Pagi itu, nada dering ponsel Vivian membelah kesunyian kontrakan kecilnya. Dia baru saja selesai merapikan meja makan ketika layar ponsel berkedip menampilkan nama RS Sentra Medika.
“Hallo?” suaranya refleks terdengar cemas.
“Bu Vivian, ini dari rumah sakit. Kondisi Ibu Anda memburuk, dan dokter memutuskan mempercepat jadwal operasi jantungnya ke hari ini. Tapi…” suara perempuan di seberang terdengar ragu, “administrasinya belum diselesaikan, Bu. Kami tidak bisa memulai tindakan sebelum biaya awal dibayarkan.”
“Administrasi? Tapi… biasanya itu—” Vivian terhenti.
Napasnya tercekat. Selama ini Hans selalu mengurus semua urusan rumah sakit ibunya—biaya, administrasi, bahkan hal-hal kecil sekalipun. Sekarang, ia menduga, Hans menghentikannya. Mungkin karena masalah mereka. Mungkin sengaja.
“Mohon segera diurus, Bu, demi keselamatan pasien,” suara itu menekan, lalu sambungan terputus.
Vivian menggenggam ponsel lebih erat, jemarinya bergetar saat meraih tas. Jantungnya berdetak kencang, bukan hanya karena memikirkan ibunya yang terbaring lemah, tapi juga karena ia tahu satu-satunya orang yang bisa melunasi biaya itu secepatnya adalah orang yang paling tidak ingin ia temui—Hans.
Namun, tidak ada pilihan.
Di dalam mobil, ia langsung menekan nama Hans. Panggilan terhubung setelah tiga dering yang terasa terlalu lama.
“Akhirnya telepon juga,” suara berat itu menyapa, santai tapi penuh nada menang.
“Hans, tolong. Ibu mau dioperasi hari ini. Administrasi belum beres. Aku—aku nggak punya uang sebanyak itu sekarang.” Vivian berusaha menahan gemetar di suaranya. “Kita ketemu di rumah sakit saja, biar cepat.”
Keheningan singkat diikuti tawa pendek di seberang. “Rumah sakit, ya? Hmm… akhirnya kamu butuh aku juga. Makanya jangan sok menghindar.”
Vivian memejamkan mata, menahan rasa muak yang mendesak bersama rasa putus asa. Ujung jarinya mencengkeram setir, sedangkan bayangan ibunya membuatnya harus menelan gengsi.
---
Lorong rumah sakit terasa sunyi, hanya suara roda ranjang pasien yang sesekali melintas. Vivian berdiri di sisi ranjang ibunya, merapikan selimut, menyelipkan ujungnya dengan hati-hati. Wajah pucat sang ibu membuat dadanya terasa diremas.
Pintu kamar terbuka pelan. Hans masuk dengan senyum ramah yang dipoles rapi.
“Selamat pagi, Bu. Bagaimana kabarnya hari ini?” suaranya dibuat hangat, nyaris seperti menantu idaman.
Ibunya Vivian berusaha tersenyum meski lemah. “Pagi, Hans. Lumayan. Terima kasih sudah datang.”
Hans maju, merapikan bantal di belakang kepala mertuanya, gerakannya lembut namun terlalu rapi—seperti adegan yang sudah dia rencanakan. “Hans doakan cepat sembuh, Bu. Ibu dan Vivian tidak perlu memikirkan apa pun. Semua tagihan nanti Hans urus,” ucapnya penuh keyakinan.
Vivian hanya menatap tanpa ekspresi. Senyum itu sama persis dengan yang dipakai Hans saat menutupi kebohongannya.
Lalu, Hans melirik ke arah Vivian, tersenyum kecil. “Sayang, biarkan Ibu istirahat. Kita bicara di luar, ya?”
Begitu pintu tertutup, keramahan itu lenyap. Hans bersandar di dinding lorong, tangannya menyilang santai, tapi nadanya menekan.
“Aku akan lunasi semua tagihan rumah sakit ini,” ucapnya pelan tapi tegas. “Tapi dengan satu syarat—kamu lupakan kejadian kemarin, lupakan kesalahan kecil itu, dan kembali jadi istri yang baik.”
Vivian menghela napas tajam, matanya menyipit. “Kekhilafan? Kamu berselingkuh, Hans. Itu pilihan. Dan itu bukan kesalahan kecil.”
Hans menaikkan dagu, senyumnya sinis. “Ayolah, Vi. Aku cuma… mencoba rasa lain. Aku masih cinta sama kamu. Itu yang penting, kan?”
Vivian menggeleng keras. Hans lalu mencondongkan tubuh, suaranya menurun namun menusuk.
“Kalau kamu menolak, aku akan cerita semuanya ke Ibumu. Jantungnya sensitif. Bayangkan reaksinya kalau tahu putrinya mau bercerai.”
Vivian mengepalkan tangan di sisi tubuh. “b*****t! Kamu gila, Hans. Kamu salah dan masih mencoba membuat semuanya benar. Aku nggak akan pernah kembali padamu.”
Ia langsung berjalan cepat meninggalkan Hans. Air mata yang tadi ditahan kini mengaburkan pandangannya. Dunia terasa terlalu sempit untuk melarikan diri dari Hans, tapi terlalu luas untuk tahu harus ke mana.
---
Suara mesin mobil yang halus tapi bertenaga mendekat dari belakang. Sebuah sedan hitam panjang berhenti persis di sisinya, rodanya berdecit pelan di atas aspal. Jendela belakang turun perlahan, menampakkan Ethan.
Dia duduk di dalam, jas gelap membingkai tubuhnya, satu tangan santai di sandaran kursi, tangan lain memegang gelas kristal berisi espresso yang masih mengepulkan uap. Sepasang mata tajamnya menelusuri Vivian dari ujung rambut hingga ujung kaki, seperti predator menilai mangsa.
“Masuk,” ucapnya datar, nada perintah yang tak memberi ruang untuk bantahan. Jari-jarinya mengetuk pelan kulit jok, ritme tenang yang justru membuat Vivian merinding.
Vivian menggeleng pelan. “Aku… aku baik-baik saja.”
Ethan tersenyum tipis—senyum yang tak pernah benar-benar ramah. “Jangan bohong. Kamu kelihatan seperti seseorang yang baru saja kehabisan semua jalan keluar.” Pandangannya turun ke jemari Vivian yang gemetar. “Kebetulan… aku punya jalan yang kamu butuhkan.”
Pintu sisi jalan terbuka, sopirnya—pria berpostur tegap—menunduk sedikit, memberi isyarat agar Vivian masuk. Roy, sang asisten, tetap diam di kursi depan, memandang keluar jendela, seperti sudah terbiasa dengan momen seperti ini.
“Kalau terus berdiri di sini, Hans akan menemukanmu,” ucap Ethan lagi, kali ini lebih pelan, nyaris berbisik, namun nadanya mengandung ancaman. “Kalau masuk, aku yang akan menemukannya duluan.”
Vivian tak sadar langkahnya maju. Aroma kulit mahal dari interior menyambutnya begitu ia masuk. Pintu menutup rapat. Mobil kembali melaju. Ethan memiringkan kepala, matanya tak lepas dari wajahnya.
“Jadi, kamu butuh biaya pengobatan Ibumu, kan?” suaranya tenang, namun setiap kata mengandung tekanan. “Aku bisa membantu. Tapi… ada syaratnya.”
Vivian menoleh tajam. “Tidak, terima kasih. Aku akan cari cara sendiri.”
Ponselnya tiba-tiba berdering. Dari rumah sakit. Vivian buru-buru mengangkatnya.
“Ya?”
“Maaf, Bu. Kondisi Ibu Anda mengkhawatirkan. Mohon segera lunasi semuanya agar kami bisa melakukan tindakan.”
Tubuh Vivian melemah. Tidak ada jalan lain. Ia menatap Ethan, yang kini menyandarkan diri, jemarinya memutar cincin di tangannya sambil menunggu jawabannya.
“Oke. Aku akan terima syaratnya. Sekarang… bantu aku lunasi biaya pengobatan Ibuku dulu.”
Ethan mengangguk lambat, seringai tipis menghiasi wajahnya. Ia memberi kode pada Roy tanpa mengalihkan pandangan dari Vivian.
“Baiklah,” ucapnya pelan, seperti mengikat sebuah janji yang tak bisa dibatalkan. “Sekarang kita bicara soal harga yang sebenarnya.”
Vivian duduk di jok belakang, jarak antara dirinya dan Ethan seperti garis api yang membakar udara di dalam mobil. Jendela gelap membuat dunia luar tampak jauh, seolah ia terperangkap dalam ruang yang hanya berisi mereka berdua.
Ethan bersandar santai, satu lengan di atas sandaran kursi, jemarinya mengetuk perlahan dengan ritme yang membuat Vivian semakin tegang. Senyumnya tipis—bukan senyum yang menenangkan, tapi seperti pemangsa yang sudah tahu mangsanya tak punya jalan keluar.
Vivian menatap lurus ke depan, tak berani membalas tatapannya.
Ethan sedikit condong ke arahnya, mengabaikan jarak pribadi. Aroma parfumnya yang tajam menusuk hidung, dan Vivian bisa merasakan napas hangatnya di sisi wajahnya.
“Kamu akan jadi milikku … sampai aku bilang cukup. Tidak ada bantahan. Tidak ada ‘nanti’. Dan ….”
Jari telunjuk Ethan menyentuh dagunya, memaksanya menoleh, “kamu akan putus kontak dengan orang-orang yang mengganggu urusanku. Termasuk suamimu yang—” bibirnya melengkung lebih lebar, “—terlalu sibuk pura-pura jadi pahlawan.”
Vivian menelan ludah. Ia tahu ini bukan tawaran, ini ancaman yang dibungkus manis.
Vivian memejamkan mata sejenak, menahan perasaan yang bercampur aduk. Ia sudah tahu syarat itu, bahkan sebelum Ethan mengucapkannya. Namun, mendengarnya langsung dari bibir pria itu—dengan nada setenang racun, tetap saja membuat perutnya terpilin.
“Aku … tidak mungkin memutus hubungan begitu saja,” ucapnya lirih, suaranya nyaris bergetar. “Ibuku sakit, Ethan. Kalau tiba-tiba aku bercerai dengan Hans, itu bisa mempengaruhi kesehatannya. Dia sangat bergantung pada pikirannya bahwa aku baik-baik saja … bahwa pernikahanku baik-baik saja.”
Ethan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Vivian, lama, dengan sorot mata yang seperti sedang menguliti lapis demi lapis pertahanan wanita itu. Senyum tipis, nyaris seperti seringai yang menghiasi bibirnya.
“Aku nggak peduli, Vivian.”
Nada suaranya rendah, tapi setiap kata jatuh seperti ancaman.
“Statusmu, suamimu, ibumu … semua itu urusanmu. Tapi mulai malam ini—” ia condong ke depan, menurunkan suara sampai terdengar seperti bisikan yang mengiris telinga, “—kamu milikku. Utuh. Nggak ada setengah-setengah,” katanya.
Vivian membeku. Napasnya berat, sementara jantungnya berdegup sekeras palu godam. Kali ini, apakah ia benar-benar harus menyerah pada bos besar? Vivian memejam, lalu menoleh ke arah Ethan perlahan.
“Oke.”
Ethan tersenyum kecil,” Good girl,” katanya seraya mengusap rambut hitam Vivian yang tergerai hingga ke punggung.