Bab 5. Kebebasan Semu Vivian

1086 Words
Hans mengetukkan jarinya di kemudi berulang kali, gerakan kecil yang semakin cepat seiring waktu berjalan. Tadi, ia menunggu di luar terlalu lama, jadi ia masuk ke mobil setelah itu. Matanya tak lepas dari pintu kaca besar di lobi kantor Sinclaire Holdings. Ia sudah hampir setengah jam menunggu, memarkir mobil persis di depan gedung, dengan harapan bisa mencegat Vivian ketika keluar. Mobil Vivian masih ada di parkiran karyawan—Hans tahu itu karena tadi sempat melihatnya dari jendela mobil—tapi bayangan istrinya tak kunjung muncul. Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan memeriksa ponselnya. Satu pesan sudah ia kirim sepuluh menit lalu. Tak dibalas. Napasnya memburu, setengah karena frustrasi, setengah lagi karena egonya terluka. Hans akhirnya menekan nomor Vivian. Nada sambung terdengar di telinga, tapi hanya bertahan beberapa detik sebelum panggilan beralih ke kotak suara. Ia mencoba lagi. Dan lagi. Hasilnya sama. “b******k,” gumamnya, menekan ponsel itu lebih keras ke telinganya seolah bisa memaksa jawaban keluar. Di kepalanya, berbagai skenario berputar. Mungkin Vivian sengaja menghindar. Mungkin dia bersembunyi di ruang kerja. Atau—pikiran ini membuat rahangnya mengeras—mungkin dia bersama pria lain. Bekas kemerahan yang sempat ia lihat di leher istrinya tadi pagi kembali terbayang, membuat rasa panas naik dari perut hingga ke kepala. Hans mencondongkan tubuh, mencoba melihat lebih jelas ke arah pintu lobi. Setiap kali seseorang keluar, matanya langsung menajam. Namun, bukan Vivian. Hanya karyawan-karyawan yang terburu-buru mengejar bus atau ojek online, tak satu pun yang ia kenal. Telepon kembali diangkatnya. Kali ini ia membiarkan nada sambung itu berulang, menempel di telinga, sampai akhirnya kembali berakhir di kotak suara. Hans membuang napas keras, jari-jarinya menekan setir dengan tenaga. Di luar, lalu lintas mulai padat, dan beberapa pengemudi tampak terburu-buru karena hari sudah sore. Dengan gerakan kasar, ia memutar kemudi, membawa mobilnya menjauh dari gedung tempat Vivian bekerja. Matanya masih menyipit menatap kaca spion, seolah-olah berharap Vivian akan keluar di detik terakhir. Namun, itu tidak terjadi. “Baiklah, Vivian…,” gumamnya pelan, nada suaranya dingin dan mengancam. “Kalau kamu pikir bisa main seperti ini, kita lihat siapa yang akan kalah.” Mobil itu akhirnya melaju, meninggalkan trotoar depan gedung. Namun di dalam dadanya, amarah bercampur rasa curiga sudah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. *** Udara sore di trotoar itu hangat bercampur debu, aroma gorengan dari warung kecil di ujung jalan menusuk hidung. Vivian melangkah cepat, masih membawa tas kerja, seolah-olah ingin segera menjauh sejauh mungkin dari mobil Ethan. Langkahnya melambat ketika ia melewati sebuah deretan rumah petak di gang sempit, tak jauh dari tempat ia tadi diturunkan. Cat temboknya pudar, tapi beberapa unit terlihat terawat. Di depan salah satunya, sebuah papan kecil bertuliskan ‘DIKONTRAKKAN’ menggantung di pagar besi. Vivian berhenti. Pandangannya meneliti. Tidak besar, mungkin hanya satu kamar, dapur kecil, dan ruang tamu mungil yang menyatu. Namun, letaknya cukup strategis—tidak terlalu jauh dari kantor, cukup dekat untuk ia bisa berjalan kaki atau naik ojek. Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam, membawa ember. Vivian memberanikan diri bertanya, “Bu, ini yang dikontrakkan, ya?” Wanita itu tersenyum ramah. “Iya, Mbak. Baru kosong seminggu. Mau lihat?” Vivian mengangguk. Mereka masuk melewati pagar kecil. Di dalam, kontrakan itu memang sederhana—lantai keramik putih, jendela menghadap gang, dan cat krem yang mulai mengelupas di sudut. Tidak ada perabot, tapi cukup bersih. “Berapa sewanya per bulan, Bu?” Wanita itu menyebutkan angka yang membuat Vivian sedikit terdiam. Tidak murah, apalagi untuk ukuran kontrakan sederhana. Namun, di benaknya hanya ada satu pertimbangan. ia butuh tempat sekarang. Malam ini juga, kalau bisa. Ia menggigit bibir, menghitung cepat sisa tabungannya. Uang daruratnya akan terkuras, tapi setidaknya ia bisa tidur tanpa harus memikirkan Hans berdiri di depan pintu rumah. “Aku ambil, Bu,” ucapnya mantap. Wanita itu sedikit terkejut, tapi segera tersenyum lebar. “Kalau begitu, kita buat suratnya sekarang. Mbak mau mulai tinggal hari ini?” “Ya, hari ini,” jawab Vivian cepat. Tak sampai satu jam, semua urusan selesai. Vivian memegang kunci besi yang dingin di tangannya—benda sederhana yang entah kenapa terasa seperti simbol kebebasan. Ia masuk ke dalam, meletakkan tas kerjanya di lantai, lalu menghembuskan napas panjang. Kontrakan ini kecil, kosong, dan harganya agak mencekik. Namun, ini miliknya sekarang. Tempat yang tak perlu ia bagi dengan pengkhianatan Hans, atau tatapan berbahaya Ethan. Untuk pertama kalinya hari itu, Vivian duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke dinding, dan membiarkan rasa lega itu meresap—meski ia tahu, badai berikutnya hanya tinggal menunggu waktu. *** Di lantai atas sebuah gedung apartemen mewah, Ethan bersandar santai di kursi empuk ruang kerjanya, segelas whiskey setengah penuh di tangannya. Lampu kota di luar jendela berpendar seperti bintang, tapi pikirannya tak ada di sana. Roy masuk dengan langkah hati-hati, membawa sebuah map tipis. “Bos, soal Bu Vivian. Saya sudah dapat infonya.” Ethan mengangkat alis, menyuruhnya lanjut. “Dia ambil kontrakan kecil, masih di sekitar area dia tadi turun dari mobil. Tempatnya sederhana, tidak ada perabotan, tapi sepertinya dia mau tinggal sendiri mulai malam ini,” jelas Roy. Ethan terdiam sebentar, ujung bibirnya terangkat tipis. “Satu hari setelah aku antar pulang, dia langsung pindah?” gumamnya, setengah kepada dirinya sendiri. Roy mengangguk. “Sepertinya dia menghindari suaminya, Bos. Dan … jelas juga, dia menghindari Anda.” Ethan tertawa pelan, tapi ada nada dingin di baliknya. “Lucu. Dia pikir dengan bersembunyi di lubang kecil seperti itu, aku tidak bisa menemukannya?” Roy tidak menjawab, hanya menunggu perintah. Ethan meneguk sedikit minumannya, lalu memutar gelas di tangannya. “Aku ingin kamu pantau dia. Bukan cuma alamatnya—aku mau tahu siapa yang dia temui, kemana dia pergi, dan … siapa saja yang berani mendekatinya,” titah Ethan. “Baik, Bos.” Tatapan Ethan mengeras, tapi di sudut matanya ada kilatan yang tak bisa disembunyikan—campuran rasa penasaran, tantangan, dan sesuatu yang lebih berbahaya. Vivian bukan sekadar wanita cantik yang pernah ia tiduri secara kebetulan. Dia adalah istri orang. Dan itu membuatnya jauh lebih menarik. Ada sesuatu di cara Vivian menatapnya—campuran benci, takut, dan godaan—yang memicu naluri berburu Ethan. Dia tidak pernah punya kesabaran untuk misteri, apalagi misteri yang berbalut cincin kawin. Roy mengangguk, lalu keluar meninggalkan Ethan sendiri yang masih memikirkan bagaimana aroma tubuh Vivian yang menggoda. Di balik pendar lampu kota, Ethan menyesap whiskey-nya lagi, senyum tipis menghiasi wajahnya. Vivian mungkin menganggap ini kebebasan. Namun, bagi Ethan, ini hanyalah awal dari permainan. Dan dia tak sabar melihat sejauh apa istri orang itu bisa bertahan. “Tunggu saja, Vivian,” bisiknya lebih kepada diri sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD