jalan itu—tapi di kepala Ethan, bayangan Vivian tetap melekat, bersama semua misteri yang menunggu untuk ia bongkar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD